
Bab 74
.
Mobil mewah tiba di depan pintu masuk rumah sakit. Setelah menunggu antrian, nama Melani dipanggil masuk.
"Loh,Nona Melani yang sakit?" tanya dokter keluarga Wijaya.
"Anda kenal istri saya?" Wiliam balik tanya.
"Saya sangat kenal Nona Melani. Saya kan dokter pribadi keluarga Tuan Wijaya.Dan beberapa hari lalu periksa demam anda" jelas dokter.
"Kalau begitu tolong periksa dia Dok"
Dokter meminta suster bantu Melani naik ke atas ranjang periksa. Dengan alat stetoskop dan mengukur tekanan darah serta menyenter kerongkongan, dokter telah menemukan diagnosa.
"Bagaimana demamnya?" tanya Wiliam, duduk nunggu.
"Cuma masuk angin dan demam saja. Cukup istirahat dan tepat makan obat" nulis resep.
"Dok,jangan bilang sama Papa Mama ya" pinta Melani jalan sempoyongan di papah suster.
"Baik, Non" senyum ngangguk paham.
"Dok,itu resep obatnya kok persis punya saya?" tanya Wiliam.
"Ya memang sama, hanya saja punya Nona saya tidak berikan vitamin, sebagai penggantinya obat flu" terang dokter.
"Tuh kan sama. Coba tadi minum, pasti demam sudah turun" ujar Wiliam.
Dokter memandang penasaran pasangan terpaut jauh usia. Timbul pertanyaan dalam otak,apa yang membuat anak pasien istimewa mau memilih Om Om.
"Terima kasih Dok" ucap Wiliam memapah Melani.
Sudah kebayang wajah Melani sampai gimana jutek mewek sebel kesal.
"Kita pulang ke rumah besar, Pak" titah Wiliam pada supir.
"Baik,Tuan" jawab supir memutar stir kemudi.
"Loh....! Tapi sudah janji . Kenapa bohong?" lirih Melani.
"Tadi Josh ngambek mau ketemu kamu.Jadi kita sampai malam di sana" jelas Wiliam.
Sebenarnya selain ulah Josh yang ngambek mogok sekolah, Wiliam juga ingin mengurus beberapa kerajaan tertunda. Lagi pula di rumah besar ada ibu tua serta nenek yang bakal bantu dia menjaga bocah besar selagi fokus kerja.
Mobil mewah yang telah memasuki gerbang rumah mewah itu, disambut ibu tua yang sengaja menunggu kepulangan mereka.
"Selamat pulang, Mel" sambut ibu tua memeluk tubuh lesuh Melani,tanpa tau bahwa mantu keponakan sedang sakit.
"Bi, Melani sedang sakit" sahut Wiliam berjalan dekat.
"Kalau begitu cepat bawa masuk kamar. Kamu itu,jadi suami harus perhatikan kondisi istri" omel ibu tua pada pemilik rumah mewah.
__ADS_1
Beda situasi Melani memasuki rumah mewah ini. Di sini dia diperlakukan bak seorang tuan putri, tidak seperti di rumah sendiri yang mewajibkan dirinya untuk memperhatikan pria dingin.
"Apa senyam senyum?.Puas!!" ketus, sambil memapah naik anak tangga menuju kamar utama.
"Puas.." senyum Melani berkepala puyeng.
"Awas kalau berani kabur. Saya kurung kamu bukan di gudang,tapi di penjara" ancam Wiliam mendudukkan Melani di atas tempat tidurnya.
Melani malas menyahut kali ini, karena pusingnya semakin nusuk bagian tengkorak belakang.
"Hei, minum obatnya dulu" mengambil obat.
"Sakit" lirih Melani, meraih bantal menekan bagian sakit.
"Makanya minum obatnya dulu" menarik duduk.
Wiliam memasukkan obat di tangannya ke dalam mulut istri, disambung air putih yang hangat agar obat mudah di proses.
"Ingat banyak minum air" titah Wiliam merebahkan kembali sebelum keluar.
Obat parasetamol dan influenza yang mengandung obat tidur dan nyeri, membuat Melani tidak butuh waktu lama masuk dunia mimpi pagi harinya.
.
Di lantai bawah,ibu tua dan nenek yang sedang menunggu jawaban duduk membahas sesuatu.
"Bi, saya sudah waktunya pulang ke rumah anak saya.Tugas saya menikahkan Wiliam sudah kelar" ucap nenek .
"Benar Bu besan. Tugas kita sudah hampir selesai, tinggal giliran Ronald. Saya juga ingin cuti dan biarkan pasangan baru mengatur rumah ini" sahut ibu tua.
"Setuju saya. Pasti rumah ini akan segera ramai suara anak-anak kecil yang bermain, tertawa, menangis" ibu tua mengingat kenangan masa mudanya.
"Roda kehidupan terus berputar dan berkelanjutan. Ada yang datang dan ada yang pulang. Seperti musim yang silih berganti tanpa diperintah ulang" nenek berceramah.
"Tapi usia tidak ada yang bisa tebak. Nasib, takdir dan jodoh sudah ada jalan garis masing-masing. Melani yang kita duga telah meninggal, ternyata masih di kasih kesempatan menggantikan kita yang tua ini" sambung ibu tua dengan kata renungan.
"Apa kita minta saja mereka cepat kasih kita bayi. Mumpung kita bisa lihat dan menimang" seru nenek bersemangat.
"Boleh.Lagian pernikahan mereka sudah satu bulan lebih. Masa tanda-tanda hamil belum ada" sahut ibu tua dengan senyum.
Ibu tua dan nenek kemudian berbisik, mereka tertawa terkekeh membisikkan rencana yang hanya diketahui mereka berdua serta langit dan dewa yang kapan saja muncul mencatat.
"Wil, gimana keadaan istri kamu?" tanya nenek merapikan duduk, biar rencana mereka tidak ketahuan.
"Kamu sudah bawa ke dokter kan?" sambung ibu tua.
"Sudah. Dia baru minum obat dokter. Dan sekarang tidur" jawab dingin.
"Nanti bibi minta pelayan siapkan sup herbal,biar cepat pulih" saran ibu tua.
"Dia juga mesti ikut makan, biar cepat fit juga" sambung nenek dengan senyum terselubung.
"Saya tidak perlu. Tubuh saya sudah sehat" bersandar sofa.
__ADS_1
"Baiklah" ibu tua tertawa geli.
"Ini ada apa sebenarnya?. Apa yang sedang Bibi dan Omah rencanakan,hum?" mencium bau konspirasi usil.
"Tidak ada" serempak jawab dan berpandangan geleng kepala.
Wiliam sudah hafal beberapa sifat anggota keluarganya. Jika bukan merencanakan sesuatu, pasti ada rahasia besar yang coba mereka tutupin.
Merasa jengah dan lagi tidak ingin puyeng dengan hal kedua wanita tua, Wiliam pamit naik ke lantai atas memeriksa pekerjaan.
Kedua wanita tua juga melanjutkan rencana tersusun , sambil memasak sup yang termasuk dalam daftar rencana mereka.
Siang hari,Josh pulang sekolah dengan wajah manyun menagih janji sang Daddy.
"Daddy" ketuk panggil Josh , mukanya masam kecut berlipat.
Ibu tua dan nenek saja di cuekin demi ingin tau janjinya sudah di tepati apa belum.
"Biar saja Wiliam yang urus itu bocah" ujar nenek mencicipi makanan.
"Daddy, Mami Josh mana?. Daddy sudah janjikan!" rengeknya tanpa hiraukan bakal dimarahin.
"Apa kamu tidak bisa ganti baju dan menyapa sopan,hum" tegas Wiliam.
"Daddy" sapanya lembut dan sopan.
"Ganti baju seragam sekolah kamu dulu" titah Wiliam.
"Tapi..." menatap.
"Daddy tidak pernah bohong. Lekas ganti"
Wiliam menggeleng kepala,harus hadapi dua bocah dalam hidupnya sekaligus. Yang bocah benaran memang perlu banyak didikan moral etika. Yang bocah jadi-jadian,pusing baginya menerapkan pola didikan yang sama.
Sehabis berganti seragam sekolah dan bersih-bersih,Josh kembali mengetuk pintu ruang kerja menagih janji.
"Kamu ke kamar Daddy, panggil Mami kamu untuk ikut makan" ucap Wiliam, masih fokus kirim e-mail pekerjaan.
"Siap Dad" seraya senang Josh.
Josh berjalan cepat riang gembira untuk membuka pintu kamar utama. Di bukanya perlahan pintu kamar itu, matanya mengintip antar celah pintu 10 cm.
"Mami kok tidur,ya?" Apa Mami..." rasa penasaran jadi ketakutan.
Josh melebarkan celah pintu hingga terbuka semua, kakinya berlari kecil menghampiri tubuh ibu baru berposisi tidur.
Rasa takut kehilangannya merongrong jiwa yang sudah merasakan perasaan tersebut beberapa waktu lalu,sampai tidak sekolah.
.
...****************...
.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.