Change Destiny

Change Destiny
136


__ADS_3

Bab 136


.


Wiliam meraih foto print hasil USG kecebongnya, dan menatap sinis wajah dokter yang terus memberi nasehat.


"Ini sudah selesaikan, Dok?" tanya sinis Wiliam.


"Sudah" ucap dokter paham maksud Wiliam.


Melani dan Wiliam pun keluar dari ruang periksa. Lalu pergi ke rumah keluarga Wijaya.


Diperjalanan Melani bertanya akan kesepakatan nego tertunda.


"Kalau aku bisa kembali kerja, aku janji akan pulang" ucap Melani ragu-ragu.


"Terus" Wiliam tetap fokus nyetir.


"Jadi Mama yang baik" memutar bola mata.


"Kenapa tidak jadi istri yang baik,hmm?" melirik Melani yang garuk telapak tangan sendiri.


"Kan, sudah" pura-pura nggak paham maksud mesum Wiliam.


Wiliam terdiam membiarkan Melani untuk mengkoreksi persetujuan mereka kemarin malam.


Sesampai di rumah orang tua Melani, mereka disambut bahagia oleh ibu suri.


"Gimana?. Senang kan" ibu suri semeringah memandang dua pasangan muda, kepala menoleh pada anak dan mantu, bergantian.


Wiliam ngangguk pelan, tapi Melani cemberut marah.


Sudah tau bagaimana lanjutan sifat ibu suri, Melani pun meninggalkan Wiliam dan ibu suri yang saling beri signal kode.


"Mama juga ngapain rencana kayak semalam,kan aku nya yang capek" omel pelan Melani, berjalan menuju kamar tidur.


Pupus sudah harapan Melani untuk kabur jauh, dengan keadaan rahim berisi kecebong.


"Nak, setelah kamu lihat wajah Daddy-mu nanti,kamu harus sabar dan kuat ya" ucap Melani mengusap perut masih rata. "Karena Daddy-mu suka marah" berhela nafas capek.


Tidurnya yang tadi kurang, dibalas begitu bokong nempel di atas tempat tidur.


"Mami capek,yuk kita lanjut bobo" ucap Melani, mengelus perut ada kecebong.


Beberapa jam kemudian, Melani terbangun dengan sambutan dua cowok tampan disampingnya.


"Hai Mami" sapa Josh melambai tangan, dijawab dengan belaian di wajah tampannya.


"Kamu tidur cukup lama loh" ucap Wiliam membantu Melani duduk.


"Eh iya" kaget jawab Melani lihat jam dinding.


"Mi, sekarang kita makan siang bareng yuk" ajak Josh, menarik tangan ibu cantik.


"Josh jangan main tarik. Kalau jatuh bagaimana,hmm?" nada penuh penekanan, sambil merebut tangan istrinya yang dirampas Josh.


"Enggak mungkin Dad. Ya kan Mi?" jawabnya memandang wajah cantik yang tersenyum.


Melani ngangguk pada Josh, dan melepaskan paksa tangan Wiliam.


"Ingat perjanjian kita" bisik Wiliam, tidak ingin teracuhkan apalagi sampai malu.


Melani mencurutkan bibir, berada di bawah kendali Wiliam.


"Kita makan sekarang yuk" ajak Wiliam tidak terima penolakan.


Terpaksa sudah Melani patuh. Meski dirinya sedang tidak ingin bersama pria yang selalu memburu dirinya sampai capek.


Bapak,Emak dan anak keluar dari kamar ukuran sedang menuju ruang makan, dimana orang tua Melani sudah menunggu mereka sedari tadi.


"Ayo duduk" ucap Tuan Wijaya mempersilahkan keluarga kecil berkumpul dengan mereka.


"Josh, sini duduk samping Grandma" ibu suri menarik kursi sampingnya.


"Tapi Josh mau duduk samping Mami" sahut Josh cemburu dibuat bapaknya.


"Sini Josh" Melani melambaikan tangan, bermaksud untuk memindahkan posisi duduk antara bapak dan anak.


"Sama saja.Sudah, duduk samping Grandma" sambung dingin Wiliam,menitahkan anak.


Wajah tampan kecil itu terlihat sedih kecewa, memandang jelas tapi tidak bisa ada disamping.


"Josh,makan ini" Melani memberi perhatian biar tidak sedih, sepotong daging iga bakar diletakkan pada piring Josh.


"Thank you, Mi" senang diperhatikan ibu cantik.


Orang disamping Melani mengertakkan gigi, cemburu pada perhatian yang Melani berikan.


"Wil, kamu harus banyak makan taoge. Mama sengaja masak ini buat kalian loh" celetuk ibu suri menyodorkan piring berisi tumis taoge.


"Iya,Ma" Wiliam paham maksud ibu mertua, tapi tidak ada yang paham dengan perasaan terbakar api cemburu.


Tuan Wijaya yang berbeda di ujung meja kepala keluarga dapat memandang jelas keadaan,dia menatap sinis wajah tampan mantunya yang tercuekin.

__ADS_1


"Mel, Josh,kalian habiskan juga ikan bakarnya ya" ucap Tuan Wijaya, sengaja memanasi hati mantu.


"Iya, Pa" jawab Melani sambil tersenyum manis.


"Oke ,Grandpa" jawab Josh juga senyum.


Semua sayur mayur,lauk pauk sudah habis mereka santap.


Berhubung hari adalah hari sabtu, Tuan Wijaya tidak kembali ke kantor sehabis makan siang. Karena sudah lama tidak ngobrol sama putri tersayang.


Obrolan santai ringan yang dipenuhi candaan itu,juga bisa diikuti Josh yang duduk bergabung nyantap makan potongan buah.


"Jadi, kalau Josh bosan, Josh selalu ajak uncle main detektif Conan" ucap Josh.


"Pasti uncle kamu jadi Conan?" tanya Tuan Wijaya.


"Bukan Grandpa. Josh yang jadi Conan, kalau uncle jadi penjahat" jawab Josh ,tertawa lucu.


Melani tertawa geli, karena bocah sekecil itu bisa memanipulasi orang dewasa. Tapi, dirinya dimodusin Wiliam.


"Sepertinya aku harus belajar banyak ilmu dari Josh. Berarti aku wajib nonton film detektif Conan,nih" ide Melani muncul, wajah tersenyum jahat.


"Muka kamu kenapa,hmm?" bisik Wiliam, penasaran lihat wajah senyum tak wajar Melani.


"Nggak ada" memutar bola mata, kembali fokus kejar ketertinggalan cerita.


"Awas kalau mikir pria lain" bisiknya mengancam.


"Ha...Ha..Ha" Melani tertawa tertekan, mengibaskan tangannya.


Wiliam tidak begitu saja percaya pada apa yang dirasakan. Untuk dapat menginterogasi bebas, Wiliam minta izin pada Tuan dan Nyonya Wijaya bawa Melani keluar.


"Josh ikut" seraya nyantel minta ikut.


"Kamu temani Grandma dan Grandpa saja" tegas Wiliam tidak ingin terganggu.


"Betul Josh.Grandma masih mau dengar cerita kamu" bela ibu suri.


"Anak minta ikut kok enggak dikasih" gerutu Tuan Wijaya, sambil nyeruput kopi hangat.


Mata Wiliam dan bapak mertua beradu tanding. Keakuran diantara mereka kian merenggang, sejak beberapa kejadian menimpa diri putri kesayangan beberapa waktu lalu.


"Ayo, Mel" ucap dingin Wiliam, gandeng tangan Melani berdiri.


"Pa, Ma,Mel pergi sebentar ya" pamit Melani.


Sebagai orang tua tidak melarang, terutama Tuan Wijaya di bawah pengawasan ibu suri.


Tidak jauh Wiliam ngajak Melani keluar. Ya masih sekitar rumah.


"Enggak ada" sahut kaku Melani.


"Kalau tidak ada,lalu kenapa tersenyum seperti tadi" menarik tubuh Melani, menghadap dirinya.


"Lucu" dalih Melani teringat tidak hanya dia seorang tersenyum bahkan tertawa.


"Apanya lucu?" merapikan sehelai rambut panjang Melani yang mengusik lihat jelas wajah cantik itu.


"Ceritanya" kaku dan deg degan.


Cup..


Wiliam memburu bibir yang tegang kaku saat bicara.


Lidahnya menelusuri setiap gigi dan lidah kaku Melani.


"Ko" Melani yang ngos-ngosan habis diburu, mendorong tubuh kekar yang sudah mulai nakal tidak tau tempat dan kondisi.


"Kita pulang habis makan malam ya" ucap Wiliam tidak ingin nginap satu malam di rumah mertua, karena tidak bebas untuk bercinta.


"Besok saja ya" rengek Melani paham mau tersembunyi suami mesum.


"Kalau besok,maka kamu harus tebus kompensasi 2 kali lipat" mencubit gemas dagu yang kaku.


Tentunya Melani tertegun dengan keinginan suami mesum berujung ancaman.


"Hari ini saja kita pulang. Tapi, Mel jangan di gituin ya" memohon tidak bercinta.


"Gituin apa?" pura-pura tidak paham, mata mengedip.


"Gituin,anu" canggung jawab Melani, menyatukan dua jari telunjuknya yang berketuk pelan.


Wkwkwk.....


Wiliam tertawa geli, tapi dia tidak janji tidak lanjut begitu sampai di rumah sendiri.


Mereka pun berjalan sejenak ke taman terdekat, mumpung sudah ke luar rumah.


Cuaca terik membuat tubuh Melani gerah berkeringat, meski angin berhembus sepoi-sepoi.


"Sini saya seka keringat kamu" mengusap keringat di dahi Melani pakai tangan.


"Ko,aku mau itu" tunjuk Melani pada penjual es krim keliling yang lewat.

__ADS_1


"Jangan makan yang itu.Kalau mau, nanti kita beli di supermarket saja" bujuknya.


"Oh" datar jawab.


"Jangan cemberut. Nanti wajah anak saya cemberut melulu" keluh Wiliam, menarik bibir tipis agar senyum manis.


"Kalau anak Koko, kenapa enggak Koko saja yang hamil" demo Melani kesal.


"Kalau bisa, boleh juga.Tapi sekarangkan tidak bisa" terkekeh geli dengan keluhan sendiri dibalas balik.


Dengan suasana yang damai dan hening, Melani menyandarkan kepalanya di pundak lebar Wiliam.


"Kamu tidak pernah pacaran, hmmm" tanya Wiliam ingin dengar sendiri dari mulut Melani.


"Enggak. Fokus belajar sama karir" sahut Melani nyaman dibelai lembut tangannya.


"Oh ya?" tidak percaya. "Terus kenapa mau menikah dengan saya?"


Untuk pertanyaan ini, Melani juga ingin memperjelas keadaan. Posisinya yang tadi bersandar di bahu, kembali duduk tegak berhadapan.


"Aku menikah terpaksa, bisa dibilang masuk jebakan Mama. Kalau tidak karena aku sedang frustasi mikirin obligasi sialan itu, pasti sekarang tidak nikah dengan anda" omel Melani panjang lebar penuh semangat untuk lampiaskan amarah terpendam.


Wiliam yang dengar terus, menyimak dengan serius. Setiap kata penuh amarah yang keluar,di cerna otak Wiliam.


Grebb ....


Wiliam memeluk tubuh Melani yang bercerita panjang lebar.


"Saya akan menjaga kamu seumur hidup" janji Wiliam.


Perasaan Melani yang hipersensitif di masa hamil muda, terharu dengan kata singkat penuh makna.


"Kamu kok nanggis?" mengusap tetesan air mata.


"Aku kelilipan debu" dalih Melani, enggan menunjukkan perasaan.


"Saya tiup" meniup perlahan mata yang dikatakan kena debu.


Semakin tersentuh hati Melani dengan perlakuan Wiliam yang beda dari biasanya.


"Masih terasa ada debu, enggak?" tanya cemas Wiliam, melihat mata merah Melani.


Melani geleng kepala, dan tersenyum terharu.


Takut istrinya kelilipan debu, Wiliam ngajak pulang.


Sesampainya di rumah mertua, Wiliam diserang Josh yang sedang bermain detektif Conan sama Tuan Wijaya.


Wiliam dijadikan tersangka penculikan pada seorang ibu.


"Daddy angkat tangan, dan serahkan Mami!. Karena kami sudah tau tempat persembunyian Daddy sekap Mami" Josh menodong pisang yang dijadikan pistol pada perut sixpack Wiliam, yang baru pulang.


"Josh!!" Wiliam terlihat marah.


"Hai Josh" sapa Melani baru nunjukin batang hidung dari belakang Wiliam.


"Mami cepat masuk" titah Josh, narik tangan korban penculikan.


"Kamu berani,hmm!" ancam Wiliam melototi dan berkacak pinggang.


Urusan beginian Wiliam tidak paham, karena dia tidak pernah terlibat pada permainan aneh anaknya.


"Kapten Grandpa,ini Daddy sudah Josh temukan.Mau kita apakan?" ucap Josh pada kepala CIA gadungan.


"Kita bawa ke kantor polisi" sahut Tuan Wijaya, melakoni perannya.


Melani yang sudah tau Papa dan anak sambung sedang bermain,pun ikut melakoni peran sebagai korban.


"Pak, tolong aku. Aku diancam kalau pergi" drama Melani, berwajah minta dikasihani.


Wiliam bisa gila jika terus hadapi kenyataan tidak masuk akal. Mana wanitanya menambah hal yang tidak ia lakukan.


Dari kejauhan,ibu suri langsung menghampiri dan jewer telinga Melani yang ikut permainan konyol.


"Am-ampun,Ma" meringis kesakitan,ikut ibu suri jalan ninggalin permainan.


"Ini gara-gara Daddy, Mami jadi kena jewer" ketus rajuk Josh menghentikan permainan.


Josh menyusul ibu cantik di bawa nenek sambungnya.


Ia juga mohon remisi untuk Melani. Tidak tega cucu sambung berlutut memohon,ibu suri pun bebaskan Melani.


"Kamu tetap berlutut!" hardik Wiliam, memberi hukuman tegas.


Orang tua Melani tertegun lihat cara Wiliam mendidik anak seusia Josh yang masih senang bermain, dan juga sering lakukan kesalahan.


.


...****************...


.


Terima kasih atas dukungannya.

__ADS_1


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.


__ADS_2