Change Destiny

Change Destiny
Bab 25 Korban kekerasan


__ADS_3

Bab 25.


.


"Siapa yang berani bilang kamu bukan anak Papa Mama, hum" membelai rambut penuh kasih sayang.


"Kalau iya. Mengapa Mama gak ngerti kemauan,Mel"


Hufff....


Tuan Wijaya menghembus nafas berat enggak sanggup menjawab pertanyaan sederhana itu.


"Sabar ya" menepuk lembut lengan bahu.


Mobil sampai kantor Tuan Wijaya, kini Melani duduk menyendiri merenung nasib menuju kantornya.


Dengan kesendirian, gadis itu banyak merenung. Apa yang salah dan kurang dalam hidupnya.


"Nona, kita sudah sampai" panggil supir berhenti di pintu masuk kantor.


"Oh" lesu membuka pintu.


Kaki jenjang melangkah kurang semangat. Sapaan pagi para karyawan juga kurang disambutnya.


Rasanya hari ini Melani ingin sekali cuti hirup udara bebas.


"Nona, ini untuk jadwal hari ini" ucap sekretaris, meletakkan buku agenda.


Sekretaris baru pertama kali melihat wajah bos cantik pintarnya itu tampak kusut lisut, seperti orang sedang kurang fit.


"Nona sakit?" memastikan keadaan bos.


"Tidak, hanya banyak pikiran" Melani memijit pelipis.


"Mau saya buatkan lemon tea ice?" tanyanya.


Melani ngangguk, mana tau secangkir lemon tea ice pagi hari dapat menyegarkan semangat gabut.


Tawaran lemon tea ice segera sekretaris buatkan. Dan membiarkan bos sejenak menyendiri dalam ruang kerja besar.


Tring....


Notifikasi chat ponsel gawai milik Melani berbunyi getar. Mata Melani semakin layu kuncup tidak bersemangat.


Hanya melihat nama pengirim chat sudah buat Melani ia membaca isi pesan chat.


"Aaaa...... Aku nyesal sudah minta balik" teriak memplongkan rasa kesal nyesal.


Huhuhuuuu.......


Dalam kesendirian,Melani meraung nangis. Sekretaris yang ngetuk pintu membawa lemon tea ice terperanjat panik sama tingkah bos cantiknya. Ia tidak tau apa penyebab pasti bos cantik pintar itu menangis pilu menempel wajah pada meja.

__ADS_1


"Nona, anda baik-baik saja kan?" mengambil tisu.


Melani butuh teman curhat saat itu, namun karena posisinya ia tidak dapat mencurhat keluar semua masalah yang sedang dihadapi.


Nafas sesenggukan itu pun ia coba tenangkan sendiri.Maskara yang memoles bulu mata Melani luntur membuat sekretaris tidak kuasa lama nahan tawa kecilnya.


"Kenapa kamu senyum, hum?" sesenggukan Melani bertanya.


"Nona jangan bersedih lagi, kalau tidak mau riasan luntur" menjulurkan tisu.


Melani membasuh air mata membasahi wajah sedih, dilihat penyebab sekretaris tertawa kecil di balik tangan menutup bibir.


Noda hitam menempel pada tisu putih basah, Melani juga ikut menertawakan tingkah lebainya sendiri.


"Jika Nona ingin cari teman curhat, saya bersedia" ucap bella menyodorkan lemon tea ice.


"Tidak usah, saya hanya butuh ketenangan" menyeruput pelan-pelan lemon tea ice.


Bella ngangguk mengerti orang yang bersedih kalut. Ada yang ingin berteriak, menangis, cari teman curhat, menyendiri,refresing atau lainnya sesuai mood kalut masing-masing.


"Bel,pesankan tiket ke kota C untuk minggu depan" perintah Melani, mengusap lunturan maskara hitam.


"Baik"


Entah apa tujuan Melani ke kota tersebut, tidak ada proyek atau teman sanak saudara, maupun tempat rekreasi bagus.Hanya ada hutan belantara belum terawat oleh pihak swasta atau pemerintah kota setempat.


Rencana kepergian ke kota C itu hanya diketahui sekretarisnya seorang.


Dari hari pertama ia akan tiba sampai hari kepulangan balik disusun rapi olehnya.


Seminggu kemudian....


Pagi subuh Melani pergi setelah alasan izin ingin cuci otak sebelumnya pada orang tua secara mendadak.


"Mel pergi dulu ya, Ma" pamitnya pada ibu suri yang selalu bangun subuh.


"Iya. Ini bekal sarapan perjalananmu" memberikan paperbag berisi sandwich dan susu botol.


Cup.. Cupp....


Melani mencium pipi kiri dan kanan, lalu keluar menggerek koper.


Dua puluh lima menit berlalu semenjak Melani berangkat.Handphone yang masih dalam mode pesawat itu belum juga diubah mode normal.


Sudah empat puluh tujuh menit sejak Melani pergi.


"Sampai juga ke kota masa depanku" Melani merentangkan tangan menghirup udara kota C yang sama saja dengan kota awal.


Sudah tentu dia mengenal kota C walau pertama kali mesan tiket pesawat itu. Langkahnya jadi ringan lincah, mencari kendaraan menuju tempat bermalam.


Hanya bisa naik sepeda motor butut, karena belum banyak transportasi di kota C saat ini dia kembali.

__ADS_1


Pokoknya gak ada gengsi atau malu. Gadis kota cantik berkeliling kota C dengan sepeda motor yang dikenal sebutan ojek.


"Mang, kita ke losmen yang dekat" ucap Melani bersuara keras, diterpa angin kencang.


Hanya dalam lima menit,mang ojek berhenti tepat di losmen terdekat. Melani segera chek in dan ambil kunci kamar.


"Yuhuu..... I'm freedom woman. Ini namanya baru nikmati masa muda" Melani menjatuhkan tubuh pada kasur busa keras.


Sekerasnya busa tidak masalah, karena hidup jauh lebih keras dan sakit. Dia berguling kayak kambing guling ke kiri dan ke kanan.


Hampir saja dia lupa punya orang tua yang super cemas di rumah, kalau tidak dapat kabar terupdate ke pergiannya.


Mode pesawat di geser jadi mode normal untuk melakukan panggilan dan sejenisnya.


"Hallo Pa.Mel sudah sampai tujuan dengan selamat berbahagia ya. Papa Mama tidak usah khawatir" berbincang sambil membongkar isi koper.


"Baguslah.Kamu liburan dengan tenang saja. Papa bisa handel beberapa rapatmu" jawab Tuan Wijaya mengunyah sandwich.


"Mel, kamu jangan lama di sana.Ingat masih ada undangan nyonya besar Lee akhir bulan ini" ibu suri ingatkan balik.


Serasa tertusuk kawat duri tangannya Melani. Di kira sudah bisa bebas sebentar, eh rupanya belum.


"Iya, Ma" lesu menjawab pesan ibu suri.


Tut.... Menutup panggilan telepon.


Tidak sanggup lagi untuk berbicara panjang, jika yang dibahas melulu anggota keluarga Lee.


Perasaan yang awal tidak ribet itu,perlahan jadi benci karena keinginan paksaan.


"Awas aja ya!!!. Begitu bisnisku lancar,dan kekuatan sudah setara, maka aku akan memulangkan semua modal beserta bunga laba" tangan meremas bantal, terus meninju ,membanting berulang kali sampai lega puas.


Bantal yang sungguh malang, jadi korban kekerasan tanpa ada dosa jelas. Jahitan pinggiran bantal itu terbuka,kapas isian berterbangan menari ria bersama udara dalam kamar.


"Tenang, tenang, tenang Mel. Kamu wanita karir yang akan sukses masa depan, jadi tidak boleh bar-bar juga" Melani mengontrol emosi, merapikan kapas-kapas yang lelah menari.


Tanpa perlengkapan jarum jahit menjahit, Melani hanya membiarkan kapas yang sudah masuk begitu saja.


"Maaf sudah buat kalian susah. Sekarang beristirahatlah dengan tenang dan damai di sini" Melani meletakkan bantal rusak di sofa, serta turut berduka cita tidak bisa terpakai olehnya.


Kemudian gadis cantik itu membersihkan diri kembali, dari taburan sisa isian bantal berduka cita,sebelum berkeliling seputaran losmen.


.


...****************...


.


Terimakasih atas dukungannya.


Sehat sejahtera untuk kita selalu. 🙏

__ADS_1


__ADS_2