
Bab 98
.
"Harap jaga sikap anda. Kita sedang ditempat umum" tegas Melani, menjauhkan diri.
Wiliam pun melepaskan dengan ikhlas, karena kiat meluluhkan hati wanita adalah dengan cara ulur tarik.
"Saya tegaskan!. Tanpa seizin dari saya, kamu tidak boleh terjun lapangan" hardik Wiliam dengan wajah serius aslinya.
"Baik" jawab nurut, karena tidak ada alasan membantah jika menyangkut pekerjaan.
Melani kembali ke ruang kerja meneruskan sisa pekerjaan tertunda dan baru.
Dari dinding kaca pembatas antara ruang dia dan CEO, Wiliam memperhatikan mimik wajah profesional istrinya yang tambah memukau.
"Kamu pantas jadi istri saya. Sikap kamu ini, mengimbangi kepopularitasan saya" mengelus dagu dengan tatapan puas.
.
2 hari semenjak kepulangan mereka, Wiliam baru sadar target untuk buat Melani jatuh cinta padanya hanya tersisa 1 hari.
"Ini karena sibuk ngurus masalah kantor, jadi lupa target" mengecek browser internet, langkah berikutnya setelah beberapa yang sebelumnya gagal total.
Dari hasil pencarian, Wiliam berencana untuk ajak Melani pergi ke bioskop.
.
...Malam hari .... 🌃...
.
Dengan tiket bioskop yang telah dipesan online, Wiliam mengajak Melani keluar dengan alasan mencari ide akan kehidupan masyarakat kalangan menengah.
"Daddy,Josh ikut ya?" rengek Josh.
"Tidak bisa Josh. Lagian, Daddy akan pulang lama dan kamu pasti bosan" memakai jaket kulit.
"Nggak bakal bosan kok Dad. Selama ada Mami,Josh bakal gak bosan. Suwerr..." makin rengek, sambil menaikkan dua jari V.
"Kalau kamu takut Josh ganggu kerjaan kalian, kan bisa ajak Ronald sekalian" saran ibu tua dan diangguk setuju nenek.
"Apa-apa ini. Kalau begini, bisa jadi kacau rencana saya" keluh batin Wiliam menatap sinis Melani yang bergandengan tangan bahagia dengan putranya.
"Nggak usah Bi. Biar saya undurkan besok" jawab dingin Wiliam tidak ingin menambah pengacau dewasa.
"Sekarang Daddy ajak kamu jalan-jalan saja.
Sana ambil jaket kamu" ucap Wiliam pasrah gagal.
Mereka pun pergi seperti sebuah keluarga kecil bahagia. Josh yang duduk diantara mereka berdua terlihat senang riang. Banyak celotehan keluar dari mulut kecil itu.
"Mami, kata teman-teman kalau Josh punya kakak atau adik pasti tidak bosan di rumah. Itu benar nggak, Mi?" tanya pingin tau.
__ADS_1
"Benar. Tapi di rumah Josh tidak sendirian. Ada Grandma,Omah uyut, Uncle, Daddy. Sudah rame sejak awal loh" jawab Melani.
"Iya sih. Tapi kalau Mami dan Daddy keluar kota, Uncle juga sibuk, Josh nggak ada teman main. Kan Grandma dan Omah uyut nggak bisa main game" memasang tampang sedih.
"Itu salah kamu Josh. Coba kalau kamu tidak ikut, pasti dia mau kasih kamu teman bermain kelaknya" batin Wiliam menyalahkan Josh, dan ngerti maksud ucapan.
Setelah penjelasan panjang oleh Melani, antara memiliki kakak adik atau tidak, Josh pun terima apa adanya.
"Meskipun Josh tidak punya saudara di dalam rumah, tapi saat semua sedang berkumpul Josh bisa rasakan semua itu" ucap Melani.
Josh manggut-manggut paham. Saudara itu tidak mesti ada hubungan darah atau ikatan kuat, yang penting memiliki jalinan jodoh semua adalah saudara.
Mobil pun tiba di mall terbesar kota itu, mall yang merupakan salah satu aset rahasia CEO dingin yang baru dibeli beberapa waktu lalu.
"Daddy, kita jalan-jalannya ke mall ya?" jadi lesu lihat kenyataan.
"Mmm... Kenapa?" jalan bergandengan.
"Josh boleh main time zone aja nggak?" malas ikut keliling mall untuk belanja.
"Baik. Kamu bisa main puas 3 jam" langsung setuju,dan nitipkan anak genius pada petugas dan bodyguard yang ditelepon masuk.
Satu hambatan ternyata mundur sendiri tanpa diusir. CEO dingin itu lalu ngajak Melani ke lantai 5, tempat dimana film akan segera diputar.
"Untuk apa kita ke bioskop, Tuan?" tanya bingung.
"Ya nonton. Ayo masuk,film segera diputar" ajak dingin Wiliam masuk duluan.
"Dia phobia gelap" menepuk jidat dan jalan balik menjemput.
"Mel..." panggil Wiliam melihat istrinya duduk menunggu di luar ruang bioskop, seperti seorang pekerja bioskop.
"Loh.Cepat banget siapnya, Tuan" berdiri.
"Sini kamu" menatap dingin.
"Aku" Melani tunjuk hidung sendiri.
"Mmm" angguk menunggu.
Wiliam mengandeng tangan Melani masuk ke dalam bioskop.
"Jangan takut, ada saya" ucapnya melepaskan gandengan, merangkul pinggang kecil ramping.
Ruang redup sekali karena sebentar lagi proyektor film akan segera diputar. Ruangan yang hanya ada mereka berdua saja, itupun kalau Melani sadar nantinya.
Lalu... Jenis film apa yang Wiliam pilih untuk ditonton?.
Film mulai muncul. Awal cerita, memperkenalkan tiap nama tokoh yang ada,serta deretan tim yang mengurus produksi film terkemas baik.
Awal cerita, Melani masih belum mengerti, sampai di tengah cerita baru paham. Orang yang duduk tepat disebelah, masih saja fokus duduk menonton monoton.
Wajah Melani menjadi merah merona melihat
__ADS_1
adegan ciuman artis yang begitu menghayati, namun masih terselamatkan dengan pencahayaan yang redup.
"Jangan sampai dia mikir aku cewek gituan" menutup mata tidak ingin lanjutkan nonton, karena bakal banyak adegan plus-plus.
Beberapa menit kemudian, kepala Melani sudah jatuh di pundak kekar CEO dingin.
"Diajak nonton film romantis malah tidur" gumam Wiliam melanjutkan nonton sendiri,dan biarkan istri tidur lelap.
Sampai juga inti cerita film di *******, Wiliam banyak menonton adegan plus-plus bukan hanya sekedar ciuman hangat dan penuh hasrat tak tersalurkan, tapi cara buat adonan di atas tempat tidur sampai kamar mandi.
Untung saja istri sedang tidur, jika tidak mungkin hasrat dan benda dalam sangkar segitiga pengaman bisa keluar kendali.
"Tidurlah, sampai waktunya tiba kita akan membahas masalah ini" mengelus lembut wajah cantik dan mencium dalam pelukannya.
Film romantis berbau adegan 21+ sudah selesai. Lampu ruangan juga mulai terang,menerangi wajah pasangan tampan dan cantik.
Saat Melani mengeliat dan tidur semakin nyaman dalam pelukan tubuh kekar CEO, Wiliam pun mengencangkan pelukannya.
Bukan hanya itu, Wiliam memberi kecupan lembut di bibir yang sudah menggoda dirinya.
"Ini sudah lama menjadi milik saya, tapi yang lain belum. Kapan kamu bersedia menyerahkan sepenuhnya pada saya,hum?" bisik lembut Wiliam menstimulasi pikiran alam bawah sadar istrinya, sambil mengelap bibir tipis berlipstik pink.
Saat jari jempol mengelap lembut bibir tipis, bibir tipis itu menyedot seperti sedang hisap kompeng.
"Mel,kamu jangan goda saya. Atau mungkin kamu sudah siap" bisik goda Wiliam, membiarkan istrinya ngompeng jempol.
Uhukk... Uhukk.... Melani tersedak liur sendiri dan bangun dalam keadaan posisi saat tidur.
"Kamu sudah bangun?" meninggikan suara agar terlihat wibawa, dan biarkan jempol terus diisap istri.
"Aaaa...." kaget Melani melepaskan jempol besar big bos.
"Kenapa?. Tadi sampai niat sendiri mau lakukan ini" sindir Wiliam, membersihkan jempol dari liur istrinya pakai sapu tangan.
"Ma-maaf" nunduk dengan perasaan malu banget.
"Sekarang kita jemput Josh" ucap dingin menahan godaan.
"Mel,kamu sudah buat masalah baru dalam hidup kamu sendiri. Pasti dia akan menghancurkan reputasi kamu di depan publik" menyalahkan diri sendiri, mengilas balik adegan memalukan sepanjang hidup.
"Bisa cepatan nggak jalan" ketus Wiliam menunggu di depan pintu keluar bioskop.
"I-iya" jawab tegang takut, cepat jalan hampiri big bos yang tampak emosi.
.
...****************...
.
Terima kasih atas dukungannya.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.
__ADS_1