Change Destiny

Change Destiny
Bab 69 Maling


__ADS_3

Bab 69


.


Ku bawa napan berisi bubur beras meras dan semangkuk sup hambar dalam kamar dengan senyum jahat .


"Ini makanlah" ucapku dingin,letakkan di atas meja samping tempat tidurnya.


"Punya kamu?" berusaha duduk.


"Tenang saja. Di dapur masih banyak" berjalan keluar.


"Mel,..." panggilnya.


"Ada apa lagi" berhenti dan berbalik.


"Ganti baju basah kamu dulu, biar tidak masuk angin" titahnya dalam suara ringkih.


"Mmm...." lalu keluar tanpa perlu diatur.


Sambil jalan ke dapur, aku membayangkan wajah Wiliam yang makan masakan tanpa aku kasih penyedap rasa. Pasti dia tidak akan memakan dan langsung minum obat.


"Hehehe.... Rasain. Emang enak aku kerjain. Siapa suruh banyak ngatur hidupku" oceh sindir Melani menarik kursi makan.


Amat tidak enak rasa bubur beras merah, rasanya kesat tidak berlemak. Untung saja sup kentang miliknya punya rasa melengkapi bubur beras merah.


Habis memakan semangkuk sup dan bubur, piring kotor pun dicuci bersih. Ibarat punya kepala harus ada ekor (ada ujungnya pasti ada pangkalan).


Dengan situasi lengah tidak terawasi, Melani kembali mencari celah untuk kabur.


"Emmm..... Yang di dalam sedang K.O, di luar aman terkendali, seharusnya aku bisa lari sekarang" mengetuk dagu pelan.


Dengan pelan-pelan dan celingukan,aku mengogel handle pintu utama.


"Sial!!. Dia menguncinya. Dimana pula dia simpan kunci." menggaruk kepala kesal.


"Kamu mau ngapain,hum?" tiba-tiba suara pemilik keluar dari kamar dengan sempoyongan.


"Emmm.....Anu- itu.Ada suara kucing" dalih Melani memalingkan muka.


"Iyakah?. Nggak coba kabur kan?" mendekati.


"Ya nggak lah. Masa tega tinggalkan Tuan yang sakit" dalih Melani dengan senyum dibuat.


"Cepat ganti baju basah kamu" titahnya.


"Ok" berjalan kesal sewot, momen tepat lewat.


Wiliam benar-benar tidak membiarkan Melani berjalan jauh 5 meter darinya. Sifat protektif dan posesif mulai tampak dalam satu malam. Itu pun belum ia tanyakan, bagaimana istri kecilnya bisa pulang kembali dengan sehat walafiat.


Sore menjelang malam,tubuh Wiliam yang udah jauh mendingan dengan asupan makanan hambar, mengambil ahli dapur untuk memasak makan malam sederhana.

__ADS_1


Sementara itu, Melani yang sedang duduk terus menerus mengeluh dalam kamar.


"Kak Agung kok gak peduli lagi sama aku?.Apa sudah nggak sayang sama adiknya ini?" gerutu Melani, memeluk lutut ditekuk.


Tok...Tok....


"Mel, kita makan dulu" panggil Wiliam membuka pintu kamar mereka.


"Aku kenyang" jawabnya malas.


Kaki Wiliam masuk kamar dan mendekat. Tangannya menempel ukur suhu tubuh Melani.


"Aku nggak sakit" menepis tangan Wiliam.


"Terus" berdiri memandang.


"Aku mau pulang" rengekku menatap.


"Kita makan dulu" sahut Wiliam berbalik keluar kamar.


Malam itu Melani tidak makan malam, lebih rela menahan lapar sampai keinginan terkabul.


Seseorang yang sedang makan sendiri pun membiarkan Melani duduk merengek minta pulang ke rumah orang tuanya.


Sebagai seorang suami ia bertanggung jawab penuh akan keselamatan istrinya. Bukan tidak ingin mengabulkan, akan tetapi tidak ingin membebani istri kecilnya yang kadang labil saat dia sendiri sedang tidak fit.


Sepiring nasi dan sepiring lauk disisihkan Wiliam,mana tau istrinya lapar mencari makanan saat ia tertidur lelap.


Usai makan obat, Wiliam kembali masuk kamar untuk tidur. Karena masih belum ngantuk,dia mengajak Melani yang merengek ngobrol sejenak.


"Kenapa?. Nggak suka aku hidup" ketusku.


"Anggap saja begitu" tandasnya, sudah tau bakal di ketusin.


"Bawa aku pulang dulu,baru aku kasih tau"


"Kalau tidak mau cerita,ya sudah. Lagian kamu juga sudah pulang dengan selamat" berjalan menuju tempat tidur.


Wajah rengekan Melani mengejek Wiliam yang jalan memunggungi.


"Melani!!" Wiliam menoleh tiba-tiba, melihat aksi konyol Melani.


"Apa?" tantang Melani jutek.


Wiliam berjalan balik mendekati Melani yang sudah berani lantang padanya.


"Eh.... Anda mau apa?.Jangan coba-coba dekat,atau aku teriak maling!" ancam Melani ketakutan ,jari nunjuk dan bersiap siaga teriak.


"Coba saja teriak.Bakal tidak ada yang datang" semakin mendekat.


"Tolong.... Tolong....To-....." baru beberapa kali teriak, Wiliam langsung membungkam mulut Melani dengan mulutnya.

__ADS_1


Sungguh kejadian di luar pikiran Melani. Ciuman pertamanya di curi sama pria yang ia tidak sukai. Mana ciuman itu menguasai permainan yang lama ,hingga buat nafas Melani tersenggal dan tubuh membatu.


"Sekarang lanjutkan teriak, kalau saya maling" tantang Wiliam, mengusap bekas permainan singkat pakai jempolnya.


"Huaaa......Papa...." teriak kencang Melani sambil usap bibir dan lidah pakai bawah baju.


Glekk....


Sudah lama Wiliam menahan pemandangan milik Melani ,selama mereka resmi jadi suami istri sebulan lebih. Gundukan bakpao tertutup kain pembungkus, dengan perut rata putih bening.


Hal ini tidak pernah ia rasakan saat berdekatan dengan wanita sexy bahenol, yang terus-menerus menggoda secara frontal namun berujung pada pengeluaran besar.


"Kalau kamu nangis lagi, saya akan memakan kamu" ancamnya membalikkan tubuh, kontrol hasrat yang terbangkit.


"Hikss...Hikss....Akan aku bilang sama Papa,kalau kamu jahatin aku" sesenggukan ngomel andalan ngancam.


Jika saja keadaan Wiliam sedang prima, mungkin Melani sudah jadi santapan pencuci mulut, sampai menu pembuka sarapan subuh.


Wiliam pun menahan hasrat dengan mengacuhkan Melani yang tinggal sesenggukan, di samping jendela kamar.


Malam semakin larut, tanpa pendingin ruangan, udara malam yang semakin dingin pun memasuki kamar mereka. Bunyi nyanyian katak, jangkrik serta burung hantu saling bersahutan.


"Mel, bangun.Tidur di tempat tidur saja" panggil Wiliam mengoyan tangan Melani.


"Awas!!! Jangan dekat" lindur Melani memasang pertahanan dengan tangan terkepal siap ninju.


"Kayanya dia sudah terbiasa saya gendong" mengangkat tubuh Melani ala bridal style.


Di letakkan perlahan tubuh kecil istrinya,lalu diselimuti hingga menutupi dagu.


"Tidurlah,saya tidak akan mengambil sebelum kamu siap" menatap lekat wajah istri yang sudah buat panik.


Lalu Wiliam menutup jendela dan kain gorden, agar udara angin malam tidak membuat mereka masuk angin.


Melihat Melani tertidur dengan risih, Wiliam pun membisikkan kata-kata yang menenangkan. Sama seperti kalau Josh menginginkan sesuatu tapi tidak tercapai.


"Jika kamu nurut, besok saya ajak kamu pulang ke rumah orang tuamu" ucap lembut Wiliam di telinga Melani.


Dalam beberapa menit, Melani tidur dengan tenang. Efek cara nenangkan Josh ternyata berfungsi pada istrinya juga.


Garis guratan senyum terukir di sudut bibir Wiliam, yang merebahkan tubuhnya tepat bersebelahan.


Wiliam pun perlahan menutup mata,menyusul sang istri yang sudah melalang buana dalam mimpi abstrak.


Dia berharap dalam mimpi, mereka bisa bertemu dan berbincang normal tanpa ada tekanan maupun beban.


.


...****************...


.

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya.


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.


__ADS_2