Change Destiny

Change Destiny
Bab 56 Benda keramat


__ADS_3

Bab 56


.


Biasanya William selalu digoda para wanita dengan tingkah genit mereka. Namun kali ini tingkah Melani seperti anak kecil membuat dirinya lebih nyaman. Mungkin dikarenakan sifat jiwa kebapakannya sebagai orang tua tunggal.


"Makanya jangan nakal. Kalau nakal ya begini" omel Wiliam, seakan menasehati Josh saat terluka.


Supir yang mendengar omelan Wiliam ingin tertawa geli, namun tertahan karena wajah majikan yang begitu dingin sedang menatap ke arah spion kaca depan.


Setiba di rumah, Melani cemberut mewek masuk kamar. Bukan disemangati malah harus mendengar ocehan Wiliam.


"Merajuk kan. Sudah sama tingkah dia dengan Josh" Wiliam menggeleng kepala lihat Melani masuk dengan tingkah merajuk.


Tutt.... Tut......


Ponsel Wiliam berdering, panggilan dari orang yang ada di Indonesia mencari dirinya.


"Halo,Bi" sapa Wiliam menaiki anak tangga.


"Halo,Wil. Wil,kamu tau Melani kemana tidak?.Dari tadi Josh menelponya tadi tidak di jawab" cemas Bibi Minah bertanya.


"Oh,kami baru pulang dari bazar amal" jawab sambil buka pintu kamar.


"Owalah .... Pantas"


"Josh menyusahkan Bibi ,nggak?" melepaskan dasi dan jas.


"Tidak. Cuma sering tanya kapan Melani pulang ke sini" sahut ibu tua.


"Bulan depan, setelah urusan di sini selesai" membuka kemeja dan masuk kamar mandi.


"Oh begitu.Terus sudah ada perkembangan akan penyakitnya?" basa basi.


"Mmm..." dehemnya, sambil buka air isi buthup.


"Hubungan kalian sudah sampai mana?. Sudah ada tanda untuk kasih Josh teman main ,belum ?" sambung nenek dengan suara cempreng.


"Saya mau mandi dulu" jawab dingin Wiliam mematikan percakapan lindur .


"Wil... William..." panggil kedua wanita tua, tidak terima panggilan diputus.


"Dasar Wiliam.Kalau bahas ini selalu saja kabur" ibu tua bergeleng kepala.


"Sampai kapan lah, baru bisa dapat cicit darinya" sambung keluh nenek menahan dagu dengan tangan.


Kedua wanita mengangguk satu frekuensi sama. Mereka berharap Wiliam bisa lebih hangat pada wanita, terutama yang sudah jadi istri dan diakui.


.


Wiliam yang sedang berendam air dingin terbayang wajah gemas ngambek Melani.


"Andai punya anak, pasti anak itu akan lucu" Wiliam berandai-andai bayangkan wajah anak Melani.


Arrrhhhh....Hushh...Hushh...


Mengusap kasar wajah berandai-andainya. Dan segera selesaikan mandi untuk makan malam.


Dengan kaos karet putih ketat menonjolkan otot keras bagian lengan dan celana ponggol katun,dia menuju ruang makan.


Di lihat dari anak tangga teratas, sudah ada seseorang sedang duduk menunggu dirinya makan malam bersama.


"Tumben, absen duluan" canda Wiliam, menggeser kursi.

__ADS_1


Melani tidak menyahut sindiran Wiliam padanya. Tangannya langsung ambil irus nasi mengambil nasi untuk pemilik rumah dan dia.


"Muka kamu tidak usah ditekuk lagi.Yang ada tambah jelek" ujar Wiliam, mengambil lauk.


Mata Melani melotot lebar, sudah disindir kini dihina.


"Maksud Tuan apa?" Melani bertanya dengan marah tertahan,dan tangan melipat di atas meja.


"Kalau kamu begitu ,mana ada pria yang mau" bertatap.


"Hohh... Jika masalah itu ,Tuan tidak perlu khawatir. Aku jamin tidak akan menyusahkan Tuan" jutek jawab Melani tidak terima hinaan.


"Baguslah. Asal ingat,selama status hitam di atas putih,kamu perlu menjaga nama baik saya" berlanjut ambil makanan.


Dongkol banget hati Melani. Rasanya sudah cukup makan malam dengan sindiran dan hinaan.


"Aku permisi" beranjak berdiri.


"Duduk" hardik Wiliam.


"Aku sudah kenyang" sahut Melani hilang kesabaran.


"Saya bilang duduk" hardik Wiliam dengan suara melengking.


Tetapi Melani juga kekeh tidak ingin duduk kembali ,jika hanya untuk dengar sindiran dan hinaan.


"Jika tidak mau duduk, tetap berdiri saja" Wiliam,membuang muka.


Wiliam sengaja memperlambat makan karena marah. Dia juga ingin memberi hukuman pada istri kecilnya.


Tiga puluh menit Wiliam baru selesai makan. Kaki Melani yang sedari tadi berdiri sudah kesemutan mati rasa, karena tidak boleh bergerak.


"Sekarang ikut saya ke ruang kerja" titah Wiliam tanpa perhatikan Melani .


Baru saja menggeser kursi, dan jalan dua langkah,ada suara benda berat jatuh di belakangnya.


"Hikss....Hikss..... Papa" tanggis Melani tengkurap,tangan satu meraih kursi.


"Ini kalau tidak makan malam" Wiliam berdiri tepat di hadapannya,tangan berkacak pinggang.


Namun tangan Wiliam mengulur membantu istri kecilnya berdiri.


"Aww..... Jangan di tarik" meringis kesakitan.


"Ckck....Sudah jatuh masih sombong" menyimpan tangan di saku celana.


"Kalau ,tidak karena Tuan,kaki aku tidak, kesemutan" sesenggukan meringis.


"Ohh... Kesemutan.Kasihan" timbul ide untuk kasih hukuman tepat.


Wiliam jongkok mensejajarkan jarak terpaut jauh mereka. Lalu mengendong langsung tanpa izin.


Aaaww...


Makin terasa sakit ngilu di kaki Melani, dia meremas kencang pundak kekar, biar tau rasa sakit.


"Kalau kamu berani cengkeraman lebih keras,saya akan lempar kamu turun" ancam Wiliam mengendong naiki anak tangga.


Terpaksa Melani menahan rasa sakit, dari pada jatuh dari anak tangga. Iya kalau meninggal. Nah, kalau hidup kagak mati pun kagak ,alias cacat seumur hidup, maka sia-sia sudah kembali.


"Buka pintunya" perintah Wiliam masih gendong ala bridal style.


Tangan Melani membuka handle pintu ruang kerja, tanpa tau maksud Wiliam.

__ADS_1


Diletakkan tubuh istri kecilnya di sofa panjang dan lebar.


Pikiran negatif thinking menghantui Melani. Ditambah tatapan Wiliam yang begitu buas ingin menerkam dirinya.


"Apa yang mau Tuan lakukan?" Melani menggeser duduk, diikuti Wiliam bergeser.


"Kamu akan segera tau" menangkap kedua kaki mulus putih itu.


"Jangan!!. Atau aku akan teriak" menarik kaki sekuatnya.


"Silahkan.Biar semua dengar" tersenyum licik, memajukan wajahnya.


"Ku mohon jangan" Melani menutupi wajah pakai tapak tangan.


Jika saja Melani melihat expresi wajah Wiliam, mungkin akan jadi kesal.


"Jangan takut. Ini tidak akan lama dan sakit" Wiliam menyeringai.


"Nggakkk" teriak Melani.


Merasa ada celah dan kaki kesemutan berkurang,Melani menyikut ************ paha Wiliam dengan lututnya.


Boomm , sontak mata Wiliam melotot pecah air mata sakit, benda keramat keturunan ditendang kasar.


"Melani!!" suara Wiliam menggelegar, tangan satunya mencengkeram dagu Melani, satunya lagi pegang benda penerus keturunan.


Mata Melani juga berkaca-kaca ingin bebas dengan posisi tertindih.


Dia tidak ingin harta yang selama ini di jaga baik, hilang oleh orang yang tidak diharapkan.


"Le-pas" ucap Melani ,dagu dicengkeram.


"Tidak!" masih sakit bagian benda keramat.


Tokk....Tok....


"Ada apa?" jawab marah Wiliam nahan sakit.


"Ada tamu" jawab ART gemuk.


"Suruh pulang" menatap lekat mata Melani.


"Tapi,Tuan...Kata Nona itu,..." ucap ART gemuk terputus.


"Beb,aku datang" ucap centil seorang wanita bule berpakaian kurang benang bagian baju (B.Inggris).


"Get out!!" bentak Wiliam hilang mood,hanya ingin membalas perbuatan istri kecilnya.


"Okey.Telepon aku balik nanti ya,Beb" jawab wanita bule (B.Inggris).


Niat awal Wiliam ingin kasih hukuman wajar,berubah haluan.


.


*Hayoo.... berubah jadi apa haluan Wiliam?.


Semoga tidak yang ngadi-ngadi, buat Melani trauma seumur hidup*.


...****************...


.


Terima kasih atas dukungannya.

__ADS_1


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.


__ADS_2