
Bab 53
.
Esok pagi sebelum Wiliam berangkat kerja, ia memastikan Melani untuk pergi chek up rutin hingga dinyatakan sembuh oleh dokter.
"Jam 3 sore kamu bersiap-siap" ucap Wiliam ninggalin ruang makan.
"Baik" nunduk lesu mesti ke rumah sakit.
Tring.....
Sebuah pesan chat masuk ,Melani mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
"Ok" Melani balas chat .
Dia kembali mencari ide ,ingin memajukan perusahaan kecil, walau bukan miliknya sepenuhnya lagi.
Detik jam terus berputar dan berputar tanpa lelah, sehabis makan siang sendiri Melani kembali dengan ide-ide barunya.
Masalah perusahaan tidak perlu di ragukan,asal bukan mengenai saham beserta antek-antek sejenis.
Hingga pukul 3 sore sesuai janji pertemuan,Melani masih asik duduk membuat ide terobosan terbaru.
"Hei,kamu sudah siap belom?" tanya seseorang dari seberang signal.
"Mau kemana?" polos jawab Melani,lupa ada janji ketemu dokter.
"Ke rumah sakit" kesal jawab orang di seberang signal.
"Oh iya.Aku lupa" bergegas simpan semua dalam kotak.
Lima belas menit,supir yang nunggu Melani berbenah pun mengantar wanita itu ke rumah sakit.
"Thank you" Melani turun dari mobil.
Pasien VIP dokter muda langsung masuk tanpa antrian, dan sudah dikenal asisten suster dokter itu.
"Dokter sudah menunggu anda dari tadi" ucap suster berwajah cemberut, mempersilahkan pasien khusus dokter muda (B.Inggris).
Melani sesungguhnya males ketemu dokter tersebut. Tapi dari pada ribet di belakang,dia pun ikuti serangkaian pemeriksaan.
Baru duduk konsultasi beberapa menit, sosok pria lain masuk dalam ruang praktek itu.
"Baru akan di terapisnya?" tanya pria tadi,yang tidak lain adalah Wiliam (B.Inggris).
"Iya" jawab dokter (B.Inggris).
Mengapa terasa besar aura cemburu saat Wiliam bertanya. Dan begitu pula dokter muda dengan pandangan dinginnya.
"Aku tidak perlu dihipnotis lagi.Keadaan aku telah membaik,Dok" jawab Melani menolak penghipnotisan (B.Inggris).
__ADS_1
"Untuk meyakinkan keadaan Ladies telah membaik,kita ubah sedikit caranya" sahut dokter memandang lekat manik mata bersinar milik Melani (B.Inggris).
"Baiklah" mengikuti dokter ke sisi seberang (B.Inggris).
Serangkaian test pertanyaan psikis dijawab Melani dengan santai,hanya saja setiap menuju gerbang masalah, Melani tetap membungkam.
Dari kejauhan Wiliam tersenyum sinis. "Tidak mungkin dia bicarakan rahasianya" gumam Wiliam.
Melani berjalan menghampiri Wiliam, karena merasa masalah penting itu tidak boleh ada orang lain lagi yang tau.
"Tuan,bisa kita pulang sekarang?" tanya kaku Melani.
"Emm.Kamu tunggu di luar sebentar" jawab Wiliam ngerti.
Melani keluar cepat dengan rasa kebodohan yang menghantuinya beberapa waktu.
"Bagaimana?.Apa sudah lebih jauh membaik?" tanya Wiliam (B.Inggris).
"Hasil observasi, memang Miss Melani tampak lebih tenang dan membaik.Namun ,jika inti masalah tidak terjawab,akan berakibat lebih buruk saat kambuh" jelas dokter (B.Inggris).
"Oh, begitu.Asalkan sekarang sudah lebih membaik, berarti tidak harus rutin lakukan serangkaian terapi. Hanya perlu penanganan secara persuasif.Begitukan maksud anda?" ujar Wiliam (B.Inggris).
"Bisa dibilang begitu. Dan saya bersedia membantu pemulihan Nona Melani" jawab dokter muda tidak ingin lose contact (B.Inggris).
"Terima kasih atas perhatiannya.Namun, sepertinya dia sudah miliki cara sendiri" beranjak berdiri dan salaman (B.Inggris).
"Begitu rupanya" balas salaman, mengantar keluar wali pasien (B.Inggris).
"Apa hubungan anda dengan dirinya?.Tidak mungkin sekedar saudara" rasa penasaran menghantui pikiran dokter muda, memandang punggung pasien dan wali semakin jauh (B.German).
"Kita ke tempat Mrs Heni" titah Wiliam pada pria tegap (B.Inggris).
Mobil dari arah Hospital berbelok ke persimpangan lain. Melani tidak tau mau dibawa kemana dirinya oleh Wiliam.
Setiba mobil disebuah toko besar, mereka turun dengan sambutan para pramuniaga toko tersebut.
"Selamat datang Mr dan Mrs Lee" sambut hangat pramuniaga toko (B.Inggris).
"Mrs Heni telah menunggu kedatangan anda" sambung pramuniaga lain (B.Inggris).
Sekarang Melani sudah tau dibawa kemana dirinya sama Wiliam.Pasti sudah akan belanja pakaian kalau tempat beginian.
Pakaian kelas atas dengan merek terkenal terpampang rapi dengan maikin patung .
Sewaktu study kuliah beberapa tahun lalu,Melani pernah niat untuk mampir ke toko ini,namun karena beberapa kendala penyebab,baru hari ini bisa menginjakkan kaki.
"Helo,Mr Lee. Saya senang anda kemari" sambut pemilik toko, wanita seumuran Wiliam (B.Inggris).
"Hen,tolong kamu carikan dress yang cocok di pakainya untuk undangan bazar amal" ucap Wiliam (B.Inggris).
"Okey...But the way,dia wanita kamu atau lainnya" bisik tanya pemilik toko,mata menilai satu persatu wanita bawaan Wiliam dari pucuk kepala sampai kaki (B.Inggris).
__ADS_1
"Kamu cukup lakukan apa yang saya mau.Siapa dia ,kamu tidak perlu tau" ketus Wiliam manggil pramuniaga untuk mengambil manikin dengan dres lengan pendek (B.Inggris).
"Emmm....Saya rasa dia wanita kamu,ya kan?" Mrs Heni memicingkan mata.Tidak pernah lihat Wiliam bawa gadis manapun, kecuali para wanita yang ngajak dibelanjakan (B.Inggris).
Dengan wajah serta pikiran penasaran teramat, pemilik toko langsung turun tangan memilih gaun yang cocok.
Banyak ukuran tubuh tidak ada kendala, kecuali harus menggulung lebih tinggi bagian bawah.
"Bentuk tubuh kamu sangat bagus. Kamu sudah punya pacar?" tanya Mrs Heni cari info (B.Inggris).
"Belum" jawab santai Melani (B.Inggris).
"Berapa umur kamu?" (B.Inggris).
"23 tahun" (B.Inggris).
"Wanita Asia seumuran kamu sudah memiliki boyfriend loh.Apa Mr Wiliam adalah....?" semakin kepo dengan tatapan genit (B.Inggris).
"Bukan. Aku bukan pacarnya,hanya rekan bisnis merangkup saudara" Melani melambai silang tangan (B.Inggris).
"Benarkah?" mata tidak percaya (B.Inggris).
Melani ngangguk. Dia tidak ingin status hukum dipublikasikan, selain itu tidak ada cinta diantara mereka.
Dengan pilihan dress pendek selutut pas body, warna hitam bermanik dibagian atas, yang menonjolkan sisi kelebihan untuk menarik lawan jenis, sedang dicoba Melani di ruang ganti.
Sementara Wiliam dan Heni yang duduk di sofa menunggu dengan hasil pilihan mereka, menikmati secangkir coffee latte panas.
Melani tampak amat enggan keluar dengan dress pilihan Mrs Heni,yang amat mengekspose bentuk lebih bagian tubuhnya.
"Ayo keluar.Biar di nilai Mr Wiliam" ujar Mrs Heni (B.Inggris).
Pramuniaga membuka lebih lebar pintu ruang ganti,dan seorang lagi mengajak Melani keluar tunjukkan penampilanya.
"Bagaimana pilihan saya ,Mr Wiliam?" tanya Mrs Heni (B.Inggris).
Wow.... Sungguh memikat lawan jenis.Saliva Wiliam nyangkut di tenggorokan. Untungnya tegukan coffee tidak muncrat nyembur kayak Mbah dukun habis baca mantra.
Hehehe.....Mrs Heni tertawa nakal dan genit menatap Wiliam.
Bagaimana tidak begitu,sejak kenal Wiliam dia tidak pernah lihat Wiliam terpesona sedetik pun.
Wanita bule satu ini memang terkadang berani dalam batas sopan pada Wiliam. Karena berkat Wiliam usahanya bertahan dan beberapa kasus pribadi terselesaikan berkat campur tangan pria tampan dingin.
.
...****************...
.
Terima kasih atas dukungannya
__ADS_1
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.