
Bab 28
.
Pengusaha berdarah dingin semakin sebal sama sikap jutek gadis itu. Secepatnya ia juga ingin segera keluar dari losmen tersebut.
"Apa penghubung jalur desa sudah terbuka?.Saya hari ini juga mau balik ke kota" ucap Wiliam pada pemilik losmen .
"Maaf Tuan. Akibat badai semalam, jalur tertutup longsor dan jembatan penghubung sedang diperbaiki" jawab pemilik losmen.
"Kapan akan selesai ?"
"Paling cepat lusa"
Tidak ada pilihan lain selain bermalam di tempat yang sama. Signal jaringan juga tidak mendukung pekerjaan hanya untuk antar jarak desa.
Merasa suntuk bosan dalam kamar, pria berdarah dingin keluar untuk berkeliling desa dipandu pemandu.
Melihat sosok gadis yang semangat gotong royong membantu warga tertimpa musibah, pria itu menghampiri.
"Ck.. Ck... Ck.... Bisa juga cewek kota kerja jadi pembokat" ejeknya, berkacak pinggang lihat Melani manjat ngelap jendela kaca rumah warga.
Pingin rasanya melempar kain lap basah ke wajah tampan itu, tapi kembali ia ingat bahwa pria tampan berdarah dingin adalah investor utama perusahaan kecilnya.
"Hehe.... Kan Tuan bisa dapat tontonan gratis" balas ejek sinis.
Tanpa sengaja seorang bocah dari belakang yang berlari main kejar-kejaran sama bocah lain ,menubruk tangga rotan bersandar .Dan buat Melani hilang keseimbangan.
Tentu lihat orang yang hampir jatuh, Wiliam masih punya perikemanusiaan. Langkah lebar kaki segera menahan tangga rotan bergoyang.
"Cepat turun!" titahnya pada orang di atas.
Melani pun turun dengan kaki tangan gemetar ketakutan. Apa jadinya jika tangga rotan tidak segera di stabilkan?. Yang pasti gadis cantik jatuh kayak nangka bosok dari pohon.
"Te-terima kasih" ucapnya bersuara getar.
"Hem. Makanya, jangan manjat kalau tidak biasa" ketus balas.
Bukannya dibaiki malah dapat ucapan kasar tidak enak di dengar. Habis jatuh ketiba tangga. Sungguh tidak mengenakkan bagi orang terkena musibah.
"Ayo makan ubi bakarnya dulu Tuan, Nona" ucap gadis desa membawa sebakul ubi kayu bakar matang.
"Makasih Mbak" jawab Melani berusaha mencomot ubi bakar panas.
Mana bisa gadis kota untuk hidup di alam bebas dengan gampang. Baru mau comot ubi bakar saja, ubinya jatuh berkali-kali.
__ADS_1
Warga yang lihat Melani hanya senyum dalam tawa lucu mereka. Lihat tingkah orang kota yang kemayu lembut, melebihi tingkat kemayu lemah lembut gadis wong desa.
"Gayamu jadi tontonan mereka,tuh" ucap pelan Wiliam.
Melani mendongak lihat warga yang duduk senyum mandang dirinya, sambil makan ubi kayu bakar panas.
"Kenapa Tuan gak bilang dari tadi" ucap pelan kesalnya, malu jadi tontonan.
"Kan mereka lihat topeng monyet gratis. Hahaha... " tawanya lihat Melani berwajah cemelonteng hitam bakaran kulit ubi bakar.
Tingkat emosi kesal Melani meninggi satu level, bukan hanya ditertawakan orang desa tapi juga jadi bahan tertawa investornya.
Bammm....
Melani mencomot kesal ubi bakar panas, lalu melempar kena tubuh pria itu.
"Kamu.. !!" suara pria meninggi keras.
Mata warga tertuju pada pria yang sedang berdiri marah pada Melani. Demi keselamatan, pemandu desa meleraikan secepatnya agar tidak terjadi pertengkaran.
"Tuan, anda ingin lihat tempat lain lagi kah?" tanya pemandu.
"Heng!!.Tidak!!.Moodku sudah rusak" pria berdarah dingin mengepal tangan yang siap melayang bebas.
Wiliam dan pemandu pun berjalan balik ke losmen, tanpa peduli Melani akan jadi objek tertawa warga desa.
Lagi-lagi adu cekcok yang belum terselesaikan kembali terungkit.
"Apa lihat-lihat" Melani berkacak pinggang melototi Wiliam yang berdiri menghadang jalannya.
"You sudah berani,heng !!.Sudah puas jadi topeng monyet,makanya pulang!!." ucap pedas.
Kedua tangan Melani langsung mencakar tangan Wiliam, di luar kesadaran yang sudah lelah gotong royong.
"Dasar wanita bar-bar. Pantas saja gak laku, peringaimu jelek gini mana ada laki-laki yang mau" menapik cakaran berikutnya.
"Bukan urusan anda!. Aku juga tidak sudi punya suami macam anda" oceh Melani, coba melepaskan cengkram tangan Wiliam nahan jari jemari bentuk cakar.
Keduanya lalu saling menghempas tangan masing-masing dan masuk kamar sendiri. Dalam kamar, mereka saling merutuk lawan mereka tanpa mau kalah.
Jika masih saling berhadapan, pasti sudah seperti kucing dan anjing yang bermusuhan sejak jaman nenek moyang mereka.
"Ya Tuhan.... Mengapa aku mesti punya investor macam orang di sebelah" keluh Melani mengambil baju ganti.
"Amit-amit tujuh turunan. Bisa bahaya punya istri bar-bar kayak dia" Wiliam merinding ilfil.
__ADS_1
"Sungguh miris nasib anak istrinya. Kalau ketemu, bakal ku ajarin jurus kabur" Melani menyirami tubuh.
"Bisa mati muda pria yang nikahi dia" Wiliam mengemasi koper.
Tiba-tiba ada pemutusan genset untuk PLTA, demi menghemat bahan bakar saat jalur belum pulih, dan itu berakibat mati lampu.
Melani yang sedang mandi menjadi ketakutan dan menjerit histeris sekencang-kencangnya. Tangannya meraba dimana arah pintu kamar mandi berada.Tapi yang didapat handuk, lalu membungkus tubuh dengan handuk itu sebelum keluar.
Air shampo yang belum sempat terbilas pun memerihkan matanya, yang merem sambil meraba raih gagang pintu.
"Tolong...Huhuhu 😭😭. " teriaknya dalam gelap ketakutan dan tangis.Terus mencari pintu sampai keluar dari kamar mandi.
Ini namanya baru benar-benar habis jatuh ketimpa tangga. Mata perih sabun, mati lampu kesandung sampai tersungkur, tapi yang namanya juga tinggal di Indonesia masih ada kata 'UNTUNG' gak rugi 😂😂. Untungnya, Melani jatuh tepat mencium kasur kasar bukan lantai yang diciumnya dalam keadaan gelap gulita.
"Tolong ambil lampu.... Huhuhu" semakin kencang menjerit, minta setitik cahaya masuk menemaninya.
Memang pengurus losmen sedang menyalakan lampu sentir di setiap sudut kamar, dan memberikan lilin pada para penginap. Tapi ya tetap masih harus menunggu sampai giliran lilin sampai kamar masing-masing.
Wiliam yang keluar untuk mengambil lilin dengan senter ponsel ,mendengar suara minta tangisan minta tolong. Suara itu tidak asing lagi di dengarnya.
"Hengg.. !!Suara cewek udik" acuh Wiliam berjalan cari pengurus losmen.
Huhuhu..... Huaaa..... Semakin mengelegar suara tangisan itu, buat penginap yang buka pintu kamar mereka dapat dengar suara tangisan.
"Siapa yang nangis ?" tanya penginap di ujung koridor pada pengurus.
"Nggak tau juga. Ini lilinnya, Nyonya" jawab pengurus losmen.
Makin dekat kaki pengurus ketempat jejeran kamar asal suara, semakin penasaran.
"Maaf Tuan. Anda tau siapa yang menangis?" tanya pengurus pada Wiliam yang berpas-pasan.
"Oh.Suara itu?" balik tanya Wiliam. Dan diangguk pengurus losmen.
"Suara cewek kota udik" jawab dinginnya.
"Kenapa dengan Eneng itu?" penasaran pengurus,memberikan batangan lilin.
"I don't care" Wiliam mengangkat bahu acuh, jalan masuk kamar.
.
...****************...
.
__ADS_1
Terimakasih atas dukungannya.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua 🙏