
Bab 57
.
Gigi putih rata itu bergertakkan,tatapan tajam setajam silet memandang wajah istri kecil tertindih dengan penuh amarah.
"Jangan nekat, atau...." ancaman Melani terputus oleh Wiliam yang bungkam mulutnya dengan tangan.
Mmm....Mmm..... Tidak ingin disetubuhi, Melani melakukan perlawanan.
"Malam ini akan saya kasih kamu hukuman,biar kamu ingat dan tidak mengulangi" ucap Wiliam bersuara penuh intimidasi.
Melani menggeleng kepala ke kiri ke kanan,sebisa mungkin selamatkan harta martabat paling berharga di dunia.
Wiliam berdiri kasar, lalu menarik Melani berdiri keluar dari ruang kerja menuju kamar tidurnya.
"Tolong...!!" teriak kencang Melani menggelegar seisi rumah itu,tangan mengulur pada ART gemuk yang berdiri di bawah anak tangga.
Siapa yang berani mendekat memberi pertolongan, wajah amarah Wiliam saja sudah bisa di lihat jelas, bahwa tidak ada yang boleh sama sekali ikut campur.
Bammm.....
Pintu kamar utama dibanting keras oleh Wiliam, kemudian mengunci dengan kata sandi.
Langkah Melani tidak dapat menemukan celah untuk meloloskan diri dari sergapan Wiliam.
"Aku mohon,jangan lakukan" berjalan mundur dan menyilang tangan tanda penolakan.
Wiliam tidak menggubris,dan berjalan biarkan Melani mundur sampai kepentok sudut ujung kamarnya yang lain.
Posisi yang tidak sangat menguntungkan bagi Melani ,buat istri kecil itu menanggis histeris.
"Maaf.Aku, mohon" ucap Melani sesenggukan ,tangan mengatup minta maaf.
"Maaf kata -mu!!. Kamu tau kata sakit kan?" mengunci pergerakan Melani dengan kedua tangan nempel dinding.
Melani ngangguk ngerti.Tapi dia juga melakukan hal tersebut sebagai bentuk pertahanan diri.
"Sekarang jalani hukuman,dari pada berteriak" menempel dekat tubuh mereka.
Melani menggeleng kepala menolak, tangannya mendorong tubuh kekar sekuat tenaga. Air mata hangat mengalir deras membasahi wajah cantiknya.
"Harus!!.Kamu harus mijit tubuh saya sepanjang malam" bentak Wiliam menarik Melani ke tempat tidur.
Kemudian dia menghempas pelan tubuh kecil itu ke tempat tidur king size empuk,dan buat Melani semakin ketakutan berlanjut.
Dengan bibir tersungging, Wiliam melepaskan kaos putih pas badan,dan mendekati Melani dengan tatapan predator.
Tubuh kekar banyak kotak itu semakin menakuti Melani, entah cocok dibilang gadis polos atau wanita lugu itu mundur sampai sudut tempat tidur.
Kakinya di tarik Wiliam merosot mendekati predator yang siap memangsa buruan.
"Jika kamu menurut, saya akan segera lepaskan" tubuhnya di atas dengan jarak 20 cm hampir lengket.
__ADS_1
Melani terus menggeleng kepala, menolak permintaan Wiliam.
Sedangkan tubuh Wiliam sudah tengkurap di samping, siap untuk di pijat oleh istri kecil.
"Ayo !. Cepat pijit!. Sebelum saya berubah pikiran!" ujar Wiliam,suara tinggi.
Tangan-tangan mulus itu coba bergerak dan mulai menyentuh kulit itu.
"Kalau pijit itu yang benar bisa enggak!. Saya tidak suruh kamu sentuh" bentak Wiliam kesal.
Melani ngangguk,air matanya tanpa disadari menetes di atas punggung kekar. Spontan pula Wiliam memutarkan tubuh.
Kini mereka berhadapan.Yang satu masih takut dengan pikiran negatif, yang satu lagi kelihatan marah menunggu hukuman mulai dilaksanakan.
"Pikiran kamu ini kotor. Cepat pijit kalau mau keluar" Wiliam menyentil kening Melani.
"Aww,...Sakit" sesenggukan, sambil ngelap air mata dan ingus.
"Sana cuci muka dan tangan kamu. Saya tidak ingin ingus kamu jadi minyak gosok" perintah Wiliam, berbalik badan tengkurap lagi.
Melani pun segera turun dari tempat tidur, dan cari kamar mandi.
Tanpa diberitahu letak kamar mandi,tentu akan menyulitkan Melani cari keberadaan kamar mandi itu.
Dalam kamar hanya tampak rak buku, tempat tidur dan lemari pakaian yang besar saja.
"Mmm.... Dimana kamar mandinya?" canggung Melani bertanya sesenggukan.
"Apa orang tua kamu tidak pusing ngurusin kamu?" ucap pelan Wiliam beranjak bangun, menunjukkan letak kamar mandi.
Di buka pinggiran pintu lemari pakaian big jomblo,di dalamnya terdapat cermin raksasa dengan empat arah, dan salah satu cermin itu terhubung dengan kamar mandi mewah seukuran panjang lemari pakaian.
"Tau letak pintu keluar kan?" tanya sinis Wiliam, setelah kasih tau.
Melani ngangguk dan segera menutup pintu kamar mandi itu. Lalu mencuci muka dan jernihkan pikiran kotor sesaat tadi.
"Sudah bagus aku tidak tendang dua kali,kalau tidak hancur masa depanmu.Siapa suruh tadi nakutin" gerutu Melani berkaca,memaki Wiliam.
Tokk....Tokkk...
"Cepatan" panggil Wiliam dengan suara berat.
"Iya" jawabnya.
Melani segera membasuh wajah dan tidak lupa buang air kecil yang sedari tadi tertahan.
Cekrekkk....
"Lama banget!. Tidur !" ujar galak Wiliam masuk kedalam kamar mandi.
"Sebaiknya aku coba buka pintu kamar. Mana tau pake kunci otomatis" berlari kecil keluar dari lemari pakaian rahasia.
Melani menekan tombol pintu dan mengogel serta menarik kuat pintu itu,kayak maling amatiran.
__ADS_1
Beberapa kali dia berusaha, namun tetap gagal. Bagaimana tidak gagal kode sandi yang dipakai Wiliam merupakan sidik jari salah satu jarinya.
"Mau kabur,hum?" tanya Wiliam memeluk Melani dari belakang.
"Ti-tidak" kaget ketahuan,mata melebar.
"Iya kah?" mengandeng tangan menuju tempat tidur.
"I-iya" Melani berjalan menyeret.
"Jika kamu melawan,maka hukuman mungkin yang seperti kamu bayangkan tadi" ancam dengan pikiran ketakutan Melani.
Kakinya pun naik tempat tidur tanpa paksaan, melainkan ancaman serius.Tangannya pun mulai memijat pundak keras dan kekar itu secara perlahan.
"Kamu niat mijat atau menggoda,hum?" tanya Wiliam merasa sensasi tergoda.
"Mijatlah!" ketus Melani menekan lebih kuat.
"*Ngapain pula goda kamu yang galak" gumam Melani pelan, namun terdengar jelas Wiliam.
"Oh, ternyata yang saya nikahi induk singa betina" batin Wiliam dengan bibir menyeringai*.
"Lebih kuat. Agak turun" perintah Wiliam mengarahkan arah pijitan.
"Emangnya aku tukang pijat" oceh halus Melani, bibir di moncong-moncongkan ngejek Wiliam.
Wiliam sungguh tertantang dengan sikap istri kecil hanya akan menurut jika ketakutan,bukan karena butuh bantuan.
"Sehabis pijat kembali ke ruang kerja,dan urus perusahaan di Indonesia milik kamu yang dulu. Serahkan hasilnya besok pagi" titah baru Wiliam.
"Sekarang saja saya kerjakan" berhenti mijat kulit tebal badak Wiliam.Siapa suruh semua ototnya keras dan harus dipijat pakai tenaga banyak.
"Selesaikan dulu hukuman yang ini" berbalik menghadap,lalu angkat kaki letakkan di atas paha Melani untuk dipijat.
Tidak bisa bagi Melani berkutik bibir merat merot ngejek,saat wajah mereka bertemu pandang.
"Ayo pijat!" menggoyang kaki.
"I-iya" kaku Melani menjawab. Lihat perut kotak dada juga bagus,perfek jadi incaran wanita.
"Kalau mau lihat,lihat saja" ucap Wiliam pedenya.
Melani membuang muka dikatakan begitu, seakan posisi dia tergoda sama bentuk bagus pemilik tubuh.
.
...****************...
.
Terima kasih atas dukungannya.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.
__ADS_1