Change Destiny

Change Destiny
91 black card unlimited


__ADS_3

Bab 91


.


Usai menurunkan Wiliam di gedung besar, supir mengantar Melani ke Mall terlengkap di kota itu. Dari souvernir tradisional langka sampai unik bisa ditemukan.


Kaki Melani melangkah lewati setiap toko di dalamnya, hingga menemukan toko cocok untuk berbelanja.


"Kayaknya di sini" gumam Melani lihat kaca etalase berjejer barang souvernir.


Kakinya melangkah masuk ke toko, dilihat benda-benda lucu dan unik yang seakan memanggil dirinya untuk dibeli.


"Wahh.... Lucu-lucunya" gemas lihat banyak boneka terbuat dari keramik.


Salah satu hobi wanita memang shopping, jadi tidak disia-siakan waktu luang yang memang sedang bertugas belanja.


"It's shopping time" mulai memilih souvernir yang ditugaskan, lalu memilih beberapa benda yang ia inginkan.


Sinar wajah terukir bahagia, setelah beberapa bulan hidup bagai terpidana dalam jeruji emas.


Sudah lebih dari 4 jam dia berbelanja, setiap toko souvernir di masukin untuk mencari benda sesuai daftar permintaan.


Apalagi dikasih pegang kartu black kard, maka semakin bebas berbelanja semua produk tanpa perlu menawar, kecuali produk keinginannya.


Jam sudah menunjukkan pukul satu siang, perut yang sadar untuk diisi mencari resto yang ada.


Sambil duduk menikmati menu pesanan, dia juga ingin berburu banyak belanjaan, aji mumpung pulang dengan pesawat pribadi, jadi tidak perlu bayar biaya tambahan bagasi atau cargo.


"Siap ini aku ke supermarket saja. Beli makanan untuk semua" mempercepat makan,biar bisa banyak waktu shopping.


Waktu shopping di mulai kembali, Melani menuju supermarket. Disana dia melihat ada anggur merah usia fregmentasi puluhan tahun. Ingin rasanya membeli untuk dijadikan souvernir untuk sang Papa, tanpa cicip tester.


Tidak lupa membeli beberapa kudapan yang tidak ditemukan di Indonesia, untuk si Mbok dan pelayanan rumah besar Wiliam.


Kagak terasa ia telah mengelilingi supermarket hampir 2 jam, saatnya ia membayar dan lanjut shopping.


Melewati sebuah toko beretalase salah satu kegemaran wanita,dia juga masuk.


Aneka barang branded yang memang harus dibeli di negeri Uncle Sam. Dari sepatu sampai kaca mata bermerek.


"Aku belikan Mama tas sajalah" ujar Melani dengan kedua tangan penuh paper bag berisi.


Dia milihkan sebuah handbag merek Gucci keluaran terbaru berwarna hitam kilat, lalu membayar dengan kartu debit miliknya setelah melakukan penawaran wajar.


Setiap transaksi yang tidak dalam daftar tertulis akan ia pisahkan biayanya, karena itu bukan merupakan hak untuk diambil.


Shopping pun selesai setelah kedua tangan penuh paper bag, selain trolly berisi barang berat.


"Haaa...OMG!!. Sudah sore" berjalan cepat lihat jam tangan menunjukkan pukul 4.15. Dimana sudah waktunya supir menjemput big bos.


Untuk berjalan menuju parkiran saja sudah membuang waktu 6 menit, belum lagi memasukkan semua barang ke dalam bagasi. Lebih kurang sepuluh menit waktu terbuang cepat.


"Pak, kita cari jalan pintas saja" saran Melani cepat masuk mobil, setelah asal letakkan barang belanjaan.


"Baik" memasang sabuk pengaman.

__ADS_1


Dengan kecepatan sedang sampai cepat, supir menguasai jalanan sepi penggunaml. Karena ia juga tidak ingin dapat amukan big bos, jika ketahuan terlambat menjemput.


Mobil tiba tepat waktu di depan pintu gedung besar,dan orang yang dijemput juga sedang berjalan keluar.


Supir keluar menyambut dan membuka pintu.


"Silahkan,Tuan" ucap supir membuka pintu.


Mata Wiliam menatap gadis yang ada dalam mobil, mengapa berbaik hati ikut datang menjemput dirinya.


Ternyata eh ternyata.... Si istri memang bukan sengaja menjemput, mungkin sedari tadi lupa pulang shopping , dengan bukti barang belanjaan dipangku.


"Kamu itu kalau punya ponsel dipakai, bukan untuk pajangan" ketus Wiliam, sudah coba beberapa kali telpon tapi dalam keadaan luar jangkauan.


"Aku lupa bawa yang itu" menunjukkan ponsel mono ringtone.


"Ponsel macam ini pun masih kamu pakai?. Buat malu saja" mengusap kasar wajah.


"Lebih praktis" jawab santai,sambil keluarkan dompet untuk mengembalikan kartu black card.


"Ini Tuan,kartu dan struk belanja" menyerahkan 2 poin penting.


Tidak peduli berapa yang telah dikeluarkan oleh istrinya itu dengan kartu black card unlimited miliknya. Kartu dan struk belanjaan itu langsung dimasukkan dalam tas kerja. Hanya saja, mengapa daftar list yang di tulisnya tadi pagi, sampai memenuhi bagian belakang mobil.


.


Supir membawa masuk satu persatu paper bag sampai bungkusan lain.


"Terima kasih,Pak" ucap Melani dengan senyum ramah.


"Sama-sama,Nya" jawab supir meletakkan barang terakhir,lalu keluar.


Semua benda tersisa di letakkan rapi pada rak bufet bawah anak tangga.


.


Esok lusa, sesudah urusan pekerjaan penting di tuntaskan, mereka pun berpulang ke tanah air tercinta, tempat ibu pertiwi membesarkan dengan penuh kasih sayang.


"Tidak ada yang ketinggalan kan?" tanya Wiliam menaiki anak tangga pesawat.


"Tidak ada, Tuan" jawab Melani ngikutin dari belakang.


"Semua urusan sudah kamu kasih tau Geo dan Betty?"


"Sudah"


Entah mengapa hari ini Wiliam terus bertanya hal yang telah diulangi beberapa kali, sampai Melani ingin marah tapi tertahan.


"Kalau kau bukan orang yang sedang menguasai perusahaan kecilku, pasti sudah ku tinggal pergi" omel batin Melani,mata melototi punggung orang di depannya, mulut merat merot ngejek marah.


Dugghhh...


kepala Melani terbentur benda empuk yang berhenti tiba-tiba.


"Kamu kalau jalan pakai mata" sindir Wiliam, ingin lihat wajah expresi istrinya.

__ADS_1


"Baik. Kan Tuan sendiri berhenti tanpa kasih rambu" sahutnya sambil elus kepala.


"Emang jalan raya" memandang expresi lucu istrinya yang nahan amarah.


Naik pitam kekesalan Melani. Seharusnya orang yang berhenti tiba-tiba minta maaf, atau setidaknya jangan balik menuding.


Tangan Wiliam mengelus kepala yang dielus istrinya itu. Perasaan aneh juga semilir menyenggol hati kecil istrinya. Wajah cantik itu pelan-pelan merona.


"Yang ini sakit?" lembut bertanya,di jawab dengan anggukan kepala istri.


Bisa berabe dunia nyata jika Wiliam Lee bertutur kata lembut pada seorang gadis eh wanita, maklum belum dicicip jadi masih setengah gadis muda.


Bakal banyak wanita di luar patah hati,dan mendramatisir biar big bos tampan juga bertutur kata demikian pada mereka.


Tapi untungnya hanya Melani seorang diri mendengar, dan dia sendiri coba tidak tergombal mudah.


"Bagaimana jika kita mampir ke kota C sebelum pulang?" ajak lembut Wiliam, mengandeng tangan istrinya.


"Kenapa?. Jika boleh,aku pulang saja" jawab Melani.


"Nanti kamu juga akan tau, asal ikut" jawab dengan bibir tersungging.


"Emmm...Tuan" panggil Melani risih dan malu, tangannya masih digandeng. Jangan sampai ada rumor antara mereka, yang buat imagenya hancur.


"Ada apa?" terus berjalan.


"Tanganku" menarik lepas.


"Kenapa?. Apa saya tidak boleh pegang tangan wanita,hum.?" tetap berjalan dan gandeng menuju kabin.


"Boleh. Asal jangan tanganku" jawab jujur, terus menarik akibat diperhatikan pramugari yang natap sinis cemburu.


Wiliam berhenti,dan berbalik. Matanya memandang lekat bola mata hitam pekat yang menggodanya dengan jarak kurang 10 cm.


"Anda mau apa!!" ujar Melani, segera nutup mulut rapat-rapat pakai telapak tangan.


"Menurut kamu" berbisik lalu meniup daun telinga istrinya.


Wajah Melani makin merona, semerah kelopak bunga mawar.


"Ada yang tersipu. Atau memang berharap lebih" goda Wiliam, tangan satu membelai pinggiran wajah cantik.


Aww.... Jerit Wiliam.


.


.


Uhukk.... Apa yang terjadi pada Wiliam?. Mengapa menjerit saat seru-serunya menggoda istri sendiri?.


.


...****************...


.

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya.


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.


__ADS_2