
Bab 111
.
Sementara di cafe, terlihat Tomi yang duduk kecewa. Padahal dirinya sudah berbulan-bulan tidak berhasil mencari keberadaan teman sekaligus gebetan. Sekali bertemu tanpa terduga,juga tidak bisa duduk untuk berbincang lama.
"Ada apa dengan kamu, Mel?. Kamu seakan menghindari aku" memandang pintu cafe, sambil aduk kopi pesanan.
Melani yang habis mandi bersih, dikejutkan dengan kepulangan Wiliam yang duduk di atas tempat tidur, di tengah jam kerja kantor.
Mukanya yang masih tertutup emosi penyesalan dan segala emosi lain, mengacuhkan kehadiran sang big bos.
"Kamu tadi kemana?" tanya Wiliam, melonggarkan ikatan dasi.
"Bukan urusan anda" ketus Melani, keluar kamar dengan wajah emosi.
Seorang suami tentu tidak terima sikap yang ditunjukkan istrinya, sebelumnya mereka juga tidak ada masalah baru yang serius sedang terjadi.
Wiliam menyusul keluar, dan ingin tau penyebab akar permasalahan pada istrinya.
"Kamu ini bisa nggak untuk diajak bicara baik-baik,hmm" ucap dingin dan tatapan sinis menghampiri Melani meletakkan kotak P3K di meja ruang tengah.
Tak kalah pula Melani menatap suaminya, dengan tatapan aura kebencian dan dendam.
Andai saja semua ini tidak terjadi, mungkin tidak ada timbul benci dan dendam kesumat dalam dirinya.
"Aku tidak boleh tampak rapuh di depannya,juga tidak boleh takut dengan ancaman. Semua akan baik-baik saja" Melani menstimulasi pikiran positif.
"Saya sudah katakan, bahwa kamu tidak boleh kabur. Jika berani kabur,maka harus siap dengan hukuman" tegas Wiliam, melepaskan jas dan gulung ujung lengan kemeja panjang.
"Aku juga mau bilang. Mulai detik ini,anda tidak usah mengurusi kehidupan pribadiku" tak kalah tegas Melani menjawab.
"Kamu..!!" tesulut emosi.
Wiliam menarik kasar tangan Melani yang sedang pegang obat oles. Sontak tubuh kecil itu jatuh dalam pelukan tubuh kekar.
Pikiran Wiliam yang tidak terkendali itu pun merobek pakaian yang dikenakan istrinya. Tidak tinggal diam juga Melani diperlukan tidak senonoh begitu. Dia menampar keras wajah tampan sang pemilik, yang merupakan ikon keluarga.
Sebuah tamparan yang sudah merusak citra diri sebagai pria pun tidak diterima Wiliam. Dia melepaskan ikat pinggang yang masih menyatu pada celana, kemudian mengikat pergelangan tangan istrinya itu.
"Kamu sudah tidak menghargai saya. Jadi saya juga tidak perlu menghargai dirimu" mencengkeram erat dagu Melani, dengan wajah penuh amarah.
Kaki Melani yang masih bisa bergerak bebas, ikut memberi serangan maut. Kakinya menendang ************ paha Wiliam.
Daerah yang masih rawan sentuhan kasar, membuat Wiliam kesakitan tidak ada duanya. Dia memegang senjata yang baru di observasi dokter, untuk kelangsungan masa depan keturunannya.
__ADS_1
Dari pada mengurus Melani yang tampak acak-acakan, Wiliam memilih untuk mengobati senjata kramat secepatnya.
"Melani.... Saya tidak akan membiarkan hidup kamu tenang. Karena sudah berani menendang milik saya dua kali" geram marah Wiliam, melepaskan celana segitiga pengaman untuk mengurangi efek sakit.
Ya, untungnya tidak serius tendangan Melani menyenggol senjata. Jika tidak, senjata pamungkas milik Wiliam bisa pendarahan.
Melani yang ada di ruang tengah, kembali bisa lolos dari ikatan Wiliam mengikat kedua tangannya.
"Mampus kamu. Rasakan rasa sakit yang tidak seberapa itu,dari pada rasa sakit hatiku" marahnya,memungut pakaian sobeknya lalu masuk kamar mandi di dapur.
Kebencian satu sama lain semakin berkembang. Sore itu juga, Wiliam memutuskan untuk tidak akan bersikap lembut maupun perhatian pada istrinya. Bahkan tugas asisten pribadi pun dilepas, dan tidak akan membiarkan istrinya untuk ikut mengurus semua urusan kantor.
"Hengg!!. Dia pikir aku bakal mati karena nggak kerja!. Lihat saja. Aku bukan Melani yang lemah dan bisa diancam begitu saja. Aku bakal tunjukkan bagaimana Melani yang datang dari masa depan, hadapi KA-U!!" Melani memindahkan semua benda miliknya ke dalam gudang mansion itu.
.
3 bulan berlanjut, tanpa ada keharmonisan dalam mansion itu. Hubungan yang dari awal pertemuan memang telah renggang itu semakin renggang berantakan.
Melani tidak menjalankan kewajibannya sebagai istri (menyiapkan keperluan suami),dan juga Wiliam yang tidak memberi nafkah(memberi uang saku). Mereka berdua hidup dalam satu atap,bagai majikan dan pembantu saja.
Tentu tidak ada salah satu anggota keluarga mereka yang tau hal ini.
Selain itu, Josh pun sekarang hanya tinggal berdua dengan paman tampan sebagai wali orang tua, setelah ibu tua dan nenek pergi keluar dari rumah besar.
.
"Uncle, kapan Josh bisa bertemu Mami?" tanya bocah yang lama tidak berjumpa sang ibu baru cantik.
"Tidak tau. Kamu tau sendiri bagaimana Daddy, kalau sudah buat peraturan" mengusap kepala agar bocah cepat tidur.
"Apa Josh bisa lihat Mami kalau di kantor?" menatap sedih.
Ronald menggeleng kepala. Karena dirinya saja sudah 3 bulan lebih tidak bertemu sang mantan gadis impian. Lain dari itu, Wiliam melarang siapapun karyawan untuk bertanya mengenai Melani di deportasi kemana.
Memang bukan hal sulit bagi Ronald untuk menghubungi mantannya itu. Tetapi ia ingin menghargai keputusan mereka yang membungkam dalam kebisuan.
Apalagi emosi labil sang abang yang telah 3 bulan tidak bisa ditebak Ronald, yang hidup 30 tahun lebih bersama.
"Kamu jangan banyak tanya lagi.Cepat tidur kalau tidak mau terlambat" perintahnya, menarik selimut nutupin tubuh ponakan.
"Uncle, kalau Daddy sudah izinkan Josh ketemu Mami, uncle mau kan antar Josh?" menahan tangan paman tampan, dan diangguk.
"Sekarang tidur" menukar lampu kamar.
"Good night uncle" memejamkan mata.
__ADS_1
"Good night too, Josh" membuka dan tutup pintu.
Meski tau peringai abang tidak ringan tangan pada wanita, namun Ronald menaruh rasa was-was. Siapa yang bisa menebak seseorang tidak akan berubah seiring waktu berjalan.
Kegundahan yang tidak berarti itu hanya membuat rasa cemas melanda dirinya seorang.
"Mel, saya harap kamu baik-baik saja" menutup tirai jendela dalam gelap pekat malam.
Pagi tetap muncul seperti biasa, tanpa diundang maupun diantar pulang.
Melani yang habis menyediakan sarapan, seperti biasanya akan melanjutkan pekerjaan mencuci baju dan beres-beres rumah, hanya untuk menghindar tatapan.
Soal belanja keperluan dapur dan beberapa lainnya, dia selalu menulis di memo, atau memesan via online.
Yang tidak ada sangkut pautnya dengan kebutuhan mansion, tanggungan biaya jadi beban kantong Melani.
"Hampir tipis tabungan ini. Aku harus bisa keluar dari jurang neraka ini" habis cek online saldo tabungan.
Siang itu, Melani terpikir untuk menjalankan usaha baru tanpa modal sepeser pun.
Di mulai dari beberapa bakat yang telah ia pelajari.
"Apa aku jadi vloger?" memikirkan yang cocok dalam jangka waktu panjang.
"Ya. Itu saja awal baruku. Mana tau, karir ini bisa mencuatkan kembali namaku" mengambil beberapa keperluan untuk membuat konten.
Melani memulai dari memberi beberapa tips bagi kaula muda berenergik dalam bertata busana simpel, tapi hasil memukau.
Berdasar sebuah kaos santai yang dipadukan dengan celana jeans, dan sedikit polesan simple bagi yang pemula, tentu akan menarik bagi mereka dari kalangan bawah yang gemar fashionable.
Tips tutorial yang di share Melani dalam 1 jam, sudah menghasilkan puluh ratusan ribu viewers.
Memang masih jauh dari harapan, tapi yang namanya usaha tidak ada yang instan.
"Sabar, syukuri berkah saja" melihat laju pertambahan kadang cepat, kadang konstanta.
.
...****************...
.
Terima kasih atas dukungannya.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.
__ADS_1