
Bab 50
.
Satu minggu kemudian.
Melani yang kembali barus pergi jadwal kontrol ke spesialis psikiater hipnoterapi siang itu, ditemani Wiliam yang usai menugaskan staffnya handel pekerjaan tersisa.
Dokter muda yang tengah menanti pertemuan kedua mereka itu ,juga sedang merapikan penampilan terkecenya.
Dengan antrian khusus, Melani yang tiba juga gak perlu ikut antrian panjang. Dia dan Wiliam bisa langsung masuk dalam ruang praktek kerja dokter muda itu.
"Selamat datang. Bagaimana kabar anda, Mr dan ladies ?" sapa dokter muda berjabat tangan (B.Inggris).
"Baik" balas Wiliam berjabat tangan disusul Melani (B.Inggris).
Sesi pertemuan kedua pun di mulai setelah dengar keluhan singkat Melani.
Seperti sesi hipnotis sebelumnya, Melani duduk berbaring pada sofa panjang besar, sambil ikutin intruksi dokter,hingga masuk sepenuhnya dalam ruang waktu terhenti, dimana semua memori otak berhenti.
Ajuan pertanyaan dimulai dari pertanyaan terakhir sesi lalu.
"Sekarang, coba anda katakan. Apa yang terjadi pada waktu itu, setelah anda melukis wajah Tuan Wiliam ?" melihat respon alat motorik untuk di catat (B.Inggris).
"Aku buka laptop, lalu lihat...... " Melani bereaksi seperti sebelumnya dengan ritme frekuensi motorik lebih cepat (B.Inggris).
Sebelum Melani keluar tiba-tiba dari alam bawah sadar dikendalikan, dokter muda mengalihkan pertanyaan tersebut dengan lebih ringan.
Wiliam yang sudah tau alasan perbuatan Melani malam itu, tampak jengkel dan keluar kesal dari ruang praktek dokter.
"Kurang ajar....!! Percuma saya berbaik hati membawanya kemari" tangan Wiliam memukul tembok dinding batu.
Hayo tebak, lebih sakit si tangan atau tembok batu 😊. Makanya semarah apa pun itu, kalau mau mukul, mending mukul bantal guling.
Tidak sampai lima belas menit Melani di hipnotis, dia sudah kembali dari alam bawah sadar. Wajah pucat bercucur keringat jangung itu berlari kecil keluar ,tidak ingin membuka simpul beban rahasia.
"Mr, bisa kita bicara?" dokter muda memanggil Wiliam masuk (B.Inggris).
Kesal tetap kesal, namun mau bagaimana pun juga dia adalah wali.
Dokter muda sudah mencoba dua kali hipnotis, namun tetap gagal membuka setiap hampir menemukan jawaban. Biasa orang yang di hipnotis sukar untuk lepas sendiri, beda dengan pasien barunya yang ini.
"Apa anda pernah coba secara persuasif pelan-pelan dalam masalahnya?" dokter muda bertanya,sambil lihat hasil tulisan observasi lanjutan(B.Inggris).
__ADS_1
"Tidak pernah" singkat jawab (B.Inggris).
"Seperti usul saya pertama kali. Kita mesti coba cara tersebut. Sebagian orang perlu menemukan tempat curhat yang paling nyaman untuk bercerita" jelas lanjut dokter muda (B.Inggris).
"Baik, akan saya pikirkan. Mengenai obat, apa sudah bisa dihentikan ?" lanjut Wiliam (B.Inggris).
"Belum bisa. Namun dosis pemberian bisa di kurangi" membuka resep baru dengan dosis kecil (B.Inggris).
Langkah kaki pria dingin keluar dari ruang praktek menuju apoteker menebus resep obat.
"Ayo pulang" ajak Melani, sejak kapan berdiri tepat di belakang Wiliam dengan mata berkaca-kaca.
"Mmm" dehemnya kesal, menyerahkan bungkusan obat resep.
.
Sesampai di rumah Wiliam, Melani berlari kecil masuk kamar tamunya, mengunci pintu itu dari dalam.
"Kalian jangan biarkan Nyonya keluar rumah tanpa izin" titah pria dingin pada ART.
"Baik, Tuan" serentak menjawab.
Kemudian, Wiliam kembali ke kantor untuk rapat yang lain, belum ia undurkan jadwal itu.
Masih tampak fokus wajah Wiliam menyimak presentasi para wakil perusahaan hingga selesai.
Wiliam melihat secara teliti aset hingga laba rugi perusahaan tersebut. Namun tidak menemukan titik terang, hingga ia membaca map berwarna biru berisi transaksi pengeluaran uang dalam jumlah besar.
Jari jemarinya membuka laptop dengan cepat, menscroll dan lakukan pencarian data terkait. Dia yang melihat saja kaget dengan hasil berwarna merah penurunan signifikan.
"Cari mati!!.Tidak pernah terjun, coba bermain api. Sekarang sudah kena imbasnya ,tetap masih keras kepala" omelnya mijit tengkuk pusing.
"Tuan, anda tidak apa-apa?" cemas pria tegap.
"Tidak. Kamu sekarang boleh keluar" mengibas tangan, ingin melihat layar laptop lebih detail.
Semakin di lihat, makin tambah puyeng tujuh keliling. Kemungkinan delapan puluh persen itu, harus segera diselesaikan sebelum makin masuk jurang kehancuran terdalam.
Kaki itu berjalan cepat keluar dari ruang meeting menuju ruang kerja privasinya. Dia menelpon semua pialang saham, obligasi sampai forex yang dia kenal.
Udara sejuk Ac dalam ruang itu terasa ungkep menunggu semua info kemungkinan naik. Dia berjalan mondar mandir di depan meja kerja luas dan panjang.
"Kalian cepat temukan perkiraan semua itu bisa naik.Saya hanya kasih waktu kurang dari tiga puluh menit" titah Wiliam pada pialang, melonggarkan ikatan dasi yang menyesakkan (B.Inggris).
__ADS_1
Para pialang yang bekerja dalam skala internasional itu secepatnya memperhitungkan kemungkinan naik obligasi yang ditanya pengusaha berdarah dingin.
Kecepatan daya pikir membagi, tambah, kurang, perkalian mereka memprediksi naik turun diagram statistik, sedang dipertaruhkan jika tidak ingin diambang kehancuran.
Kurang satu menit lagi, ambang waktu pemberian Wiliam tuntas. Salah satu pialang menemukan prediksi kenaikan dalam kurun waktu paling terdekat dari titik terendah.
"Kamu tau, kan. Jika gagal prediksi kamu, maka karir kamu ikut hilang" Wiliam berkata tegas, terselubung pengintimidasian pada orang terhubung (B.Inggris).
"Ya, saya bisa menjamin ke akuratan perhitungan saya sampai 85 persen" pialang menjawab dengan suara yakin, sambil ngelap keringat dingin (B.Inggris).
Dengan kemungkinan bisa naik kembali, pria dingin pun mencari detail obligasi yang di beli istri kecilnya.
"Ini awal dan akhir saya bantu problema kamu" menekan nomor telepon seseorang.
Tut... Tut.....
Nada sambung berbunyi, Wiliam masih melihat grafik diagram statistik yang kian anjlok bablas ke jurang minus.
"Halo, ada yang ingin saya tanya dan bahas. Kamu stay di tempat" tegasnya, mematikan percakapan sepihak.
Seketika orang yang terhubung menjadi gelisah untuk bertatap muka. Apa gerangan pria dingin menelpon dirinya dengan suara penuh tekanan?.
.
Tidak sampai dua puluh menit, mobil Wiliam telah tiba pada tempat yang dituju.
Orang yang menanti juga jadi was-was empat belas, lima belas degub jantung berdegub cepat, melebihi ambang normal.
Jika sempat terpojok, mungkin dapat berakibat fatal seumur hidup baginya, yaitu "Maut Menjemput".
"Dimana Nyonya?" tanya Wiliam masuk begitu pintu terbuka.
"Di dalam kamar,Tuan" jawab ART kribo.
Kaki Wiliam melangkah panjang dan cepat menuju kamar tamu.
Tokk... Tokk....
Ritme ketukan pintu kamar terdengar gegabah.
"Ada apa ini?. Ya, Tuhan.... Kenapa jantung aku seakan hampir lompat keluar" memegang dada dan jalan buka pintu.
.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya dalam bentuk apa pun.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.