Change Destiny

Change Destiny
96 Milikku tetap milikku


__ADS_3

Bab 96


.


Esok pagi, pintu kamar mereka diketuk pelayan hotel yang mengantar sarapan pagi.


Setangkai bunga rose merah pelambang cinta, melengkapi sarapan itu.


"Ini saya letakkan di sini saja" membiarkan bunga rose berada di samping sarapan milik Melani.


"Mel, masih lama nggak?" mengetuk pintu kamar mandi.


"Sebentar" mengancing kemeja kesusahan karena bekas luka belum sembuh.


Pria dingin duduk menunggu orang di dalam kamar mandi. Tidak ada kata-kata romantis yang ingin dia latih. Jika kata-kata itu keluar dari mulut seorang Wiliam Lee, mungkin dunia telah terbalik, dan penduduk bumi bakal tertawa jingkrak.


"Aku sudah siap" menarik kursi di depan suami.


"Tuh, bunga untuk kamu" ucap dingin Wiliam nunjuk bunga di samping sarapan Melani.


"Untuk aku?. Dalam rangka apa?" tanya bingung.


"Kamu cewek kan?. Masa itu saja nggak tau" ketus.


"Ya pasti aku cewek. Tapi aku memang nggak tau. Oh.... Tuan mau minta aku nanam bunga ya?" wajah polos.


"Sudahlah... Makan saja sarapan kamu" capek jelaskan.


Cara pertama membuat hati istri untuk luluh, telah gagal. Tapi masih banyak cara yang tersedia. Biarkan dulu perut mereka terisi.


Melihat istrinya kesulitan pegang sendok dan pisau roti, sebagai suami dirinya mengambil inisiatif alami manusia untuk menyuapi sarapan itu.


"Buka mulut kamu" menyuapi potongan roti sandwich.


"Aa..." membuka mulut.


"Habis ini, balut lagi lukamu. Jangan sampai terinfeksi" nasehat Wiliam, menyuapi secara gantian.


"Baik" jawab susah, makanan belum habis terus ditambah.


Entah mengapa hati Melani tersentuh dengan perhatian jutek Wiliam. Rasa yang tidak pernah ia rasakan dari kehidupan dulu,tapi cukup menghangatkan suasana mereka.


"Cepat kunyah, jangan lihat saya terus" mensejajarkan pandangan.


"Uhukk.. Uhukk" Melani tersedak akibat ketahuan memperhatikan suami tampan hari ini.


(Biasanya kelihatan standar saja di mata Melani 🙃)


"Makanya,kalau makan itu jangan menghayal" memberikan minum.


"Siapa yang ngayal. Tuan saja yang kepedean akut" meletakkan gelas yang habis diteguk.


"Oh ya...!. Atau memang kamu juga mengagumi saya diam-diam seperti wanita lain" menantang pandangan Melani.


"Aku..!!. Impossible" menunjuk hidung sendiri, menepis perkataan Wiliam.


"Mel, saya akan segera buat kamu mencintai saya, dan tidak bisa hidup tanpa saya" janjinya dalam batin dengan kepercayaan tinggi.

__ADS_1


"Idihh, dia bilang aku suka sama Om Om macam dia. Amit-amit jabang bayi tujuh turunan. Nggak nikah sama dia hidupku jauh lebih bahagia,malah nikah sama dia jadi sial melulu" rutuk Melani, sambil ngetuk dengkul di bawah meja.


Acara sarapan dan mengobati luka sudah kelar, dengan keadaan Melani terluka tidak memungkinkan dirinya ikut Wiliam memantau keadaan luar.


"Gini lebih enak. Bisa duduk nyantai nunggu makan siang dan malam" berjemur di balkon kamar.


Mata melihat sekeliling kolam renang yang tetap dipenuhi wisatawan dari atas balkon.


Pemandangan yang tidak menggoda, cukup membuat malu sebagai sesama wanita. Wisatawan bule memakai jasa pijat pria untuk membantu mengolesi sunblock bagian belakang tubuh mereka.


"Mana ada pria yang nolak kalau disuruh begitu" gerutu Melani, membayangkan jika Wiliam sedang ada di kolam renang dan diminta bantuan untuk mengolesi sunblock, pasti segera jawaban 'iya'.


"Untung saja aku nggak bisa berenang. Jadi nggak usah pamer tubuh" merinding, bayangkan jika tubuh jadi tontonan publik.


Baju renang yang dipakai wanita bule bukan yang standar normal, melainkan lebih cocok dibilang dalaman. Tali bra tipis kecil, dan juga celana yang bertali satu.


Pria manapun pasti akan silau melihat pemandangan menggoda, dan bisa menghasilkan anak sungai baru dari aliran air liur lelaki buaya darat.🤣🤣


.


Malam tiba, waktu makan malam bersama juga tiba. Sehabis beraktivitas di luar seharian, kita akan pulang untuk berkumpul dengan keluarga dan beristirahat.


"Kamu tadi siang ada makan, kan?. Jangan bilang harap saya pulang untuk suapin" menyunggingkan bibir sinis.


"Ada kok" tidak mau disindir.


"Baguslah. Ini,ayam sudah saya suwir, langsung makan" menyerahkan piring istrinya.


"Terima kasih" meraih piring.


Cukup pakai sendok saja dan makan perlahan, makanan di piringnya habis.


"Tadi sore sudah ku kasih obat kok" menunjukkan perban baru dan bersih.


"Mmm.." ngangguk paham.


"Oh ya Tuan. Tadi Josh telpon. Dia tanya kapan kita pulang"


"Beberapa hari lagi, tunggu luka kamu sembuh total" jawab dingin.


"Kalau begitu, souvernir dari ku keburu expaidate" gumam pelan Melani.


"Tenang saja. Saya sudah minta Ronald membagi untuk semua" sahut Wiliam dengar ucapan pelan.


"Punya aku, juga?" melotot lebar dan diangguk Wiliam.


Oh,No..... !! Seharusnya itu jadi hadiah darinya, jika keadaan begini maka yang terima bakal ngira oleh-oleh itu dari suaminya.


"Bisa nggak lain kali anda minta izin dulu. Jika begini semua salah sangka" marah Melani, ngusap kasar wajah.


"Untuk apa saya minta izin. Milik kamu juga milik saya" pegang tangan Melani.


"Nggak!!. Milik aku tetap punya aku" bentak Melani.


"Kamu pegang ucapan kamu ini. Awas kamu memberikan milik kamu pada orang lain" ngelus pipi mulus istri.


Kian memanas hubungan diantara mereka, semenjak Wiliam ingin buat istrinya jadi miliknya.

__ADS_1


Sudah 4 hari berlalu mereka berada di kota C. Luka telapak tangan Melani pun telah kering sembuh. Sudah waktunya pula mereka untuk pulang ke rumah besar.


Penerbangan yang telah siap lepas landas pun tengah menunggu mereka.


"Sampai rumah,kamu kerjakan tugas ini" menyerahkan lembaran file.


"Ok" ngikut naik anak tangga pesawat.


Beberapa jam kemudian,....


Kehadiran mereka dijemput Ronald dan bodyguard. Dengan laporan yang diterima, Wiliam segera bertolak ke perusahaan bersama sang istri juga.


Sepanjang perjalanan Melani sebagai pendengar mencatat semua berita penting.


"Kamu sudah catat semua poin penting kan?" tegas Wiliam pada istri.


"Sudah Tuan" jawab serius Melani .


Ronald bingung cara interaksi antara sang abang dan Melani, seakan ada jurang besar sebagai pembantas keduanya. Padahal usia pernikahan mereka sudah berbulan-bulan, bukan baru satu,dua bulan saja.


Demi cairkan suasana kaku monoton, Ronald berinisiatif untuk ngajak mereka makan malam di luar.


"Kita makan di rumah saja. Masih banyak yang harus kita bahas" tegas Wiliam ambil keputusan, tidak boleh dibantah oleh siapa pun juga.


Hufff... Ronald menghembuskan nafas berat, dan kembali fokus pada pembahasan mereka.


Sampai juga mereka di perusahaan besar megah. Ronald berjalan mensejajarkan langkahnya dengan sang abang,di ikuti Melani di belakang mereka.


Melihat Melani sudah kembali ke tanah air tercinta,karyawati perusahaan itu jadi kebakaran jenggot. Dipikir mereka, bahwa Melani telah berhenti kerja atau dipecat. Rupa-rupanya masih nempel ngekor sang big bos sampai detik ini.


"Kok bisa sih dia masih ada di muka bumi" cibir kesal staff keuangan pada bagian divisi kreatif.


"Nggak bisa kita biarkan dia untuk unjuk gigi" sahut wanita divisi pemasaran, meras kertas jadi bentuk bola.


Mereka yang saat ini sedang bergibah marah, sedang dalam ancaman terberbahaya. Karena mereka ada yang mengoyak dan meremas kertas yang akan segera dirundingkan bersama.


Apabila sampai ketahuan kertas asli diperlukan demikian,maka siap-siap saja untuk ditendang keluar secara tidak terhormat.


Muka mereka menjadi pucat, ketika sekretaris minta mereka segera masuk ruang rapat.


"Gimana ini" staff keuangan menoleh kiri kanan menunjukkan robekan kertas.


"Kita copy balik saja" saran divisi keuangan.


"Kalian tenang saja. Nih..." muncul sosok dewi penyelamat mereka, menyerahkan kertas copy-an rapi.


"Terima kasih, Bu" ucap serentak bahagia selamat dari tendangan maut big bos.


"Jum,kita masuk" ajak dewi penyelamat dengan senyum menyeringai dan jalan penuh goda.


.


...****************...


.


Terima kasih atas dukungannya.

__ADS_1


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.


__ADS_2