Change Destiny

Change Destiny
Bab 73 Beda umur dosis pasti beda


__ADS_3

Bab 73


.


Ketika keluar dari kamar mandi, Wiliam tidak menemukan sosok istri ikan pepesnya itu.


"Kemana perginya dia?.Pintu kamar ini sudah saya kunci" mengelilingi kamar.


Bahkan jendela saja sudah berpagar jeraji besi, tidak mungkin dalam kamar ukuran sedang Melani bisa kabur. Itu yang terlintas dalam benak Wiliam yang mencari istrinya.


Karena ingin mencari di luar kamar itu, Wiliam pun harus mengenakan pakaian, setidaknya celana menutup aurat yang hanya tertutup handuk melilit pinggang.


"Ya ampun" kagetnya membuka lemari pakaian.


Ya,tentu saja kita sudah dapat menebak apa yang buat seorang Wiliam kaget.


Istrinya yang dicari sudah tertidur dalam lemari baju,sambil mengalir air mata sedihnya.


"Kamu ini lebih cocok jadi anak-anak,dari pada orang dewasa" mengendong keluar tubuh istri ikan pepes.


Sudah termasuk sering Wiliam mesti gendong tubuh kecil istrinya itu, namun sering tidak disadari Melani ketika bangun.


Nasibnya termasuk bagus dapat istri seperti Melani yang bertubuh kecil, masih bisa digendong olehnya. Nah, kalau dapat yang ukuran jumbo gemuk, pasti cepat remuk tubuh sekekar itu.😄🤣


Dengan tidur terlilit selimut, pasti akan membuat kenyamanan tidur kurang. Wiliam pun berniat baik untuk melepaskan lilitan ikan pepes istrinya.


Perlahan ujung lilitan itu dilepaskan dari tangan Melani. Tampak basah pula pakaian terbungkus selimut tebal.


"Mel, bangun. Ganti bajumu dulu baru tidur" menepuk pelan wajah Melani.


"Jangan dekat" ketus lindurnya.


"Kalau tidak mau ganti sendiri,saya yang gantikan" bisik Wiliam.


Bukannya direspon baik sama Melani,malah Wiliam dapat tendang kilat.


"Kamu sudah berani sama saya,hum!!. Baik, jangan salahkan saya jika ambil tindakan" mengelus perut habis ketendang.


Wiliam mengendong balik Melani menuju kamar mandi, untuk diguyur air sebagai hukuman.


Pancuran air shower mulai menyiram kepala Melani yang duduk di kloset duduk.


"Hentikan!!" seru Melani mengelap guyuran air menyiram mukanya.


"Ini hukuman karena telah berani menendang saya" Wiliam memutar deras kran shower.


Melani sudah basah kuyup dibuat Wiliam,sampai menampakkan bentuk pakaian dalam istrinya. Bahkan tumpukan daging kenyal juga ikut tercetak.

__ADS_1


Glekk....


Sudah cukup hukuman hari ini. Dari pada susah menenangkan sesuatu di bawahnya yang mulai bangun.


"Awas kalau berani buat ulah,saya akan hukum kamu lebih berat" ancam Wiliam coba tenangkan pikiran lihat tumpukan daging kenyal.


"Bunuh saja sekalian" sahut Melani penuh aura benci.


"Saya tidak akan membiarkan kamu mati dengan gampang.Jadi kamu harus ikuti permainan saya" mencubit dagu Melani yang berani menantang dirinya.


Beda dengan wanita lainnya yang terus coba menggoda dirinya. Rasanya Wiliam ingin coba meruntuhkan pertahanan Melani,dan buat istrinya itu tidak bisa hidup tanpanya.


Kembali Wiliam menukar celana basah akibat percikan air shower, lalu merebahkan tubuhnya yang masih kurang fit.


"Dia seperti kucing liar, harus membuatnya jinak tidak segampang kucing liar lain. Hufff...." mengatur nafas biar benda di bawah tidak sesak minta keluar.


Sudah lima belas menit Melani di dalam kamar mandi namun belum keluar. Wiliam kembali dibuat cemas, takut-takut istrinya tidur dalam keadaan basah kuyup. Itu masih termasuk bagus, paling tidak hanya buat sakit. Jika istrinya coba bunuh diri,bakal jadi perkara pidana.


"Cepat keluar" panggil Wiliam dengan suara kasar.


"Nggak mau" sahut kasar pula orang di dalam sana.


Setidaknya tidak terjadi hal buruk seperti dugaan.


"Cepat!!. Saya ingin buang air kecil" dalihnya meninggikan suara.


Selang beberapa detik, Melani keluar dengan tubuh basah kuyup. Tetesan air di baju masih bisa untuk di peras.


"Apa lagi!!" bentak marah Melani, menghempas tangan Wiliam.


Tanpa a,i,u,e,o Wiliam mengambil handuk habis dipakai tadi untuk keringkan rambut istrinya. Lalu spontan ingin melepaskan baju basah yang biasa ia lakukan pada Josh.


"Jangan kurang ajar, kau!!" bentak Melani, menghempas tangan yang coba berani lepaskan pakaiannya.


Wiliam tersadar dari aksi spontan, bukan niat hati untuk kurang ajar meski tidak bisa disebut kurang ajar melakukan hal tersebut pada istri sah.


Wiliam segera masuk kamar mandi untuk memberi waktu Melani berganti pakaian kering.


"Karena kamu,dia sudah salah sangka" memukul tangan sendiri secara bergantian.


Cukup lama untuk orang yang hanya ingin sekedar buang air kecil di kamar mandi. Tapi demi kenyamanan orang yang salah paham, Wiliam memberi waktu sedikit lagi.


Kini Melani sudah berpakaian kering dan duduk menghadap jendela kamar untuk biarkan angin meniup kering rambut setengah kering.


"Jangan duduk di situ kelamaan.Kamu tidur saja di kasur" ucap dingin Wiliam, keluar lalu mengunci dari luar.


Andai ada cinta diantara mereka, pasti tidak mungkin seburuk ini pernikahan usia jagung mereka.

__ADS_1


Merasa ngantuk dan rambut sudah kering, Melani merebahkan tubuhnya di tempat tidur tanpa gangguan,dan harus berbagi wilayah.


Sedangkan Wiliam tidur di sofa panjang ruang tengah.


.


Mentari mulai membuka matanya menyinari perlahan bumi tercinta. Setiap sinarnya cukup menghangatkan tubuh yang semalaman terselimuti tiupan angin malam.


Wiliam yang bangun pun kembali buka kamar dengan pelan. Di lihatnya tubuh istri yang tidur memeluk guling dengan nyaman. Agar tidak kabur saat ia mandi, pintu kembali di kunci.


Biar sarapan tepat waktu, Wiliam membangunkan istrinya yang molor dengan nyaman sehabis berpakaian bersih, tapi wajah Melani sedikit memerah.


"Mel,kamu demam?" mengukur suhu tubuh pakai telapak tangan,sama seperti yang dilakukan Melani beberapa hari lalu.


Hacimm.... Ini akibat pakai baju basah,lalu membiarkan tubuh ditiup angin malam entah berapa lama.


Aksi cepat respon Wiliam patut jadi panutan bapak-bapak lain. Pria dingin itu mengambil obat demam miliknya yang masih ada beberapa butir. Membuatkan segelas susu hangat dan beberapa biskuit cracker untuk mengganjal perut sebelum obat masuk.


"Isi dulu perutmu dengan biskuit,lalu minum obat ini" meletakkan nampan isi susu, biskuit dan obat.


"Aku nggak mau makan obat anda" tolak Melani.


"Bawel ya kamu" berdiri menunggu.


"Tau nggak sih. Beda umur dosis pasti beda pula" ketus Melani mengigit biskuit.


"Ya sudah kalau mau periksa dokter. Cepat habiskan dulu" paham maksud Melani.


Obat itu sebagai antisipasi jika istrinya menolak ke dokter, tapi berhubung yang bersangkutan minta, tentu jauh lebih baik untuk dapat dosis obat tepat.


Sepotong biskuit cracker sudah habis begitu juga susu hangat. Tak sanggup untuk makan ,Melani kembali tipam. Demamnya cukup tinggi plus efek influenza, buat Melani seakan tulang remuk tidak dapat duduk lama.


"Ayo pergi" ucap Wiliam yang habis sarapan ringan sendiri di dapur.


"Engg..." sahut Melani merinding kedinginan.


Wiliam mendekat, tangan kekar itu membopong tubuh kecil yang pasti lemas tidak bertenaga.


"Saya sembuh, kamu sakit. Nasib kamu lebih beruntung" oceh Wiliam memakai sandal jepit, lalu mengendong keluar.


Supir yang telah siap siaga atas panggilan, membukakan pintu mobil dan melaju ke rumah sakit tanpa terima perintah kedua kalinya.


.


...****************...


.

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya.


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.


__ADS_2