
Bab 161
.
Mereka berkumpul di ruang makan, menikmati sarapan dengan tenang, sambil dengarkan keinginan Josh.
Keinginan yang merugikan Wiliam,tentu langsung dibatalkan.
"Minta yang lain, atau sekalian tidak usah" tegas Wiliam batalkan keinginan putranya.
"Tapi, Mami kan Mami Josh. Bukan Mami, Daddy" nyolot tidak izinkan Melani lebih beri perhatian ke bapaknya.
Melani duduk membisu, melihat kedua laki-laki memperebutkan dirinya.
"Kamu pilih saya kan, Mel? " menatap dalam penuh tekanan.
"Pilih Josh aja, Mi " menarik tangan Melani.
Susah membuat pilihan antara keduanya.Yang satu adalah sekutu, dan satunya lagi sedang proses penjajakan.
"Aku pilih....." serba salah memilih, melihat keduanya secara bergantian.
"Kalau kamu pilih saya, nanti malam saya tidak akan menggangu tidur kamu" Wiliam membisikkan negosiasinya.
"Daddy jangan curang" ujar Josh menangkap basah pelaku.
"Cepat habiskan sarapanmu" hardik Wiliam dengan senyum sinis.
Dengar negosiasi Wiliam yang lebih menguntungkan,dia pun membagi adil keputusan.
"Aku putuskan...?" sengaja melamakan jawaban, ingin buat suasana tegang penasaran.
"Apa?" Wiliam dan Josh serentak tanya.
"Mulai jam 1 dini hari sampai jam 7 malam,Mami perhatian ke Josh. Dan mulai jam 7 malam sampai jam 10,itu bagian Daddy" jawab Melani melihat raut wajah kedua laki-laki bergantian.
"Ok" jawab setuju Josh, biarpun harus berbagi kasih sayang.
"Tidak adil" seraya kesal Wiliam, terkurangi dari sisa waktu 3 jam.
"Adil, Dad" sahut Josh dengan suara penekanan, membujuk agar bapaknya pasrah.
"Kan sudah adil.Bagian mana lagi tidak adil?" tanya Melani bingung.
"Masih ada sisa 3 jam lagi terlewati" menunjukkan 3 jarinya.
"Oh...Kan aku butuh istirahat totalitas,ya kan Josh?" jawabnya, dan bertanya apa perkataannya benar pada sekutu.
Pertanyaan Melani diangguk Josh yang lebih perhatian.
"Terus kenapa jam bagian Josh lebih banyak?" memprotes keputusan tidak adil merata.
"Kan Josh anak Mami" celetuk Josh dengan wajah semeringah.
"Kamu??" Wiliam menunjuk kesal pada anak yang berhasil mengalahkan dirinya.
"Jangan marah,Ko.Nanti cepat tua loh" canda Melani, menepuk dada Wiliam.
"Kamu harus beri saya kompensasi atas kerugian harga diri saya" gumam pelan Wiliam, yang masih bisa terdengar wanita disebelahnya.
"Kompensasi?" menatap binggung dengan tatapan mata Wiliam sulit diartikan olehnya.
"Josh sudah selesai, waktunya sekolah" seraya Josh langsung cium pipi ibu cantik berpamitan.
"Joshh??" gigi Wiliam bergertakkan tidak terima tingkah Josh asal kasih jejak di wajah wanitanya seorang.
Josh pun berlari menjauhi amukan bapaknya, yang tidak tau kapan bisa meletup.
"Koko jangan suka marah" meredakan emosi labil Wiliam.
"Kamu terlalu memanjakan dia. Lihat saja suatu hari nanti,dia pasti tidak akan takut terhadap kamu" ceramah pagi agar istri memberi memberi batasan antara orang tua dan anak.
"Ok,ok" ngangguk,muka celingukan kiri kanan depan belakang.
Cup ....
Usahanya membidik tidak sampai di bibir tujuan.
"Kamu??" Wiliam kaget dapat kejutan.
"Dah, sana pergi kerja" membalikkan tubuh Wiliam, akibat malu telah frontal mencium wajah,belum lagi tepat di bibir penceramah.
"Baik" menyunggingkan bibir,geli akan sikap dadakan istrinya.
Rumah mewah kembali sunyi. Dan Melani kembali nekuni usaha bisnis online sampai jam mereka berkumpul.
.
Di hari Sabtu siang, Wiliam cepat pulang ngantor. Dirinya yang sudah punya janji dengan keluarga untuk pergi weekend, bersiap jemput Josh pulang sekolah.
"Tuan, masih ada 1 meeting penting lagi" ucap sekretaris berdiri nyampingi Wiliam.
__ADS_1
"Serahkan saja ke asisten" tergesa-gesa sambil pakai jas.
"Tapi..."
"Saya atau kamu bos-nya, hmmph!!. Kalau saya bilang tidak ya tidak!" bentaknya terganggu.
"Ba-baik" jawab kaku.
Semenjak hubungan Wiliam dan Melani dimulai untuk saling mengenal dekat satu sama lain, emosi Wiliam jarang terkontrol. Terkadang begitu memberi perhatian majikan ke bawahan, terkadang pula arogan dalam memberi pilihan.
Kakinya berlangkah cepat panjang tinggalkan gedung megah itu.
"Silahkan Tuan" ucap supir membukakan pintu mobil.
"Habis dari sekolah,kamu boleh pulang" jawab Wiliam masuk mobil terbuka.
"Baik, Tuan" menutupkan pintu mobil,dan mesin mobil mulai digerakkan.
Sinar sang Surya yang begitu terik, teringat oleh Wiliam untuk membelikan kado sesuatu untuk wanitanya.
Berhenti sejenak mobil itu di depan sebuah toko. Tidak lama Wiliam berada dalam toko tersebut, dan keluar dengan paper bag ukuran sedang.
"Jalan" ucap Wiliam memberi perintah supir yang nunggu dalam mobil.
Mobil kembali bergerak ke arah jalanan sekolah. Terpampang muka masam merenggut membuka pintu belakang mobil.
"Daddy sengaja telat biar Mami kira, Josh yang salah,kan" omel Josh bersandar marah, tangan berlipat dada.
"Tidak usah protes dengan alasan itu" sahut sinis Wiliam, karena telat 5 menit.
Bapak dan anak sama-sama pasang wajah merengut, tidak saling berpandangan sepanjang jalan.
Tapi begitu sampai di depan pintu rumah, mereka berakting akur kompak.
Ting.... Tong.....
Bel ditekan Wiliam sambil memasang tampang seperti biasanya yaitu 'Cool'. Dan seorang pelayan membukakan pintu sembari menyapa .
"Nyonya dimana?" tanya Wiliam melepaskan sepatu.
"Ada di kamar,Tuan" jawab pelayan, membawakan tas sekolah Josh.
"Mmm" balas Wiliam, mempersilahkan pelayan pergi dari hadapannya.
Ternyata langkahnya menemui Melani kalah cepat dibuat Josh.
"Sabar, sabar" gerutu Wiliam tetap jaga image di depan pelayan yang sedang membersihkan ruangan lantai bawah.
Di lantai atas, Josh sudah bertemu dengan orang terkasih. Mereka berpelukan sebelum berpelukan itu dilarang.
"Ok.Semua yang kita butuhkan juga sudah Mami packing" menunjuk keranjang plastik berisi benda yang akan mereka mainkan.
"Kalau begitu, Josh mandi dulu" pamitnya dan kembali ingin berpelukan.
"Stopp!!" hardik seseorang bersuara tinggi.
Josh dan Melani mematung dengan tangan mereka merentang setengah untuk berpelukan.
"You get out" Wiliam narik Josh keluar kamarnya.
"Uhh..." jawab sewot Josh terdepak keluar kamar. Dan dia berjalan ke kamar dengan wajah sedih kesal,kaki menapak berat.
Dalam kamar utama, Wiliam mengambil kesempatan orang yang telah dia singkirkan.
Dengan bibir menyungging dan tangan terbentang lebar,dia minta Melani datang dalam pelukannya.
"Come here" ucap Wiliam mengedipkan mata.
"Koko cepat ganti baju.Kita sudah harus pergi sebelum kesorean" titah Melani jauh dari keinginan Wiliam.
Kecewa disertai malu, buat Wiliam langsung menyergap kucing liarnya.
"Kamu sudah berani menolak" memeluk Melani dari belakang.
"Koko apa-apaan sih!" geli pada hembusan angin mulut Wiliam kena daun telinga.
"Mau saya peluk atau kamu peluk?" tanyanya kasih 2 pilihan berujung sama.
"Aku aja deh" jawab Melani pilihan kedua,biar Wiliam yang setengah berubah tidak minta macam-macam.
Berputarlah Melani menghadap Wiliam. Kedua pasang mata mereka saling bersapa.
Cup....
Wiliam yang terhanyut berhasil mencuri ciuman bibir tipis candunya itu.
"Dah, sana ganti baju" ujar sewot Melani tetap masuk perangkap jebakan.
Hahaha...
Tawa Wiliam menggelegar isi kamar extra large, sambil melepaskan jas kantor.
__ADS_1
"Dosa apa ya aku, Tuhan?. Mengapa setiap keputusan yang ku ambil setelah balik masa lalu, selalu salah?" rutuk keluh Melani menengadah dagu ke atas.
Ctakk...Ctakk....
Dan cicak sebagai perantara manusia dengan sang pencipta,menjawab.
Hufff.....Menghela nafas berat beban hidup.
Sambil menunggu semuanya berkumpul, Melani mengeluarkan keranjang.
"Coba kalau ada kak Agung.Pasti aku hanya ngekor saja" keluhnya mengeluarkan yang lain.
"Perlu saya bantu, Nyonya?" tanya kepala ART yang melintas periksa pekerjaan ART lain.
"Tidak usah, Bu" Melani selalu sering segan mengatur pelayan rumah megah yang telah tertib dengan tugas mereka.
"Baiklah" kepala ART pun berjalan, periksa pekerjaan ART lain.
Melihat punggung kepala ART, pikiran Melani teringat kedua orang tuanya yang mulai menua, dan masih harus menghawatirkan dirinya.
"Kamu lihat apa?" tanya suara sampingnya, ikut memperhatikan apa yang buat Melani termenung.
"Tidak ada" dalih Melani merangkul lengan tanpa diminta.
"Benar?" mengelus tangan yang merangkulnya.
"Benar" meyakinkan dengan nada penekanan. "Kita tinggal tunggu Josh" tambahnya.
"Belum keluar lagi?" merangkul pinggang ramping.
"Belum" menghirup dalam aroma tubuh segar Wiliam sehabis mandi.
"Malam ini,kamu jangan mau diajak tidur bersamanya" bisik Wiliam, merebut duluan yang jadi haknya.
"Kenapa?" mendongakkan kepala bertatap.
"Saya mau kasih kamu sesuatu" mengelus lembut wajah cantik putih mulus.
"Jangan macam-macam.Aku sedang datang bulan" membuat suami mesum tidak berdaya.
"Apa tidak dapat di schedule ulang" mengusap kasar wajah.
"Koko, ada-ada saja" menertawakan pelan ucapan suami yang berada dipuncak terus dijatuhkan tanpa perasaan.
Wiliam kembali masuk kamar, menyembunyikan hadiahnya dalam paper bag toko.
"Gagal lihat dia pakai ini" gerutu Wiliam menyembunyikan paper bag di rak pakaian teratas.
"Let's go Dad" panggil Josh dengan suara gembira.
"Dia pasti senang" keluh Wiliam, lihat 2 bocah bergandeng tangan tinggalkan keranjang.
.
...Villa...
.
Josh mengambil kamar terbesar untuk dirinya dan Melani beristirahat setelah perjalanan bebatuan.
"Daddy tidur disana" tunjuk Josh mengatur dimana setiap orang tidur dengan nyaman.
Nyaman baginya belum tentu nyaman untuk yang lain.
Melani pun mengeluarkan bahan makanan BBQ mereka dari kontak pendingin. Sedangkan Wiliam berusaha membakar arang untuk membakar matang makanan mereka.
"Sini Josh bantu" mengambil lidi sate untuk nusuk potongan dadu paprika,bawang merah, wortel, dan tempe bacem.
Satu persatu potongan sayuran ditusuk acak sesenang hatinya,sampai semua bahan habis tertusuk.
"Ya ampun Josh,mana karya seni kamu" ujar Wiliam tercengang lihat hasil perkerjaannya.
"Ini" pede dengan hasil kerja.
Huufff....
Mengusap kasar wajah dengan dua tangan.
Buahh.... Hahaha.....
Melani tertawa terpingkal-pingkal lihat Wiliam, dan disusul Josh setelah lihat tunjukkan tangan ibu cantik.
.
Ayo tebak....Apa yang buat 2 bocah beda umur tertawa terpingkal-pingkal?.
.
...****************...
.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya dalam bentuk apa pun.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.