
Bab 77
.
"Tidak bisa Josh, kan masih harus ngantri.Pasti bisa pulang sampai malam sekali" dalih nenek.
"Tidak apa Omah uyut. Josh tetap mau ikut" merengek, makin erat meluk pinggang ramping si ibu baru.
Melani berfikir sejenak, ada baiknya jika anak tiri ikut bersama dengan mereka. Setidaknya Wiliam tidak akan menindas saat ada orang lain.
"Tuan,Josh ikut kita saja" ucap Melani menatap Wiliam.
"Jangan Mel. Nanti bakal ganggu" nenek mencegah.
"Josh janji tidak rewel dan ganggu kok, suwerr. Boleh ya, Dad" memohon, menjulur dua jari V janjinya.
"Bisa gagal obat kita bereaksi" ucap pelan ibu tua di telinga nenek.
"Nanti kamu bosan sendirian Josh" ujar nenek.
"Tidak apa Omah uyut. Kan ada Mami dan Daddy" jawab Josh bersembunyi di belakang punggung Melani.
"Ya sudah kalau mau ikut. Minta pelayan siapkan baju seragam dan lainnya" jawab dingin Wiliam.
"Yeahhh..... Mami ikut Josh ke kamar aja" girang Josh, tidak lupa menahan Melani.
Ibu tua dan nenek kecewa sama kesempatan yang telah mereka berikan pada Wiliam. Coba saja Wiliam kekeh tidak menuruti kemauan bocah tadi, pasti mereka dapat nikmati momen berdua tanpa pengganggu.
"Kamu itu bodoh,Wil. Ngapain kamu izinkan Josh ikut" omel nenek mukul lengan pria dingin.
"Dikasih kesempatan dua-duaan, eh malah disia-siakan" sambung ibu tua melipat tangan.
"Apanya yang disia-siakan?.Malah lebih bagus Josh ikut kami.Setidaknya tidak ada yang coba kabur. Jangan-jangan Bibi dan Omah berharap kami" sahut Wiliam.
"Iya.Maksud kami itu. Kalian sudah lama menikah,masa tanda-tanda Melani hamil saja pun belum ada" ketus nenek disambut anggukan ibutu yang nunjuk benar omongan nenek.
"Ya ampun.... Kalian pikir kami pasangan ABG. Lagian kami baru menikah hampir 2 bulan" pusing Wiliam bergeleng kepala, dengan tingkah keluarganya.
"2 bulan itu sudah lama tau!. Orang lain pasti sudah ada tanda. Apa kamu kurang stamina?" celetuk ibu tua.
Makin disahut pasti omongan mereka akan terdengar yang lain,dan buat malu dia. Lebih baik memilih keluar dan menunggu di dalam mobil.
Kejengkelan juga terukir di wajah keriput dua wanita tua. Jika begitu alurnya, sebelum mereka meninggalkan rumah besar pasti tidak bakal dengar kabar suka cita.
Melani dan Josh menuruni anak tangga dengan menjinjing koper kecil dan tas sekolah, lalu berpamitan pada 2 wanita tua yang duduk jengkel.
"Mel,kalau ada kesempatan,kamu harus terus coba ya" ucap nenek mengantar keluar.
__ADS_1
"Iya Omah." mengiyakan tanpa tau maksud ucapan.
"Segera kabari kami begitu ada kabar gembira" sambung ibu tua, melambai tangan.
Melani ngangguk, namun perasaan merasa mulai tidak enak. Seakan ucapan nenek dan ibu tua mengandung konotasi porno.
Hal itu tidak mungkin ia katakan pada Wiliam. Bisa-bisa menuding balik fakta sesungguhnya.
"Jangan harap aku akan suka sama pria dingin seperti dia" gumam Melani masuk mobil.
Mobil mewah membawa keluarga kecil itu ke mansion pribadi yang jauh dan jarang digunakan.
"Daddy,ini bukan jalan ke rumah sakit" ucap Josh.
"Iya.Karena kamu ikut ,kita tinggal di mansion saja malam ini" jawab Wiliam.
Josh tidak ingat jika keluarga mereka punya mansion. Mungkin karena sudah lama tidak mampir, atau sama sekali belum pernah.
Tapi apa pun itu dia tidak peduli. Selama bisa dekat terus dan rasakan punya seorang ibu utuh, sudah cukup baginya.
Mereka pun tiba di mansion yang gelap remang-remang. Supir menurunkan koper bawaan majikan kecilnya ke dalam rumah tersebut.
"Mami,kita nginap di sini ya?. Nanti Josh boleh tidur sama Mami kan?" tanya Josh melihat rumah petak tidak banyak kamar dan perabotan.
Melani ngangguk, karena dia setuju Josh ikut dengan maksud sama.
Makin pusing Wiliam dengan tingkah Melani. Apa sudah tepat menikah dengan Melani yang terkadang berkarakter kekanakan.
"Kalian tidur saja di kamar itu" ujar Wiliam, mengunci pintu utama.
Sebagai orang besar bukan dewasa, Melani juga tau untuk ngurusin bocah seumuran Josh. Dia membantu Josh untuk berganti pakaian tidur , disusul dengannya yang gantian.
"Sekarang waktunya kita tidur" ucap Melani.
"Siap Mami" Josh segera naik ke atas tempat tidur dengan bahagia.
Josh sudah lupa ada orang tua lainnya selain ibu baru. Namanya juga anak-anak, saat mendapat mainan baru, pasti yang lama terlupakan tanpa atau dengan sengaja.
Tanpa mengunci pintu kamar, Melani ikut sambung nyusul Josh tidur yang telah berselimutkan bedcover.
"Good night Mami" ucap Josh, tidur tegak.
"Night too and sweet dreams" balas Melani memejamkan mata.
Wiliam yang di luar kamar setelah memeriksa semua pintu, jendela terkunci aman ,pun masuk kamar itu untuk membersihkan tubuh penuh peluh keringat dan berganti pakaian.
Pemandangan yang bagus saat dia masuk, dia melihat ibu dan anak sambung tidur dengan akur dan nyenyak.
__ADS_1
"Kalau dibilang kalian ibu dan anak, sangat mustahil.Kalian lebih cocok seperti kakak adik" memandang dua orang yang tidur lelap.
Kemudian Wiliam masuk kamar mandi.
Saat keluar sehabis mandi,dia melihat posisi Josh sudah memeluk tubuh istri kecilnya. Dia pun terpikir untuk melukis pemandangan itu sebagai momen.
Dari dalam gudang mansion, Wiliam mencari peralatan lukis untuk di bawa masuk kamarnya.
Diletakkan alat lukis pada meja samping dia duduk. Dengan bidikan mata, pria dingin tampan itu mulai menggores pensil lukis di atas kertas lukisnya.
Tiap guratan di wajah, di gores Wiliam seksama memakai pensil. Tidak ada posisi yang di ubah, semua sengaja di narutalkan,biar jadi momen terindah saat dilihat.
Dalam tiga puluh menit hasil goresan Wiliam selesai. Tanpa diwarnai saja hasil sudah amat bagus.
Wiliam mengulung hasil karya lukisan sekedar niat, lalu menyimpan dalam laci meja.
"Hehe...." tiba-tiba terdengar suara tawa kecil, dengan bibir terbuka kecil pula.
"Kamu ini semakin sering ngigau,hum" kembali duduk di samping pengigau untuk dengar apa yang diigaukan.
"Emang enak aku kerjain" lindurnya dengan tawa licik.
"Siapa yang kamu kerjain,hum?" tanya Wiliam menginterogasi.
"Hehehe..." Melani tertawa terkekeh tidak mau kasih tau siapa yang habis dikerjai.
Dalam mimpi,Melani amat sangat puas mengerjai orang tersebut sampai tunduk di bawah kakinya.
Wajah puas sombong juga tidak tertutupi, hingga terbawa ke dunia nyata.
"Sekarang aku Melani Wijaya telah bangkit kembali, dengan kejayaan dan ketenaran yang seharusnya memang jadi milik-ku" seraya Melani berbangga diri.
"Saya mengakui kegeniusan kamu. Jadi mau kan kalau kerja sama kita berlanjut?" seorang pria tampan berlutut memohon.
Tebak siapa pria ini,yang sudah buat Melani bangga banget dalam mimpi terindah.
"Akan aku pikirkan. Sorry, aku lagi sibuk, jadi tidak bisa memikirkan lanjutan kerja sama kita" jawab sombong Melani memalingkan tubuh menuju ruang kerja.
.
...****************...
.
Terima kasih atas dukungannya.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.
__ADS_1