
Bab 164
.
Esok paginya, Santi bangun dengan tubuh kaku tapi hati senang.
Kabar bahagia itu dibagikan pada orang tuanya, dan tidak lupa pada bestienya(Murni).
Murni yang banyak membagi ilmu seputar dunia rumah tangga, terutama ilmu di atas tempat tidur.
"Really!!" muka Murni tampak tidak percaya.
"Iya.Dan sebentar lagi ilmu yang kamu ajarkan, akan aku praktekan" memperjelas kekagetan bestienya.
"WOW..." tercengang pada teman yang terlihat polos.
"Jadi,lu wajib hadir dalam pernikahan aku.Tidak terima alasan, tidak datang" merangkul pundak Murni yang bergeleng kepala masih belum percaya.
"Ok.Gue tunggu undangan lu" ngangguk dan geleng-geleng kepala.
"Minum, terus pulang jaga bocah-bocah imut" titahnya, ngusir halus pergi.
"So,gue diusir?.Ok,fine" ikuti candaan.
Memang di waktu pagi dan sibuk dengan pekerjaan masing-masing, mereka tidak bisa berlama-lama ngobrol ngaco.
Keduanya pun berpisah setelah membayar tagihan bill pesanan.
"Kalau ada info update,lu mesti kasih tau gue.Jangan tiga-kan atau ekorin gue" Murni memeluk Santi.
"So pasti" mengusap punggung Murni.
Murni pulang ke rumahnya untuk menjadi ibu rumah tangga sekaligus istri. Sedangkan Santi, mulai mencari tempat foto prewedding seputar Indonesia.
Banyak tempat studio foto bagus dikunjungi Santi seorang diri.Dirinya juga mendapat brosur paket foto prewedding, sebagai referensi.
.
Di villa, Melani membuat sarapan pagi untuk keluarga kecil.
Potongan telur orak-arik,tomat,timun dan juga emping,ditata Melani memenuhi piring isi nasi goreng.
"Sarapan sudah siap..." teriaknya memanggil.
"Josh coming" jawab Josh bersuara menggelegar.
Wiliam dan Josh duduk disamping Melani, menunggu sang koki instan mengambil nasi goreng untuk mereka.
"Emmm... Harum.Tapi udang dan baksonya nggak ada" komplain Josh kurang lengkap menu nasi goreng favorit.
"Makan saja kalau tidak bisa masak" ujar ketus Wiliam membela kokinya.
"Lain kali Mami taruh udang dan bakso, khusus buat kamu" bujuk Melani.
Yang dibela malah membela orang lain,yang telah protes terhadap ketidak lengkapan toping.
Untuk meredam Josh ngambek, Melani menyuapi sang little bos .
"Sudah besar, makan masih disuapi" sindir ketus Wiliam.
"Tidak apa-apa,ko" menyikut tangan Wiliam yang menambah cabe dalam rajuk Josh.
Wiliam tersenyum kecut pada Josh , merasa terdua'in karena keberadaannya.
Habis sarapan, Wiliam sengaja suruh Josh mengepak semua mainan untuk dibawa pulang.Dan dirinya punya kesempatan untuk memeluk bebas Melani.
Aaa...
Kaget Melani dipeluk dari belakang saat cuci peralatan makan kotor.
"Koko lepas" menghentikan cuci kuali.
"Cium saya dulu" bisiknya,meluk posesif.
"Nanti dilihat orang" membilas cucian.
"Biar.Atau kita tetap begini" mengelus gundukan bakpao tertutup.
Hufff....
Melani mengeringkan tangan basah disertai berhembus nafas pasrah.
__ADS_1
Tubuhnya berbalik berhadapan.Mata keduanya bertatap satu sama lainnya.
"Now!!" Wiliam menunduk, mempermudah istrinya kasih ciuman.
"Tunggu" celingukan memastikan keadaan aman.
Tangan Wiliam menangkup wajah Melani.Tidak sabar menunggu lama, Wiliam menyerang bibir candunya.
Hoshh... Hoshh...
Lebih lama serangan Wiliam yang ganas.Nafas mereka putus-putus terengah-engah.
Namun tampak wajah bahagia Wiliam yang terlukis jelas, saat memeluk Melani.
"Mami ..." teriak Josh kecurian penjagaan ketatnya.
Wiliam dan Melani berdiri tegak tegang,saling berpegang tangan.
"Koko,sih" keluh pelan Melani ketangkap basah.
"Tenang saja" coba mengsugesti pikiran Josh.
Dengan sikap dingin penuh wibawa, Wiliam membalikkan keadaan tertangkap basah sebagai maling.
"Sudah siap semua mainan kamu" berlagak tegas dan tidak berbuat salah.
"Sudah.Tapi kenapa Daddy meluk Mami" tanyanya menginterogasi.
"Bukan peluk.Tapi Mami, habis ketakutan lihat lipas" dalih Wiliam tidak ingin jadi tersangka kejahatan.
"Be-betul" sambung canggung Melani.
"Mana lipas-nya?" mencari barang bukti tersangka.
"Sudah Daddy buang ke selang air" asal jawab.
"Benar itu,Mi?" menarik jauh tangan ibunya dari tersangka utama.
"Iya" menunjuk saluran selang air cuci piring.
"Dah yuk, Mi" Josh ngajak pergi korban menjauh dari tempat kejadian perkara.
"Siap-siap pulang juga kita" ujar Wiliam usap tengkuk tegang.
Semua barang bawaan telah dimasukkan dalam bagasi mobil.Mereka pun telah bersiap pulang ke rumah mewah.
Sepanjang jalan Melani dan Josh bernyanyi lagu gembira.Pepohonan yang dilewati juga tertinggal jauh dari mobil bergerak.
"Ko,nanti kami boleh mampir ke toko eskrim dulu,kan?" pintanya dengan wajah memelas.
"Mm...Tapi jangan makan banyak" memasuki jalur perkotaan.
"Yeahhh..." riang keduanya di belakang kursi pengemudi.
Sampai juga Wiliam disebuah restoran mewah.
"Loh, kita kok disini, Dad?" protes Josh tidak sesuai ekspetasi.
"Mau makan eskrim kan?. Jadi turun dan masuk" hardik Wiliam melepaskan sabuk pengaman.
Wajah Josh dan Melani manyun murung, karena mereka tidak bisa memilih eskrim yang mau mereka makan.
"Selamat datang, Tuan" sambut pelayan restoran.
"Ruang VIP" langsung memberi perintah.
"Kak, eskrim mambo ada nggak?" tanya pelan Josh pada pelayan restoran.
"Tidak ada,dek" jawab pelayan restoran.
Mana ada restoran mewah menyediakan jenis eskrim buatan rumahan penduduk kalangan menengah.
Pesanan eskrim yang muncul pun sesuai pesanan William.
"Hanya 1, Dad?" Josh tidak percaya pada keputusan Wiliam untuk tidak memperbolehkan mereka makan banyak eskrim.
"Ya" menarik gelas eskrim, dan menyuapi secara bergantian.
Mungkin nggak mereka untuk banyak protes pada sikap Wiliam?.Tentu saja jawabannya adalah "No!!".
Bahkan jatah makan eskrim dikurangi Wiliam demi keadaannya yang masih datang bulan.
__ADS_1
"Kamu sudah" ujar tegas Wiliam, menyudahi suapi eskrim ke istri.
"1 lagi" pintanya menarik lengan baju Wiliam.
"No" melarang dengan nada tekan.
"Koko pelit" gerutu halusnya, lihat Josh begitu enak banyak makan eskrim.
Edisi makan eskrim selesai, dan mengharuskan mereka pulang.
"Pulang nanti, kalian harus banyak minum vitamin dan minum air hangat" titahnya sambil fokus nyetir.
"Ok" lemas mereka menjawab.
Mobil sampai di depan pintu utama rumah mewah setelah perjalanan panjang. Barang dalam bagasi mobil pun dipindahkan ART yang buka pintu.
Melani dan Josh menaiki anak tangga menuju kamar mereka masing-masing.
"Sampai nanti, Josh" ucap Melani melambaikan tangan.
"Ok, Mi" balasnya melambaikan tangan.
Sehabis mandi, mereka beristirahat sejenak setelah perjalanan panjang.
Josh bisa beristirahat dengan tenang dalam kamarnya,tapi tidak bagi Melani yang duduk nungggu memberikan pakaian ganti Wiliam.
"Ko,aku taruh di kursi ya" ucapnya pada orang di balik pintu.
"Bawa masuk" sahut orang di dalam kamar mandi.
"Ya" menekan turun handle pintu.
Terpampang tubuh sixpack dengan burung tidur tergantung terbaik, menyambut dirinya yang buka pintu.
"Aku gantung saja,ya" ucap Melani dengan mata terpejam.
"Bagaimana gantung baju, kalau mata tertutup" memeluk Melani dari belakang.
"Bisa kok" meraba hanger baju, dan mencantolkan tiap baju.
"Kamu masih malu,hmm?" godanya membelai leher mulus istrinya.
"Jangan, ko" tolak Melani,terselubung aura mesum.
"Kayak di villa saja,kok" tangan masuk dalam baju utuh Melani.
"Emm... Jangan" erangnya menolak.
Tapi sayang, tolakan itu tidak mempan bagi tangan jahat dari orang yang tersenyum jahat pula.
Gundukan bakpao sudah habis diuleni Wiliam.Tengkuk juga sudah bertanda lukisan abstrak.
"Saya akan puasin kamu setelah selesai datang bulan" bisiknya dengan makna tersirat.
Tidak salah ucapan ,Wiliam?. Bukan kah dirinya yang minta dipuaskan, bukan memuaskan lawan?. Banyak jebakan-jebakan Wiliam yang tidak bisa dihindarkan Melani.
"Dah,ko.Nanti ketangkap basah kayak tadi" nasehat Melani.
"Ok.Sekarang bantu saya selesaikan ini" meraih tangan Melani untuk bantu mengeluarkan amunisi senjata yang sudah menegang.
"Uhh ... Ujung-ujungnya Mel juga" keluh Melani risih bantu keluarin isi amunisi di senjata Wiliam.
Hehehe.....
Tawa tipis Wiliam lihat wajah merah malu merona, pegang senjata yang siap menembak.
Emmm..... Argghhh....
Rintih Wiliam mendesah nikmat dibuat Melani, yang mengocok senjatanya, cepat dan lembut.
"Ihhh....Koko jorok!" Melani jijik lihat cairan kental muncerat penuhi telapak tangan.
Hahaha....
Tawanya keras, sambil bantu Melani mencuci tangan pakai sabun.
.
......................
.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya dalam bentuk apa pun.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.