
Bab 146
.
"Ampun Dj.....!" seru Murni menarik turun wajahnya yang tercengang lihat lantai kotor meluas.
Kedua bocil terdiam berdiri tegak pegang alat bersih-bersih, dengan wajah tertawa.
"Apa dosaku sampai punya anak kayak kalian" omelnya, menggendong kedua bocil ke tempat lebih bersih.
Murni bingung harus dari mana membersihkan semua kekacauan yang cetar membahana, sebelum ia bersiap menyambut suami tercinta pulang.
Saat ia mulai membersihkan lantai yang licin,kedua bocil yang tidak diawasi melompat di atas sofa sambil ngacak miniatur hiasan meja.
"Dek, kamu jangan main ini" ucap bocah umur 7 tahun,bantu Murni menjaga dua bocil lincah sehabis pulang sekolah.
"Abang,...Aku lapar" adu bocah kedua, megang perut.
"Kamu cuci tangan,terus minta nasi sama Mama" jawab bocah 7 tahun.
Bocah kedua yang terpaut 1 tahun, mengikuti arahan abangnya yang masih mengurusi kedua adiknya.
"Kris, kamu bawa mereka masuk kamar gih!" ujar titah Murni harus membereskan kekacauan di atas meja setelah lantai.
"Iya,Ma" jawab Kristian, menggandeng dua bocil kotor cemontengan masuk kamar.
Anak Murni yang kedua lebih acuh, karena semua telah diambil alih abangnya.Dia bisa makan dengan tenang, sambil lihat bokong emaknya goyang bebek menggol, mulut berkoak tidak dipahaminya.
"Ver, habis makan langsung mandi.Jangan nungggu Mama mandikan" omel Murni, membilas kain lap meja.
"Vero mau dimandikan Abang Kris" jawab Veronika.
"Terserahlah.Mama capek" adunya lanjut harus masak menu baru untuk suaminya.
Coba saja Santi tau bagaimana rutinitas harian temannya itu,mungkin akan menjerit histeris dan mengumandangkan suara seisi rumah.
Beda jaman mereka sewaktu kecil, yang lebih mudah diurus orang tua. Tidak seperti jaman anak sekarang yang lebih aktif, kreatif,intuisif.
Segala kekacauan dan sudah membuat masakan baru, Murni bergegas mandi dan dandan cantik untuk menyambut suami.
"Kris, sekarang kamu mandi" ucap Murni, harus ngurusin anak makan malam dahulu.
"Iya,Ma" Kristian bergegas mandi, karena tugas sebagai anak sulung dan panutan, di nomor satukan olehnya.
Usai mandi, Kristian dan ketiga adiknya duduk makan malam bersama.
"Terima kasih Tuhan,atas rahmat dan nikmat yang Engkau berikan pada kami hari ini.Amin." Kristian memimpin doa singkat sebelum memakan masakan Murni.
"Amin" ucap serentak adik-adiknya dan Murni.
.
1 bulan kemudian...
Santi dan Ronald mulai saling mengenal satu sama lain lebih jauh. Terutama Santi yang lebih mencari tau tentang privasi Ronald.
Setiap malam, Santi akan mengirim chat santai pada Ronald yang akan berangkat kerja. Memang sukar untuk hubungan jarak jauh terpaut waktu dan tempat.
Santi lebih banyak mengalah demi hubungan mereka ini. Selain itu juga,dia ingin membuktikan bahwa dirinya bukan jomblo akut yang sering tersindir sebagai 'Cewek naif,tak laku'.
"Sekarang kalau reunian, kalian bakal bungkam" Santi menyeringai jahat, membayangkan wajah satu persatu teman sekolah yang mengolok dirinya.
__ADS_1
Dalam mimpi, Santi juga memimpikan dirinya dan Ronald telah menikah, hidup berbahagia, dikaruniai dengan 6 anak yang tampan dan cantik,serta menurut.
"Ko, kalau anak kita baik budi macam ini,kita cetak setengah lusin lagi juga tidak apa" ucap Santi, menidurkan keenam bocah kecil terpaut 1tahun lebih.
"Boleh.Ayuk" tangan Ronald melingkar di perut Santi yang agak melar.
Santi berbalik dan menyerang Ronald terlebih dahulu. Untuk urusan di atas ranjang, Santi ingin sebagai pemandu tiap gaya permainan.
Tidak peduli ada dimana mereka berada,asal sudah sama-sama tertantang lawan jenis, mereka akan melakukan sampai puas tanpa suara.
"Hufff... Untung anak-anak tidak kebangun" ujar Ronald mengenakan pakaian, teringat suara mereka meninggi dari biasanya.
"Hehehe....Tapi puas kan" sahut Santi cengengesan, menunggu Ronald pakaikan baju.
"Kamu ini.Paling bisa memuaskan saya" Ronald menoel hidung Santi yang memerah kelelahan.
.
Di alam nyata,Santi tertidur miring peluk guling. Wajahnya yang tersenyum akibat mimpi indahnya terbawa ke dunia nyata.
Tanpa ia sadari cairan putih membasahi CD, karena ulah dari mimpi.
Setiap orang saat sedang bermimpi indah, dalam tanda kutip menurut persepsi masing-masing individu, akan lebih senang apabila mereka tidak terbangun dari mimpi ,dan melanjutkan mimpi lebih lama,dan lama banget.
Kikkk...Kukk.....
Suara alarm jam waker, mengacau Santi yang cenggap-cenggap habis dari mimpi.
"Oh my God!!" teriak Santi kelabakan bangun.
Dia langsung lempar bed cover, dan berlari cepat masuk kamar mandi.
Ketika dilihatnya CD basah terpenuhi gel bening,dia jadi malu sendiri.
Tidak ada waktu untuk Santi terus berdiam diri di dalam kamar mandi, memikirkan mimpi indahnya.
Dirinya yang telat bangun 15 menit, harus berburu waktu jika tidak ingin telat kerja.
"Go,go,go!!" seru Santi berlari keluar untuk nyusul orang tuanya yang pasti sedang sarapan.
Kakinya yang panjang berlari lincah ke ruang makan.
"Telat lagi" Tuan Tio nyindir, sambil kunyah nasi goreng.
"Maklum saja,Pa. Kan lagi kasmaran, tidur pagi, bangun siang" sindir Suwandi dengan senyum menyungging.
"Stop!!" hardik Nyonya rumah, menghentikan menyindir Santi yang kian tahun menjomblo, sedang coba merakit masa depan.
Santi menjulurkan lidahnya ke Suwandi, tidak terbela oleh Mama.
Beberapa suapan nasi goreng, cukup mengganjal perutnya di pagi hari sebelum beraktivitas.
"Ma, Pa,Santi berangkat dulu" pamitnya bergegas.
"Kak,gue nebeng" celetuk Suwandi,raih tas selempang kerja.
"Cepatan,jangan macam kura-kura" jawab sindir Santi sudah berjalan beberapa langkah tinggalkan adiknya.
Terkadang mereka akur kompak.Namun jika urusan pada pasangan masing-masing, mereka akan selalu nyindir sampai berkata pedas.
Kakak beradik juga ada problematika masing-masing, namun selalu terikat oleh yang namanya ikatan darah atau tali persaudaraan. Ketika satu terjatuh,maka saudara yang lain akan merasakan rasa sakit.
__ADS_1
Sesampainya di kantor tempat dirinya mencari nafkah, Santi sudah ditunggu pemilik perusahaan untuk rapat.
"Maaf telat" ucap Santi menunduk masuk ruang rapat.
"Gaji kamu akan dipotong" ketus ucap pimpinan.
"Baik,Pak" Santi nurut, berjalan ambil kursi kosong.
Rapat dimulai, dengan layar proyektor hidup menampakkan gambar ilustrasi.
"Skema rancangan bangunan pondasi rumah ini mulai goyah, sedangkan pemilik masih ingin mempertahankan keaslian bangunan leluhur mereka. Yang jadi permasalahan utama juga adalah, kita harus mencari tehel (keramik) yang mirip dengan corak serta warna" jelas sekretaris.
Dihadapi dengan masalah demikian,tentu menyulitkan siapa pun. Ingin merenovasi sedikit maupun keseluruhan bangunan bukan masalah serius,tapi permintaan kolega yang aneh-aneh itu memang menyulitkan.
"Bagaimana pun caranya, kalian harus memenuhi semua keinginan dia. Ingat!. Pembeli adalah raja" hardik pemilik perusahaan, menerapkan semboyan pembeli dan penjual.
"Baik,Pak" serentak menjawab dalam keadaan tertekan mental.
Semua berhamburan bubar dari ruang rapat, melakukan tugas masing-masing menyediakan segala keperluan.
"Hufff.... Gini, kalau dapat pelanggan borju" oceh karyawati yang selalu dampingi Santi.
"Sabar..... Karena orang sabar akan di sayang Tuhan" jawab Santi,ngelus punggung karyawati.
"Bukan di sayang Tuhan.Cepat mati yang ada" dumal karyawati.
Santi tersenyum paham perasaan karyawati. Sedangkan dirinya harus pasrah hadapi nasib harian.
Tugas yang mereka terima, wajib dikerjakan mau tidak mau. Untungnya, bukan tim Santi bertugas cari keramik jaman dulu.
Santi di ruang kerjanya menggambar kerangka untuk merenovasi bangunan lama itu, tanpa kurangi estetika bentuk bangunan tersebut.
Butuh beberapa hari untuk Santi fokus menggambar detail kerangka sulit, sampai dirinya harus menduakan calon suami idaman.
Di rumah,Santi menjadi bahan ejekan Suwandi yang akan pergi malam mingguan sama sang pacar.
Tidak bisa marah atau ngeluh jika diejek, karena keadaan tidak berpihak padanya.
Sesekali ia curahkan isi hati pada Murni, yang selalu siap dengar gosip perkembangan dirinya.
"Makanya say. Lu pepet terus ampe dapat. Jangan mau kalah sama adek lu" jawab pelan Murni, takut ketahuan suaminya , jika sedang ngajarin anak orang lain hal mesum.
"Gitu ya. Tapi, enggak mungkin cewek duluan ngajak nikah.Jatuh donk harga diriku" Santi ragu dengan saran teman gokilnya.
"Milih harga diri jatuh sebentar atau selamanya" tanya bisik-bisik Murni,noleh pintu kamar belum terbuka.
"Okelah. Nanti aku pikir masak-masak dulu" berhela nafas bingung.
"Jangan kelamaan masak, yang ada gosong.Wkwkwk...." tawa canda Murni.
"Mede...Mede.... Kumbang buka pintu,bunga nutup dulu" ujar Murni akhir percakapan, lihat handel pintu menukik.
Santi tau maksud kode sandi Murni. Karena galau, dirinya sulit lanjutkan pekerjaan.
"Mendingan tidur aja ahh" gerutu Santi melempar bebas tubuh duduknya di atas tempat tidur.
.
...****************...
.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.