
Bab 154
.
Pertempuran baku tembak yang sudah berlangsung beberapa jam, dan telah meninggalkan korban dalam ruang bawah tanah itu, akhirnya sepi mengheningkan cipta.
"Sekarang sudah aman.Kita bisa keluar" ucap pria lansia,sedari tadi memfokuskan pendengaran para pertarungan di atas tanah.
Satu persatu berbaris rapi, termasuk Melani ikut berdiri berjalan di tengah banyak orang.
Sang pemimpin memandu yang di belakangnya, agar keluar dengan aman selamat menghirup oksigen bebas.
"Hati-hati saat keluar, mungkin banyak pecahan kaca dan kaleng yang meruncing karena peluru" nasehat pemimpin dan dilanjutkan sampai ke baris terakhir.
Semua paham untuk berhati-hati melangkah keluar dari ruang bawah tanah.
Ketika sang Surya mulai menutup mata berganti peran dengan rembulan, keadaan yang kacau balau itu tidak menampakkan jasad salah seorang dari 2 orang petarung.
"Kemana mereka pergi?" gumam Melani ngintip dari pintu kayu bar minuman penuh lobang akibat tembakan.
"Ayo pulang!" ujar dingin seseorang dari samping pintu.
"Haa!!!" kaget Melani lihat yang menang bukan pahlawan kecilnya.
Kembali kekenyataan, Melani dipaksa untuk balik ke kamar yang seharusnya. Dan seperti yang pernah dikatakan Josh,dia berjuang sekuat tenaga menahan kepergian ibu cantik.
"Mami..." tangan Josh mengulur tahan Melani.
"Josh...." Melani ikut mendramatisir sengaja mewek-mewek lebai.
"Enough !!" bentak Wiliam, memisahkan tangan berpegangan erat.
Kedua bocah beda generasi menangis histeris, memenuhi lantai 2 tanpa ada orang lain selain mereka bertiga.
Garuk-garuk kepala Wiliam ketika harus berhadapan dengan 2 bocah kompak tidak ingin terpisah satu sama lain.
"Ok,ok, fine" tangannya dihempas agar keduanya diam tidak buat histeria.
Melani dan Josh langsung diam,mata saling mengkedip atas keberhasilan mereka.
"Let's go, Mami" ajak Josh bawa Melani pergi begitu saja.
Melani pun ikut pergi tanpa izin sang suami,tapi hati tertawa senang.
"I'm win" ujar batin Melani dengan bibir menyungging.
Masuk juga Melani ke kamar Josh, mereka langsung mengunci pintu secara manual.
"Yeahhh... Berhasil!!" seru Melani, tos tangan sama pahlawan kecilnya.
"Josh sudah bisa jaga dan lindungi Mami" ujar Josh dan diangguk Melani dengan sebuah belaian lembut tangan menyapu wajah tampan gemes itu.
"Sekarang kamu siap-siap mandi" perintah Melani dan diangguk juga sama Josh.
Mereka berdua lebih cocok jadi teman beda usia, dari pada jadi ibu dan anak tiri.
.
1 bulan kemudian....
Usaha online yang masih tercium samar-samar oleh Wiliam semakin meningkat pesat.
Kesibukan Melani yang terbantu seorang pegawai online kian tidak terbendung, dan mengharuskan Melani untuk menambah beberapa pegawai online baru.
"Ada rezeki harus dibagi" gerutu Melani sibuk mengorder pasokan customer, sambil menyebar pencarian karyawan baru.
Seperti biasanya pula, setiap siang maupun Wiliam seharian ada di rumah,maka seluruh kegiatan online akan dijauhkan seaman mungkin.
"Minggu depan Ronald ulang tahun,so we will have invited guests. Dan saya mau,kamu mengurus acara keluarga ini" ucap Wiliam tengah makan siang bareng keluarga kecilnya.
Yang dimaksud tau dirinya jadi pelaksana acara kecil, jadi hanya ngangguk nurut saja sambil makan siang.
"Ini kartu untuk beli semua keperluan" Wiliam mengeluarkan kartu black card unlimited.
__ADS_1
"Ok" jawab datar Melani, mulai menjalankan kewajiban ibu rumah tangga beberapa hari ini lagi.
"Dan untuk kamu.Saat ada tamu datang, wajib tata krama di utamakan" nasehat tegas Wiliam ke Josh.
"Ok, Dad" patuhnya.
Terlihat harmonis kan keluarga kecil ini untuk menuruti setiap perintah kepala keluarga?.
Itu karena peraturan baru Wiliam beberapa minggu lalu, setelah lihat kedua bocah kian susah menurut.
Jadi setiap Wiliam ingin memberi nasehat atau perintah sekaligus peringatan, maka Wiliam akan mengatakan saat jam makan siang.
Pada jam makan pagi,itu hak untuk Josh bertingkah bebas pada istrinya. Dan untuk jam makan malam, itu waktunya Melani meminta satu permintaan yang wajar ke Wiliam.
Terdengar aneh peraturan tersebut,tapi begitulah cara mereka untuk saling dapat keadilan, meski tidak terlalu adil 50 persen untuk ibu dan anak.
"Josh,kamu mau pakai taxedo atau biasa saja?" tanya Melani mulai merencanakan acara ulang tahun yang akan dihadiri mereka saja.
"Suka hati, Mi.Asal Mami yang pilih, Josh tetap suka" sahut Josh, mengantar Daddy-nya kembali ngantor.
"Kita couple-an saja deh.Nanti Mami searching baju couple untuk kita" menutup pintu utama rumah.
"Terus Daddy?" cemas akan ada orang yang cemburuan dan berdebat dengannya.
"Terpaksa ikutkan Daddy.Tapi apa Daddy-mu mau?" ragu untuk ikut sertakan Wiliam dalam seragam baju mereka.
Josh angkat bahu tidak tau pula akan selera bapaknya.
Mereka berdua naik anak tangga ke lantai atas, kembali untuk mengerjakan tugas mereka masing-masing, sambil memutuskan pakaian couple-3 yang sesuai selera Josh.
"Yang biru dokar dengan payet ini, gimana?" tanya Melani nunjukin gambar pakaian berbahan sutera lembut adem, tidak norak untuk dipakai wanita maupun pria.
"Josh pilih warna silver, Mi. Kayak power rangers yang terakhir dan paling hebat" ujar Josh, menirukan gaya power rangers saat melakukan perubahan.
"Ok.Kita pilih silver, payet gold bersimbol 'L'" jawab Melani dengan tawa lucu tipis,milih simbol nama keluarga besar.
Melani melanjutkan untuk membeli beberapa kebutuhan lainnya secara online. Dirinya tidak tau apa saja kesukaan anggota keluarga ini,tapi ia memilih secara umum.
"Mi, Josh boleh minta softdrink ya?" pintanya tiba-tiba saat di waktu pingin minum.
"No" tolak Melani, teringat kejadian tahun lalu saat Josh masuk rumah sakit karena softdrink.
"Please, Mi. Sedikit saja" memelas dengan muka imut.
"Tidak bisa Josh.Apa kamu mau kita terpisah lagi?.Nanti saja setelah kamu dewasa dan bisa kendalikan alergi, Mami baru beli" ucap Melani membujuk lembut.
Dengan mimik wajah kecewa tapi paham maksud kata sang ibu, Josh memendam kembali keinginan itu.
Malamnya mereka kembali berkumpul di ruang makan untuk makan malam. Saatnya Melani untuk membuat satu permintaan yang telah ia pikirkan masak-masak sejak siang.
"Aku mau izin pulang ke rumah Papa" ucap Melani setelah di tatap perbolehkan dirinya untuk meminta.
"Ok,tapi tidak nginap" jawab tegas Wiliam.
"Baiklah" lesu Melani menyambung.
"Josh ikut kan,Mi?" tanya Josh, punya harapan untuk merengek lapor ke kakek nenek sambungnya.
"Tentu saja" senyum Melani.
Wiliam memasukkan kasar nasi di sendoknya ke mulut. Perlakuan yang tidak pernah ia dapatkan dari pernikahan 1 tahun lebih mereka.
"Apa keperluan ulang tahun Ronald sudah rampung?" ketus tanya Wiliam.
"Hampir selesai, tinggal menu makanan saja yang belum" jawab Melani.
"Hmm" dehem Wiliam tidak bisa lanjut bertanya.
"Dad, tadi Mami pilih baju seragam untuk dipakai saat pesta uncle loh" celetuk Josh teringat untuk membahas.
"Enggak-enggak-enggak.Kalian jangan pakai seragam aneh-aneh ya!. Hanya buat malu keluarga di lihat orang lain" tolak ketus Wiliam,tau pikiran dua bocah saat kompak banget.
"Enggak aneh kok. Keren kayak power rangers" jelas Josh meniru tokoh rangers kesayangan.
__ADS_1
Wiliam tercengang harus memakai kostum seragam super hero saat ulang tahun adiknya yang udah tua.
Kepalanya terus menggeleng menolak untuk pakai seragam.
"Koko gak kompak. Nanti kita dikira tamu kak Ronald pasti sedang bermusuhan" ujar Melani memanasi pikiran suami.
"Biar aja.Awas kalian kalau berani pakai kostum aneh itu" ancam Wiliam, tidak ingin mempermalukan diri.
Wkwkwk......
Ibu dan anak tertawa terbahak-bahak pegang perut, lihat raut wajah Wiliam begitu takut untuk berseragam pakaian yang belum diperlihatkan bentuk seragam pilihan mereka.
"Kenapa kalian tertawa,hmm!" ujar dingin Wiliam menunjukkan wibawa sebagai kepala keluarga.
"Lucu" jawab singkat ibu dan anak bersama.
Wiliam tidak merasa ada yang lucu pantas untuk ditertawakan.
Karena kesal, Wiliam menghukum ibu dan anak itu begitu saja.
"Habis ini, kalian pijat Daddy" hardik Wiliam,puas lihat wajah tertawa lepas ibu dan anak kembali menciut,seciut bunga layu.
Beberapa menit setelah mereka tinggalkan ruang makan,ibu dan anak harus menjalani hukuman mereka.
Josh memijit pundak, sedangkan Melani mijat tangan dan kaki yang terlentang lurus di atas pangkuan pahanya.
Wiliam cukup menikmati pijatan 2 bocah beda generasi tanpa tenaga cukup untuk mijit tubuh kekarnya.
"Yang keras. Apa kalian tidak makan kenyang" sindir pedas Wiliam, mengambil segelas kopi dari samping.
"Sudah" serentak jawab dan tekan lebih kuat kulit badak, otot kawat tulang beton Wiliam 🤣🤣.
"Lumayan" Wiliam manggut-manggut sambil seruput kopinya.
"Sudah belum,Dad?" tanya Josh, capek tangan mijit pundak keras itu.
"15 menit lagi" jawab dingin Wiliam, menunjukkan bagian yang ingin dipijat mereka.
Dengan posisi duduk nyantai, Wiliam melihat wajah masam istrinya mijit kakinya.
Makin di lihat, mata Wiliam menjalar nakal ke bagian belahan dada Melani yang nongol.
"Mata ini kenapa jadi begini" Wiliam menutup mata,coba hilangkan bayangan habis terlihat jelas.
"Kamu pijit sini saja" perintah dingin ketus Wiliam ke Melani, nunjuk pundak kiri kosong dari tangan Josh.
"Ok" nurut Melani, pindah posisi pijatan.
Kedua bocah saling menyenggol pinggul, atas kebersamaan mereka kini.
"Cukup! cukup!. Pijatan kalian tidak enak" dalih marah Wiliam, kesal tidak mampu hilangkan dalam sekejap pemandangan yang terlihat.
"Tidak enak?" ibu dan anak bertatap mempertanyakan hasil kerja keras mereka, sekian menit bertarung lelah.
Wiliam berdiri ninggalin begitu saja ibu dan anak. Dan minta mereka untuk segera tidur tanpa banyak tingkah konyol sebelum mereka tidur.
"Tidur ya tidur" gerutu Melani "Yuk ,Josh" ajaknya untuk beristirahat cantik.
Josh mengandeng tangan ibu cantik naiki anak tangga, sambil bernyanyi lagu power rangers, superheroes-nya.
"Mami mau lagu apa lagi?" tanya Josh usai menyuarakan 1 lagu.
Melani menggeleng, karena kasihan dengar suara merdu anak sambung, yang masih harus dipakai untuk mengejar ilmu bermakna esok hari.
.
......................
.
Terima kasih atas dukungannya dalam bentuk apa pun.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.
__ADS_1