Change Destiny

Change Destiny
103 Mengubah sebutan.


__ADS_3

Bab 103


.


Buruan nafas tersengal-sengal, senjata kramat juga semakin sesak dibuat pemilik.


"Kita lanjutkan setelah tamu bulanan kamu selesai" ucap Wiliam bernafas tersenggal dan sakit.


Sepatah kata tidak keluar dari mulut Melani yang masih terasa kaku, panas, jijik. Bagian intim juga mengalir aliran yang deras akibat pacuan hormon bergejolak.


"Aku benci kamu Wiliam!!. Sampai mati kamu orang paling ku benci" menatap amarah ke suami yang berjalan masuk kamar mereka.


Tidak seharusnya Wiliam merampas kehormatan tanpa seizin darinya, walaupun status mereka sudah jelas secara hukum dan agama.


Senjata kramat yang sesak dalam sarung segitiga pengaman itu pun di keluarkan Wiliam setiba di kamar mandi. Dengan guyuran air shower yang deras, ia mengeluarkan semua isian amunisi yang sudah berlebihan. Kedua tangan mencengkeram erat, kadang juga pelan pada senjata yang berdiri tegang.


"Mel, kamu tunggu saja. Setelah masa bulanan kamu sudah selesai,akan saya lanjutkan hukuman untuk kamu" ucap Wiliam dalam kelelahan usai keluarkan amunisi.


.


Dua hari Wiliam mengacuhkan istrinya agar hasrat tidak menyakiti otaknya, yang selalu memberi respon.


Baik juga keadaan ini bagi Melani yang amat benci suaminya itu.


Dalam dua hari itu Melani melakukan tugasnya sebagai asisten secara normal profesional. Luka di lengan juga tidak terlalu sakit untuk digerakkan.


"Hei Mel. Mana laporan yang sudah kamu usut. Berikan padaku biar aku langsung kasih ke Tuan" bentak ketus Dewi.


"Oh, sudah diserahkan ke sekretaris" jawab datar.


"Kau...!" kesal Dewi menunjuk wajah Melani.


Ketua divisi tim kreatif itu pun keluar dan menutup banting ruang kerja Melani.


"Apa pula salahku. Salah makan obat tuh orang" gumam Melani bergeleng kepala.


Tok...Tok....


Ruang itu kembali diketuk seseorang.


"Masuk" jawab Melani memasukkan data dalam laptop.


"Mel, luka kamu sudah sembuh?" tanya lembut pria tampan kedua di perusahaan sebonafit itu, berjalan mendekati.


"Sudah Tuan. Tapi bekas jahitan masih ada" jawabnya lembut dan sopan, sambil mempersilakan duduk.


"Ini ada salep untuk samarkan luka. Kamu pakai setelah luka benar-benar kering dulu,ya" paman tampan menyerahkan salep dermaterm untuk samarkan bekas luka.


"Terima kasih Tuan. Tidak usah sampai repotkan Tuan segala" sungkan menerima pemberian dari orang itu.


"Jangan bilang begitu. Kita kan sudah jadi bagian keluarga" jawab paman tampan memandang sang mantan.


"Mmm.... Apa ada urusan lainnya yang ingin anda bahas kah, Tuan?" bertanya canggung risih.


"Tidak ada. Tapi kalau bisa, kamu dan Koko hari pulang ke rumah. Josh dan lainnya terus mengkhawatirkan dirimu" ucap paman tampan.

__ADS_1


"Oh. Masalah ini, Tuan seharusnya bertanya langsung pada Tuan Wiliam" jawab datar.


"Wait... Kamu masih manggil Koko, Tuan?" merasa lucu dan aneh.


Melani ngangguk,dan apa salahnya dia memanggil suami status dengan sebutan itu. Lagian masih ada status pekerjaan di luar status lainnya.


"Baiklah,asal kamu nyaman dengan sebutan itu. Tapi kamu jangan panggil saya Tuan juga kalau di luar kantor" ucap paman tampan.


"Lalu?"


"Karena status kamu sebagai istri Koko, kamu bisa panggil nama saya saja" saran paman tampan.


"Nama?. Itu tidak sopan. Kan jarak umur kita terpaut jauh".


"Tidak apa. Atau mau panggil Bro juga boleh. Biar terlihat tidak beda jauh" ucapnya santai.


"Aku panggil kakak saja. Sama seperti kak Agung" jawab Melani.


"Boleh. Tapi siapa Agung?" penasaran.


"Kak Agung,kan kakak kandungku" mengingatkan, karena sebelumnya belum memperkenalkan secara formal.


"Ya saya ingat. Pas di rumah adakan upacara duka yang salah dia hadir" mengingat pria tampan yang imbangi ketampanan mereka.


"Oh iya. Aku lupa tanya" ucap Melani serius.


"Mau tanya apa?"


"Saat itu kok pada yakin aku telah meninggal?" menopang dagu.


"Oh itu. Awalnya aku memang ingin pulang langsung ke Indonesia, tapi ada yang ingin bertukar tiket pesawat dengan alasan orang itu ada bisnis dadakan di Indonesia" jawab Melani.


Flash back.....


"Nona,bisa tolong aku nggak. Sesama wisatawan asal Indonesia" ucap wanita 30-an.


"Ya apa itu. Asal aku bisa bantu" jawab Melani.


"Ini tiket perjalananku ke Hawaii, bisakah kita bertukar tiket?" menyerahkan tiket.


"Bisa. Tapi kenapa?. Aku juga tidak ingin ada hal menyimpang dikemudian hari" jawab.


"Aku dipaksa menikah dengan orang yang tidak ku cintai, oleh bapak tiriku. Padahal dia tau kalau aku sudah punya kekasih" jawab wanita 30-an sambil nangis.


"Terus ibu dan saudara kamu tidak membela?" merasa ibah.


"Tidak. Mereka percaya dengan keputusan bapak tiri" sesenggukan.


"Baiklah kalau begitu. Aku setuju untuk menukar tiket. Tapi apa kamu yakin kalau bapak tirimu tidak akan menimbulkan masalah dikemudian hari?" meyakinkan barter dan diangguk wanita itu.


Kesepakatan pertukaran pun terjadi. Jadwal penerbangan ke Hawaii yang tinggal 10 menit itu langsung Melani jalani.


Flash on....


Tidak semua alasan sesungguhnya Melani katakan pada iparnya itu. Cukup sebuah alasan masuk akal pebisnis kayak mereka. Mana mungkin pula mereka mengerti perasaan wanita meski diuraikan tujuh hari tujuh malam.

__ADS_1


"Jadi keluarga wanita itu tidak tau kalau dia telah meninggal?" tanya paman tampan.


Seseorang tiba-tiba masuk ke dalam ruang Melani dengan wajah sinis jutek.


Melani yang ingin menjawab pertanyaan itu pun berhenti, dengan mulut terkatup rapat.


"Kamu terlihat santai, Ron" sindir pria dingin, memilih hampiri kedua orang yang tadi di intip dari kaca pembatas ruang kerja.


"Iya Ko. Saya mampir untuk kasih salep" jawab sang adik.


"Oh.Terus bahas apa?" tanya sinis Wiliam, berdiri disamping istri yang tertahan berdiri olehnya.


"Masalah kecelakaan naas beberapa bulan lalu?" kasihan lihat mantan tiba-tiba kaku tak bergeming.


"Kalau begitu lanjutkan. Saya juga ingin tau" menatap sinis Melani, dan duduk di ujung meja kerja istrinya itu.


"Emm...." muka Melani kaku tertekan aura cemburu tak beralasan.


"Lalu keluarga wanita itu gimana, Mel?" tanya paman tampan lupa slogan embel kalau ada Abang.


"Aku juga nggak tau" jawab Melani, lirik jari suami mengetuk meja.


"Tapi yang penting kamu sudah selamat,ya" sahut Ronald harus segera keluar sebelum diusir.


"Iya,kak" jawab Melani dengan senyum tertekan.


Paman tampan keluar dan melambaikan tangan pada sang mantan.


Sedangkan ada mata elang juga yang sedang mengawasi sikap mereka dari tadi.


"Kamu terlihat enjoy bahas masalah dengan Ronald dari pada saya" sindir cemburu Wiliam, mencubit dagu istri.


"Itu tidak seperti yang anda pikirkan" jawab Melani waspada.


"Oh ya?. Kalau begitu coba ulangi apa saja yang tadi kalian bicarakan" mengurung pergerakan istri yang duduk di kursi kerja.


"Ba-baik. Tapi Tuan tolong sedikit jauh" mendorong hati-hati tubuh kekar.


"Tuan?. Kamu tadi panggil Ronald dengan sebutan,Kak. Dan dia bukan suami atau saudara kamu. Saya barulah orang terdekatmu" memajukan wajahnya yang berspasi jarak sisa 1 sentimeter.


Mata Melani tertutup rapat. Bola matanya berlari ke kiri kanan,atas bawah kelopak matanya. Dia tidak sanggup melihat expresi galak Wiliam yang berujung penyiksaan jasmani dan batin.


Cup....


"Mulai detik ini, kamu harus memanggil saya lebih mesra. Jangan sengaja membuat saya cemburu lagi" mengecup kedua kelopak mata indah yang memikat hatinya.


"Harus manggil mesra!!. No way!!" umpat batin Melani tidak percaya dengan gombalan pria yang selalu posesif saat bersamanya.


.


...****************...


.


Terima kasih atas dukungannya.

__ADS_1


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.


__ADS_2