Change Destiny

Change Destiny
114


__ADS_3

Bab 114


.


Dengan tatapan dingin, Wiliam melepaskan celana panjang katun milik istrinya,lalu menyusul buka kancing baju tak seberapa jumlah pada pakaian yang dikenakan.


Tampaklah kulit putih mulus yang masih tertutup 2 pakaian minim bahan berwarna cream.


Glekk..


Salivanya tertahan berat untuk masuk kerongkongan. Dua gundukan bakpao yang indah, dan ingatan akan hutan subtropis di bawah yang di tumbuhi rumput-rumput halus.


Hanya terdengar isak tangis mulut Melani yang di sumpel dengan sapu tangan.


Matanya yang memang sudah beberapa kali telah melihat tubuh kekar Wiliam,kini di suguhkan dengan pemandangan sore menuju malam yang lebih frontal.


Wiliam melucuti semua pakaiannya dan menyisahkan celana segitiga pengaman.


Tak segan dirinya untuk bertatap pandang, kemudian menguyur tubuh mereka di bawah pancuran air shower.


Wiliam meraih botol shampoo, menggosok rambutnya dan Melani yang masih dalam keadaan terikat.


"Jangan terus meronta jika tidak ingin terjadi hal lain" mengancam, karena sulit untuk menggosok rambut istri jika terus bergerak.


Ummm ...Ummm..... Hiksss...Hiksss....


Tak kalah pula Melani melotot marah pada pria yang telah berani menyentuh dirinya, selalu tanpa izin terlebih dahulu.


"Ummm..Ammm....Umm... Bicara yang benar" ucap dingin Wiliam tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan.


Baru sadar olehnya, mulut istrinya sedang disumpal pakai sapu tangan.


"Sekarang bicara"


Bukannya bicara,Melani langsung menggigit lengan Wiliam.


"Kamu!!" marah Wiliam.


Hasrat yang sedari tadi sedang dikontrol mungkin akan keluar untuk disalurkan.


Wiliam menarik kasar pengait tali bra's penutup bakpao empuk, nampak jelas 2 toping kacang merah menyembul minta di icip.


"Jangan!!" teriak Melani tidak terima diperlakukan seperti wanita murahan.


"Diam dan nikmati" langsung memburu 2 toping kacang di atas bakpao empuk.


Aksi Wiliam menyusu membuat tubuh Melani mengeliat, ditambah guyuran air shower membasahi kepala hingga sekujur tubuh mereka.


Senjata kramat miliknya Wiliam pun sudah mulai sesak dalam sangkar segitiga. Miliknya itu ingin punya sangkar baru, yang bisa buat leluasa bergerak dan tidur dengan nyenyak.


Sambil mencicipi 2 toping secara bergantian,dan satu tangan meremas bakpao yang juga gantian, tangan satunya lagi melepaskan celana segitiga pengaman penyarung senjata miliknya.


Senjata itu sudah berdiri tegang dengan pakai helm sehabis sunatan.


Tidak terdengar ******* suara milik Melani yang sengaja ditahan, dengan aksi Wiliam.


Entah kebetulan atau pengaruh hormon. Celana segitiga milik istrinya saat dilepaskan ada bercak darah yang membekas basah, karena guyuran air.

__ADS_1


"Kali ini kamu beruntung" kesal Wiliam, hasratnya kembali tertunda.


Tidak ada lagi hasrat dalam batin,dia pun melepaskan ikatan kaki dan tangan Melani, serta menyuruhnya keluar.


Sementara itu,dia masih ada dalam kamar mandi untuk tenangkan senjata kramat yang merintih.


Untungnya saja, senjata mudah untuk ditangani. Ya karena belum pernah menikmati jajanan spesial milik siapa pun.


Melani keluar dari kamar itu dengan keadaan tubuh basah dan hanya memakai celana segitiga, lalu masuk ke kamar gudang untuk menyelesaikan hasil perbuatan Wiliam.


Untuk sementara,setidaknya **** * miliknya masih belum tersentuh Mr P milik orang lain.


Ada perasaan marah dan malu dalam hati Melani. Walau sudah berstatus sah sebagai pasangan, tapi masih belum bisa terima. Dan ini juga bukan pertama kali diperlakukan demikian, cuma kali ini tingkat hasrat lawan jenis memang bertambah, sampai sudah berani menikmati 2 toping kacang merah,sambil ngulen kasar bakpao secara gantian.


"Dasar Om mesum. Sudah banyak cicipi wanita luaran, masih gak puas!. Kalau aku ada kesempatan,akan ku potong, cincang habis burung kau!" geram Melani lampiaskan emosi, sambil menempelkan pembalut pada celana segitiga baru dan kering.


Jejak telapak tangan Wiliam masih membekas merah di 2 gundukan bakpao empuk, dan juga ada rasa sakit akibat Wiliam ngulen bakpaonya tidak pakai perasaan lembut.


Krukkk.....


Terdengar suara keroncongan cacing berkonser solo dari perut Melani.


Hari memang sudah mulai gelap, jam makan malam pun sudah tiba.


"Kali ini aku harus bisa lolos keluar. Sudah kadung basah,ya basah sekalian" marah dalam kelaparan.


Begitu pula sama Wiliam yang keluar untuk makan malam sehabis tenangkan pikiran dan senjata.


Di atas meja makan masih terlihat kosong makanan.


Dia memesan makanan siap saji lengkap dengan nasi, yang jarang sekali ia makan jika tidak dalam keadaan tertentu.


Dalam waktu 20 menit, pesanan itu datang dan siap di makan.


Sehabis makanan, dirinya meninggalkan ruang makan untuk di bereskan istrinya yang masih bersembunyi dalam kamar gudang.


"Aku mogok makan saja. Lagian aku e-nek sama mukanya" oceh Melani duduk meringkuk meluk bantal di atas tempat tidurnya.


Malam itu, Melani membiarkan semua cacing berdemonstrasi dalam perut,dan juga biarkan ruang makan dalam keadaan berantakan.


"Kalau kalian tidak mau tidur, jangan salahkan aku makin mogok makan sampai besok" ancam Melani,meremas perut yang mulai perih.


Krukkk... Krakk...... Krukkk......


Perut saja sudah mulai tidak bisa diatur. Konser yang ada semakin ricuh dan menimbulkan rasa perih.


Ketidak nyamanan antara sakit maag dan proses tamu bulanan,buat Melani sukar tidur.


Sepanjang malam juga dia bergelut dengan rasa tidak nyaman.


Di kamar lain, Wiliam yang haus hendak keluar mengambil air minum, melihat setumpuk makan malam yang belum di bereskan.


"Apa sih maunya?. Atau kabur lagi?. Tapi kali ini pengaman sudah di perketat" tanya dan jawab marahnya sendiri.


Dia pergi melihat kamar gudang yang terkunci. Untuk memastikan tidak kabur, dia ambil kunci duplikat.


Cekrekkk....

__ADS_1


Melihat tubuh kurus itu tidur meringkuk gelisah berbalut selimut, dirinya pun menghampiri.


"Hei bangun!" panggilnya bernada kasar.


"Keluar!!" tak kalah berjawab kasar.


"Kamu!!" tersulut emosi.


Wiliam menarik tubuh kecil meringkuk, dan ternyata wajah cantik itu sudah pucat bercucuran keringat dingin.


"Lepas!!" ketus melani.


"Bangun!. Kamu belum selesaikan pekerjaanmu" titah Wiliam menarik tangan yang sedingin es.


Melani mengacuhkan tiap perkataan Wiliam. Dirasanya tidak perlu lagi untuk tunduk patuh pada setiap perkataan pria berstatus suami.


Krukkk..... Krukkkk.....


Semakin jelas konser cacing perut Melani berdemo. Tidak bisa disangkal bahwa dirinya sedang kelaparan.


"Dia belum makan?. Siapa suruh jadi orang kok bodoh di tambah" ucap batin Wiliam bermuka jutek.


Kaki berlangkah panjang lebar itu pun keluar kamar gudang. Di ruang makan,ia mengambil sepiring makanan yang tadi ia pesan.


Kemudian kembali masuk dalam kamar gudang, memberikan makanan pada istrinya.


"Cepat makan!" hardik Wiliam menyerahkan piring.


"Enggak mau" tolak Melani bersih keras ingin mogok makan.


"Jangan banyak bertingkah. Cepat makan, atau saya akan memasukkan nasi ini dengan cara saya" ancamnya.


"Keluar...Aku tidak mau makan.Lebih baik mati" menarik selimut membungkus dirinya.


"Kalau mau mati jangan pernah harap!" menarik kasar selimut.


Aksi tarik menarik melibatkan selimut jadi korban sampai robek.


"Sekarang makan sendiri, atau saya yang makankan" tegas Wiliam menyodorkan piring.


Melani sudah kehabisan tenaga untuk melawan suaminya itu. Di ambilnya piring itu dan di letakkan pada meja samping tempat tidur.


"Sekarang anda bisa keluar" jari telunjuk mengarah ke pintu.


"Kamu tidak punya hak untuk mengusir saya" berdiri teguh untuk pastikan makanan itu di makan.


"Baik. Kalau begitu aku yang keluar" beranjak turun,meski kepala mulai puyeng.


.


...****************...


.


Terima kasih atas dukungannya.


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.

__ADS_1


__ADS_2