Change Destiny

Change Destiny
Bab 17 Anak nyusahin


__ADS_3

Bab 17


.


Baru saja nenek muncul satu hari, tapi suasana rumah menjadi heboh.


Tawa cekikikan antara ibu tua dan nenek telah menghebohkan rumah yang tenang damai penuh keheningan.


Dalam kantor cabang mereka, abang adik puyeng dengar tawa yang masih terniang lekat pada gendang telinga.


"Ko, aku mending pindah rumah" Ronald bersandar malas lesu di sofa.


"Tidak bisa" tegas Wiliam meriksa laporan.


"Ayolah ko. Minggu depan kamu bisa kabur dari omah, jadi kasih aku hirup oksigen dulu, ya" rengek adik.


"Kamu butuh oksigen ya?" tanya Wiliam memandang dingin.


"Iya donk" Ronald curiga pada pandangan mata dingin.


"Akan ku pesan tabung oksigen beserta persediaannya" Wiliam menekan nomor telpon kantor.


"Wait, ko. Just kidding, bro" cegah Ronald, menekan tombol off.


Mati sudah kalau salah ngomong sama penguasa berdarah dingin. Tidak bisa membedakan waktunya bercanda dan serius bohongan.


"Lusa aku sudah balik ke kantor pusat" ucap serius Wiliam menandatangani laporan.


"Haaa....!!! Ko,bukannya minggu depan" jantung Ronald mendapat pukulan shock.


Ronald tidak menyangka bahwa abangnya telah maju dua langkah lebih cepat dari dugaan. Sebenarnya ia juga ingin balik ke kantor pusat, tapi karena ada seseorang yang buat dia makin lama makin penasaran lah, buat dirinya masih bertahan tinggal di tanah kelahiran.


.


Siang itu tanpa diketahui Ronald, Wiliam pergi menemui pengacara untuk melegalisasi surat perjanjian kerjasama hitam di atas putih itu.


Di kantor pengacara itu juga telah hadir Melani seorang diri, untuk menandatangani kertas kontrak hitam putih.


"Berarti dengan begini saya adalah pemegang saham terbesar.Dan saya ingin anda kelola bisnis ini mencapai target yang saya inginkan" tegas Wiliam memperjelas isi kontrak.


"Baik" lemas Melani.


Melani sudah tidak bisa bergulat lagi dengan takdir hidupnya, hanya pasrah ikutin alur.Siang itu juga resmi ia bekerjasama dengan perusahaan raksasa di bawah kepemimpinan Wiliam.


Mungkin takdir Melani kedepannya tidak akan secemerlang apa yang dulu ia rasakan. Tapi tidak akan dibiarkan begitu saja juga hancur dalam waktu seketika ,selama ia yang pimpin bisnis tersebut.


.


Dua hari kemudian ....


Mungkin bisa di bilang mukjizat karena patuh ikuti alur misi. Melani dapat kabar bahwa kerjasama sama perusahaan raksasa akan di wakili oleh adik pengusaha berdarah dingin.

__ADS_1


"Oh, ternyata karirku tidak akan hancur. Baguslah kalau yang tangani langsung kedepannya tuan Ronald." Melani menghembus nafas lega.


"Nona kenapa?" tanya sekretaris.


"Tidak apa" Melani senyum tipis menyambut hari lebih baik.


Karena tidak ada turun tangan langsung pengusaha berdarah dingin, Melani pun menunjukkan semangat empat lima mengelola suntikan dana besar.


"Bel, pasokan stok produk kita tidak boleh sampai kosong" titah Melani bersemangat empat lima.


"Baik, nona" sekretaris ikut terpacu semangatnya.


Suntikan dana investasi dari Wiliam dikelola Melani dengan mengembangkan beberapa jenis produk baru, dan membangun infrastruktur untuk mendukung bisnisnya itu.


Seminggu kemudian, Melani bertemu dengan perwakilan untuk melanjutkan tiap rencana bisnis kedepan. Maklum, karena jumlah investasi rekan bisnis lebih besar,itu berarti perusahaan Melani berada di bawah pengawasan perusahaan raksasa.


Antara kaget dan bahagia begitu tau kalau Melani orang yang sedang ditemui.


Ia tidak menyangka sejak kapan perusahaan raksasa Lee telah bekerja sama dengan perusahaan perintis seperti Melani.


Tapi itu semua tidak penting. Yang penting itu, Ronald akan bisa semakin dekat dan banyak tau tentang gadis incaran.Bahkan masalah dalam rumah sudah lenyap begitu lihat gadis muda itu kini duduk tepat berhadapan.


Pembicaraan di mulai oleh Melani yang menjelaskan semua struktur rencana pengembangan bisnis. Masa itu Ronald yang sebagai perwakilan juga tampak fokus menyimak setiap detail penjelasan.


"Berarti laba omset yang bisa diraup hanya sekitar tiga puluh persen dari target seharusnya?" tanya Ronald seprofesional mungkin.


"Iya pak. Tapi kedepannya, laba akan makin naik perlahan melebihi target" jelas Melani.


"Saya tidak ingin ada kesalahan fatal. Harap anda juga tau, jika perusahaan sebonafit kami tidak mau ada kegagalan" tegas Ronald membaca rincian.


Tapi dengan kejadian yang telah ia rasakan, Melani tau apa yang bisa mempercepat kemajuan perkembangan bisnis mereka.


Usai rapat privat, Ronald mengundang gadis incaran untuk makan malam dengannya.


Tanpa tolakkan serta wujud damai bekerja sama, Melani mengiyakan undangan itu.


Hati Ronald berbunga-bunga ajakannya tidak di tolak gadis secantik dan sesmart Melani Wijaya.


Malam hari, Ronald minta izin pada ibu tua dan nenek untuk tidak ikut makan malam bareng.


Dengan pakaian rapi santai dengan semprotan parfum maskulin , pria dewasa tampan itu bersiap menemui gadis cantik.


"Uncle, Josh ikut" rengek bocah kecil, tidak ada teman bermain saat malam.


"No Josh. Uncle pergi bahas bisnis, bukan have fun" jelas Ronald.


"Kalau uncle tidak ajak. Josh lapor ke dady" ancam Josh melipat tangan, karena tau niat paman tampan bukan untuk makan malam bisnis saja.


"Ini anak nyusahin. Mana main ancam, sudah kayak mafia" Ronald galau.


"Bolehkan, uncle" bocah kecil menaik turunkan alis.

__ADS_1


"Iya. Tapi jangan rewel kalau tidak ada yang menarik" kesal Ronald, tidak bisa cegah.


Dengan stelan baju santai, bocah itu ikut ke restoran. Sambil menunggu gadis tamu, Ronald terus menasehati bocah kecil agar tidak rewel dan nakal.


"Okey, uncle" bocah kecil ngacungin jempol, melanjutkan kotak katik gadget tablet edisi terbaru.


Beberapa detik kemudian, gadis yang di undang pun datang. Tapi tidak seorang diri pula,ia datang bersama sekretarisnya, karena mereka baru pulang dari meeting anggota staff perusahaan.


"Kok bawa sekretaris ?" gumam batin Ronald menyambut gadis itu.


"Sorry tuan,jika saya ajak sekretaris" jelas Melani menarik kursi tepat di samping bocah kecil yang nunduk kotak katik gadget.


"No problem" senyum terpaksa, tapi tidak apa untuk kali ini. Karena dia juga bawa pengacau kecil.


"Hallo" sapa Melani pada bocah di samping.


"Hallo" balas bocah tanpa noleh.


"Josh, nggak sopan gitu" ucapan pelan Ronald.


Bocah mengangkat kepala dan kembali menyapa dua wanita yang datang "Hallo aunty"


Senyum manis dari wajah tampan bocah itu melelehkan hati Melani. Rasanya pingin cubit gemas, tapi tau siapa bocah yang tidak boleh di sentuhnya itu.


Makan malam pun di mulai begitu menu datang. Melihat putra dari seorang konglomerat bisa beretikat saat jamuan makan malam tanpa bantuan siapa pun, buat Melani makin terkesima.


"Mau aunty bantu?"


"No, thank's aunty" menyelipkan serbet di leher baju.


Ronald yang duduk mengunyah, memandang wajah cantik seorang Melani itu diketahui sekretaris yang memperhatikan diam-diam di sela makan mereka.


"Josh suka main game apa?" tanya Melani.


"Suka game asah otak, dan bubble shoot"


"Kalau sudoku?"


"Suka, tapi tidak terlalu menarik" menatap


"Kalau aunty?" balik nanya.


"Susun balok sama sudoku"


Percakapan mereka makin banyak. Yang kasihannya si Ronald. Ingin ngobrol lebih dekat terhalang bocah dan sekretaris.


.


...****************...


.

__ADS_1


Terimakasih atas dukungannya.


Sehat sejahtera untuk kita selalu 🙏


__ADS_2