
Bab 99
.
Di area permainan, anak big bos sedang seru-serunya bermain balapan mobil virtual sampai lupa sudah menghabiskan koin dalam jumlah banyak.
"Pak, tambah koinnya lagi" titah bocah fokus lomba balapan.
"Baik" jawab bodyguard pergi isi ulang kartu permainan.
Sudah tembus satu juta rupiah budget dalam 2 jam lebih permainan. (Tidak masalah bagi anak sultan,itu masih termasuk seujung kuku 😌).
Tiket yang dimenangkan juga sudah sangat panjang, karena berhasil mengalahkan banyak pemain dari amatiran sampai mahir di real.
Baru hendak lanjut ke game perang, dirinya sudah diajak pulang sang Daddy.
"Dad,one more please" mengatupkan tangan ingin lanjut main sebentar.
"No. Let's go home, now" tegas Wiliam.
"Mami...." rengeknya memohon pembelaan.
"Nanti kita main nitendo saja di rumah" bisik Melani jangan sampai ketahuan big bos.
"Ok. Tapi kalau ketahuan gimana,Mi?" setuju.
"Kita kunci pintu dari dalam saja, jadi bakal nggak ketahuan" mengedipkan mata.
"Sedang apa kalian?" menatap sinis curiga lihat gelagat dua orang di belakang.
"Dad,Josh mau beli hamburger, boleh ya?" pinta manja, tutupi rahasia.
"Mmm" jawab ngangguk.
Secepatnya tangan Josh menarik bawa lari ibu barunya.
"Dasar bocah" celetuk Wiliam, dengan senyum sungging pada dua orang yang kabur darinya.
Josh memesan 3 buah hamburger ukuran jumbo dan satu minuman softdrink sebelum ketahuan Daddy-nya.
"Mami jangan bilang ke Daddy, kalau Josh minum sprite ya?" memohon tutupi rahasia minuman terlarang baginya.
"Kenapa?" penasaran, tidak mau ambil resiko berbahaya.
Josh langsung menyeruput softdrink tersebut sampai habis,biar tidak tinggal jejak.
Yang namanya anak-anak, pasti rasa ingin tau dan merasakan seperti anak seusianya tergolong normal. Baik dari kasih sayang lengkap, sampai buntut jajanan pasar murah meriah.
Namun beberapa jajanan memang tidak diizinkan Wiliam untuk dimakan putranya itu.
"Kalian sudah siap?" tanya Wiliam hampiri dua orang berdiri celingukan kaku.
"Se-sebentar lagi Dad" jawab kaku Josh dengan senyum tegang.
"Kita tunggu di mobil saja. Biar bodyguard yang ambil" ucap Wiliam menggandeng tangan anaknya.
Gandengan beruntun itu menuju mobil. Belum sampai, Melani dipanggil seseorang dari jarak jauh.
"Siapa mereka?" tanya sinis Wiliam.
__ADS_1
"Teman-teman sekolah" canggung ketahuan jalan sama duda beranak.
"Oh" datar.
"Mami...." panggil bocah dengan suara lemas dan pucat.
"Ya" menoleh dan kaget.
"Josh" panggil Wiliam, langsung gendong ke mobil.
Melani juga mengacuhkan sekelompok pemuda seusianya yang tadi sempat manggil, memilih ikut big bos yang tergesa-gesa.
"Cepat kita ke rumah sakit" titah cemas Wiliam pada supir.
Melani tertegun diam. Bocah yang tadi sempat membahas rahasia kecil mereka dengan serius, sekarang terkujur lemas pucat tak berdaya dalam pangkuan sang Daddy.
"Josh, kamu tadi makan atau minum apa,hm?" tanya panik Wiliam menginterogasi.
"Nggak ada" jawab lemas, sambil genggam tangan ibu baru agar jangan bongkar rahasia.
Uwekk.....
Josh mengeluarkan muntahan softdrink soda yang tadi diminumnya. Perutnya yang sensitif terhadap makanan dan minuman terlarang pun ketahuan.
"Kamu minum soda!!" bentak marah Wiliam.
Kapan putranya itu mencuri minum softdrink tanpa ada yang awasi?.
Mata elang Wiliam menoleh kesamping, lihat ada persekongkolan antara mereka yang sedari tadi sudah dicurigai ada yang tidak beres.
"Dad, jangan marahi Mami. Ini salah Josh. Mami juga nggak tau" memohon dengan wajah kasihan.
"Tutup mulut kamu" ketus Wiliam, menatap penuh amarah keduanya.
Di luar ruang tindakan, Melani berdiri melihat dokter dari balik kaca pintu.
Dokter memasukkan selang berdiameter lebih kurang 12 mm, dan mulai sedot keluar semua isian perut.
"Sini kamu!" bentak Wiliam dengan suara keras.
Melani menoleh kesamping, dilihat wajah singa marah yang siap membunuh mangsanya dengan sekali terkaman.
"I-iya" berdiri gemetaran.
"Kamu pasti tau kalau Josh minum soda kan!. Kenapa tidak kamu larang" hardik Wiliam mengintimidasi dan diangguk istrinya berdiri gemetaran.
"Aku tidak tau kalau dia..." jawab gemetaran.
"Tau atau tidak, apa kamu akan izinkan anakmu minum begituan ,hahh...!! Kamu telah lalai jadi seorang ibu" sambung Wiliam, memutuskan pembelaan diri istrinya. Tidak mau tau dengan penjelasan yang terlihat ada bukti nyata.
Sering kali kita ingin memberikan penjelasan yang benar, namun kadang pembelaan kita sering diacuhkan, atau lebih parah menuding kembali lebih berat karena pembelaan kita.
"Mulai sekarang, kamu tidak saya izinkan dekat dengan Josh. Dan jangan coba-coba untuk menarik perhatian dia" bentak Wiliam memutuskan sepihak, dan ngusir dia pulang pakai taxi.
Sakit rasanya hati ini dapat tuduhan itu. Padahal bukan dia yang lakukan dan sengaja membiarkan hal tersebut terjadi.
Dengan rasa sakit hati, Melani pun keluar dari rumah sakit, menaiki taxi yang baru menghentikan penumpang.
Malam itu Wiliam menunggu sampai kondisi Josh lebih stabil dan diizinkan rawat jalan.
__ADS_1
Di tempat lain, Melani bingung harus pulang kemana setelah berkeliling 1 jam di jalan,dan agrometer taxi terus bergerak.
"Kita mau kemana ini,Non?" tanya supir setelah berkeliling kota.
"Entahlah, Pak" pikiran buntu, tidak tau harus pergi kemana. Karena semenjak dari berita dirinya lolos dari maut pesawat lalu, dirinya tidak ada tempat bersembunyi atau menenangkan hati gundah.
"Apa ada tempat saudara atau teman yang ingin anda kujungi?" tanya supir, menyarankan.
Melani menggeleng,lalu mutuskan ke penginapan saja.
"Baik,Non" membawa kearah penginapan terdekat dari tempat mereka.
"Ini ongkosnya,Pak" membayar biaya agro.
Hati terasa kosong, dengan perih yang sulit diungkapkan melalui ucapan.
Langkah berat kakinya memijak masuk ke penginapan kecil.
"Ini kunci kamar anda" resepsionis penginapan menyerahkan kunci kamar setelah mendaftar.
"Ya, terima kasih" mengambil kunci dan jalan menelusuri lorong penginapan.
Ponselnya yang dalam keadaan mode pesawat kesusahan dilacak oleh Ronald, yang ditanya Wiliam berada dimana istrinya itu.
"Mel,kamu dimana?. Jangan buat saya cemas begini" Ronald melacak signal terakhir Melani berada.
10 menit hasil pelacakan tidak menemukan titik baru selain letak mall. Ronald pun segera ke mall tersebut untuk mencari mantan gadis impian, pikirannya cemas telah menimpa mantannya itu tidak dapat ia kendalikan, karena ponsel tidak dalam mode aktif.
"Mel, jika ada orang yang berani mengganggu kamu,maka akan saya habisi" mengencangkan cengkraman pada stir kemudi.
Saat tiba di depan pintu mall, keadaan di dalamnya mulai sepi pengunjung. Dan banyak toko sudah tutup.
Ronald meminta bantuan security mall, untuk mencari orang yang ditunjukkan wajah.
Semua berpencar dan mencari dalam setiap toko dan are yang masih buka.
"Mel, kamu dimana?" sambil cari di setiap sudut mall, Ronald berusaha menelpon terus.
Di tempat lain, Wiliam mendapat kabar hilangnya istri. Antara si buah malakama, maju salah, mundur pun salah.
"Kamu sengaja menguji kesabaran saya" Wiliam mengeram marah, berusaha menelpon ponsel non aktif istri.
"Ko, Nona Melani sudah bisa dihubungi belum?" tanya cemas Ronald.
"Belum. Kamu ke rumah sakit saja sekarang" titah Wiliam.
"Siapa yang sakit?" kaget Ronald.
"Josh. Sekarang kamu ke rumah sakit, biar saya yang pergi cari wanita itu" tegas Wiliam.
Dalam 5 menit, Ronald dan Wiliam berganti tugas.
Langkah kaki lebar Wiliam pun segera keluar dari rumah sakit. Tak lupa juga ia mengerahkan bodyguard yang siap dipanggil kapan saja.
.
...****************...
.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.