
Bab 170
.
Rencana ibu tua dimulai, hanya dia seorang yang tau. Sebuah voice note dikirim ke ponsel Wiliam.
"Wil, kalau kamu yakin tidak ingin istri kamu pulang? , Bibi akan kirim semua barang miliknya ke rumah mertua kamu" ucap ibu,lalu kirim voice note.
Ibu tua duduk setia menunggu ponselnya memberi kabar, walau kabar yang didapat akan mengecewakan dan terlambat.
1 jam,2 jam,3 jam sampai 6 jam menunggu.Ibu tua masih tetap setia menunggu balasan.
"Nyonya,ini teh dan cemilannya" ucap ART menyuguhkan.
"Terima kasih"
"Benar-benar susah dikasih tau" gerutu ibu tua.
"Apanya,Nya?" tanya ART,mengira dirinya.
"Tidak apa-apa" ibu tua melambaikan tangan.
Pelayan pun kembali mengerjakan pekerjaannya, meninggalkan ibu tua yang menggerutu sambil nikmatin cemilan.
Malam pun tiba, jawaban yang dinanti tak kunjung tiba.
"Umur pernikahan mereka tidak boleh seumur jagung" ibu tua galau menunggu jawaban, sambil gosok telapak tangan.
Jam menunjukkan pukul 10.45 malam. Jam yang menunjukkan malam hari semakin gelap dan lembab.
Ting tong.....
Bel rumah mewah itu berbunyi kencang dalam keheningan dan sunyinya malam.
"Sapa maneh sing dolan bengi iki?" Ibu tua memaksa bangun dari tidurnya.(Siapa lagi malam-malam begini bertamu?)
Langkahnya yang lesu ,pelan membuka pintu kamar.Melihat siapa yang tekan bel tidak sabar.
"Sabar" jawab ibu tua.
"Biar saya lihat, Nya" sambung ART dari arah samping.
"Ditanya dulu ya" mengingatkan tetap waspada.
"Baik" ART berjalan lebih cepat.
Cekrekkk....
Sosok yang menakutkan buat ART bersembunyi di belakang pintu besar.
"Minggir" sosok itu mengusir ART yang bersembunyi dibalik pintu.
"Ba-baik" terbata-bata.
"Wiliam!!" ujar ibu tua. Tidak percaya bahwa keponakan yang tinggal bersamanya selama beberapa tahun, untuk pertama kalinya pulang dalam keadaan mabuk berat.
"Pergi" usirnya nunjuk ibu tua.
Ibu tua terdiam dengan mata melotot,hati retak.
"Baik jika itu mau kamu.Kamu memang pantas ditinggal sendirian" omel ibu tua memegang dada sakit hati.
Apa salahnya ibu tua sampai diusir tanpa pakai perasaan?. Dia yang telah membantu menjaga anaknya,menjadi penganti istri dan ibu saat Wiliam seorang diri.
"Dasar tak tau balas budi.Pantas saja Melani tinggalkan dia" marah ibu tua,mengemas kembali bajunya dalam koper.
Malam itu juga ibu tua pergi tinggalkan rumah mewah itu ke rumah keluarga besannya.
"Jika Nyonya pergi, siapa yang akan jaga Tuan?" tanya supir memasukkan koper ke bagasi.
"Biar saja. Dia emang pantas di tinggalkan sendirian" jawab penuh kejengkelan.
Supir tak kuat membujuk, ujung-ujungnya membantu ibu tua pergi menyusul yang lain.
Sesampainya di rumah keluarga Wijaya,ibu tua diizinkan menginap. Hal tersebut diketahui Melani yang menguping di balik pintu kamarnya saat ingin keluar ambil air minum.
"Jadi Wiliam di tinggal sendiri?" tanya ibu suri.
"Iya.Dia pantas kami tinggalkan.Padahal dari dulu ia tidak pernah mabuk-mabukan" ibu tua malu untuk menceritakan keburukan keponakannya.
"Sabar ya,Bi" mengusap punggung ibu tua yang sedih malu.
"Kalau Melani ingin berpisah,saya tidak bisa mencegahnya.Tapi tolong izinkan Josh untuk bertemu dengannya" ibu tua menyampaikan permohonan.
"Tidak.Mereka tidak akan berpisah.Aku jamin mereka tidak akan buat Josh jadi anak kurang keluarga lengkap" meyakinkan penolakan.
"Terima kasih Bu besan" ucap ibu tua.
"Sama-sama"
Ibu suri mengantar ibu tua itu untuk beristirahat di kamar putranya bersama Josh.
__ADS_1
"Memang setiap rumah tangga pasti punya masalah masing-masing.Dan semuanya ada jalan keluar" ucap ibu suri, berjalan masuk kamarnya.
Setelah keadaan mulai hening sunyi,Melani keluar untuk mengambil air minum.
Antara menyesal telah meninggalkan suami,dan kesal atas perkataan Wiliam, buat hati kecilnya galau tingkat dewa.
Air minum yang mau diminum, maju mundur dibuat Melani sulit untuk tenangkan hati kecilnya.
"Ok" ucap singkat, lalu teguk air minum.
Glekk... Glekk....
Dia kembali masuk kamar, mengambil sweater sebelum pergi. Langkahnya pelan keluar dari rumah itu, kemudian menghidupkan mesin mobil milik Papa-nya.
Drettt.....
Mesin pun nyala setelah semua mesin beroperasi. Kakinya menginjak pedal gas dengan tekanan pelan.
Wuzzz.....
Sepanjang jalan raya yang ramai pelalu lalang, hati dan pikirannya selalu bentrok mempertahankan prinsip keinginan masing-masing.
Tiba juga mobil berlaju kura-kura di depan e
gerbang pagar rumah mewah.
Tin...Tin....
Melani membunyikan klakson, bangunin security yang beristirahat di post dekat gerbang.
"Siapa malam-malam begini datang" gerutu security lihat televisi kamera pengawas.
Mobil yang tidak dikenal itu tidak dapat akses masuk security yang berjaga.
Tin.......
Melani menekan tombol klakson panjang tanpa jeda.
"Kurang asem.Malam-malam buat ribut saja" umpat kesal security, mengambil kayu pentungan.
Langkah security itu berat keluar dari post jaga.
Dibukanya pintu kecil untuk bertanya siapa gerangan tamu tengah malam itu.
"Siapa kamu!" teriaknya kencang bertanya.
Melani menurunkan kaca mobil untuk dapat diakses security.
"Eh... Nyonya.Tunggu sebentar" ujar security cengengesan.
Pintu gerbang pagar yang menggunakan remote otomatis perlahan bergerak, membuka lebar keseluruhan.
"Maaf, Nyonya" ucap security menunduk.
"Tidak apa"
Mobil Tuan Wijaya itu masuk hingga ke depan teras.
Ting tong.....
Orang di dalam rumah itu berlari cepat untuk membukakan pintu. Berharap ibu tua kembali menolong mereka dari amukan Wiliam,yang kapan saja bisa meletup.
ART lebih shock dengan yang pulang tengah malam.
"Nyonya" sapa ART, terlukis wajah terselamatkan.
"Kamu ikut saya" titah Melani berwajah tegas dingin.
"Siap" ikut dari belakang.
ART ngikutin Melani ke dapur,lalu ambil jeruk nipis dan air minum.
Setelah diperas air jeruk nipis ke dalam air minum.Melani ngizinin ART kembali beristirahat.
"Tapi Nyonya tidak akan pergi kan?" tanya ART memastikan.
Sebentar kepala Melani ngangguk, lalu bergeleng.
Untuk memastikan penyelamat mereka tidak tinggalkan mereka sampai besok pagi,ART itu rela untuk berjaga di depan pintu utama.
Sementara itu Melani naik tangga ke lantai atas, dengan segelas air jeruk nipis di tangan.
Cekrekkk...
Pintu kamar utama terbuka lebar. Terlihat Wiliam yang acak sedang duduk di ujung tempat tidur mereka.
"Bangun!" titah Melani tanpa menyenggol.
Air jeruk nipis itu di letakkan pada meja samping sofa panjang di kamar itu.
"Pergi!!" lindur Wiliam mengusir setiap suara yang ada.
__ADS_1
"Ok.Setelah aku gantikan baju kamu" jawab Melani tanpa perasaan khusus, sambil melepaskan sepatu yang dikenakan Wiliam.
Melani memapah Wiliam berdiri untuk pindah ke atas tempat tidur luas. Lalu menggantikan pakaian bau minuman keras dengan piyama bersih.
Terasa tubuh rileks, Wiliam kembali tidur.Namun Melani mengganggu untuk meminum air jeruk nipis, sebagai penstabil jumlah kadar alkohol.
"Minum ini" memasuk paksa air jeruk nipis ke mulut Wiliam.
Pufff.....Air asem itu menyembur wajah Melani, tepat ada dihadapannya.
"Koko!!" teriak marah Melani, mengusap semburan air mulut Wiliam.
Tubuh Wiliam di dorong hingga jatuh tidur terlentang.
Melani turun dari atas tempat tidur ke kamar mandi untuk membersihkan wajah habis disembur zat asam.
Habis mencuci bersih wajah,dia kembali harus memaksa Wiliam untuk minum air jeruk nipis. Ditarik duduk tubuh Wiliam,lalu mencengkeram mulut sampai terbuka.
"Cepat habiskan" ujar ketus Melani.
Begitu air jeruk nipis sudah masuk, mulut Wiliam langsung dibungkam tangan Melani.
Rasa asam yang teramat, membuat mata Wiliam melek .
Wajah orang samar-samar dihadapan Wiliam, langsung di tarik.
"Lepas!!" Melani memukul dada Wiliam sembarangan.
Cup....
Melani yang meronta diserang balik oleh Wiliam.
Sebuah ciuman pemabuk menyerang bibir tipis itu, yang tidak pernah bisa untuk ikuti permainan lidah di dalam mulut.
Hoshh.... Hoshh....
Nafas Melani terputus-putus, rasa lidah sekerongkongan terasa pahit kecut, panas bau dengan alkohol bercampur air jeruk nipis mulut Wiliam.
Walaupun mabuk, senjata Wiliam masih bisa mengenal goa pink miliknya, yang dapat menenangkan sampai kembali normal.
"No!!" Melani memberontak kuat dari kuncian Wiliam.
Kakinya juga sudah terkunci dengan bokong Wiliam yang duduk di atas kaki.
Wiliam membuka paksa baju tidur Melani, beberapa kancing terlempar jatuh ke lantai. Begitu juga piyama yang dipakai terbang jauh bersama pakaian Melani.
"Stop!!" pekik Melani, tidak ingin melayani suaminya saat dalam keadaan mabuk dan perang dingin.
Namun sayang, di bawah kendali alkohol Wiliam terlihat lebih buas dari saat normal.
Tubuh Melani tercabik-cabik perbuatan Wiliam yang membabi buta mencumbu dirinya, dari kepala sampai ujung kaki.
Bukan 1,2,3 kali permainan itu dilakukan. Seperti biasanya saat mood bagus,Wiliam mampu melakukan di atas 8 ronde yang panjang.
Dan ujung-ujungnya tubuh Melani terkulai lemas bergertar hebat.
"Hiks... Hikss....Koko jahat" umpat marah Melani memunggungi tubuh Wiliam, yang memeluk posesif tubuh bergetar.
"Mmm" dehem Wiliam, menggesek anu-nya di bokong padat montok.
Cukup lama Melani baru bisa tertidur pulas, setelah intensitas getaran tubuh berkurang.
.
Pagi hari....
Wiliam mengerang minta tambah jatah kemarin malam.
Meski kepala berat dan rada puyeng, Wiliam masih kuat untuk melakukan penuh semangat perjuangan.
Tubuh Melani yang polos tanpa helaian penutup apa pun, dibalik terlentang dan di sergap dari seluruh penjuru.
Emmm.... Arrrhhhh......
Melani mengerang tersakiti permainan Wiliam. Dirinya dianggap sebagai wanita penghibur,bukan istri yang harus diperlakukan dengan kelembutan dan cinta.
"Mel,kamu" Wiliam baru sadar dalam mabuknya, dia masih mengenal tubuh yang layak ia nafkahi setiap kapan dia bisa.
"Hengg!!" Melani membuang muka,kesel dengan perbuatan Wiliam sepanjang malam,dan barusan.
Wiliam segera membersihkan tubuh penuh peluh keringat,dan bau alkohol yang lumayan tajam.
Sementara itu, Melani coba istirahatkan sebentar tubuh yang masih amat teramat lelah dihajar Wiliam.
.
.
......................
.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya dalam bentuk apa pun.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.