
Bab 83
.
Pria dingin menghampiri istrinya yang duduk agak berselonjor di kursi, lalu dengan spontan gendong ala bridal keluar dari ruang reservasi.
"Turunkan aku!" memukul dada pria dingin pakai satu tangan.
"Jangan banyak bertingkah,atau akan saya jatuhkan" jawab Wiliam lebih galak.
Melani melototi wajah pria dingin sebesar kulit jengkol. Belum lagi tingkah pria yang gendong dirinya, sedang di rekam seseorang pakai kamera ponsel.
"Enggak usah melotot mata sipit kamu!!. Nggak bakal besar juga" sindir pria dingin acuh.
"Turunkan aku!!. Apa anda tidak tau malu,hengg" ketusnya.
Wiliam langsung menurunkan tanpa aba-aba. Perut yang hampir meledak itu berguncang hebat. Semua kunyahan yang masih nyangkut entah di kerongkongan atau usus berdemonstrasi minta di keluarkan.
Kembali pria dingin menggendong, biar magma dalam perut istri tidak asal nyembur keluar. Dengan langkah cepat ia bawa istrinya ke toilet wanita,agar bisa keluarkan magma tanpa buat malu.
Begitu di turunkan, magma pun langsung menyembur.
"Melani!!" marah pria dingin berintonasi penekanan.
Melani tidak sanggup untuk meminta maaf, dengan keadaan magma yang mau keluar kembali.
Bau muntahan magma mengotori jas, dan mengharuskan pria dingin melepaskan jas kotor menjijikkan.
"Kurang ajar!!. Dikasihani makin melunjak!!" umpat marah Wiliam, mencuci tangan.
"Tuan,jas baru sedang di bawa kemari" ucap bodyguard.
"Sudah siap belum wanita itu!" tanya marah Wiliam.
"Nyonya masih muntah,Tuan" jawab bodyguard yang tadi dengar suara muntahan dari luar toilet wanita.
"Kalian tunggu dia" hardik pria dingin enggan menunggu.
Melani tersiksa mengeluarkan magma perut berisi cacahan makanan. Aroma sewaktu akan dimakan begitu harum lezat, saat dimuntahkan begitu kecut pahit bau menjijikkan.
Kelamaan memuntahkan semua cacahan,buat Melani lemas pucat,mata berair.
"Hikss...Hikss... Aku di siksa. Akan ku lapor ke Komnas HAM perlindungan wanita dan anak-anak" sesenggukan mengusap air mata, sambil bersihkan mulut.
"Nyonya,anda sudah siap?" tanya bodyguard dari luar toilet.
"Sudah" lemasnya jawab, membuka pintu.
Jalan saja jadi lemas, sisa muntahan jijik masih terasa di kerongkongan.
__ADS_1
Manager yang sedari tadi sengaja menunggu kesempatan datang, segera menampung tubuh wanita tamu VIP restoran ini.
"Anda baik-baik saja kan, Nona?" tanya peduli ramah manager, dengan senyum tebar pesona. Sambil menahan tubuh kecil Melani berjalan lemas.
"Ya aku baik-baik saja.Terima kasih" balas Melani, berusaha berdiri tegak kembali tanpa bantuan.
"Maaf. Tolong lepaskan" seorang bodyguard menepis tangan manager yang tidak lepas.
Coba saja yang sedang nunggu di dalam mobil lihat tingkah manager, pasti sudah di pecat sebagai hukuman peringatan. Hukuman paling berat, tangan yang telah menyentuh akan dihajar sampai lumpuh.
Tentu Melani juga tidak ingin melibatkan kesialannya pada orang lain. Niat baik yang tulus hanya akan berujung penyiksaan.
"Aku bisa jalan sendiri. Terima kasih atas bantuannya tadi" ucap Melani menunduk.
"Tidak apa-apa" jawab manager.
Melani lanjut jalan, tanpa ada bodyguard yang berani menyentuh sehelai rambut wanita majikan tanpa perintah.
Melihat wajah dingin seram ngeri pria yang duduk dibelakang kursi kemudi, hati Melani jadi penuh kewaspadaan level 99.
"Mati langsung kalau begini" gumam pelan Melani mau duduk dibelakang.
"Cepat masuk!. Waktu saya sudah terbuang banyak" hardik pria dingin berlipat tangan.
Tidak perlu untuk kedua kalinya dia dibentak, dengan amat terpaksa dia meletakkan bokong untuk duduk sampai nempel pintu.
Supir mengarahkan mobil menuju kantor perusahaan majikan, kemudian mengantar wanita yang di dengar punya hubungan khusus ke mansion.
"Saya ini sudah kerja belasan tahun ikut Tuan. Tapi jarang ngantar. Harap maklum,Tuan lebih banyak tugas di luar negeri dari pada di sini" jawab supir.
Bisa dipahami mengapa semua bawahan yang kerja di Indonesia bisa bekerja dengan lama. Karena kurangnya penindasan dan perlakuan kejam terhadap mereka semua.
"Andai saja dia juga menetap di luar angkasa dan aku di sini. Mungkin saja aku bisa tahan sampai perjanjian kontrak selesai" keluh batin Melani, berharap dapat mukjizat tiba-tiba.
Sesampainya Melani di mansion,dia langsung menggosok gigi dan berkumur pakai mouthwash anti septik.
Aroma menjijikkan yang nempel di tenggorokan pun bersih, setelah beberapa kali kumur anti septik rasa cooling mints.
"Ini termasuk kasus KDRT, kalau ku lapor, pasti hanya masuk penjara beberapa hari saja. Kan dengan pengaruh dan kekuasaan, dia bakal bebas cepat" mondar mandir menetralkan pencernaan.
Mulai enakkan pencernaan, Melani kembali lanjut pekerjaan. Sebagai mantan CEO tentu hal mudah untuk memilah setiap laporan.
"Sudah hampir malam, waktunya mandi terus tidur" merentangkan tangan lelah memeriksa laporan.
Saat Melani sedang memanjakan diri yang capek di bawah guyuran air shower deras,dia tidak dengar ketukan pintu utama.
Orang yang berdiri mengetuk pintu cukup lama, mulai khawatir keadaan orang di dalam. Dengan kunci duplikat setelah dengar situasi rumah dari luar oleh bodyguard, pria dingin langsung masuk mencari istrinya.
Lampu ruangan yang remang-remang, dan begitu pula keadaan rumah yang rapi menambah kekhawatiran dia.
__ADS_1
Pintu kamar pun di buka ,di sana juga tidak tampak batang hidung orang yang di cari. Mendengar suara rintikan air shower monoton dari dalam kamar mandi,langkah kakinya makin cepat.
"Jangan-jangan dia pingsan lagi" khawatir pria dingin.
Cekrekkk....
Melani terkejut,pintu kamar mandi di buka tiba-tiba tanpa ketukkan atau pun panggilan.
Begitu juga pria dingin yang tertegun melihat pemandangan segar .
"Keluar!!" jerit malu marah Melani, menutup asal tubuh basah kuyup tanpa sehelai benang, pakai tangan yang ada.
Pria dingin segera keluar menutup pintu. Selalu ada kata pertama bagi seorang Wiliam Lee untuk melakukan sesuatu.
Untuk pertama kali dia lihat pemandangan yang tidak mengundangnya untuk lihat. Pertama kalinya juga merasa malu telah melihat secara sepintas.
"Ini salah dia. Mengapa tidak bisa buat orang tenang" gusar Wiliam, longgarkan ikatan dasi dan tali pinggang.
Sehabis mandi, dengan pakaian piyama istrinya pun keluar.
"Apa anda tidak bisa ketuk pintu!. Atau memang anda punya niat buruk padaku!" marah Melani.
"Saya sudah ketuk pintu,tapi sepertinya kamu yang sengaja menggoda pria seperti saya,hum!" balas ketus Wiliam, biar tidak ketahuan rasa malunya.
"Oh ya!. Anda pikir aku suka sama Om Om seperti anda.Ckck... Jangan harap!!" ketus Melani tidak ingin di anggap wanita rendahan.
"Kamu juga jangan harap saya suka sama anak ingusan macam kamu!. Di luar sana, jauh lebih banyak wanita yang lebih cantik dan pintar dari kamu" balas angkuh pria dingin, mendorong jidat istri sampai nempel tubuh terpojok sudut kamar.
"Bagus!!. Kalau begitu sana keluar cari mereka" jawab lantangnya, tanpa sadar mengusir kasar pemilik rumah.
"Kamu berani usir saya,hum!!. Lupa ini rumah siapa?" marah pria dingin mencengkeram kasar dagu istri.
Habislah Melani, meski tau siapa Wiliam dan bagaimana sepak terjangnya, kalau sudah tersulut api semua jadi urusan belakangan.
Melani kembali tersadar dengan ego terkontrol, kadang dia terasa jadi wonder woman bisa melawan musuhnya, namun begitu sadar sesadar- sadarnya nyali kembali ciut.
Pria dingin pun memberi hukuman akan kelancangan istrinya.
"Kamu cepat masak makan malam,tapi tidak boleh ikut makan" hardik Wiliam, melototi istrinya.
Melani pun ngangguk terima hukuman dengan berat hati.
.
...****************...
.
Terima kasih atas dukungannya.
__ADS_1
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.