Change Destiny

Change Destiny
122 Gangguan saluran penciuman


__ADS_3

Bab 122


.


Jam 3 pagi hari.


Posisi tidur Melani sudah tidak karuan. Tangan dan kakinya membentang luas, seluas panjang kaki tangan. Selimut pun sudah jatuh ke bawah akibat hempasan dirinya.


Wiliam yang tertindih tangan dan kaki istrinya, merapikan posisi tidur agar lebih nyaman bagi mereka berdua.


"Kamu tidak seperti biasa tidur begini gelisah" merapikan tangan kaki Melani dan mengambil selimut yang jatuh.


Kemudian ia kembali tidur telentang. Baru saja ingin memejamkan mata, tangan Melani menimpuk dadanya lumayan kuat.


"Hehehe...." terlihat wajah Melani tidur cengengesan, yang pasti sedang bermimpi sesuatu.


Wiliam menoleh lihat wajah istrinya yang cengengesan dari alam bawah sadar.


Tangan Melani di bawah alam sadar,mengeranyang dada kekar itu. Sontak pikiran kotor Wiliam muncul. Anggap saja curi kesempatan saat ada diberi umpan.


Wiliam melepaskan kancing piyama Melani tanpa izin terlebih dahulu,lalu melepaskan kaosnya juga.


"Nah, sekarang silahkan kamu goda suamimu ini" bisik Wiliam sudah tidak bisa tidur.


Melani bermuka manyun dan kadang nyengar-nyengir sendiri.


Karena Wiliam masih membiarkan istrinya untuk mulai menggoda dirinya,maka dia juga harus menahan hasrat yang mulai terbangkit.


Hal yang diharapkan pikiran kotor Wiliam pun terjadi. Tangan Melani mengelus lembut dada kekarnya, kakinya juga ikut menggesek hingga mengenai senjata kramat yang akan segera keluar dari sarang.


"Kamu nakal,hmm" bisik Wiliam, nikmati sensasi lembut tangan Melani.


Rasanya ingin sekali langsung sikat dua toping kacang merah pada bakpao empuk hangat.


"Kamu sudah berani menggoda, berarti saya harus berikan hak kamu" tangan Wiliam meraih pengait pakaian dalam bewarna pink.


Melani masih saja tampak nyenyak, padahal pemburu sudah mulai buat jebakan.


Tidak seperti biasanya Wiliam akan mengabsen rongga mulut. Untuk kali ini,ia ingin langsung icip toping kacang merah kenyal.


"Ummm....Ahhh" tubuh Melani menggelinjang karena stimulus Wiliam.


Dengan mata sayup-sayup ngantuk Melani mencengkeram kuat pundak Wiliam.


"Kamu sudah bangun?" tanyanya dengan senyum nakal.


"Jangan" tolak Melani mencari selimut atau sejenisnya untuk nutupi aurat.


Wiliam sengaja mencampak jauh semua yang diambil Melani, karena sudah tidak kuasa membendung hasrat.


Pagi yang singkat terasa amat singkat hanya untuk Wiliam. Rasa kedua kalinya ini masih sama sewaktu pertama kali ia lakukan.


"Hiksss....Hikss... Anda jahat!" tangisnya di dalam selimut.


"Bukan jahat, tapi beri nafkah" memeluk istrinya berbungkus selimut.


Belaian lembut mengusap punggung Melani yang sesenggukan. Dia sendiri juga bingung, mengapa tidak mampu menahan godaan kecil itu. Padahal sudah bertahun-tahun terlatih tidak tergoda pada bentuk tubuh wanita molek, bahenol, seksi.


"Kamu jangan nangis lagi.Kalau Mama Papa kamu tau, yang ada kita diketawain" bujuknya lembut.


Melani terdiam menangis. Benar apa yang dibilang suami mesum,jika diketahui orang lain terutama orang tuanya , yang ada malah diledekin.


Untuk mendapat keadilan, maka Melani pun bertindak sebagai hakim untuk dirinya.


Wajahnya keluar dari bungkusan selimut,lalu meraih bantal untuk memukul suami mesum.


Bukannya melawan,tapi Wiliam hanya menangkis tiap pukulan. Karena dia dapat tontonan gratis dari amukan Melani.


Dua gundukan bakpao melompat kenyal ke kiri kanan,naik turun. Hasratnya pun kembali bangkit setelah beristirahat cukup lama.

__ADS_1


"Kamu jangan begini lagi. Lebih baik pakai cara lain" bisiknya mendekapkan tubuh lengket mereka.


Melani pun sontak kaget, karena merasa ada benda yang bergerak di bagian perut. Benda yang beberapa kali ia rasakan,namun belum pernah diintip apalagi di lihat.


Matanya membulat, dan cepat di tutup begitu lihat benda panjang keras kecoklatan.


"Hahaha... Itu mainan kamu, mengapa malu" Wiliam tertawa geli. Karena istrinya memang belum pernah lihat dan menyentuh senjata kramat itu.


Tangan Wiliam menarik tangan Melani yang dijadikan penutup mata. Dia ingin memperkenalkan senjata kramat miliknya pada pemilik baru.


"Ayo sini tangan kamu" ucap licik Wiliam diam-diam ingin buat Melani terkejut saat berkenalan dengan senjata pamungkas.


"Nggak!!" sambil mata terpejam,menahan tangan yang ditarik paksa.


"Tidak usah takut. Saya tidak akan berbuat jahat" seringainya yang mendekatkan tangan Melani dan miliknya.


"Arrrhhhh...." jerit Melani bersentuhan benda suami mesum.


"Sssttt.... Jangan berisik!. Nanti pada bangun" menutup mulut Melani dengan tangan, tapi benda yang keras itu sudah menyentuh perut Melani.


Tidak ingin menunggu lama, Wiliam langsung menyerang pertahanan pasangan yang kaget.


Dua kali permainan lama, cukup bagi Wiliam untuk berolah raga ria.


"Sekarang saya mandi dulu.Apa kamu juga ingin sekalian saya mandikan?" godanya dengan wajah fress.


"Nggak!" bentak Melani,tubuh masih bergetar shock.


Wiliam pun turun dari tempat tidur untuk membersihkan tubuh lengket habis berolah raga.


"Beginikah kejadian malam itu.Ihh...Sungguh menjijikkan" gumam Melani mencabik selimut, dan sesekali digigit penuh amukan, membayangkan kejadian yang sama waktu dalam pengaruh obat.


Tercium aroma segar ketika pintu kamar mandi di buka Wiliam. Suami mesum yang hanya melilitkan handuk di bagian pinggang mendekati Melani, yang duduk membelakangi.


"Kamu mandi dulu,saya sudah siapkan air hangat untukmu" ucap lembut Wiliam.


"Aku tidak ingin lagi tinggal satu kamar dengan anda mulai detik ini" tegas Melani usai memproses sidang pikiran kalut.


"Pulang saja anda ke rumah mewah" jawab ketus, beranjak turun dari tempat tidur.


Wiliam yang tidak sadar sedang menduduki selimut yang bungkus tubuh polos istrinya, telah memancing keributan baru.


Melani hampir saja jatuh tersungkur cium lantai jika Wiliam mengangkat bokong.


"Sorry. Saya bukan sengaja. Sebagai permintaan maaf, bagaimana jika saya gendong kamu" ucapnya dengan tulus.


Ya tentu saja muka manyun Bimoli tidak luntur dari Melani yang marah.


Coba saja bayangkan, dirinya yang habis jalani perawatan setelah bergulat dengan Amanda hingga bonyok,masa harus bonyok karena hal tak masuk akal.


Wiliam menggendong tubuh kecil berbungkus selimut masuk kamar mandi. Tapi ada yang aneh juga dengan sikap Melani yang tiba-tiba mengendus aroma tubuh Wiliam.


"Kamu kenapa ngendus,hmm?" terus berjalan gendong.


"Anda pakai parfum ya?" tidak sungkan bertanya, karena marah.


"Tidak.Saya saja belum pakai pakaian" mendorong pintu kamar mandi pakai ujung kaki.


"Jangan bohong!" menatap sinis.


"Benar kok. Saya hanya pakai shampoo dan sabun yang ada" menurunkan pelan tubuh kecil itu.


Melani langsung mencari shampoo dan sabun yang di pakai suami posesif mesum.


Tidak ada tercium aroma yang sama oleh hidungnya. Ia pun ingin membuktikan apa yang di ucapkan Wiliam, apakah jujur atau bohong.


Untuk membuktikan Wiliam terpaksa harus mandi kembali.


Lagi-lagi Wiliam mengambil kesempatan dalam kesempitan. Akibat penasaran Melani, Wiliam melepaskan handuk penutup senjata kramat yang tidur.

__ADS_1


"Dia harus terbiasa melihat milik saya. Tidak lucu,jika selalu teriak ketika menyentuh dan lihat benda ini" ucap batin Wiliam menggantung handuk setengah basah.


Terpampang jelas benda milik Wiliam yang tidur menyembunyikan kepala berhelm.


Sedangkan Melani masih membungkus diri dengan selimut, dan menuangkan shampoo yang dibilang suaminya itu.


"Duduk!" hardik Melani seperti agen C.I.A yang menginterogasi penjahat.


Wiliam nurut untuk duduk di kloset. Rambutnya yang masih basah itu,di gonyor shampoo dengan jumlah banyak.


"Bagaimana?. Aroma shampoo kan?" tanya Wiliam, rambut di cuci istrinya.


"Diam!. Aku tidak tanya" ketusnya.


Masih belum terima, Melani mengambil soft soap gel yang dipakai suami,lalu menggosok di bagian punggung dengan penuh kesal.


"Bagaimana?. Aroma sabun kan?" pertanyaan yang juga sama terlontar Wiliam.


"Tapi kok beda?" gumamnya pelan, menggaruk kepala dengan tangan berbusa sabun kental.


"Beda gimana,sama kok" menarik tubuh Melani dari belakang.


"Nih hirup sabun di tanganku" mengulurkan tangan berbusa.


Wiliam menghirup aroma sabun dan shampo yang sama, bahkan aroma busa sabun di tangan Melani juga sama.


"Mel, kamu tidak sedang pilek kan?" tanya Wiliam untuk meyakinkan.


"Enggak lah. Kalau pilek, mana bisa tau" mata saling beradu pandang dengan satu frekuensi sama, yaitu mungkin Melani mengalami gangguan pada saluran penciuman.


"Kita cepat mandi.Saya akan bawa kamu periksa dokter" ucap Wiliam meraih botol shampoo, gantian mengkeramas rambut Melani yang duduk di pangkuan.


Karena sama-sama ada rasa cemas, mereka tidak berbuat hal aneh di dalam kamar mandi.


Dengan bantuan Wiliam memandikan dirinya,Melani baru tersadar bahwa dirinya habis di modusin, tapi lagi tidak pingin berdebat.


Mereka pun secepatnya memakai pakaian masing-masing,lalu sarapan singkat tanpa kasih tau apa yang sedang terjadi pada Tuan dan Nyonya Wijaya yang tertegun lihat keakuran.


"Ma,Pa, kami pergi dulu" pamit mereka serentak, terkesan tergesa-gesa.


Tuan dan Nyonya Wijaya berpandangan penasaran pada anak menantu yang bersikap aneh.


"Jika mereka pulang, jangan lupa tanya apa yang terjadi" pesan Tuan Wijaya pada istrinya.


"Iya,ko.Akan aku tanya. Moga-moga mereka tidak berkelahi" sahut Nyonya Wijaya mengambil jas kantor.


Pusing juga jadi orang tua,harus lihat bocah tua berkelahi terang-terangan.


Wiliam dan Melani pergi ke rumah sakit besar, dan mendaftar diri pada bagian THT.


.


...Rumah Sakit...


.


"Nomor antrian anda ke- 5" ucap perawat.


"Baik" jawab Wiliam.


"Anda pergi saja ke kantor,aku bisa check up sendiri" Melani mengusir halus suami mesum yang kembali normal jadi pengusaha berdarah dingin.


"Tidak usah. Saya juga harus tau hasil pemeriksaan" duduk menunggu dengan wajah dingin,kaki pun di angkat menindih kaki sebelahnya.


.


...****************...


.

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya.


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.


__ADS_2