Change Destiny

Change Destiny
Bab 36 Butik gaun


__ADS_3

Bab 36


.


Beberapa hari kemudian,utusan pihak keluarga Lee kembali datang ,guna menjemput Melani untuk fiting gaun pengantin.


Sudah beberapa hari juga Melani makin larut malam pulang rumah,dan pagi-pagi sebelum karyawannya datang,dia sudah ngantor.


"Nona,ada telepon dari Mama Nona" niat sekretaris ingin menyambungkan panggilan.


"Bilang saja saya masih ada meeting"


"Baik,Nona"


Sekretaris menyampaikan pesan dari bosnya,namun yang melakukan panggilan tidak percaya. Dia pun langsung bergegas gerak bersama utusan ke kantor gadis itu.


Dalam lima belas menit mereka sudah memijak pintu kantor perusahaan si gadis.


"Selamat siang,Nyonya" serempak sapa karyawan kantor Melani.


"Siang" balas Nyonya Wijaya, berjalan laju.


Langkah kaki utusan dan ibu bos yang tergesa-gesa sudah dapat dipastikan para karyawan,bahwa bos mereka sedang ada masalah keluarga.


Ting...


Pintu lift terbuka, kedua orang itu langsung menuju ruang kantor CEO.


"Selamat siang Nyonya" sapa sekretaris.


"Siang. Melani ada di dalam kan?" jawab ibu suri berhenti jalan.


"Mmm...Itu...Nona..." kikuk sekretaris,tidak dapat berbohong karena kehadiran tiba-tiba.


"Ada kan. Kalau begitu kami masuk sekarang" tanya lalu jawab sendiri.


Meski ingin kasih tau orang yang di dalam ruangan itu ,tapi sudah terlambat. Tinggal adu nasib mampu atau tidak untuk mengatasinya.


"Ma- Ma" mata Melani terbelalak lebar dan lebih lebar.


Tidak disangka,bahwa si Mama bakal gunakan cara mustahil untuk datang menjemput.


"Ayo Mel. Nona ini datang jemput untuk ukur gaun pengantinmu" ucap Nyonya Wijaya meletakkan semua benda yang dipegang Melani.


"Tidak bisa,Ma. Lihat aku sedang sibuk saat ini" dalih Melani, bertahan pada posisi duduk nempel di kursi kebesaran.

__ADS_1


"Ini hanya sebentar saja. Tidak akan makan waktu Nona banyak" sambung cewek utusan.


"Begini saja. Bagaima jika kita atur ulang schedule baru" jawab Melani pada utusan.


"Mel,kamu jangan begini. Hari pernikahanmu tinggal hitungan hari. Mana bisa kamu tunda terus" ibu suri narik tangan Melani yang kekeh duduk nemplok pada kursi jabatan.


Jika bisa merengek,maka Melani akan duduk merengek menggesek tumit ke lantai. Biasanya jurus itu ia lakukan kalau ingin sesuatu dan menolaknya.


Namun kali ini tidak bisa ia lakukan perihal tersebut,selain sedang di kantor dan ada orang luar, dia juga sudah dewasa dan punya posisi tinggi di perusahaan.


Aksi tarik menolak antara ibu dan anak cukup buat utusan menahan tawa. Tidak ada orang yang mau menolak pemberian keluarga Lee seperti Melani yang sama-sama dari keluarga mampu.


Berhasil juga ibu suri menarik keluar Melani dari ruang CEO-nya dan buat Melani tidak dapat bertingkah lebih saat dihadapan para staff.


Bibir dan muka Melani mencurut cemberut kayak jeruk purut lisut hendak dibuang. Namun ibu suri tetap gak peduli. Yang penting dia bisa bangga menikahkan putrinya.


Setiba di butik khusus gaun pengantin, Melani diminta memilih gaun yang hendak dipakai.


"Bukan aku yang mau nikah" ketus ucap pelan Melani, terdengar oleh sang Mama.


"Hussttt....Kamu itu jadi anak ,toh nurut. Masa kamu tega dengar Mama jadi bahan olokan teman dan saudara" ibu suri menutup mulut Melani.


"Nona,silahkan lihat model sketsa. Atau Nona punya impian lain,biar kami bisa membuatnya sesuai keinginan sendiri" ucap asisten butik.


"Ada" sahut Melani.


Ibu suri akhirnya tersenyum bahagia, karena putrinya ternyata punya pemikiran sendiri untuk pesta pernikahan.


"Aku mau dibuatin yang simpel, tertutup sampai leher, corak warna bunga, panjang sebetis" jelas Melani sengaja buat Mamanya tambah jengkel.


Asisten butik dibuat Melani pusing tujuh keliling. Mana ada sketsa gaun pengantin macam penjelasan kasar Melani. Ibu suri juga terlihat jengkel malu.


"Bisa buatnya kan?" tanya Melani merasa menang.


"Mel,kamu yang benar saja. Mana ada gaun macam itu. Yang ada kamu itu buat malu" omel ibu suri.


"Kalau tidak bisa buat, ya gak usah pakai gaun ribet" Melani melipat tangan.


Tanpa disadari Melani dan ibu suri, salah satu orang yang bersangkutan juga ada di dalam butik, dan mendengarkan semua percakapan itu.


Seseorang dari ruang khusus keluar dan buat ibu suri tambah malu setengah mati sama ucapan putri ngeyel.


"Sini saya yang pilih" ucap tegas dingin orang itu.


Asisten butik langsung merapikan sketsa yang dilihat Nyonya Wijaya,dan memberikan pada orang tersebut yang duduk nyantai.

__ADS_1


Beberapa sketsa dilihat dan dicocokkan sama perawakan gadis pemakai gaun.


"Mata ini orang minta ku colok .Dasar mata buaya darat jelalatan" ucap batin Melani merasa risih,lalu duduk miring agar tidak mengekspose bentuk lekuk depan tubuh.


"Pilih yang ini. Saya minta kwalitas terbaik" ucap orang tersebut,lalu berdiri beranjak pergi tinggalkan yang ada.


Melani pun berdiri ingin tinggalkan butik yang buat hidupnya makin runyam.


"kamu mau kemana, Mel?" tanya ibu suri nahan tangan Melani.


"Kembali ke kantor" sahut Melani sambil mutar malas bola mata.


"Jangan sekarang, kan kamu belum di ukur" ibu suri melambai pada staf butik ,agar ada orang segera mengukur tubuh Melani sebelum kabur.


"Gak usah ukur tubuhku, cukup pakai ukuran standar" sewot Melani makin malas ladeni omongan ibu suri.


"Mana bisa ukuran standar. Kan lampu depanmu tidak bisa ukuran itu" mata ibu suri ngarah ke dua gundukan bakpao empuk.


"Ihhh....Mama apa gak tau,kalau waktku sudah terbuang di sini" kesal Melani,menyilang tangan dan duduk kembali.


Sebelum Melani punya alasan lain kabur, ibu suri mengkode bagian desain untuk cepat ukur tubuh putrinya


Bentuk tubuh Melani sangat memuaskan ,namun terdapat satu kekurangan pada gadis itu, yaitu tinggi tubuh Melani kurang tinggi.


Ingat ya,jika manusia itu bukan makhluk ciptaan yang paling sempurna,hanya sempurna saja. Karena yang maha sempurna itu hanya Tuhan.


Maka dari itu,wajar saja jika kita banyak kekurangan yang mesti harus hidup bersosialisasi untuk saling melengkapi yang kurang dari orang lebih.


Biarpun cerita hidup mungkin seper sepuluh sampai tiga puluh persen memiliki alur cerita sama,tapi tetap ada letak bedanya juga.


Itu disebut ketidak sengajaan, dan mungkin salah satu dari kita juga memiliki kesamaan yang hampir mirip satu sama lain.


Usai desainer mengukur pola ukuran body Melani,gadis itu secepat kilat meninggalkan sang Mama yang masih ingin menambah detail pada sketsa pilihan orang tadi.


"Maafkan putri saya.Maklum belum punya pemikiran jauh" ucap malu Nyonya Wijaya pada asisten butik dan utusan keluarga Lee.


.


...****************...


.


Terima kasih atas dukungannya.


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.

__ADS_1


__ADS_2