
Bab 90
.
Tubuh basah Wiliam mengigil kedinginan, begitu tertiup kipasan AC kamar tamu. Begitu juga Melani, yang setengah basah.
"Kamu cepat ganti baju sebelum masuk angin" ucap Wiliam.
Melani ngangguk nurut untuk ganti baju kering. Lalu memberikan handuk kering pada suaminya yang berdiri kedinginan memunggunginya.
"Ini handuknya,Tuan" ucap Melani, serahkan handuk kering.
"Sekalian pinjam toilet,ya" tunjuk Wiliam.
"Oh,baik" mempersilahkan.
Melani masih takut mati lampu, jadi ia keluar untuk mencari lilin sambil menghidupkan lampu senter ponsel.
"Dimana mereka taruh lilin" mencari di laci meja furniture.
Tangan membongkar isi laci meja, mencari benda berharga disaat genting.
Aww.... Teriaknya kegores sesuatu benda tajam. Kulit tangan yang kegores itu pun berdarah.
"Bukan dapat lilin,tapi dapat luka" keluh Melani melihat goresan luka.
Cukup meninggalkan bekas setelah sembuh goresan tadi. Biar tidak terjadi infeksi, Melani mencari kotak P3K di dapur.
Lampu kembali padam tanpa dia tau penyebab. Seseorang dari kamar tamu pun segera keluar mencari keberadaan Melani yang tidak ada di dalam kamar.
Terlihat ada cahaya redup di dapur, kemungkinan orang yang di cari ada di area tersebut.
"Kamu ini" berdiri berkacak pinggang, dan geleng-geleng kepala ngurus bocah tua.
"Kok lampu belum hidup?" duduk memeluk lutut,di terangi cahaya ponsel.
"Kamu masuk kamar dulu. Akan saya lihat kenapa belum hidup" jawab Wiliam yang hanya melilit handuk di pinggang.
"Tuan..." panggil canggung Melani, malu lihat suami yang hanya bermodal handuk.
"Emmm.Apa" berhenti jalan,balik.
Melani menunjuk tubuh Wiliam yang hanya terbungkus handuk pendek.
Hufff...
Wiliam menghembuskan nafas kasar. Ini terjadi juga karena istrinya yang tidak membawakan baju ganti.
"Kamu tunggu di sini, saya mau ganti baju dulu" ucapnya dingin.
"Ikut" pinta halus malu.
"Ya sudah, cepat"
Melani ikuti Wiliam menaiki anak tangga menuju kamar utama, ternyata kamar utama memakai lampu otomatis hidup ketika mati lampu, karena pekerjaan kantor kadang di bawa sampai kamar.
Dengan penerangan yang cukup, Wiliam dapat melihat jelas wajah takut istrinya yang duduk di sofa single.
__ADS_1
Luka goresan serta darah yang masih basah juga terlihat oleh Wiliam.
"Tangan kamu kenapa,hum?" tanya cemas Wiliam, melupakan niat untuk berpakaian setelah lihat luka.
"Tangan ku kegores, saat cari lilin" sahutnya yang malu dengan Wiliam berlilit handuk doank.
"Kamu ini, kalau tidak cari perhatian saya, seperti kurang afdol,hum" menarik Melani masuk lemari rahasia untuk membersihkan luka.
Tapi niat baik dadakan di tolak Melani mentah-mentah.
"Kamu kenapa lagi?"
"Kenapa, anda bawa aku ke kamar mandi?" tanya kaku Melani.
"Oh... Sekarang curiga. Atau memang kamu berharap lebih" mendekatkan wajahnya, dengan tatapan buaya darat.
"A-aku" gagap,tunjuk hidung sendiri.
"Iya,kamu" menunjuk hidung mungil istri.
Sudah sering Wiliam menahan hasrat, tapi kali ini juga ia masih tetap bisa menahan walau setengah puyeng.
Melani terus menahan Wiliam agar tidak bertindak lebih padanya. Namun, langkah kakinya tersandung dan buat dia hampir terpelanting ke belakang.
"Kamu kalau jalan lihat pakai mata" menangkap gesit tangan istrinya.
Melani yang hampir terpelanting sekarang jatuh dalam pelukan tubuh kekar harum slow. Tangannya mencengkram kuat pundak suami.
Wiliam yang dicengkeram dengan posisi itu tampak semeringah. "Ternyata istri saya lagi coba menggoda" godanya memainkan mata.
Tentu Melani semakin malu diantara kekesalan.
"Kalau bisa ganset rusak sekalian" ucap batin Wiliam berpikiran kotor, sambil menuntun tubuh mereka yang berpelukan ke atas tempat tidur, tanpa ada perlawanan.
Saat lampu hidup menderang, Melani mendorong tubuh kekar yang menindih di atasnya.
"Anda jangan lewat batas perjanjian" ujar Melani kembali ke sifat asli.
"Baik.Tapi saya harus dapat ganti ruginya" mengusap bibir lawan yang selalu pedas tapi selalu buat cemas, pakai jempol.
Melani mengigit lengan yang ingin berbuat senonoh.
"Sekarang sudah main gigit juga,hum!. Berarti harus bayar denda pinalti" bisiknya dengan suara berat.
Tangan Wiliam yang satu menahan kedua tangan istrinya yang tertahan di atas kepala.
Sedangkan satunya lagi mulai nakal,jarinya mengelus wajah cantik yang tidak tersentuh dengan kelembutan darinya hampir 6 bulan.
"Kamu istri saya. Jadi tidak apa jika saya meminta sesuatu" bisikan dengan nada vulgar.
"Ja-ngan" jawab terputus, akibat jemari tangan suami mengelus bagian leher depan.
"Jangan apa?" goda Wiliam menghirup aroma rambut istri.
Kaki yang terjepit oleh kaki suaminya, juga telah dikuasi sepenuhnya sama sang suami.
Mungkin hal yang selama ini mereka batasi,akan dilewati dengan keinginan sepihak.
__ADS_1
Wiliam mencium setiap inci wajah cantik istrinya, yang memerah bak tomat matang.
Tangan nakalnya juga mulai melepaskan satu persatu kancing piyama. Namun wajah tampan itu masih betah untuk memberi kesan menggoda pada wajah cantik yang menolak, tapi tubuh lain berkata lain.
Semakin penolakan terjadi, Wiliam semakin ingin menggoda, bahkan benda tumpul tertutup handuk juga ikut bergerak mengelitik paha rapat istrinya itu.
"Aku mohon jangan" pinta Melani mengeliat, tidak tahan tubuh digeli dari berbagai arah.
Melihat mata mulai berkaca-kaca, Wiliam segera mengakhiri aksi nakal. Padahal tinggal beberapa langkah sudah dapat melihat utuh, bentuk tubuh yang kadang menggoda dirinya.
"Ckck....Baru digoda begini, tubuh sudah terangsang. Untungnya saya,jika pria lain,kamu sudah habis disantap" ujar dingin Wiliam, melepaskan cengkraman dan beranjak bangkit.
"Hikss... Hikss... Anda jahat" balas Melani sesenggukan takut,tangan mengancing kembali piyama.
"Sana, tidur. Dasar bocah!" sindir Wiliam.
Tanpa perlu menunggu lama, Melani langsung kabur pakai langkah seribu.
Bahkan mereka telah lupa ada luka goresan di tangan. Karena Wiliam sibuk menina bobokan pisang mengkel di dalam handuk.
Beda dengan Melani yang kembali mandi, menyabuni wajah sampai kaki yang tersentuh suaminya.
Malam semakin larut, Melani pun tidur tak lupa mengunci rapat pintu kamarnya,dan selimutan tebal.
"Kenapa dia bisa buat benda ini bangun. Padahal di luar sana banyak yang terus-menerus menggoda, tapi tidak pernah tertarik atau pun bangun" membayangkan aksi yang hampir berhasil.
"Apa saya mulai jatuh cinta?. Tapi tidak mungkin. Seharusnya dia yang duluan, bukan saya" bolak-balik badan di tempat tidur.
Jika itu terjadi, Wiliam Lee akan segera mendapatkan julukan CEO bucin bersama jejeran pria bucin di seluruh dunia, dengan status yang beragam serta asal usul beda.
Coba saja ada nominasi pria bucin parah, mungkin lomba tersebut akan diikuti secara diam-diam, dengan nama samaran, identitas palsu tanpa diketahui publik dan pihak keluarga.
Esok pagi.....
Mereka dua duduk di meja makan berhadap-hadapan, dengan wajah tegang masing-masing.
"Kamu hari ini saya izinkan cuti. Tapi jangan lupa ke supermarket beli buah tangan" titah ketus, menyerahkan daftar belanja yang baru ditulis sehabis mandi.
Flash back🔙...
Waktu mandi, Wiliam memikirkan cara untuk menenangkan pikiran dari bayangan istri yang selalu terlintas saat bertatap muka nanti.
Dia tidak berharap wajah ketertarikan itu diketahui sang istri. Bisa jatuh harga dirinya,jika dianggap mulai suka.
Jadi dengan alibi masuk akal, Wiliam sehabis mandi menulis daftar souvernir untuk semua anggota keluarganya, tidak luput oleh-oleh untuk keluarga istrinya.
"Sekarang image saya tidak akan rusak" melipat daftar belanja, masukkan ke dalam saku jasnya.
Flash on....
.
...****************...
.
Terima kasih atas dukungannya.
__ADS_1
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.