
Bab 19.
.
Wajah ibu suri memerah jengkel pada suami yang cuek akan pernikahan putri mereka, yang kian hari kian mengila pada karir bisnis.
Ibu suri melangkah kesal hampiri tuan Wijaya yang berbaring mulai masuk mimpi.
Dug.. Dug.... Dug...
Kedua tangan ibu suri memukul dada si suami lalu menarik tangan, agar duduk membahas masalah masa depan putri mereka.
"Istriku yang cantik dan baik. Kamu tidak usah cemas sama percintaan tuan putri. Jika sudah waktunya tiba, kita juga akan menikahkan dia" sambil merangkul pinggang, tuan Wijaya menasehati ibu suri berbibir runcing cemangut.
"Ahh.... Koko yang salah. Kenapa kasih hadiah lulus kuliah kok perusahaan " kesal ibu suri, memukul tangan pemeluk pinggang.
"Gimana kalau kita buat putri kecil yang sesuai sama impianmu, hum" goda tuan Wijaya, menciumi telinga ibu suri.
"Gak. Aku mau cucu!!.Bukan nambah anak!!" puncak marah ibu suri meninggi, dan buat tuan Wijaya mesti tidur di kamar lain.
Tuan Wijaya keluar kamar mencari tuan putri Wijaya, ocehan ibu suri kembali di putar pada putrinya yang fokus.
Namanya juga fokus, pikiran Melani hanya pada detail rancangan dan laptop.Hanya jasmani saja yang nemani raja apes bercerita keluh.
"Mel, kamu coba cari pacar. Gak mesti langsung nikah, papa janji" ucap tuan Wijaya,mengangkat dua jari V
Melani mendengar tapi tidak menyimak sama sekali, masuk kanan eh membal balik.Sama persis menuruni karakter sang papa kalau lagi fokus kerja, yang acuh setiap di ajak berkeluh kesah sama ibu suri.
Beginilah rasanya tuan Wijaya di cuekin oleh tuan putri, baru tau gimana rasanya hati istrinya itu jika ia cuekin, setiap kali pingin ngobrol.
"Mel, papa tidur di sini. Kamu tidur sama mama" titah tuan Wijaya naik tempat tidur single size.
Melani ngangguk saja setiap bapaknya nanya. Tapi tidak yakin tau isi apa pertanyaan.
Jam semakin malam, sudah pukul 00.15 dini hari.
Hoammm....
Melani mulai ngantuk setelah semua rancangan edit terkirim dan tidak di komplain. Tidak peduli kasur atau kursi meja lagi, kepala Melani sudah nempel erat di meja kerja.
Kukuruyuk.....
Jam alarm kamar tuan putri berbunyi,pertanda sudah pukul lima subuh.Tuan Wijaya terbangun dengan alarm bernuansa alami itu.
Melani masih tidur terlelap dalam posisi duduk wajah nempel meja kerja.
"Kasihan putri kecilku" tuan Wijaya tidak tega membangunkan putrinya yang masih lelap,tangannya membelai rambut kuncir satu beracakan itu.
__ADS_1
Langkah kakinya pelan-pelan keluar dari kamar tuan putri, agar tidak membangunkan sang putri.
Di dapur, ibu suri sedang menyiapkan sarapan untuk keluarga bersisa tiga orang. Wajahnya yang masih manyun ngambek, tidak menyapa sang suami yang keluar dari kamar pelarian.
"Ada yang ngambek nih" canda tuan Wijaya merangkul pinggang ibu suri dari belakang.
"Hengg!!!.Bela saja sono putri sampean" ketus pedas ucapan ibu suri berbahasa jawa, tangan mencubit lengan melingkarinya.
Cup... Cup....
Dua kecupan melesat di pipi ibu suri manyun. Bukan mereda emosi ibu suri, tapi makin jengkel akibat tuan Wijaya belum sikat gigi dan belum mandi.
"Arrggggg..... Mandi gak!!" bentak kesal ibu suri, memukul tangan tuan Wijaya pakai sendok makan.
"Baik istriku" tuan Wijaya ngalah, tidak lupa menghembuskan nafas pada telapak tangan.
"Tidak bau,kok masih saja marah" tuan Wijaya merasa geli pada sikap ibu suri yang tidak mau dicium saat marahan.
Mengingat wajah putrinya yang lelah, hati tuan Wijaya merasa bangga dan perih.Ingat wajah istrinya, hati pria tua itu ingin tertawa cekikikan.
Sehabis mandi berpakaian rapi, tuan Wijaya kembali menghampiri ibu suri. Harum tubuh yang biasa mengoda tidak lagi mampu meredupkan api emosi penguasa harem itu.
"Sungguh malang nasib putriku, punya mama suka merujak" gerutu pelan tuan Wijaya.
Ternyata ibu suri mendengar gerutuan itu. "Siapa yang merajuk, heng!!" tangan nyonya wijaya mencapit daun telinga pria yang berani bicara di belakangnya.
"Itu tuh,...Sekretaris Melani suka merajuk" dalih asal tuan Wijaya.
"Jangan dong, masa papa ganteng tidurnya gentayangan" goda tuan Wijaya,menoel dagu runcing sipemilik pujaan hati.
Adegan itu terpampang jelas pada mata tuan putri yang keluar rapi menyambut pagi.
"Ehemm.... " Melani berjalan malu menghampiri kedua sejoli tua.
"No milk for you !!" ketus ibu suri yang perang dingin.
Melani nunduk lesu, tidak ada asupan 5 sempurna di pagi hari. Hanya bisa makan roti panggang berselai nuttela kacang.
"Mama gak sayang Melani lagi ya ,pa?" bisik tuan putri, menyobek potongan roti dengan gigi.
"Ho'oh. Katanya mau sayang adik baru" canda bisik tuan Wijaya.
Keduanya tertawa tipis diam-diam dalam pengawasan mata elang ibu suri.
"Sono kalian cari duit. Gak usah banyak sarapan biar lebih cepat jadi kaya" ucap pedas ibu suri bermata elang, menarik piring bapak anak berisi dua potong roti panggang.
"Baik yang mulia" jawab serempak bapak dan anak, lalu berjalan cepat hindari amukan.
__ADS_1
Usai supir mengantar tuan Wijaya ke kantor, supir melanjutkan ke kantor Melani. Di sana tampak berdiri orang tidak asing memakirkan mobil.
"Morning Mel" sapa pria muda menutup pintu mobil.
"Morning to. Ada angin apa buat kamu kemari sepagi ini?" tanya Melani berjalan masuk dalam bangunan kantornya.
"Angin mamiri sepoi-sepoi.Emang aku gak boleh bicara bisnis pagi buta" jawabnya.
"Boleh" Melani mempersilahkan pria muda masuk lift terlebih dahulu.
Wajah cantik elegan anggun berkharismatik di pagi hari, sungguh telah membatukan pandangan pria tampan yang berdiri di belakang.
Melani yang dulu jauh amat berbeda baik penampilan fisik sampai inner beauty yang terpancar keluar.
"Mel, kamu sudah punya pacar belum, sih?" kepo pria muda.
"Belum. Kamu sendiri" basa basi.
"Belum juga. Habis cewek yang ku taksir susah di dapat" memandang lekat Melani yang menyapu wajah dari rambut terurai.
"Oh. Susah move on ya" ucap dinginnya.
"Lebih kurang gitu" lesu.
Ting....
Lift sampai juga di lantai empat, tempat ruang kerja CEO cewek menghabiskan waktu dengan asahan otak dan kreatifitasnya.
"Bel, pesankan susu coklat 1"
"Baik, non" sekretaris.
"Kamu mau minum apa?" tanya Melani.
"Coffe latte saja" jawab pria itu.
"Coffe hitam satu" ucap Melani.
"Loh ,kok coffe hitam sih Mel ?"
"Biar gak diabet " sahut dingin Melani.
Pria itu berkedik bahu, asal bisa buat gadis impian bahagia, apa pun akan dilakukan .
Melani dan pria itu masuk bersama dalam ruang kerja CEO. Dan Melani hanya memberi waktu membahas topik utama dalam waktu satu jam saja, karena sebelumnya tidak buat janji ketemu.
.
__ADS_1
Terimakasih atas dukungannya.
Semoga kita semua selalu sehat sejahtera 🙏