Change Destiny

Change Destiny
88 Singa kelaparan


__ADS_3

Bab 88


.


Ketika sedang seru-serunya bermain game online, seseorang membuka pintu dan duduk disampingnya.


"Oh, ternyata begini kerja seorang asisten saat tidak bertugas" sindir orang tersebut, menutup pintu.


"Hehehe..." nyengar-nyengir malu, keluar dari permainan game online, yang buat tidak terasa menunggu lama.


"Sekarang ke rumah ya, Tuan?" tanya supir.


"Iya"


Melani duduk kaku bagai sebuah patung bertopeng orang. Tapi jika dianggap salah,juga tidak. Dia tidak melanggar peraturan suaminya yang tidak izinkan tebar pesona.


"Kamu tadi sudah berani ngadu sama Josh" ucap dingin Wiliam ingin menginterogasi.


"Mampuslah aku" rutuk batin Melani semakin tegang.


Tidak melanggar peraturan, bukan berarti pria dingin tidak dapat menemukan kesalahan kecil istrinya.


Untuk memutuskan hukuman, Wiliam menunggu sampai mereka tiba di rumah.


Jantung yang berdebar kencang, tidak dapat dikontrol pikiran Melani yang sudah gemetar ketakutan duluan.


Seketika mobil sampai di rumah, dengan rasa takutnya teramat dia malah nahan pintu agar tetap dalam keadaan terkunci.


"Keluar" suara Wiliam melengking sampai terdengar ke dalam mobil yang tertutup kaca.


Melani terus mencoba menekan tombol agar tidak terbuka,dan geleng-geleng kepala ketakutan.


"Jika tidak keluar, hukuman 4 kali lipat" hardik Wiliam berwajah marah.


Kepala Wiliam bergoyang memanggil bodyguard, untuk mengeluarkan istrinya dari dalam mobil.


Pertahanan yang lemah itu mudah dijebol oleh bodyguard yang menerima perintah.


"Ayo masuk" Wiliam menarik Melani yang berhasil di keluarkan.


.


Melani jalan terseret menahan langkah kakinya. Ketika menaiki anak tangga, tangannya memegangi pegangan pagar tangga.


"Kayaknya kamu sengaja ingin lihat saya marah?" berhenti melangkah, menoleh ke belakang.


Istrinya menggeleng kepala, bukan niat ingin buat marah.Tapi jika semua masalah dapat dibicarakan baik-baik dengan musyawarah, mungkin Melani tidak akan melakukan perlawanan sengit.


Semakin istrinya melawan, tingkat emosi meninggi pula. Biar cepat semua berakhir, pria dingin langsung mengendong istrinya tertopang pundak kekarnya.

__ADS_1


"Turunkan aku!!" ujar Melani meronta, memukuli punggung kekar suaminya.


"Diam!!" bentak Wiliam bersuara menggelegar seisi rumah.


ART yang sedang sibuk pada tugas mereka masing-masing terkejut seketika dengar suara bergelegar pemilik rumah. Niat ingin lihat apa yang sedang terjadi, mereka pikirkan baik-baik. Jangan gegara ingin tau, nasib mereka jadi ketiban sial.


Mereka pun kembali bekerja, sambil dengar suara yang makin hilang bersama bayangan.


Pria dingin mendorong pintu kamar yang terbuka dengan kode sandi jarinya. Lalu mengunci dengan sandi ,agar terdakwa tidak bisa kabur.


"Mau apa anda!" teriak Melani jalan, mundur pelan-pelan ke belakang, lihat suami melepaskan jas dan longgarkan ikatan dasi.


"Menurut kamu untuk apa saya bawa kamu ke kamar ini" berjalan maju dengan tampang siap menghukumi terdakwa.


"Jangan coba-coba dekat, atau aku akan teriak semakin keras" ancam Melani hampir terpojok disudut kamar.


"Oh,ya. Coba saja" tantang Wiliam melempar dasi dan tali pinggang kesembarang arah.


Tit....Tit....Tit....


Ponsel Melani berdering, mungkin saja ini penolong yang akan menyelamatkan dirinya dari ancaman singa kelaparan.


Melani merogo saku jasnya ambil ponsel dengan geragapan. Bukannya berhasil minta pertolongan, ponselnya jatuh tepat di depan singa kelaparan.


Lihat siapa penelepon ponsel itu, Wiliam menjawab.


"Iya,Omah. Kami sedang istirahat. Jika tidak ada hal penting, boleh kami lanjutkan" jawab Wiliam memberi stimulasi salah kaprah yang liar dan dalam.


"Wil,kamu harus lembut dan kasih waktu jeda" nasehat nenek dengan senyum semeringah.


"Iya,Omah. Sekarang kami lanjutkan ya" jawab Wiliam, berjalan berhasil memojokkan istrinya yang gemetaran sampai sudut tembok dekat tempat tidur.


Panggilan itu tutup, lalu mencampak ponsel yang dalam mode silent ke sofa panjang.


Sedangkan nenek yang terbiasa bangun pagi-pagi, segera mandi dan ingin memberitahukan ibu tua akan aktivitas cucu dan cucu mantunya itu.


Wajah tampan itu sekarang begitu dekat, hingga nafas terasa menyapu wajah cantik ketakutan.


Satu persatu kancing baju kemeja di lepaskan Wiliam dengan satu tangan. Sedangkan tangan satunya lagi mengunci tangan istri, agar tidak kabur.


Hal lumrah saja jika mereka melakukan hal demikian, mengingat pernikahan mereka yang sudah berjalan tiga bulan.


"Aku mohon jangan lakukan ini" isak tangis Melani,wajah menunduk tertutup.


"Heng.... Biasanya kamu punya nyali besar, sekarang menciut" menanggalkan celana panjang pakai satu tangan, yang tersisih hanya celana boxer dan dalam yang melekat utuh.


"Aku janji tidak akan mengadu pada siapa-siapa lagi" ucap Melani sesenggukan.


"Benarkah?" tanya Wiliam dengan posisi mengunci tubuh kecil istrinya.

__ADS_1


"I-iya. Asal jangan lakukan itu" sesenggukan jawabnya. Tidak bisa mendorong tubuh kekar, dengan tangan terkunci yang diangkat tinggi lebihi kepala.


"Tapi saya tetap akan menghukum, biar kamu tidak ulangi kesalahan yang sama" bisik Wiliam, menghirup aroma shampoo dirambut istrinya terurai lurus.


Tanpa izin dan aba-aba,pria dingin langsung mengendong istrinya yang masih memberontak menuju tempat tidur king size.


Tubuh kecil itu dijatuhkan pelan pas di kasur empuk. Lalu dengan posisi menindih dan bibir menyungging, Wiliam mengusap bibir mungil yang teraliri ingus pakai jempolnya.


"Kamu ini sudah besar masih saja jorok" ucap Wiliam sambil marah sambil elap ingus istri.


Hikss.... Hikss.... Melani hanya bisa semakin menangis, merasakan tubuh kekar dan hangat menindihnya, dan bersiap menjadikan sebagai menu pembuka santapan makan malam hari ini.


Glekk.... Hasrat yang timbul segera dikontrol pemilik tubuh kekar, dia juga tidak ingin menyantap hidangan memukau sebelum siap disantap olehnya.


"Sebagai hukuman,kamu pijat pundak saya" ucap dingin sambil kontrol mata yang lihat celah gundukan bakpao terbungkus rapat.


Melani ngangguk dengan mata terpejam. Hukuman ini lebih bermoral dari pada hukuman ranjang. Walau status mereka sudah sah, namun bagi Melani ia tidak Sudi memberikan harta paling berharga.


Dengan posisi suami tidur tengkurap, Melani mulai memberi pijitan pada pundak yang tegang keras. Tapi cara bagaimana pijitan yang benar, dia sungguh tidak tau.


"Keras dikit kalau mijit, kayak enggak saya kasih makan saja" bentak Wiliam, sengaja berkata begitu untuk mengalihkan pikiran awang-awang.


Melani lebih menekan keras pundak dengan tenaga yang tidak seberapa itu. Namun tetap tidak cukup dirasa suami.


Agar bisa segera akhiri hukuman sekaligus balas dendam kesumat jati jadi satu kesatuan sempurna,Melani memukul dan mencengkram pundak dengan kekuatan tersisa.


"Ini anak mau balas dendam. Tapi ya sudahlah, dari pada saya yang khilaf" ucap batin Wiliam, membiarkan istrinya melampiaskan keluh kesah pada pundak yang kaku lelah.


Keringat peluh Melani keluar menetes jatuh di atas punggung kekar, semua kemarahan yang dilampiaskan pada pundak pemilik juga berangsur reda.


"Tuan, aku sudah boleh keluar belum?" tanya Melani kecapean memijit 1 jam lebih, eh salah...Maksudnya balas dendam.


"Tunggu saya selesai mandi" jawab dengan wajah tidur.


"Lah, kapan siap mandinya?. Ini aja sedang molor" beranjak turun dari atas tempat tidur.


"Jangan coba-coba kabur lagi. Atau aku tidak ampuni lagi" ancam Wiliam dengan suara serak orang antara dua dunia berbeda.


Melani berdiri kaku, mengapa orang yang molor bisa tau dia mau keluar.


.


...****************...


.


Terima kasih atas dukungannya.


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.

__ADS_1


__ADS_2