Change Destiny

Change Destiny
166 Kemana penguntit ku?


__ADS_3

Bab 166


.


Malam, keluarga kecil itu berkumpul duduk bersama sebelum mengetuk pintu mimpi mereka.


Entah kebetulan atau disengaja, Josh malam itu merengek minta seorang adik, setelah kegiatan extrakulikuler sekolah mereka.


Mata Wiliam dan Melani bertemu pandang, dengan pandangan berbeda.


Untuk soal kasih adek,masih dimasak otak trauma Wiliam. Sedangkan Melani senang jika bisa hamil, karena dapat merasakan semua momen ibu-ibu yang pernah hilang.


"Bukannya selama ini kamu bisa bermain dengan Mami, tanpa kehadiran seorang adik,hmm?" ucap Wiliam menerangkan keadaan aman nyaman, tentram selama berbulan-bulan, sampai bertahun-tahun.


"Iya.Tapi Josh kan selalu diledekin teman-teman" kepala menunduk, tangan mengepal remas celana.


Bammm.... Meja dipukul keras.


"Siapa yang berani ledekin kamu,hmm!. Daddy akan ke sekolah kamu besok, minta guru kamu bertanggung jawab" tersulut emosi besar.


"Sabar,ko.Masa masalah begini sampai libatkan guru" Melani coba bujuk orang yang tersulut api.


"Sabar!. Tidak bisa. Didikan orang tua mereka juga tidak ngajarin anak-anak mereka tentang moral, toleransi" lose kontrol.


Josh dan Melani terdiam kepala nunduk.Bukannya tambah mereda, emosi Wiliam terus menyemburkan magma panas.


"Kamu masuk kamar saja,biar Mami bujuk Daddy" titahnya lembut, sambil hapus aliran air mata.


Angguknya nurut perintah, karena tidak ada lagi yang bisa dikatakan.


Tinggal Melani dan Wiliam duduk di ruang tengah,ditemani sepiring potongan buah pencuci mulut.


"Kita keluar cari angin yuk" ajak Melani memanjakan tingkah.


"Cari angin saja sendiri" jawab ketus dingin Wiliam menghempas tangan Melani di pundaknya.


"Ok" sebagai orang punya harga diri,dia pun tinggalkan Wiliam duduk menyendiri.


Melani keluar rumah setelah dapat izin. Dirinya bukan keluar dari depan pintu utama ke samping rumah, melainkan terus keluar pagar bagunan mewah diuntit seorang bodyguard.


"Nyonya sebaiknya kita pulang" bujuk bodyguard, ngekor jalan dari belakang berjarak 1 meter.


"Jangan dulu.Aji mumpung dapat izin keluar malam,maka aku ingin puaskan dulu" menggerakkan tangan ke depan dan belakang.


"Tapi, Nyonya..." tercekat oleh Melani yang berhenti jalan dan berbalik badan


"No, tapi. Kalau anda mau pulang, silahkan" mengusir pengikut secara halus.


Bagai si buah malakama,maju kena mundur pun kena.


Sambil garuk-garuk kepala puyeng, dia kembali ikuti perjalanan istri majikan yang tidak tau seberapa panjangnya dan lama.


"Kita ke warung sana aja" menunjuk warung kecil pinggir jalan untuk beristirahat.


"Jangan kesana,disana pasti banyak orang jahat" bodyguard menasehati.


Teringat kejadian lalu ketika dia diganggu preman-preman cemen disebuah warung nasi.


Bahunya bergedik teringat kejadian itu.Andai Wiliam tidak cepat menolong dirinya, mungkin kehormatan yang dijaga puluhan tahun diambil paksa oleh orang tidak bertanggung jawab.


"Anda kenapa?" tanya bodyguard lihat Melani panik, ketakutan.


"Tidak apa-apa" dalih Melani, melihat kiri kanan jalan yang kurang pelalu lalang.


"Sebaiknya kita pulang" bodyguard memberi saran.


"Kita ke tempat lain saja" sahut Melani, sambil nunjuk arah lain.


Susah ngatur orang yang berstatus istri bos, tanpa sebuah mandat khusus untuk membawa pulang secara paksa.


Tibalah mereka disebuah taman.Disana, Melani melihat sekelompok pemuda bermain basket. Dan dirinya ikut bersorak untuk menyemangati para kedua belah pemain.


Dari jarak 2 meter, bodyguard berdiri menjaga kondisi. Penampilannya yang rapi berpakaian jas, tentu saja menyolok undang perhatian para penonton basket mania.


"Hei,bro!. Kalau mau nonton duduk saja, tidak usah berdiri kaku.Yo,Yo,yo" celetuk seorang pria dengan tingkah punk, sambil mengucapkan slogan geng punk.

__ADS_1


"That's true bro" tambah seorang lagi penuh tindikan di telinga kiri, dan meleak leok tangan .


"Jas lu gak cocok dipakai disini, kayak aki-aki mau sunatan" cibir kasar pria pertama, sambil narik jas yang dipakai bodyguard.


Krettt ....


Jari-jari tangan bodyguard mengerat keras, rasanya sudah tidak tahan untuk membombardir pria-pria bertampang aneh(gaya punk berandalan).


Bughh....


Bogem sekali tonjokan berbekas di hidung pria 1.


"Berani sekali lagi buka mulut, kalian akan saya habisi" bodyguard memberi peringatan keras, sambil cengkram dagu pria lain yang coba menyerang.


Keadaan mulai tidak terkendali, bodyguard pun coba mengalihkan sekelompok pria aneh ke tempat lebih jauh.


Ketika Melani berbalik melihat bodyguard, bayangan itu telah jauh darinya.


"Kemana penguntit ku?. Jangan-jangan dapat kenalan cewek kece,hihihi..." gurau pelan Melani, mata mencari setiap sudut.


Prit.... Peluit wasit berbunyi nyaring.


"Scor 5-0" ucap wasit pertandingan, mengistirahatkan permainan sebentar.


Berhubung merapikan kembali setiap para pemain, Melani pun berjalan diantara himpitan spoter.


"Permisi, permisi, permisi" ucapnya minta jalan setapak.


Dugghhh,...


Dirinya terjedut benda lumayan keras.


"Tolong kalau berdiri bilang-bilang" omel Melani mengelus jidat.


"Kamu yang jalan pakai mata" balas orang tertabrak. .


Orang yang ditabraknya berbalik, dengan wajah dingin memelototi Melani yang tidak minta maaf.


"Sudah salah, nyolot pula" ujar orang tertabrak.


"Kamu itu yang salah" balas Melani, berkacak pinggang agar ditakuti.


Kericuhan antara pria dan wanita menghebohkan area pertandingan. Jadwal mulai pertandingan juga terulur beberapa menit, setelah kericuhan teratasi wasit dan juri pertandingan.


"Anda sebagai pria, tidak baik ribut dengan seorang wanita.Apalagi sampai ingin menampar wanita ini" wasit menasehati orang tertabrak.


Sisi lainnya,juri pertandingan juga meminta Melani untuk minta maaf, dari pada ribut tidak berhenti.


"Ok" jawab malas Melani.


Melani dan orang tertabrak dipertemukan kembali, untuk saling maaf memaafkan.


"Aku minta maaf" ucap dingin Melani dengan tangan terulur.


"Ya" jawab ketus orang tertabrak.


"Nah, karena urusan sudah kelar, kalian bisa duduk lihat pertandingan" ucap juri, menepuk pundak pria tertabrak.


"Gak.Lagian mood-ku sudah hilang" menepis tangan juri sok akrab.


"Baiklah" juri juga enggan memaksa .


"Aku juga mau pulang" sambung Melani.


"Baiklah" juri biarkan para penonton atau Sporter pergi.


Prittt....


Peluit kembali berbunyi, memanggil para pemain basket untuk berbaris di garis tengah.


Prittt......


Peluit kembali ditiup begitu bola basket mengambang ke udara.


.

__ADS_1


Melani berjalan pelan-pelan mencari kemana penguntit bawa kabur anak perempuan orang pergi tanpanya.


Berjalan melewati sebuah gang sempit,Melani dengar suara tak asing di telinganya. Dia pun makin dekat untuk pastikan siapa pemilik suara besar itu.


"Haa!!" kaget Melani, mulut terbuka lebar, tangan pegang pipi.


Bodyguard pun berhenti berkelahi dengan geng anak punk.


"Ini tidak seperti yang anda pikirkan" ucap bodyguard, sambil nendang asal anak punk yang tersungkur di jalan.


"Tidak apa" sahut Melani masih kaget.


"Lebih baik kita pulang sebelum Tuan mencari anda" bodyguard kembali menasehati Melani.


"I-ya" angguk kaku Melani.


Mereka pun tinggalkan jalanan sempit, sambil saling mengingatkan untuk tidak cerita kejadian yang menimpa mereka.


"Tapi bekas luka di bibir" tunjuk Melani terhadap jejak perkelahian di sudut mulut bodyguard.


"Akan saya kompres" mengusap darah disudut bibirnya.


Setiba di gerbang rumah mewah, mereka disambut Wiliam yang mengatur para bodyguard mencari keberadaan Melani.


"Tuan,itu Nyonya sudah kembali" ucap seorang security, ngurangin amarah sang big bos.


"Kemari kalian!!" hardik Wiliam berkacak pinggang.


Tentu Melani ketakutan hampir mati.Untuk tidak melibatkan penguntit, Melani mengingatkan Wiliam untuk menjaga harga dirinya di depan para penjaga.


"Koko marah di dalam saja" Melani memohon.


Wiliam menghempas tangan Melani yang menarik ujung bajunya.


Langkah berat kasar panjang itu, diikuti Melani dari belakang sampai ke ruang kerja.


Sampai juga waktunya Melani diadili. Melani berdiri tegak dengan kaki satu,sambil jewer telinga.


"Kan tadi Koko bilang boleh keluar" membela diri.


"Bukan keluar seorang diri" bentaknya ngacak rambut.


"Ada bodyguard kok" memelankan suara pembelaan.


"Jadi kamu lebih senang dengan pria lain,hengg!!" marahnya dengar suara pelan Melani.


"Bukan" menggeleng kepala serba salah.


Masalah satu belum kelar, Melani pulang hanya menambah masalah baru.


"Mulai hari ini,kamu tidak boleh keluar pintu rumah tanpa saya!" memberi hukuman beserta peraturan baru.


"Iya" bergoyang kiri kanan.


Tappp... .


Tangan Wiliam berhasil menangkap tubuh Melani yang hampir nangkap kodok.


"Koko" panggilnya manja.


"Apa" ketus.


"Jangan suka marah napa" mengedipkan mata seperti boneka pampang.


"Mata kamu kelilipan,hemphh!" melepaskan pelukan.


"Ihh.. Koko apa gak bisa mesra sama pacar sendiri" merayu big bos yang marah.


"Pacar apa!. Kamu lebih cocok dibilang pembangkang" menepis tangan Melani yang nunjuk dadanya.


.


...****************...


.

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya dalam bentuk apa pun.


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.


__ADS_2