Change Destiny

Change Destiny
Bab 21 Budak uang


__ADS_3

Bab 21.


.


Sebelum itu terjadi ,mata-mata telah mengirim beberapa bukti rencana busuk istri keji bersama selingkuhan.


Di rumah ,bayi merah yang baru beberapa hari lahir ke dunia telah terpisah dengan ibu kandung. Belum sempat menerima ASI pertama sejak muncul ke dunia, apalagi kasih sayang seorang ibu.


Pepatah kuno mengatakan bahwa : Sekejam ganasnya seekor harimau betina, tetap tidak akan makan anak sendiri.


Tapi tidak dengan ibu Josh yang haus dengan harta, tahta dan hasrat. Dia wanita sekaligus ibu terkejam yang ada, yang rela meninggal bayi merah mungil tanpa rasa bersalah.


.


Flash On....


.


Beberapa hari kemudian, Josh kembali merengek pada paman tampan minta bertemu Melani.


Ronald tentu senang, jika perlu tiap detik tidak lepas dari Melani.Tapi bukan untuk menemani kehendak bocah kecil yang perlu teman main game online.


"Josh, aunty Melani sibuk seperti uncle. Jadi tidak bisa ada waktu luang melulu untuk santai" memberi penjelasan.


"Pokoknya Josh mau aunty!!. Buktinya, uncle bisa ketemu sama Josh tiap hari, dan bisa temani main game" omel bocah yang merajuk duduk mencoret coret.


Bisa gawat jika bocah itu sempat mengambil dokumen penting untuk dicorat coret.


"Kan beda. Uncle kan uncle Josh yang tinggal satu rumah. Kalau aunty beda rumah"


"Kalau gitu, minta aunty tinggal saja sama kita" menatap lekat mata paman tampan.


"Ini bocah punya pemikiran sama denganku. Tapi mesti ku sahkan dulu jadi istri" senyum cengengesan mandang wajah bocah.


"Uncle" panggil teriak bocah.


"Ya ada apa?" kaget dari lamunan.


"Kalau uncle gak bisa. Josh minta dady pindahkan rumah aunty kemari" ancam bocah.


"Jangan Josh. Aunty juga punya papa mama, masa mau dipindahkan juga" Ronald tersenyum nakal.


Jika itu memang bisa dilakukan sang kakak penguasa,maka paman tampan akan sangat amat-amat berterima kasih pada ayah anak itu.


Melihat paman yang diajak ngomong banyak melamun dari pada dengerin, bocah pun keluar dengan wajah sewot.


Hal itu dilaporkan pada dua wanita tua yang duduk makan potongan buah.

__ADS_1


"Omah uyut, grandma" rengek bocah duduk dihimpit dua wanita tua.


"Ada apa?" tanya ibu tua.


"Uncle cuekin Josh" lapornya.


"Sudah, tidah usah pedulikan lagi pamanmu. Nih, makan buah bareng omah uyut" sambung nenek memberi potongan buah.


"Pokoknya, Josh mau lapor ke dady" keluh bocah dengan bibir manyun runcing.


Ketiganya makan potongan buah sambil dengar ocehan bocah sampai tuntas. Awalnya kedua wanita tua tidak tau wanita mana yang bisa buat nyaman seorang bocah, tapi setelah di simak ibu tua ingat wanita yang dimaksud cucu ponakan.


Senyum pun mengembang di wajah ibu tua, berharap dugaannya bisa jadi kenyataan.


"Bibi besan kok senang?" nenek jadi penasaran.


"Begini bu besan. Gadis yang di bicarakan nih bocah lebih kurang aku sudah kenal, waktu di Amerika. Gadisnya baik dan ramah. Andai saja salah satu dari dua pria dewasa rumah ini bisa dapat gadis itu, akan lebih baik" jelas ibu tua.


Nenek jadi bersemangat mengebu ingin bertemu gadis yang dibicarakan ibu tua.


"Bagaimana jika kita undang makan malam saja?" saran nenek Sonia.


"Betul... Aku juga bisa anggap undangan ini sebagai ucapan terimakasih, telah menolongku" ujar ibu tua, setuju.


Karena tidak ada nomor telepon yang bisa menyambungkan mereka,ibu tua menugaskan Ronald mengundang gadis itu secara personal.


Chat undangan pun terkirim secepat kilat. Hanya tinggal menunggu pesan balasan masuk.


Lima belas menit berlalu, penantian belum membuahkan hasil balasan, tanda di baca saja pun enggak ada.


Kembali menunggu lagi, berharap kali ini setidaknya muncul tanda baca.


Seseorang di seberang sana masih saja sibuk sama semua rancangan konsep baru perusahaan. Bahkan orang itu berencana untuk mempelajari seni arsitektur secara otodidak, guna mempermudah dirinya membuat rancangan karya di masa mendatang.


"Akhir tahun pelajaran ini aku mau lanjut S-2 di Indonesia saja, kan banyak belajar bakal banyak wawasan" ucap Melani, merebahkan tubuh lelah setelah selesai dengan semua rancangan. Tanpa melihat notifikasi handphone dalam keadaan mode silent.


Ronald yang sudah menunggu balasan chat dua jam pun sudah ngantuk menunggu.


Esok pagi...


"Ron, gimana?.Mau enggak nona itu terima undangan ajakan makan malam nanti?" ibu tua berharap.


"Tidak ada balasan" lesu paman tampan menjawab.


Chat yang dari kemarin malam saja tidak di baca, gimana mau terima ajakan undangan makan malam mereka.


Pupus sudah harapan Ronald untuk mengenal lebih banyak secara privasi.

__ADS_1


"Mungkin dia tidak suka samaku" monolog Ronald meraih tas kerja.


Pagi yang cerah tidak membuat hati Ronald cerah, secerah mentari pagi menyinari dunia.


Beda sama Melani yang semangat seperti pasukan yang siap bertempur di area medan perang.


"Mel, habiskan dulu sarapan mu!!" teriak panggil ibu suri.


"Mel sudah kenyang dan hampir terlambat, Ma" balas Melani yang buru-buru jalan keluar mengejar papa yang sudah masuk mobil.


"Bapak sama anak sama saja. Dasar budak uang" gerutu kesal ibu suri, merapikan meja makan.


Sebagai ibu rumah tangga yang baik budiman, nyonya Wijaya setelah selesai dengan semua kesibukan akan cari waktu luang memanjakan dirinya.Jika tidak shopping, ya manicure padicure.Kalau bahas sosialita, nyonya Wijaya tidak ikut acara gituan. Baginya terlalu banyak nimbrung hanya akan memanasi hati sampai garing gosong.


Siang ini nyonya Wijaya memilih nyalon dan perawatan kecantikan lain.


Supir yang siap menunggu sang nyonya telah menunggu perintah nyonya majikan untuk melaju.


"Pak, ke salon" ucap ibu suri duduk di belakang kemudi, menenteng paperbag berisi produk utama kecantikan.


"Baik nyonya" jawab supir melaju.


Masalah uang tidak usah diragukan istri tuan Wijaya. Dengan kartu black card, apa pun yang mau di beli bisa saja.


Namun gaya hidup ibu suri tidak seperti istri konglomerat lain, yang sengaja berfoya-foya menghamburkan jutaan hingga ratusan uang suami mereka.


...Kantor Melani...


Sebagai pemimpin dengan ingatan masa lalu dan masa depan, Melani telah melupakan arus yang tidak boleh dilawannya secara frontal.


Yang namanya manusia saat terpacu sesuatu pasti bisa lupa sesaat, mau itu hal menyakiti atau disakiti.


Melani memimpin perusahaan dengan pengalaman usia 35 tahunnya. Semakin besar aura kharisma yang dimunculkan ,maka dampak yang akan terlihat juga semakin banyak dan mempercepat prosesnya.


Semua staff karyawan sampai manager menganga lihat keprofesionalan kinerja Melani memimpin di usia belia, sudah seperti orang terjun berbisnis lama.


Memang dari segi keturunan keluarga pebisnis hal itu tidak mengherankan, bahkan pantas diacungin jempol. Tidak sia-sia punya keturunan yang menguasai bakat terdidik,bisa tersalurkan.


.


...****************...


.


Terimakasih atas dukungan semua.


Salam sehat sejahtera selalu untuk kita 🙏

__ADS_1


__ADS_2