Change Destiny

Change Destiny
127 Kena jewer


__ADS_3

Bab 127


.


Tidak mungkin bagi Melani untuk membuang benih yang sudah berkembang biak dalam perut.


"Karena ketidak mujuranku,aku coba terima kamu dalam kehidupan ku.Semoga hidupmu jauh lebih baik dariku" ucap batin Melani memandang perutnya.


Terpaksa sudah Melani terima nasib dan takdir yang menghampiri.


.


Malam hari...


Kedua bocah beda generasi itu tampak kekeh bersembunyi dalam kamar, sambil bermain game.


Ketukan pintu yang memanggil pun diacuhkan mereka yang asyik bermain.


"Mana mereka?" tanya tegas Wiliam menunggu di bawah anak tangga.


"Tuan muda dan Nyonya muda tidak ingin keluar" jawab ketakutan pelayan yang berdiri.


Wiliam mengibaskan tangan mengusir pelayan itu pergi.


"Mau saya yang panggil mereka nggak,ko?" sambung Ronald.


"Enggak usah. Kamu makan duluan saja" jawabnya dingin,kaki melangkah naik anak tangga.


Terdengar suara tertawa dari balik pintu kamar Josh. Suara tertawa yang serentak menertawakan sesuatu.


"Apa yang mereka tertawakan?. Melani tidak pernah begini ke saya" gumam penasaran Wiliam menempelkan telinga ke pintu.


Dalam kamar, Melani dan Josh baru selesai mengibah teman mereka di sekolah. Mereka juga meniru wajah orang tergibah yang buat lelucon.


Tokk...Tokk....


"Mel, Josh kalian keluar sekarang atau Daddy dobrak pintu ini!" suara meninggi,membuka paksa handle pintu.


Ibu dan anak itu pun terdiam dan duduk merapat menatap handle pintu yang diogel Wiliam. Mata mereka melotot lebar, takut Wiliam berhasil membuka paksa pintu yang sudah terhadang sofa.


"Mi,kita tambah ini aja" saran Josh menunjuk box mainannya.


"Iya. Cepat dorong ke sana" jawabnya bertitah.


Josh kembali duduk merapat samping Melani habis letakkan box mainan.


"Keluar!!. Atau uang jajan kamu Daddy potong" ancam tegas Wiliam menghentikan ogel handle.


Wajah Josh tertegun dan menoleh ke ibu cantik. "Mi, gimana?" tanya Josh, karena bukan hanya sekedar dipotong uang sakunya, tapi bakal gak boleh main selama 1 bulan.


Andai Melani punya pekerjaan yang tetap, dia bisa mendukung untuk menggantikan uang saku tersebut.


"Biasanya dipotong berapa?" bertanya.


Josh menunjukkan sepuluh jarinya.


"Oh, sepuluh ribu" Melani bernafas lega.


"Bukan,Mi" jawab Josh dengan muka sedih.


"Terus?"


"Sepuluh hari Josh tidak terima uang jajan" lesuh jawab.


Berat banget hukuman itu jika tidak ada uang tabungan.


"Kalau begitu kamu keluar saja.Mami tetap di sini" solusi Melani tidak ingin juga buat Josh membantah.


Josh tidak yakin kalau ibunya bakal tetap dalam kamarnya setelah pintu terbuka.


"Mami janji ...? Malam ini tidur sama Josh" mengulurkan jari kelingking.


"Iya dong" mengaitkan jari kelingking.


Menempatkan diri sebagai seorang ibu, dikarenakan juga mengalami langsung,kini dimengerti Melani.

__ADS_1


Ternyata sebagai seorang ibu tidak mudah seperti yang dikiranya. Banyak tantangan yang mesti dihadapi jauh lebih rumit walaupun terlihat sepele dipandang sebelah mata.


Mereka menggeser sofa dan box mainan penghadang pintu. Sambil berjaga-jaga jikalau Wiliam menerobos masuk kamar,Melani punya ide untuk bersembunyi dalam lemari pakaian.


"Mami, nanti begitu Josh keluar, Mami cepat kunci pintu ya" ucap Josh tidak menutup rapat lemari pakaian agar ada oksigen yang masuk.


Beda ukuran lemari baju milik Josh dengan pemilik rumah, yang memang mendesain khusus ruang rahasia.


Cekrek....


Josh membuka pintu dengan cepat, cepat pula ia menarik tangan Wiliam untuk segera menyingkir dari depan kamar itu.


"Let's go Dad. I'm hungry" ujar Josh, mengelus perut.


"Where you're Mami?" bertahan tidak gerak.


"Sleeping" coba narik sekuat tenaga.


Wiliam tidak percaya apa yang diomongin anaknya yang terlampau genius. Dengan berat hati ia melepas paksa tangan bocah, dan menerobos masuk kamar.


Melani yang hanya di terangi cahaya dari celah lemari masih tampak duduk bersandar, sambil memikirkan kemalangan dirinya.


"Entah kenapa kamu memilih masuk dalam kehidupan aku.Apa kamu tidak takut dapat Papa galak,heng!!" monolognya duduk memeluk lutut.


"Dimana Mami,Josh?" tanya Wiliam tidak lihat batang hidung istrinya.


Gimana mau nampak batang hidung Melani. Orang kedua bocah beda generasi sudah berkompromi.


"Enggak tau" jawabnya santai sambil angkat bahu.


"Jangan bohong!. Atau mau Daddy kasih hukuman tambahan" ancam Wiliam, melekatkan bokong di atas tempat tidur.


Josh pun kekeh tidak mau kasih tau tempat persembunyian ibu cantik.


"Daddy mau ngapain?" tanya Josh menarik pakaian Daddy yang menghampiri lemari pakaian tidak tertutup rapat.


"Kamu harus disiplin. Setiap selesai ambil pakaian, lemari harus di tutup" sahutnya mendisiplinkan.


"Iya, nanti Josh tutup" menarik Wiliam kebelakang.


Wiliam secepatnya buka kembali pintu lemari.


"Mel" ucapnya menarik wanitanya keluar dari tempat persembunyian.


Josh hanya bisa berdiam berdiri, menepuk jidat akibat ketahuan menyembunyikan orang.


"Ow...ow...." ucap Josh pelan, memunggungi kedua orang tua yang segera bertatap.


Josh tau benar sifat Daddy-nya yang sedang marah. Akalnya pun mencari alasan untuk menangkis amukan tersebut.


"Emmm..... Daddy, Josh temani uncle makan duluan ya" pamitnya kaku, kaki sudah siap sedia kabur.


"Tunggu!" bentak Wiliam memapah istri yang gemetaran.


"Ya.." sahutnya dengan suara manja tidak bersalah.


"Sebagai hukuman, habis makan hafal sastra Mandarin" hardik Wiliam.


"Satra lainnya aja ya,Dad" memelas bernegosiasi.


Bukan tidak bisa menghafal sastra tersebut, melainkan sastra itu mengandung arti mendalam mengenai bakti seorang anak pada orang tua.


"No" tegas menolak.


Uhukk.... Uhukk....


Suara batuk membuat dua pria itu menoleh ke asal suara.


"Mel" mengelus pundak istri.


"Mami?" mencari botol air minum.


"Aku lapar" ucap Melani.


"Bisa tau lapar juga,haa!. Tadi masih berani sembunyi" Wiliam menjewer telinga istri layak bapak menghukum anaknya.

__ADS_1


"Sa-sakit..." ucap Melani ikuti telinga di jewer.


"Daddy, ampuni Mami.Nanti telinga Mami bisa sakit benaran" bela Josh,bantu lepaskan tangan yang menjewer.


"Kamu juga!" tegas Wiliam menjewer satu bocah lagi dengan tangan yang satunya.


"Aw... Sakit" rintih ibu dan anak tak berdaya melawan, sambil nahan jeweran.


Khusus untuk Melani, Wiliam menarik telinga mendekati tubuh kekarnya. Sedangkan untuk bocah satunya lagi, Wiliam menarik naik ke atas.


"Ampun Dad" ucap Josh mengaku kalah.


"Masih berani,hemp?"


"Enggak" jawab Josh kesakitan.


"Baik.Awas kalau berani berbohong dan berbuat masalah" melepaskan jeweran.


"I-iya" menggosok telinga yang memerah.


"Sana keluar makan" usir Wiliam masih belum melepaskan jeweran yang lainnya.


Josh keluar dengan wajah prihatin pada ibu cantik yang masih terjewer pasrah.


"Cepat keluar!. Atau mau tambah hukuman" hardik Wiliam menatap serius.


Josh segera keluar dan menutup pintu kamarnya.


"Kamu ternyata lebih ngeyel dari Josh" melepaskan jeweran.


"Mana ada" bantah Melani, mengusap telinga.


"Kan?. Masih berani jawab" meniup telinga memerah itu.


"Tuan mau apa?" spontan mendorong tubuh kekar itu.


"Mau makan kamu" goda Wiliam berwajah serius.


Sontak Melani berdiri menjahui manusia kanibal.


Tubuhnya yang tersudut tidak dapat kabur itu pun di dekati pemburu.


Cup...


Ciuman yang sudah sering diterima, tepat di bibir tipis tidak bisa di tolak Melani.


"Sudah saya bilang. Kamu jangan panggil saya Tuan. Atau mau saya hukum lebih?" merapatkan dekapan tanpa ada jaga jarak.


"Tapi lepaskan dulu!" Melani mendorong tubuh mereka yang menempel.


"Panggil dengan mesra dulu" seringai Wiliam memeluk pinggang biar tetap lengket.


Bola mata Melani memutar kesal dan malas.


"Masa aku harus manggil mesra?. Jijai banget. Bukan aku banget" dongkol omel batin Melani, beradu pendapat pikiran sendiri.


"Ayo cepat panggil kalau mau makan" mencubit gemas hidung mancung istrinya.


"Tolong lepaskan aku,Ko" kakunya memohon.


"Kamu panggil saya apa?" Wiliam pura-pura tidak dengar.


"Tolong lepaskan aku" ketus Melani malu untuk mengulang.


Siapa suruh Wiliam tidak dengar. Yang mengulang juga enggan ulang.


"Kalau tidak mau panggil juga enggak apa-apa.Kita akan tetap begini sampai kamu mau" ujar Wiliam pura-pura jaim.


.


...****************...


.


Terima kasih atas dukungannya.

__ADS_1


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.


__ADS_2