
Bab 48
.
Melani ngangguk ngerti dengan posisi Wiliam yang setara pejabat negara, bisa naik pesawat pribadi kapan saja.
Menu selera Wiliam tak lama masuk terpampang di hadapan mereka. Dan mereka mulai menikmati makanan itu dengan hikmad tenang, tanpa terganggu siapa pun.
Usai menghabiskan porsi makanan, Melani duduk di kursi memandang awan jingga pengaruh beda waktu belahan dunia.
"Kak Agung kok gak datang ke acara pernikahan kemarin , ya?.Apa sedang sibuk?" gumam pelan, jari menulis huruf bertulis nama AGUNG WIJAYA pada kaca jendela pesawat.
Dari jarak empat meteran, Wiliam melirik apa yang dilakukan si istri kecilnya.
"Hei,... " panggilnya tanpa bergeser posisi duduk.
"Aku?" tunjuk diri sendiri.
"Iya. Emang ada siapa lagi berada dalam kabin ini" ujarnya, menutup laptop.
"Tuan perlu apa memanggil aku"
"Kamu dilarang dokter berfikir yang tidak penting, jika tidak ingin sakit kepala"
"Oo. Aku tau" menempelkan kepala pada headboard kursi.
Apa yang sedang dipikirkan saat ini oleh Melani bukan hal berat dan penting, cuma sekedar rasa penasaran biasa.
Saat Melani sedang konsentrasi melihat garis telapak tangan,sebuah benda datang ke telapak tangannya.
"Lebih baik kamu baca majalah ini" ucap dinginnya, sambil memberikan majalah hasil pinjaman milik pramugari,untuk hilangkan kebosanan dan tidak asal berfikir.
"Baik" menerima majalah edisi beberapa hari lalu.
Wiliam kembali duduk di belakang meneruskan kerjaan ,sambil memperhatikan istri kecilnya dari jauh, yang mulai membuka tiap lembaran majalah.
Majalah pinjaman itu berisi banyak foto model dewasa ,dengan postur tubuh mereka yang perfect dan menggoda.
"Ihhh... Aku kok disuruh baca ginian. Dosa sungguh dosa" menutup kesal majalah, dan meletakkan di atas meja kecil.
Maklumin saja, meski kembali dari usia 35 tahun Melani menolak akan pronograf tanpa editan sensor.
"Mending aku pinjam kertas dan pulpen" beranjak berdiri menuju kabin pembatas antara mereka dan pramugari.
"Ngapain lagi dia" Wiliam mendonggak sekejap.
__ADS_1
Pramugari memberikan buku tulis kosong dan pulpen sesuai keinginan wanita sang majikan,ketimbang berurusan karena hal sepele.
Kaki Melani kembali berjalan menuju tempat duduk tadi, dan mulai coret-coretan di lembaran kertas.
30 menit telah berlalu .Coretan itu menghasilkan sebuah karya rapi dan bagus.
Dari belakang tempat duduk Melani, Wiliam sedang memperhatikan hasil coretan istri kecilnya yang menimbulkan percikan api cemburu.
"Oh, ternyata itu pacar kamu?" ketusnya bersuara.
Lukisan wajah tampan hasil coretan telah buat percikan api muncul. Bukannya memuji hasil lukisan itu, malah Wiliam merampas dan menyobek .
"Tuan jahat!!!" Melani memukul dada Wiliam yang telah merampas dan robek wajah yang ia ingin temui.
"Kamu sudah jadi istri saya. Dan saya tidak izinkan kamu untuk melirik dan dekat dengan pria luar, sampai terjadi skandal memalukan nama baik saya, cam kan itu!!" hardik marah Wiliam menahan tangan Melani.
"Kenapa aku tidak boleh melukis wajah kakak Agung. Dia itu bukan orang luar!!" sahut ikut marah Melani teriringi isak tangis sakit hati.
Wiliam terdiam, ternyata dia salah arti. Sebelumnya ia telah tau kalau istri kecilnya punya saudara kandung, dan sewaktu pernikahan tidak menghadiri acara resepsi. Namun belum pernah sama sekali melihat sosok saudara iparnya.
"Maaf" Wiliam melepas tangan Melani.
"Maaf!!.Sungguh gampang Tuan ucapkan itu. Tanpa bertanya langsung asal sambet milik orang" Melani mengeluarkan isi kemarahan hari, satu tangan usap ingus dan satunya lagi nusuk tubuh Wiliam pake jari telunjuk.
"Ayo duduk dan redakan emosi. Kamu letakkan dimana tabung mini oxigen" mendudukan dan cari benda kecil pertolongan pertama.
Wiliam menuang tas hand bag berisi pembalut bersih,agar lebih cepat dapatkan benda dimaksud.
Begitu dapat ,Wiliam memakaikan alat bantu pernafasan dan memijit pelipis Melani.
"Sudah mendingan?" suara Wiliam melembut.
Melani diam tidak memberi bahasa isyarat apapun, memilih memejamkan mata, acuhkan suami egois.
Kedua tangan Wiliam dengan sigap membopong tubuh kecil kembali ke tempat tidur, agar lebih nyaman.
"Turunkan aku...!! " pekik Melani di gendong kayak anak kecil. Padahal ini bukan pertama kali di gendong dalam posisi itu oleh orang yang sama, itu pun kalau dia sadar dan tau.
Wiliam diam mengacuhkan dan jalan sampai tempat tidur single baru di turunkan.
"Sudah. Cepat istirahat" berjalan memunggungi.
Perjalan udara yang masih butuh beberapa jam sampai di benua Amerika itu, mungkin bisa mengenalkan satu sama lain antara mereka lebih banyak. Atau akan terjadi perang dingin di awal cerita mereka ,dalam membangun pondasi pilar kehidupan keluarga baru itu.
6 jam kemudian, dalam keheningan saling duduk membisu masing-masing, akhir perjalanan mereka telah tiba di landasan pesawat ,dengan sambutan hari pagi cerah.
__ADS_1
Melani yang masih sakit hati kecewa berjalan jauh di belakang Wiliam, sambil menarik koper miliknya.
Di bawah tangga pesawat, seseorang tengah berdiri menyambut kedatangan pengusaha terkenal se Asia.
"Welcome, Sir" sambut pria tegap membawakan tas kerja milik majikan.
Wiliam berjalan lurus tanpa peduli orang tertinggal di belakangnya. Dia berbicara serius dengan orang tersebut, dan minta di jalankan sesuai dengan schedule sebelumnya.
Saat Wiliam telah duduk santai dalam mobil untuk melaju, langkah Melani masih jauh. Wiliam membuka kaca mobil,dan dilihat Melani berhenti jalan setiap beberapa langkah dengan mulut terbuka mengambil oksigen.
"Jalankan mobil" titah Wiliam pada orang tadi dalam bahasa Inggris.
(Maaf, karena kali ini aku mau lebih mudah di baca para readers ,tanpa perlu baca bahasa terjemahan, aku pakai bahasa Indonesia tercinta saja 🙏😊. Aku hanya akan sisipkan sedikit bahasa internasional dasar setiap percakapan jika ku anggap perlu)
Mobil berputar ke arah Melani berhenti dan sedang ngambil oksigen. Begitu disamping, Wiliam utuskan orangnya turun memasukkan koper bawaan Melani, serta menyuruh masuk.
Melani masuk, namun duduk di depan bersama orang itu.
Untuk kali ini Wiliam coba bersabar lagi. Dia tidak ingin istri kecil itu mati dalam perjalanan karena hal sepele.
Ketika mobil sampai di luar pintu hospital, Wiliam memerintahkan Melani turun dan ikuti dia.
Dokter spesialis juga tengah menunggu pasien khusus pagi harinya di ruang praktek.
"Helo Mr. Lee. Apa kabar anda?" dalam bahasa Inggris dokter muda segar bugar ahli hipnoterapi bersalaman menyambut pasien VIP.
"Helo juga.Senang ketemu anda lagi" membalas jabat tangan, nunggu pasien sesungguhnya sampai.
"Kata ajudan anda, Mr bawa pasien cewek. Jika boleh tau, mana pasiennya?" dalam bahasa Inggris bertanya.
Wiliam berbalik, kemudian nunjuk Melani berjalan pelan menghampiri.
Mata dokter muda berhenti kedip, lihat inner beauty pada pasien.
"Sangat pretty, ini yang disebut cinta pandangan pertama" ucap batin dokter muda, dalam bahasa German.
.
...****************...
.
Terima kasih atas dukungannya.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.
__ADS_1