Change Destiny

Change Destiny
153 Jaman koboi


__ADS_3

Bab 153


.


"My head hurts" adu Melani mendrama kolis kondisi sebenarnya. (Kepalaku sakit)


Percaya dong Wiliam pada ucapan sang istri yang memang masih sakit.


"Sorry, I have to go" pamit Wiliam pada 2 pebisnis yang ikut hanyut dalam penuturan Melani.(Maaf, saya harus pergi)


Kedua pebisnis pun izinkan Wiliam pergi, lihat Melani berdiri dalam posisi terhuyung.


"Hehehe... Rasakan, enakkan kalau dicuekin" tawa jahat batin Melani, pura-pura sakit kepala.


Bola mata wanita-wanita itu terbakar api yang membara besar. Perhatian dan sikap yang ditunjukkan Wiliam ke Melani,kian membakar jiwa mereka yang meronta minta ada dalam pelukan pebisnis tampan tersebut.


Kepalan-kepalan tangan seperti ingin menyerang musuh, berusaha untuk menyingkirkan Melani, terus ditepis oleh Melani dengan senyum jahat penuh kemenangan besar.


"I hate sneaky women like her" ujar dongkol wanita bule kemarin malam.(Aku benci wanita licik seperti dia)


Kobaran api dalam mata semakin besar, seiring hati mereka yang terbakar oleh rasa cemburu.


Setelah masuk mobil, Melani menoleh ke belakang jendela kaca mobil. Lihat sekelompok wanita tertolak mentah-mentah sama suaminya.


"Weekkk...Lululu...." ejek Melani, masih sempat balas para pelakor yang menoleh ke dia.


"Begini rasanya bahagia bisa balas dendam" gumam Melani dengan senyum bahagia, dan duduk menyandarkan kepalanya di header jok penumpang.


Tapi sayang, karena terlalu bahagia bisa balas dendam, dirinya lupa kapan suaminya bisa masuk mobil.


Terlihat wajah bahagia yang kaget menyambut Wiliam masuk mobil.


"Apa yang kamu tertawakan,hmm?" tanya dingin Wiliam,menarik pintu mobil.


"Enggak ada. Kan kalau sakit, harus banyak happy biar lekas sembuh" dalih Melani, pegang kepala biar tidak ketahuan telah bohong besar-besaran.


Wiliam kembali percaya, dan mobil yang bawa mereka kembali ke hotel hampir tiba.


Seketika Melani juga ingin balas dendam pada Wiliam, dengan cara main halus.


Benih-benih benci yang terpendam hingga masak jadi dendam, membangkitkan akal jahat yang telah lama bersemanyam dalam lubung hati Melani paling dalam.


"Sekali mendayung, dua,tiga pulau terlampaui" ujar batin Melani dengan simpul bibir jahat dan mata penuh aura kejam.


Tiba juga mereka di hotel. Dengan sikap extra jutek dan sedang merencanakan hal jahat, Melani tinggalkan Wiliam di belakangnya.


"Para pelakor dan play boy, harus aku luruskan. Biar tidak meresahkan jomblo tersakiti, sekarang dan akan nanti" gumam pelan Melani, sambil jalan ke lift, tangan satu meninju tangan satunya lagi yang menangkis.


Sesabar, sebaik, atau sepositifnya orang,tentu kadang akan tertarik oleh medan magnet kutub negatif,di waktu tepat seperti bom otomatis terpasang waktu,menit,detik akan meledak tepat waktu.


.


Esok harinya,..


Mereka pun pulang ke tanah air tercinta. Misi balas dendam di lancarkan segitu sampai rumah.


Aduannya sakit ke Josh adalah misi awal untuk cari sekutu terkuat.


"Mami tidur saja di kamar Josh. Nanti kalau Daddy bilang tidak boleh, Josh tetap tidak izinkan" ucap Josh dengan aura berkobar untuk membela sang ibu.


"Hikss.. Hikss... Makasih ya Josh. Kamu memang sudah besar dan bisa jaga Mami" Melani memberi pujian tertinggi agar sekutu terus berpihak padanya.


Besar kepala Josh dapat pujian dari seorang ibu. Tingkah gelagatnya seketika meniru pria dewasa umumnya.


Perhatian yang diberikan Josh melebihi hubungan ibu dan anak, atau suami istri.


"Mami, Josh ambil jus dulu ya" ucap Josh, sembari nyelimuti ibu cantik dan kasih kecupan kasih sayang di pipi.


Melani cukup ngangguk dengan pikiran jahat telah berhasil mengelabui seorang anak kecil.


Josh keluar kamarnya,ke dapur ngatur ART untuk membuatkan segelas jus jambu merah fresh.


"Jangan pakai es batu,nanti Mami bisa tambah sakit" ucap Josh mengatur ART.


"Baik,Tuan muda" jawab ART, menekan tombol on blender.


"Yang halus,biar Mami dapat vitaminnya" ucap Josh, seakan jadi dokter pribadi Melani.


ART terus menurut tidak berani membantah,asal masih wajar perintah yang diberikan, sesuai perintah dari atasan juga.


"Jus-nya sudah selesai.Mau saya bawa ke kamar?" ucap ART menaruh gelas pada nampan.


"No.Biar saya saja" jawab Josh, melompat turun dari kursi dapur, dan mengambil ahli nampan.


"Baik" ART menyerahkan nampan secara hati-hati,biar majikan kecilnya bisa membawa dengan seimbang.


Nampan yang dibawa,dibawa hati-hati oleh Josh yang berjalan pelan-pelan menaiki anak tangga lantai 2.


Sampai selamat jus di lantai ke-2 tanpa tumpah setetes pun. Lalu berjalan lanjut ke kamarnya dengan pelan-pelan.

__ADS_1


Waktu yang seharusnya bisa suguhkan jus dalam 15 menit, telah telat 7 menit dibuat Josh.


"Mami" panggil Josh tidak bisa buka pintu kamarnya.


Saat bersamaan, Wiliam keluar dari ruang kerjanya. Dilihat anaknya sedang berdiri di depan pintu kamar sendiri.


"Kamu ngapain?" tanya Wiliam berjalan hampiri.


"Nunggu Mami buka pintu" jawab Josh dengan wajah kesal.


Wiliam membukakan pintu kamarnya, dan kembali tidak menemukan batang hidung istrinya yang bersembunyi dimana dalam kamar itu.


"Tadi kamu bilang ada Mami, sekarang kemana orangnya,hmmph?" tanya Wiliam,mata memeriksa kamar kosong.


Josh sendiri bingung kemana ibu cantik yang tadi tidur, sekarang pergi kemana.


"Maybe ke kamar mandi" ujar Josh meletakkan nampan di meja.


Wiliam berpikir demikian pula.Maka dibiarkan Josh mengetuk pintu kamar mandi yang tertutup.


Tokk....Tokk....


"Mami,di dalam?" tanya Josh mengetuk pintu kamar mandi.


"Iya Josh.Mami sakit perut" jawab lengkap Melani,duduk di kloset keluarkan semua timbunan sampah dalam perut.


"Mau Josh panggil dokter nggak, Mi?" tanya Josh, lebih maju perhatian satu langkah dari pada Daddy-nya yang duduk menunggu.


"Nggak usah" Melani mengeluarkan gas alam yang tersumbat dan ganggu tidurnya.


Untungnya suara yang dikeluarkan tidak besar, jadi orang yang berdiri nunggu di luar kamar mandi tidak mendengar.


"Lega juga perut ini" ucap Melani menepuk perut jadi longgar tidak padat.


Cekrekkk....


"Perut Mami masih sakit?" tanya cemas Josh begitu pintu terbuka.


Belum sempat jawab, tangannya ditarik Wiliam yang nonggol kayak Om Jin.


"Aku mau dibawa kemana?" ujar Melani ikut narik pendukungnya jangan sampai tertinggal tiap adegan.


"Ke rumah sakit" jawab ketus Wiliam berhenti tiba-tiba,buat tabrakan beruntun.


"Daddy kalau berhenti pakai aba-aba, dong" ujar Josh ketabrak punggung Wiliam.


"Ho'oh, tau tuh Daddy-mu" sambung Melani, elus kening.


"Mau jaga Mami" merangkul pinggang ibu cantik.


Bibir Wiliam merat merot tipis, lihat tangan Josh seenaknya melingkar tanpa izin.


"Tidak usah.Biar Daddy saja" melepas paksa tangan tidak melingkar sepenuhnya di pinggang istrinya.


Sakit kepala belum hilang tuntas, Melani kembali merasa tertusuk dengar suara Wiliam yang menjauhkan pendukung secara tidak langsung.


"Aku hanya butuh oralit dan tidur" celetuk Melani, menghempas tangan Wiliam yang coba jauhkan pendukung.


"Kamu masih sakit, jadi sekalian periksa dokter" ujar Wiliam, kembali tarik menarik tangan.


"Tidak usah. Habis tidur juga sudah sembuh" jawab kesal Melani, memeluk pendukung utamanya.


Josh dengar apa yang terlontar keluar dari mulut Melani. Dengan sigap,dia bawa Melani kembali masuk kamarnya untuk beristirahat tenang.


"Mau kemana kalian!!" ucap Wiliam menghentikan langkah kedua bocah beda generasi.


"Mau ke kamar" jawab Josh, merangkul tangan ibu cantik.


Biar sudah lumayan lama tidak bersetubuh, Wiliam masih bisa merasa cemburu jika ada pria asing selain dirinya menyentuh istrinya seenaknya.


"Kemari kalian!!" ujar Wiliam bersuara tinggi, berhenti di depan pintu kamar utama.


Kedua bocah beda generasi berhenti melangkah, kepala menoleh ke belakang asal suara berasal.


"Mami ke kamar saja" ucap Josh menjadi pahlawan kecil, tangan mendorong ibu cantik untuk menyingkir.


"Ok" Melani berjalan sesuai keinginan pahlawan kecilnya.


Gigi Wiliam bergertakkan kesal lihat Melani mengacuhkan perintah.


Keadaan berubah seperti era jaman pertempuran antara koboi.


Ya, pertempuran koboi kecil dan tua untuk merebut hati gadis pujaan hati mereka.


Keduanya berkacak pinggang, dengan tatapan siap untuk menyerang terlebih dahulu.


Ibarat jadi koboi benaran, bapak vs anak menyibak rambut siap menarik pelatuk pistol di pinggang.


"Serahkan Mami, dan kamu bisa kembali ke kamar" ucap dingin Wiliam dengan pandangan keluar percikan cahaya halilintar.

__ADS_1


"No.Mami punya Josh" ketus jawabnya, tidak kalah keluarkan percikan api biru dari mata.


Keduanya berdebat, dan orang yang diperebutkan sedang jongkok ngintip dari celah pintu kamar josh yang tidak tertutup rapat.


"Ayo Josh!.Kamu pasti menang" Melani memberi dukungan semangat lihat pertempuran.


Bayangkan saja Melani yang juga ikut ke dalam zona koboi. Dengan pakaian wanita jaman itu,dia bersembunyi di dalam bar pemilik toko minuman, dan sedang menyaksikan siapa pria yang akan membawanya pergi naik kuda.


Teriakkan menyemangati Josh tidak berhenti keluar dari mulutnya, sambil melempar ciuman kiss bye.


"Josh...You are my hero. I'm sure you will win against him" teriak Melani menyemangati pahlawan kecilnya bertarung dengan koboi tua berpengaruh (Josh...Kamu adalah pahlawanku. Aku yakin kamu pasti menang melawan dia)


Josh menoleh kebelakang, dan mengedipkan mata atas dukungan gadis pujaan hati.


Dor...Dor....Dor....


Baku tembak pistol antara Josh dan Wiliam begitu berisik, karena peluru yang keluar terus meleset dari sasaran bidikan.


"Nona, kita harus keluar dari sini.Jika tidak,nyawa kita terancam karena peluru tidak bermata" nasehat pemilik toko, menarik Melani jauh dari balik pintu papan.


"Tapi, pahlawanku..." Melani menunjuk Josh yang bertarung demi dirinya.


"Nyawa kita lebih penting.Ayo cepat cari tempat aman" pemilik toko,cari kuali untuk menepis peluru yang kapan saja bisa menembus masuk toko minumannya.


Trang....Trang....


Baru saja dibilang, peluru menembus masuk ke dalam toko,dan memecahkan botol kaca minuman di rak.


"Oh my hero....Aku harus pergi dulu,tapi aku yakin kamu will be win" ucap Melani harus mencari tempat persembunyian baru,aman dari peluru yang menghancurkan apa pun.


Melani dan pemilik toko berpakaian kuno, berjalan jongkok ke arah belakang toko itu. Memasuki sebuah jalan rahasia di bawah tangga kayu, mereka berjalan keluar menuju tempat berkumpul pemilik toko dan pelanggan toko lainnya bersembunyi untuk ngamankan diri.


Dengan ruang bawah tanah sekitar 4 x 10 meter dan jumlah oksigen yang tipis, mereka duduk mematung agar pasokan oksigen cukup untuk orang berjumlah 20 an orang itu.


Melani mulai mengipas pakai tangan untuk dapat oksigen lebih, namun dihentikan seseorang.


"Kamu pikir hanya kamu aja yang mau hidup,hengg!" ketus seseorang bersuara melengking.


Melani cari asal suara seram tersebut. Pas ketemu pemilik suara, Melani kesusahan nelan air liur.


Bukan hanya suara orang itu seram, tapi fisik orang tersebut juga lebih menyeramkan.


Mata dengan bekas goresan, wajah juga penuh luka, tangan tinggal 1 dan tubuh dipenuhi tato tengkorak dan jangkar kapal.


Glekk...


"Ini lebih seram dari Wiliam" ucap batin Melani nelan kasar air liur kental.


Tidak perlu lama-lama Melani melihat orang mengerikan tersebut, yang dibutuhkan waspada dan jangan buat kesalahan sekecil apa pun.


Untuk lebih aman, Melani menutup wajahnya pakai topi lebar yang dilepaskan dari kepala.


"Josh... Cepat selamatkan Mami dari ruang bawah tanah" gumam Melani dengan mulut terkatup.


Ahhhh.....


Teriak seseorang mengagetkan 20 an orang dalam tempat persembunyian. Semua tercengang termasuk Melani.


Kejadian di atas tempat persembunyian dan di bawah tanah, menakuti mereka semua.


Seorang wanita muda berteriak karena kakinya disengat serangga mematikan.


"Itu kalajengking" tunjuk seorang lagi menemukan penyebab orang tadi berteriak.


Pria yang menyeramkan menangkap kalajengking, dan memasukkan ke dalam mulut tanpa takut resiko apa pun. Dan pemilik toko lain, menolong wanita muda untuk keluarkan racun berbisa.


"Aku butuh kain" ucap pemilik toko lain.


Melani memberikan kain penghias topinya, untuk ikat bekas gigitan kalajengking.


Kondisi tegang di bawah tanah sudah teratasi baik dan cepat. Namun,suara baku tembak senjata di atas masih terdengar samar-samar.


"Harus sampai kapan kita di sini?" tanya Melani berkeringat.


"Sampai tembakan mereka selesai" sahut seorang pria lansia.


Karena di jaman koboi, pertempuran akan berakhir sampai salah satu lawan mereka mengaku kalah, atau mati terhormat dengan senjata lawan berhasil menembus tubuh rival.


Hufff....


Hanya bisa menghela nafas kasar berat dengar jawaban pria lansia.Dan duduk menunggu dengan pasokan oksigen minim.


.


...----------------...


.


Terima kasih atas dukungannya.

__ADS_1


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.


__ADS_2