Change Destiny

Change Destiny
Bab 68 Bubur dan sup


__ADS_3

Bab 68


.


Mobil mewah tiba disebuah pekarangan rumah asri , penuh tanaman botanical. Aku yang menggeram jengkel di tarik keluar dari dalam mobil.


"Lepas!!.Aku tidak mau turun!" aku memukul tangan Wiliam yang begitu erat menarik.


"Baik.Karena kamu tidak mau turun,kita kembali ke rumah besar" berkacak pinggang menunggu kakiku turun sendiri.


"Nggak!!. Pokoknya aku hanya mau pulang ke rumah Papa" ketusku jawab,membuang tatapan.


"Eh-eh-eh.... Lepas!!" aku digendong ala bridal style keluar dari mobilnya.


Wajah dingin Wiliam mengacuhkan kata-kata yang keluar dari mulutku. Langkahnya terus maju masuk rumah di depan.


"Kamu jangan banyak bergerak, atau kita berdua akan jatuh" ucapnya mulai terhuyung hilang kestabilan.


"Cepat turunkan" pintaku merasa keseimbangan goyah.


"Buka pintu" titahnya.


"Nggak!!" sahutku.


Entah sengaja atau tidak,dia melonggarkan tampungan, membuat aku seakan-akan hampir jatuh.


Wajahnya memang terlihat memucat, lebih pucat dari sebelumnya, keningnya juga berkeringat jagung.


"Turunkan saja aku. Aku masih punya kaki untuk jalan" ucapku memilih jalan terbaik dari pada dibanting.


"Asal kamu janji tidak kabur"


Aku ngangguk,dan ia pun memposisikan tubuhnya menurunkan aku dari gendongan secara perlahan.


"Buka pintunya" ucapnya dengan suara melemah dan tubuh terhuyung.


"Iya" ketus jawab, sambil ogel handle pintu.


Baru beberapa langkah menapaki kaki kami ke dalam rumah tersebut, tubuh kekar itu ambruk dalam pelukanku yang berhadapan.


"Hei, bangun. Kagak lucu ,tau!!" menahan tubuh kekarnya,dan coba melambai panggil supir yang akan melanjutkan mobil.


"Tolong!! " teriakku .


"Jangan teriak. Papah saya ke sofa" titahnya suara lemah.


Aku bukan orang tidak berhati nurani dan terampau keji. Meski kembali dalam plin-plan berbelit, aku juga harus mengutamakan perikemanusiaan, sesuai Pancasila.


Ku papah tubuh kekar itu untuk duduk di sofa panjang, terus aku cari letak air minum di rumah di ini tersimpan.


Bukannya dapat air minum suhu ruangan,aku malah dapat air minum bertemperatur dingin dari lemari es. Ya sudahlah,dari pada enggak minum sama sekali itu orang aku ambil saja.


"Nih minum" menyodorkan segelas air es.

__ADS_1


Tanpa protes,dia meminum perlahan air yang aku kasih. Lalu memegang tanganku entah untuk tujuan apa.


"Tuan,hei Tuan... Lepaskan,aku mau ke toilet" menarik naik tiap jari jemarinya yang pegang erat.


"Mmm...." dehemnya terbangun,dan mengantar ke tempat yang aku butuhkan.


Sangat risih banget jika terus diikuti, rasanya sangat buruk tidak nyaman.


Sehabis buang air kecil,aku keluar dan lihat dirinya yang berdiri sandaran disamping pintu kamar mandi kayak penjaga pintu.


"Bisa nggak kalau anda tidak usah posesif lebih" ucap dinginku.


"Kamu tidak berhak ajukan keinginan" kembali menarik tanganku, kali entah di bawa kemana.


Rumah petak ukuran sedang tanpa lantai atas, tanpa banyak furniture pula, dapat aku pandang bebas.


Cukup simpel dan cocok untuk keluarga kecil,tapi bukan berarti harus berkeluarga dengannya.


"Ini..." tanyaku pegang pintu, tidak ingin masuk ke dalam kamar.


Jika hanya ada dua orang di dalam suatu ruangan,maka yang ketiga adalah setan. Meski aku dan dia telah beberapa kali hanya berdua dalam satu ruangan,dan kami tidak berbuat aneh, aku tetap ingin menjaga kehormatan sampai akhir hayat.


"Kenapa lagi,hum?.Kamu pikir saya mau macam-macami kamu" ujarnya memijit kening yang bercucuran keringat jagung.


"Jangan harap. Lagian kita bukan sepasang sejoli" aku juga tidak ingin kalah gengsi menjawab.


"Bagus.Kalau begitu kenapa tidak masuk"


"Masuk ya masuk" ucapku,tapi kaki tidak bergeming jalan.


Sangat amat kesal sampai ke ubun-ubun dengan sikap otoriter Wiliam. Jika saja bukan kekuasaan pengaruhnya sampai dalam dunia bisnis internasional,aku sudah pasti melawan sekuatnya.


Aku pun masuk dan memilih duduk di kursi disamping jendela kamar, dan membiarkan orang itu tidur tanpa perlu banyak ngatur.


Hembusan angin semilir sepoi-sepoi dari jendela meniup wajah kesalku. Tercium aroma yang menenangkan pikiranku sejenak. Aroma yang slow lembut itu pun seakan menghipnotis diriku untuk tertidur.


.


Aku kembali terbangun dari mimpi, posisi awal yang duduk menghadap jendela berubah jadi rebahan disamping Wiliam. Ku lihat harinya pun mulai sore, ya tentu sudah jam 3 sore,kami melewatkan jam makan siang.


"Sudah bangun?. Cepat sana mandi" ucapnya memunggungi aku.


"Anda yang bawa saya ke sini?" tanyaku, tidak mungkin kedua kali aku berjalan sambil tidur.


"Mmm..." dehemnya.


Nah kan benar . Tidak mungkin aku bisa berjalan saat tidur, tapi untuk apa dia membagi tempat tidur yang aku sendiri tidak ingin berbagi?.


"Setelah mandi,saya akan bawa kamu makan" ucapnya.


Kakiku menuruni tempat tidur ,lalu masuk kamar mandi sederhana tanpa bathub. Hanya ada shower dan toilet duduk.


Kebiasaan yang baik telah aku latih sejak kecil ternyata berguna, yaitu mengambil pakaian bersih ganti saat mandi. Jadi tidak perlu keluar pakai handuk hanya untuk mengganti pakaian, seperti kebanyakan orang.

__ADS_1


"Aku sudah selesai" keluar dari kamar mandi,sambil keringkan rambut.


"Tolong ambilkan sweater di sana" tunjuknya pada lemari pakaian ukuran standar.


Aku membuka pintu lemari pakaiannya,di sana telah lengkap pakaiannya dengan pakaian 1 warna, serba putih.


"Nih" ku serahkan sweater permintaan tanpa memilih.


Dia berusaha turun dari tempat tidur, yang biasa mudah untuk dilakukan.Tapi mengapa terlihat sukar saat seseorang sedang sakit.


"Sini ku bantu" ketusku, hati kecil ini tidak bisa tegaan lihat orang sakit.


Ku papah tubuh kekar itu menuruni tempat tidur, kulit kami bersentuhan dan aku dapat merasakan demam tinggi terjadi.


"Tuan,anda demam tinggi"


"Mmm....Ayo keluar cari makan dulu"


Tidak mungkin kami keluar makan dengan keadaan demam yang kian tinggi ,dan wajah pucat. Aku pun memutuskan untuk cari stok bahan makanan di dalam lemari pendingin.


"Anda tidur saja" ku rebahkan kembali tubuh panas itu.


"Mel,jangan kabur" menahan tanganku.


"Takut ya.Hahaha..." sindirku dengan tawa bahagia ngerjain orang sakit.


"Mel, percuma kalau kabur"


"Iya.Sudah tau.Tempat ini sudah dikepung" sewot Melani keluar kamar.


.


Aku membuka lemari pendingin,dan terlihat beberapa sayuran segar, yang sepertinya tadi tidak ada.


Tanpa berpikir banyak asal sayur mayur itu nonggol, aku langsung mengupas wortel kentang untuk aku jadikan sup.


Segenggam beras merah ku ambil dari tempat penyimpanan beras. Lalu ku cuci dan ku masak jadi bubur saja, dengan takaran air dua kali lebih banyak dari pada memasak beras biasa.


Sambil mengaduk bubur, aku mencuci kentang dan wortel habis ku potong dadu,bersama daun seledri yang masih utuh.


Terus ku masak semua bahan yang sudah aku bereskan dalam rice cooker, biar lebih gampang tanpa takut gosong.


Dua puluh lima menit berlalu, bubur dan sup buatan ku sudah selesai. Khusus untuk Wiliam,supnya aku biarkan hambar tanpa bumbu penyedap.


"Biar saja dia makan yang hambar, percuma dikasih rasa bakal hambar juga" omel Melani membagi sup dalam dua porsi rasa berbeda.


.


...****************...


.


Terima kasih atas dukungannya.

__ADS_1


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.


__ADS_2