
Bab 59
.
Mentari menyapa benua belahan Amerika lebih cepat dari pada benua Asia. Warga yang berdiam di benua itu sudah mulai rutinitas jalani kegiatan keseharian mereka.
Setiap jejak langkah penuh semangat menyeruak, menyambung ke pemimpi yang baru terbangun.
"Semalat pagi, Tuan" sapa deretan pegawai,sibuk berjalan melakukan tugas pagi mereka (B.Inggris).
"Pagi" balas Wiliam berjalan diikuti Melani(B.Inggris).
Beberapa pegawai sudah mengenal orang yang ngikut CEO mereka. Tak lupa mereka saling bertegur sapa atau sekilas senyum tipis.
"Untung-untung, mereka tidak mikir aneh" ucap batin Melani sambil jalan balas sapaan dan senyum.
Dugghhh....
Kepala Melani terbentur benda yang tiba-tiba berhenti tanpa mendapat aba-aba sebelumnya.
"Kalau jalan pake mata" ucap dingin orang tertabrak.
Ya, siapa lagi yang punya suara khas tersebut begitu dingin setelah Ronald dan asisten baru George.
Tidak berani menyahut panjang pada pria itu, tangan Melani hanya mengepal erat dan bibir merat merot ngomel dalam batin.
"Sabar, sabar. Habis sabar mati kena stroke" Melani mengelus dada, mengatur nafas penuh kesal.
Ting....
Pintu lif terbuka,dan Wiliam keluar disusul Melani yang wajib ikut dari belakang.
Sekretaris yang sedang menyambut dengan segudang laporan penuh jadwal,pun senyum pada Melani.
"Kamu ikut dia meeting" perintah Wiliam pada Melani yang berdiri mematung agak jauh.
"Aku" tunjuk hidung sendiri.
"Kamu meeting dengannya.Jika proyek ini gagal,kalian akan saya keluarkan" ancam tegas Wiliam pada sekretaris(B.Inggris).
"Baik Tuan" jawab sekretaris, keluar(B.Inggris).
"Sana ikut dia" hardik Wiliam pada Melani.
__ADS_1
"Ya,ya." berbalik, ikuti sekretaris keluar.
Dari pada ngikutin Wiliam,saat ada pilihan lain mengapa tidak diikuti. Lagian jika gagal,juga tidak berpengaruh pada posisinya terpaksa ngikut kantor.
"Nama kamu Melani ,kan?.Kamu yang pernah gantikan saya beberapa hari selama di liburkan?" tanya sekretaris sambil jalan nuruni anak tangga(B.Inggris).
"Iya.Nama anda siapa?" berkenalan(B.Inggris) .
"Nama saya Betty" berhenti dan berkenalan formal (B.Inggris).
"Senang berkenalan dengan anda" Melani bersalaman(B.Inggris).
"Senang juga kenal dirimu. Apa kamu mulai bekerja hari ini, di sini ?" tanya sekretaris lanjut nuruni anak tangga(B.Inggris).
"Oh tidak. Cuma dapat tugas dadakan" Melani sulit mengatakan penolakan itu yang berujung terpaksa(B.Inggris).
"Apa kamu mau ganti pakaian dulu?" tanya sekretaris memperhatikan pakaian yang tidak cocok dengan pertemuan formal(B.Inggris).
"Emmm.... Boleh.Tapi saya tidak bawa baju ganti" merasa dipermalukan Wiliam secara tidak langsung(B.Inggris).
"Gimana ya!. Aha!!, saya bisa pinjamkan blazer saya. Sepertinya ukuran kita cocok" berfikir dan menemukan ide(B.Inggris).
"Terima kasih banget" jawab Melani terharu(B.Inggris).
Untuk mengambil blazer tersebut, berarti Betty harus kembali ke ruang kerja tanpa boleh menaiki lift. Dan tentu saja waktu juga terbuang lumayan.
"Kamu kenapa balik?" tanya dingin Wiliam berlipat tangan(B.Inggris).
"Saya mau ambil blazer pinjamkan Melani" sahut kaku sekretaris(B.Inggris).
"Untuk apa?" (B.Inggris).
"Pakaian yang dikenakan kurang formal" jelas sekretaris(B.Inggris).
"Saya tidak pernah menilai pekerjaan kalian dari penampilan,tapi IQ" ucap dingin Wiliam, nunjuk keningnya(B.Inggris) .
Memang kalau orang kaya itu ngomong sangat mudah,tapi sulit untuk praktek nyatanya. Sebagian pemilik perusahaan atau wiraswasta menengah,jika sedang menerima pegawai baru atau sedang rapat ,yang diperhatikan terlebih dahulu itu yaitu penampilan,bukan IQ seseorang.
Nah, pasti banyak dari kita mengalami hal tersebut, terutama kita yang belum punya pengalaman kerja sama sekali .Jadi sesusah apapun kita,mesti menjaga penampilan agar lebih rapi saat yang tepat.
Sekretaris tidak dapat lagi membantah apa yang keluar dari mulut CEO tampan. Dengan langkah cepat, sekretaris kembali menuruni anak tangga, dimana Melani sedang menunggu dirinya.
"Maaf,saya ternyata lupa" dalih sekretaris(B.Inggris).
__ADS_1
"Tidak apa. Ayo kita berangkat" Melani menarik tangan sekretaris tanpa beban curiga (B.Inggris).
Sampai juga kedua wanita pada tempat meeting diadakan. Dengan percaya diri Melani masuk ruang meeting dan ikut duduk disamping sekretaris.
Semua yang ikut dalam rapat telah berkumpul, kini saatnya tiap-tiap perusahaan mempresentasikan visi misi kualitas sampai kuantitas dari topik meeting.
Perusahaan 'L' yang dapat giliran ketiga,harus menunggu cukup lama sampai giliran tersebut tiba. Sambil menunggu,Melani mendengar setiap presentasi dengan seksama,dan mempertimbangkan dengan presentasi milik perusahaan Wiliam.
"Ahh ,ngapain pula aku harus memperjuangkan tender ini.Lagian bukan tender milik aku jika menang.Aku juga gak dapat untung" debat batin Melani antara ingin mengklarifikasi beberapa bagian yang kurang sempurna.
"Sekarang,saya persilahkan perwakilan Mr Wiliam untuk presentasi" ucap pria muda yang sedang memilih visi misi mana lebih baik (B.Inggris).
Sekretaris berdiri dan mulai mempresentasikan visi misi perusahaan secara terperinci,menurut data yang telah terkoreksi sebelum bertempur. Dengan sikap monoton yang terpaku pada laporan, hasil yang seharusnya baik jadi kurang menarik tersampaikan.
"Huff... Anggap aku berbuat amal deh. Kalau tidak mikir dia bakal dipecat, aku mah ogah" oceh batin Melani menyikut paha sekretaris,agar duduk.
Sekretaris melirik Melani, namun tidak mengerti bahasa isyarat itu.
"Maaf,saya juga perwakilan Mr Wiliam.Saya ingin melengkapi yang tadi telah di uraikan Miss Betty" Melani angkat tangan minta izin terlebih dahulu(B.Inggris).
"Baik, silahkan" pria muda mempersilahkan(B.Inggris).
Melani melanjutkan apa yang telah di uraikan sekretaris secara monoton, dengan caranya setiap menghadapi meeting di masa mendatang yang lebih santai ,namun punya ciri kharismatik seorang pemimpin. Hanya saja,nasib saat kembali ke saat ini(masa lalu) merubah dirinya,harus tunduk pada ketentuan Wiliam yang mengoposisi perusahaannya sebelum jatuh bangkrut.
Pria muda mendengar dengan raut wajah takjub, setiap perkataan Melani yang mengeluarkan aura tertentu, seakan aura tersebut menarik pikat .
"Demikian visi misi perusahaan ini" ucap Melani akhiri presentasinya (B.Inggris).
Pria muda mengangguk dan senyum puas,dan mempersilahkan kandidat lain untuk presentasi sebelum menjatuhkan pilihan.
Pertempuran yang tidak menggunakan senjata atau adu kekuatan fisik tersebut, cukup menguras energi serta otak setiap orang, hanya untuk bisa menjadi 'The Winner'.
Selang dua jam setelah rehat sejenak buang ketegangan selama meeting, semua berkumpul untuk mendengarkan pihak perusahaan mana yang jadi 'The Winner' akan tender besar.
Jantung tiap perwakilan berdebar cemas menunggu hasil keputusan. Beda dengan Melani yang duduk tenang tanpa beban.
(Ya iyalah,mana ada beban. Orang tidak ada sangkut pautnya meeting tender kali ini dengan perusahaan miliknya).
.
...****************...
.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.