
Bab 124
.
"Mulai sekarang, kalau Nyonya minta sesuatu, cepat kalian ambilkan" titah Wiliam pada barisan ART yang berbaris.
"Baik Tuan" serentak menjawab.
Sedikit bingung Melani akan sikap tidak wajar pria dingin itu. Biasanya segala urusan rumah di mansion kecil, dia kerjakan sendiri. Tapi mengapa sehabis pemeriksaan, semua tidak boleh ia kerjakan.
"Apa aku sakit berbahaya?. Ah, tapi nggak mungkin, kan cuma bermasalah di hidung.Lagian kalau ada sakit berat, itupun depresi dan asma" monolognya ngintip dari celah pegangan kayu tangga ,Wiliam yang memberi perintah.
"Kamu cepat istirahat!" hardik Wiliam, menemukan istrinya yang duduk di anak tangga.
"Tuan,aku sakit apa?. Apa berbahaya?" masih bertahan duduk di anak tangga, dengan wajah serius.
"Enggak. Cuma butuh istirahat" jawabnya lembut, mengulurkan tangan membantu Melani bangkit.
"Ohhh.... Sekarang aku mau pulang" ujarnya berlipat tangan.
"Tidak bisa. Nanti kamu tidak bakal istirahat" jawabnya dengan nada sedikit meninggi.
"Pokoknya aku mau pulang!. Titik! Enggak pake koma!" rajuknya dengan suara ikut ninggi.
"Kamu ini ingin membantah,hmm?" melebarkan mata sipitnya.
"Kalau iya kenapa?" tantang Melani ikut melotot.
Kembali lagi posisi mereka bagai kucing dan tikus, yang selalu berdebat hanya karena hal sepele.
Akan memalukan jika semakin jadi ajang tontonan pelayan di rumah besar. Maka Wiliam pun langsung menggendong Melani masuk kamar.
"Always stay here,now!!" tegas Wiliam menurunkan Melani.
"No!!. I want go home" berkacak pinggang lawan Wiliam.
Wiliam dibuat jengkel setengah mati dengan tingkah Melani yang kian tidak patuh.
"Kalau kamu terus begini,maka jangan salahkan saya jika ingin...." ancam Wiliam dengan tatapan mengarah ke bungkusan bakpao hangat.
"No!!. Dasar Om mesum!" memalingkan tubuh.
Wiliam terkekeh pelan, kadang menjengkelkan, kadang pula menggemaskan.
"Makanya nurut" ucap lembut Wiliam memeluk Melani dari belakang.
Melani tidak melawan pelukan Wiliam dari belakang. Justru dirinya merasa tenang saat tubuhnya dipeluk dengan posisi tersebut.
"Kamu ini akan nambah seorang anak, jadi harus jaga kesehatan" bujuk lembut Wiliam, mencium rambut sebahu terurai.
"Tambah anak?. Tuan punya anak lain lagi?" tanya Melani bingung dengan kalimat kurang jelas.
"Iya. Sekarang kamu jangan panggil saya Tuan lagi" godanya, mengencangkan pelukan.
"Terus apa?. Kakek kah?" lontar sindir Melani, melepaskan pelukan.
"Kok kakek?. Sayang,Beb, Honey,or yang sejenisnya" mencium daun telinga Melani.
"Jangan Om" jawab Melani menggelinjang geli.
"Kok Om. Daddy saja" sarannya mencumbu Melani.
"Tapi lepaskan dulu" tolak Melani menggeliat geli, tahan rayapan tangan usil Wiliam.
Hahahaha.....
Wiliam tertawa geli, tidak disangka bahwa ia bisa berbuat hal begituan pada seorang wanita.
Drett.....Drett....
Ponsel Wiliam bergetar karena dalam mode silent.
Panggilan dari seseorang yang dari tadi menunggu kabar berita mereka.
__ADS_1
"Halo Ma?" sapa Wiliam pada seseorang diseberang, dengan wajah tenang.
"Ya Wil. Bagaimana hasil pemeriksaan dokter?" tanya cemas deg-degan ibu suri.
"Melani sehat kok ,Ma.Hanya saja butuh istirahat" sahutnya.
"Ma....!! Melan enggak dikasih pulang" celetuk adu Melani dengan suara cempreng keras.
"Benarkah itu,Wil?" tanya ibu suri, mendengar suara pengaduan.
"Iya Ma. Tidak apa kan,Ma?" menghalangi Melani yang ingin rebut ponselnya.
"Ya sudah. Asal kalian sehat saja" jawab ibu suri, akhiri koneksi.
Tut...Tut...Tut...
Ponsel lalu di masukkan ke dalam saku celana.
"Hiks... Hikss....Aku mau pulang" rajuk Melani duduk berselonjor di bawah tempat tidur besar.
"Kalau kita pulang ke mansion atau rumah sewa kamu saja?" bujuknya, jongkok mensejajarkan pandangan.
"Enggak mau. Nanti anda selalu bully aku" sesenggukan.
"Mana mungkin saya bully kamu. Bukannya kamu yang lebih sering menyiksa batin saya" goda Wiliam,usap air mata yang mengalir.
Melani menendang Wiliam hingga terpental duduk. Gimana enggak di tendang Melani, tangan Wiliam semakin suka usil menggerayangi tubuh kecil itu, terutama bagian 2 bungkus bakpao.
"Ini bukti kalau saya yang jadi korban bully" pura-pura bersedih.
"Itu salah anda" ketus Melani.
"Jangan pakai bahasa formal lagi. Coba pakai bahasa santai seperti pasangan lain" merangkak menghampiri Melani berbibir manyun.
"Bahasa alien aja sekalian" juteknya berpaling wajah, tidak tau pemburu sedang siap menerkam.
Cup....
Wiliam tidak kuat lihat bibir manyun yang seakan menggoda dirinya.
Bibir Wiliam di gigit Melani yang hampir ke kurangan oksigen, tiap di serang tanpa aba-aba.
"Nakal ya" Wiliam mendorong pelan tubuh Melani sampai tidur terlentang.
"Tolong.... Tolong..." jerit Melani sambil asal mukul dan tendang.
"Baik, suami kamu ini akan menolong" godanya mencium leher putih mulus,satu tangan memegang kedua tangan Melani di atas kepala, satunya lagi ngulen gundukan bakpao terbungkus baju.
Melani tidak kuat menahan geli atas serangan suami yang jadi mesum. Dia hanya bisa menahan suara agar tidak membuat suaminya menikmati permainan sepihak.
"Keluarkan saja suara merdu kamu" godanya, tangan melepaskan kancing kemeja kerja yang di pakai.
Melani menggelinjang geli, terutama bagian leher yang diserang tanpa ampun.
"Kita main sebentar ya" bisiknya dengan nada mesum, sudah melempar jauh pakaian mereka.
Wiliam pun memberikan pijitan lembut di gundukan bakpao, sebelum menidurkan anaconda di sarang kecil.
"Saya akan masuk,nih" bisiknya lagi, kepala anaconda berhelm sudah berdiri di depan pintu gua sarang.
Sudah dalam keadaan seperti ini, apa lagi yang bisa dilakukan. Walaupun bilang tidak, tetap saja Melani akan terima serangan kasar benda besar panjang tumpul.
Wiliam tersenyum sambil mengelus wajah Melani yang kesal jutek, tapi juga seakan nikmati permainan yang sengaja dilembutkan.
Mencapai puncak permainan, dan di lihat istrinya juga sudah akan puas,dia mempercepat memandu senjata kramat untuk bermain di dalam.
"Thank's Mel" ucap Wiliam, mencium lembut wajah Melani yang dibuat capek.
Tau kalau istrinya capek, Wiliam membiarkan tubuh kecil beristirahat sebentar sebelum mandi.
"Kamu tidur dulu. Saya mau mandi" mengambil selimut dan menutupi tubuh kecil yang menggoda hasrat.
Selagi Wiliam mandi,Melani mengumpat, merutuk dirinya yang sudah tidak suci lagi.
__ADS_1
"Arrggg.... Mengapa jadi begini...!! Seharusnya bukan aku jadi budak n@fsunya!!" mengintip ke dalam selimut, lihat tubuh penuh tanda menjijikkan.
Enggak mungkin juga karena permainan Wiliam yang kadang buas dan juga memanjakan, Melani jadi depresi akut seperti waktu kerugian main obligasi.
Yang sekarang harus ia lakukan adalah, menjalani apa yang sudah terjadi.
Aroma tubuh segar Wiliam menghampiri istrinya yang bersembunyi dalam selimut tebal.
"Mel,mandi dulu baru lanjut tidur" bujuknya, menarik turun selimut menutup ujung kepala sampai kaki.
Melani mengendus aroma segar itu, dan mengajukan pertanyaan sama kayak pagi di rumah mertua.
"Kamu suka?. Kalau suka,hirup saja" mendekap tubuh terhalang selimut pengacau.
"Anda jangan bohong. Bilang saja kalau semprot parfum" tuding Melani.
"Saya tidak bohong. Tapi kalau kamu kira saya pakai parfum, boleh juga kok. Parfum tubuh saya hanya untuk kamu" goda Wiliam, menarik tubuh kecil keluar dari selimut pengacau.
"Aku mau mandi" kapok Melani terus di modusin.
Belajar beberapa kali teknik modus suami mesumnya, buat Melani tidak akan terus termakan umpan.
"Saya bantu gosok punggung kamu ya" ujar Wiliam melepaskan mangsa siang.
"Enggak usah" juteknya berjalan kesusahan mesti bawa selimut bad cover.
Wiliam menggaruk dagu tidak gatalnya. Dia merasakan bagaimana pria buaya darat di luaran sana, gimana tidak terus cari mangsa 3 kali sehari.
"Saya tidak akan seperti mereka" prinsip Wiliam.
Wiliam pun memilih kaos lebih kecil miliknya untuk di pakai sementara, sampai pakaian pantas di pakai Melani.
Lihat Melani keluar dengan rambut keramas basah dan masih terbungkus selimut, Wiliam jadi tertawa nakal.
"Mana bajuku?" tanya ketus Melani, lupa ambil perlengkapan mandi tadi masuk.
"Ini" menunjukkan pembungkus gundukan bakpao yang di hirup.
"Kemarikan!!" bentak Melani merebut br@ yang di naikan, setinggi tangan Wiliam.
"Panggil saya dengan lembut dulu" sahutnya pura-pura jutek.
"Kasih aku dulu" jinjit meraih br@ tergantung tinggi.
"Kalau enggak, kasih cium pun boleh" nego Wiliam menaik turunkan alis.
Terhirup semakin dalam aroma segar tubuh Wiliam yang buat Melani hilang akal sehat normal.
Tangan Melani spontan mengalung di leher Wiliam, sontak selimut yang nutupi tubuh tak berbenang ikut meluncur turun bebas.
Glekk...
Wiliam kembali tergoda dengan pemandangan fantastis itu.
Ingin rasanya menghujam kembali lembah lembab yang membawa dirinya ke awang-awang.
"Istriku mulai nakal!" bisik Wiliam, menahan hasrat yang cenggap-cenggap merintih minta lepas.
"Ko.. Kemarikan br@ Mel" jawabnya lirih, menghirup aroma tubuh segar itu.
"Okey. Saya pakaikan ya" luluhnya,menurunkan tangan.
Begitu br@ dan celana segitiga miliknya dapat diraih, segera Melani rampas dan bawa kabur ke kamar mandi.
"Weekkk...." ejek Melani.
"Mel, jangan lari" tertawa geli dengan sikap serta kelicikan istrinya.
.
...****************...
.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.