Change Destiny

Change Destiny
123 Test pack


__ADS_3

Bab 123


.


Empat puluh lima menit kemudian....


"Nona Melani Lee" panggil perawat ketika giliran tiba.


Melani tidak merasa namanya dipanggil, dia pun masih duduk dengan tenang menunggu giliran.


"Ayo masuk" ujar Wiliam menarik berdiri Melani, menyudahi menelepon.


"Itu bukan giliran aku" melepaskan pegangan.


Ctakk...


Sentilnya tepat di kening Melani.


"Sekarang itu jadi nama kamu" menarik masuk.


"Enggak bisa.Sejak lahir namaku Melani Wijaya" tarik-menarik.


"Masuk!. Jangan buat saya malu" merangkul pundak.


"Silahkan duduk" sambut Dokter THT menatap aneh.


"Duduk!!" hardik Wiliam, menggeser kursi.


"Ada keluhan apa?" tanya Dokter THT melihat pasien dan keluarga secara bergantian.


"Penciumannya bermasalah" sahut dingin Wiliam.


Dokter mencatat jawaban pertanyaan, kemudian melakukan pemeriksaan lanjutan setelah mencuci steril tangan, dan memakai sarung tangan.


Selang kecil dan panjang itu di masukkan perlahan ke hidung Melani. Lihat hasil pemeriksaan di layar monitor kecil, tidak menunjukkan adanya pembengkakan maupun penyumbatan saluran pernapasan.


"Tidak ada masalah" ucap dokter mengeluarkan selang kecil.


"Tapi kok penciuman aku tidak berfungsi baik,Dok?" tanya Melani.


"Kita coba dengan tester" sahut dokter ketindakkan lebih terperinci.


Atas saran dokter THT, perawat yang di ruang itu mengambil aroma tester.


Melani pun mencium semua aroma terapi yang tidak diberi label nama aroma tersebut.


Dari aroma lebih dan menyengat di hirup. Jawaban yang ditanya perawat juga dijawab benar sama Melani.


"Bagaimana, Sus?" tanya dokter THT,baca hasil evaluasi.


"Tidak ada masalah,Dok"


Dokter THT lihat hasil observasi lanjutan bercentang benar. Memang tidak ada masalah pada selaput hidung. Tapi mengapa pasien merasa indera penciuman bermasalah?.


"Apa ada masalah serius dengan hidungnya?" tanya dingin Wiliam.


"Tidak ada. Semua normal. Selaput pun tidak ada infeksi" jawab dokter tidak temukan penyakit.


"Anda yakin?" Wiliam menatap dingin dokter.


"Yakin. Peralatan yang kami gunakan juga paling mutakhir. Tapi jika bisa saya sarankan, coba Tuan bawa adik anda ke poli lain" saran dokter.


Adik??. Pikiran Wiliam seketika jadi kesal. Masa dokter mengira dia dan Melani berstatus abang adik.


"Apa mata dokter ini picek!. Seenaknya saja bilang saya abangnya. Apa enggak bisa bedakan antara hubungan suami-istri antara kami" mengeram kesal, dengan kepalan tangan mencengkeram pegangan kursi.


"Tidak usah" jawab dingin Wiliam dengan tatapan sinis marah.


Tiba-tiba Melani ingin muntah ketika mencium aroma tester durian, yang hendak disimpan perawat.

__ADS_1


"Tuan,ayo cepat keluar" bisik Melani menarik Wiliam keluar cepat.


Wiliam pun memang sudah ingin keluar. Ia pun bayar uang pemeriksaan pada perawat resepsionis.


"Kamu kenapa lagi?" tanya Wiliam lihat Melani sedikit pucat dan pegang perut.


"Aku mau muntah" mengibaskan aroma disinfectant pel rumah sakit.


"Tahan.Kita cari toilet" ujarnya bingung mau tanya dimana letak kamar mandi.


Melani tidak kuasa lagi hirup bau disinfectant. Dia pun mendekap punggung Wiliam yang sedang cari toilet.


"Mel,kamu?" membalikkan badan.


"Kita pulang saja, yuk" ajaknya ngumpet di jas depan Wiliam.


"Kamu yakin?. Atau kita periksa bagian lain juga" menyarankan.


"Enggak mau!. Di sini bau" rengeknya narik jas Wiliam.


"Are you sure?"


Pertanyaan Wiliam diangguk Melani yang bersembunyi hirup aroma tubuh pria dingin.


Mereka pun meninggalkan area rumah sakit. Karena masih khawatir Melani ada sakit serius, Wiliam pun berinisiatif untuk panggil dokter keluarga.


"Kita panggil dokter ke rumah saja ya,Mel?" saran Wiliam.


"Ngapain?. Kan aku tidak sakit" wajah kembali segar setelah keluar rumah sakit, dan hirup wangi tubuh Wiliam.


"Kamu itu sakit.Pokoknya saya akan panggil dokter ke rumah untuk periksa kamu" hardik Wiliam dengan suara tinggi.


Supir yang awalnya akan belok ke kanan menuju jalur rumah orang tua Melani,jadi lupa karena dengar suara bentakan yang tinggi milik majikan.


"Eh, saya kok ke arah rumah besar" gumam supir latah jalan lurus. Dan kalau mau berputar, harus lewati jalan panjang dulu.


"Baik, Tuan" jawab supir, meneruskan jalan lurus.


Masih diperjalanan, Wiliam menghubungi telepon dokter keluarganya untuk segera datang ke rumah.


Begitu mobil mewah sampai di rumah mewah, dokter keluarga Wiliam juga menyusul dari belakang.


"Selamat pagi Tuan" sapa dokter paruh baya, yang harus cepat datang begitu ada panggilan Wiliam langsung.


"Pagi" balas Wiliam,menunggu pintu rumah di buka.


"Siapa yang sakit, Tuan?" tanya dokter.


"Dia" tunjuk Wiliam dengan tolehan kepala ke Melani.


ART tidak menyangka bahwa pemilik rumah yang sekian bulan tidak pulang,bisa pulang tiba-tiba.


"Selamat datang Tuan" sapa ART buka pintu.


"Pagi" balas dingin, membawa Melani masuk.


"Aku bisa jalan sendiri" ujar pelan Melani.


"Jangan mengeluh" hardik pelan Wiliam, membawa istrinya naik anak tangga menuju kamar utama.


Dokter umum paruh baya itu pun ikut menaiki anak tangga, menyusul orang yang menyuruhnya datang.


Tanpa basa basi,dokter paruh baya itu memeriksa keadaan Melani yang terbaring kaku di tempat tidur Wiliam, dengan stetoskop.


Denyut jantung Melani sedikit tidak beraturan, begitu juga dengan suhu tubuh yang mendekati gejala demam.


"Apa anda ingin muntah?" tanya dokter, memeriksa bagian perut dengan mengetuk punggung tangan menempel di perut putih mulus rata.


Ada sepasang mata tajam mengawasi ketat kegiatan dokter paruh baya itu. Sebab, ia tidak ingin dokter keluarganya bertingkah seperti dokter keluarga Wijaya. 'Sok akrab dan baik berlebihan'.

__ADS_1


"Gimana keadaan dia,Dok?" tanya dingin Wiliam.


"Nona ini hanya ada perubahan sistem imun dan hormon. Selain itu...." dokter bingung untuk jelaskan lebih lanjut.


"Itu apa?. Apa berbahaya?" tanya Wiliam, mengajak dokter menjauh.


"Bukan begitu Tuan. Sebaiknya, uji tes urine untuk keakuratan" jawab dokter.


"Aduh Dok. Tolong jelaskan dengan singkat, jangan pakai bahasa kedokteran yang saya tidak paham" ketus Wiliam.


"Tenang, tenang... Tuan. Menurut hasil pemeriksaan awal, saya menebak Nona itu sedang hamil, karena gejala dan beberapa tanda mengarah ke sana" jelas dokter paruh baya, harus jaga emosional pengusaha berdarah dingin yang bisa kapan pun meledak.


"Hamil??. Anda yakin?" mencengkeram pundak dokter, matanya membulat besar.


"I-iya" Dokter jadi tegang dengan expresi pasien khususnya.


"Kalau begitu, cepat test urine-nya" titah Wiliam dengan wajah sulit diartikan.


"Akan saya siapkan alatnya" sahut tegang dokter.


Dokter itu pun teringat bahwa di dalam tasnya ada alat test pack yang menguji sample dengan air liur.


"Nona,coba letakkan liur anda di sini" ucap dokter.


"Tadi anda bilang akan test urine. Ini kok test air liur?. Anda mau saya pecat!" amuk Wiliam agak jauh dari Melani yang sedang uji test.


"Ini sama aja. Ya, walau keakuratan hanya 70-80 persen" sahut dokter, berharap diagnosis awalnya tidak salah.


Wiliam dan dokter menunggu dengan wajah tegang, dari hasil yang ditunjukkan alat test pack.


"Dok,ini" ucap Melani serahkan benda plastik mirip termometer.


"Apa sekarang agak haus?" tanya dokter.


"Haus banget" jawab Melani ngangguk.


"Saya akan minta pelayan ambil air" celetuk Wiliam.


"Aku turun saja" jawabnya, melihat dua wajah pria tegang lihat benda plastik tipis.


Agar tidak ketahuan ketegangan, Wiliam kibaskan tangan izinkan Melani lakukan sesuka hati.


"Tuan, apa nona itu?" tanya basa basi dokter hilangkan ketegangan.


"Dia istri sah saya" jawabnya tegas, tidak lepas memandang benda yang dipegang.


Garis dua??. Ya, itu hasil yang di tunggu dokter setelah beberapa menit menunggu.


"Selamat Tuan.Sebentar lagi ada anggota baru" ucap dokter menyalam Wiliam yang berkaca-kaca.


"Ya" sahutnya singkat.


Wiliam pun langsung keluar, menyusul istrinya yang turun mengambil air di lantai bawah bagian dapur.


Sedangkan dokter yang merasa tidak dibutuhkan pun pergi setelah pamit sekilas.


Huufff.....


Dokter menghembus nafas lega, karena hasil pemeriksaannya membawa hasil yang bahagia. Andaikan saja jika itu kabar buruk?. Mungkin tubuhnya dan jabatan yang sudah tua itu akan di museumkan oleh Wiliam,di gurun Afrika.


.


...****************...


.


Terima kasih atas dukungannya.


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.

__ADS_1


__ADS_2