
Bab 47
.
Sepanjang jalan pulang, Wiliam mengerjakan tugas kantor dengan satu tangan, agar tidak mengusik si peminjam bahu.
Dari kaca spion, sang supir melirik wajah dingin tampan majikannya, yang beda bersikap pada wanita lain.
"Wajar saja jika Tuan lebih perhatian, kan sudah resmi jadi pasangan" monolog supir ,ikut bahagia pada perubahan membaik.
"Kamu lihat apa,hum?.Yang fokus kalau nyetir" ucap dingin Wiliam.
"Hehe,... Baik, Tuan" supir tertawa malu akibat kepergok.
Dengan amat hati-hati supir melaju sampai rumah besar, demi kenyamanan majikan .
.
Begitu sampai di rumah,mereka disambut Josh yang merajuk di tinggal sendirian.
"Josh, Daddy bukan jalan-jalan. Kalau tidak percaya tanya sama Pak supir dan Mami-mu" jelas Wiliam.
"Oke. Dimana Mami sekarang, Dad?" sewot Josh.
Belum sempat jawab, tubuh Melani masuk terpapah jalan pelan dua pelayan perempuan .
"Dad, Mami kenapa?" Josh binggung, sama keadaan kepala Melani nunduk tak bertenaga. Belum lagi dua pelayan memapah masuk.
"Sedang tidur. Jadi ,jangan ribut.Ssttt" menutup mulut dengan telunjuk
Josh ikut nutup mulut, membiarkan pelayan lewat memapah tubuh ibu baru sampai kamar.
"Besok pagi, Daddy akan pergi ke Amerika. Kamu harus nurut sama Grandma" berjalan naik anak tangga.
"Oke. Josh juga akan nurut sama Mami" masih marah karena ditinggal.
"Tidak usah"
"Why, Dad ?" berhenti jalan.
"Karena,dia akan ikut Daddy ke Amerika" berhenti dan berbalik.
Muka Josh semakin menekuk cemberut marah, dia yang pingin punya seorang ibu, kini ibu tersebut diambil penuh sama bapaknya.
"Hengg.... Daddy jahat" marah Josh, jalan cepat masuk kamarnya.
Bammm....
Suara Josh membanting pintu, tidak mau dengar penjelasan.
"Ini anak terlalu dimanja" bermonolog,sambil jalan menuju kamar Josh.
Tokk.... Tokk....
Walau tidak di kunci, tetap contoh sopan santun sebagai prioritas.
"Josh,bisa kita bicara sebentar" Wiliam menarik handel pintu.
__ADS_1
Josh menarik selimut, menutupi sekujur tubuh sebagai aksi demo marah.
"Josh, Daddy bukan bawa dia holiday. Kamu tadi lihat kan, kalau dia tidur. Dia itu sedang sakit ,dan kami baru pulang dari rumah sakit, so... Daddy mau membawanya ke dokter luar negeri besok pagi" jelas Wiliam duduk menyamping membiarkan bocah mencerna setiap kata.
Selama ini sosok Wiliam meski keras tapi jujur dan penyayang. Perlahan Josh menarik turun selimut menutupi wajah.
"Daddy gak bohong kan?"
"No, It's true" Wiliam mengangkat dua jari bentuk V ke atas.
Awal marah merajuk jadi pingin tau lebih, penyakit apa yang mesti di obati ibu barunya.
"Jadi, Mami sakit apa?.Berhaya ya ,Dad?.Kapan bisa sembuh?.Tapi,Mami tidak akan pergi jauh tinggalkan Josh lagi kan, Dad?" runtunan pertanyaan keluar dari mulut kecil Josh, dengan wajah serius menyimak.
"Don't worry boy. Dia akan segera pulih dan bisa bermain dengan kamu secepatnya" mengelus kepala bocah seakan kehilangan kedua kalinya.
Josh ngangguk dalam pelukan tubuh kekar besar. Dan dia percaya setiap omongan itu akan jadi kenyataan. Karena apa yang diinginkan, maka seorang Wiliam Lee akan mengabulkan sampai terwujud.
.
Esok pagi sehabis sarapan bersama keluarga besar, Wiliam, Melani dan Josh pergi ke sekolah sebelum menuju landasan pesawat.
"Mami, setelah sehat nanti, Josh ajak Mami main ke taman ya" memeluk sebelum turun mobil.
Melani ngangguk tidak tau mesti jawab apa. Apa lagi dia binggung sama keadaan baru.
"Kamu harus nurut saat di rumah. Jangan buat Grandma cemas" pesan Wiliam membukakan pintu.
"Yes, Dad" tangan memberi hormat seperti sedang upacara bendera.
Josh mencium lengkap kedua pipi orang tuanya. Lalu turun. "Bye Dad,...Bye Mam....Besok jangan lupa telepon Josh ya" tangan melambai, memberikan kiss bye dan bertingkah sudah dewasa.
Melani dan Wiliam membalas lambaian tangan, lalu menutup kaca mobil.
Mobil kembali bergerak menuju landasan pesawat pribadi berada.
"Kamu kenapa?" menoleh samping, Melani memijit kening.
"Sakit" Melani mencari obat dalam tas hand bag.
"Sini aku cari" ambil hand bag dan cari obat.
Saat mencari obat, Wiliam menemukan bungkusan pembalut.
"Kamu tidak sedang menstruasi, kan?" tanya kaku Wiliam jijik sentuh benda itu.
Melani menggeleng nahan rasa nyeri, dahinya mulai keluar biji peluh keringat. Secepatnya Wiliam serahkan sebutir pil, begitu dia dapatkan botol obat.
"Kamu tidur saja. Setelah sampai, akan saya bangunkan" memberikan botol minum.
Obat bereaksi cepat menuju pusat syaraf, rasa sakit pelan-pelan mereda dan kantuk mulai terasa.
Begitu naik pesawat pribadi mata Melani semakin berat tak tertahan.
"Hey... " Wiliam menepuk pelan wajah Melani tertidur pulas.
"Tuan, sini saya bantu papah" ucap pramugara.
__ADS_1
Sebagai suami, Wiliam tidak biarkan sembarangan pria boleh menyentuh wanitanya, meski sekedar status di atas kertas hitam putih bermeterai.
"Biar saya sendiri, kamu bawakan hand bag Nyonya saja" Wiliam kembali gendong posisi ala bridal.
Tidak pernah melihat majikan sedemikian rupa memperlakukan wanita muda. Semua yang tidak tau status hukum mereka, hanya berfikir jika Melani salah satu wanita beruntung dapat masuk dalam hati majikan mereka yang berhati batu.
Perlahan Wiliam rebahkan tubuh kecil itu di atas tempat tidur. Sejenak ia melihat wajah cantik tidur pulas pengaruh obat.
"Kamu lebih beruntung dan saya jadi repot harus ngurus kamu" berlipat dada memandang wajah cantik istrinya.
"Tuan, pesawat akan lepas landas.Silahkan duduk dan pasang sabuk" ucap pramugara.
Wiliam berjalan duduk tepat di depan kasur single miliknya berada.
Selama perjalanan puluhan jam, Wiliam mengkoreksi pekerjaan karyawan yang tersimpan dalam flash disc.
Tiga jam sudah pesawat lepas landas ke udara, Melani juga sudah terbangun lebih segar.
"Kapan kita sampai, Tuan?" tanya Melani duduk memandang awan putih.
"Masih cukup lama. Cukup waktu untuk tidur lama" jawab dingin Wiliam, tangan memainkan papan laptop.
Kruukkk... Krukkk.....
Suara perut keroncongan antara salah satu dari mereka sedang konser pribadi.
"Kamu lapar?.Minta saja ke mereka siapkan makan siang" sahut Wiliam, tau siapa pemilik konser solo itu.
Hehe.... Melani tertawa pelan malu .Biasanya tidak akan terjadi hal memalukan ini. Mungkin karena tadi efek obat yang buat dirinya lebih mudah lapar.
"Permisi, bisa aku pesan makan siang?" Melani lihat pesawat tanpa penumpang lain di kelas VIP.
"Nona mau pesan menu apa?" tanya pramugari.
"Yang bisa buat kenyang saja" Melani juga gak mungkin banyak permintaan.
"Baik. Akan kami sediakan di sesuaikan dengan favorit Tuan" jawab pramugari.
Kaki Melani masuk batas pintu pemisah, lalu duduk di atas tempat tidur.
"Mmm... Boleh saya bertanya Tuan?" canggungnya.
"Hemmm... Apa?" tanpa menoleh.
"Mengapa penerbangan ini ,tidak ada penumpang lainnya?" Melani coba berfikir, meletakkan posisi pada kedudukan tertinggi dalam masyarakat.
"Karena ini pesawat jet pribadi" Wiliam menoleh aneh.
.
...****************...
.
Terima kasih atas dukungannya .
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.
__ADS_1