Change Destiny

Change Destiny
Bab 29 Dasar Om om mesum


__ADS_3

Bab 29


.


Pengurus mengetuk pintu kamar dengan asal suara paling terkencang.


Tangisan pun merendah dan pelan-pelan berdiri untuk membuka pintu.


Malang sungguh malang, dalam kegelapan Melani sudah beberapa kali terjedut benda dan hampir tersungkur olehnya.


"Neng, nih Akang bawa lilin" panggil pengurus mengetuk pintu.


"I-iya" jawabnya sesenggukan.


"Sudah dibawain lilin masih saja bertingkah. Sini kasih saya kalau tidak mau" ucap ketus Wiliam, keluar meminta lilin lagi pada pengurus.


Sekejap suara minta tolong dan tangisan dari dalam kamar Melani senyap.


"Mungkin sudah tidur. Kemari lilinnya, dari pada mubajir" mengulurkan tangan meraih lilin.


"Atau jangan-jangan terjadi sesuatu sama si Eneng" cemas pengurus.


Wajah dingin Wiliam tidak peduli apa yang terjadi pada tetangga kamar. Ia pun masuk setelah dapat lilin tambahan lagi.


Sementara pengurus masih mengetuk pintu kamar yang tidak dapat jawaban.


Tiga menit pengurus berdiri mengetuk dan manggil tanpa jawaban.


Wiliam di dalam kamarnya menjadi murka dengan kebisingan pengurus yang masih ngetuk dan manggil.


"Maunya apa sih nih orang" berjalan kesal buka pintu.


Cekrekk... Buka pintu dengan kesal.


"Kalau tidak dijawab, tinggal dobrak ajakan beres" ujar Wiliam melipat tangan.


"Oh iya" pengurus meletakkan lampu sentir pada paku dinding kamar.


Daghh... Dughhh....


Pengurus mendobrak pintu kamar pakai lengan bahu beberapa kali.


"Tuan,bisa bantu dobrak ?" pengurus menoleh pada Wiliam, yang berdiri berpenyangga kosen pintu.


Awalnya Wiliam menolak permintaan pengurus bantu mendobrak, tetapi setelah pengurus berlanjut dobrak pakai kaki tetap tidak berhasil,Wiliam baru ikut turun tangan.


Entah kualitas kayu pintu kamar yang memang bagus, atau tertahan oleh benda lain dari dalam kamar, jadi buat pintu kamar itu sulit terbuka.


"Seharusnya setiap kamar punya kunci cadangankan?" tanya Wiliam menggulung lengan kemeja sebelum beraksi.


"Benar, akan ku ambil" pengurus bergegas lari cari kunci cadangan kamar.

__ADS_1


Saat menunggu pengurus kembali bawa kunci cadangan, Wiliam kembali mendengar rintihan dari balik pintu kamar itu.


Bukan suara minta tolong lagi kali ini terdengar, melainkan rintihan sakit.


"Aduhh.... palaku sakit" Melani coba duduk berselonjor dari tengkurap tidur di lantai.


"Hei!!! Kamu masih hidup atau sudah mati!" teriak Wiliam mengogel gagang pintu.


Melani acuh kesal. Orang hidup kok ditanya sudah mati. Melani duduk diam membisu dalam gelap gulita memeluk kedua lutut.


"Sudah dapat kuncinya?" tanya Wiliam pada pengurus yang ngos-ngosan.


Pengurus menggeleng kepala, karena beberapa kunci pintu kamar single room telah hilang akibat pengunjung yang suka teledor hilangkan kunci asli.


Jalan keluar satu-satunya adalah mendobrak pintu kamar.


Pengurus dan Wiliam memasang ancang-ancang kaki kuda, lalu menendang kuat pintu secara bersama dalam aba-aba hitungan ketiga.


Bammm.....


Pintu berhasil terbuka,dalam kamar gelap gulita itu tidak ada nampak batang hidung penempat.


Pengurus keluar sejenak ambil lampu sentir di samping dinding kamar.


Cahaya remang-remang lampu sentir pun mencari kemana penempat kamar itu berada.


"Itu si Eneng, Tuan" tunjuk pengurus mengarahkan lampu sentir pada gadis duduk memeluk lutut bersandar lemari baju.


Meski cahaya remang-remang,tapi Wiliam masih bisa melihat kulit tubuh gadis yang masih mulus. Ia pun berjalan cepat meraih kain di kasur, menutupi tubuh mulus kinclong sang gadis biar tidak ada mata tergoda.


"Mataku perih" merangkak jalan masuk kamar mandi dengan cahaya lampu sentir.


"Biar Akang bantu, Neng" pengurus maju hendak memapah Melani.


"Biar saya saja" lanjut Wiliam, takut gadis yang dikenali di modusin pria asing.


"Makasih Kang" jawab Melani tanpa tau kalau yang memapah dirinya bukanlah pengurus.


Pengurus berdiri diam tidak menjawab ucapan, lalu keluar dengan positif thingking.


"Ini lilin saya taruh diatas kloset"


Melani kaget baru sadar ,pria yang memapah adalah orang yang buat jengkel terus.


"Kenapa?.Sudah bagus saya yang papah dari pada kamu dimodusin sama orang desa" ujar Wiliam lihat Melani ingin memukulnya.


"Mereka tidak sejelek penilaian Tuan. Pikiran Tuan saja yang sudah numpuk negatif thingking" oceh Melani menunjuk sembarangan arah.


Lihat air dalam gayung, Wiliam langsung menyiram kepala Melani dengan air itu tanpa aba-aba,biar emosi gadis tidak meletus.


Megap-megap Melani ngambil nafas disiram begitu saja, sambil ngusap kasar wajah. Begitu matanya bisa terbuka dan tidak perih, dia melihat Wiliam yang sudah keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


Gimana tidak keluar cepat. Bisa-bisa dia tergoda hasrat sebagai pria normal, lihat yang bling-bling kinclong.


Bammm.....


Melani membanting kencang pintu kamar mandi, sebagai aksi marah dan protes terhadap perlakukan pembulian.


"Dasar Om om mesum!!" teriak Melani menghadap pintu.


"Saya dipanggil Om om" Wiliam berhenti jalan tidak terima dipanggil Om om.


"Saya mau lihat kalau kamu nikah sama Om om, jika perlu kakek-kakek sekalian" balas teriak Wiliam, jalan keluar kamar musuh dadakan.


2 hari kemudian...


Setelah jalur desa bisa dilalui Melani dan Wiliam tanpa saling kasih tau akan meninggalkan kota C pada hari yang sama. Mereka kembali berdebat di tengah rombongan warga desa yang ikut naik mobil gerobak menuju pusat kota C untuk berdagang.


"Kamu ngapain ikut saya, haa!!" Wiliam menyuruh Melani duduk dibelakang.


"Anda yang suka nguntit aku" tidak mau kalah duduk di depan.


Aksi dorong mendorong mereka buat seorang ibu hamil tua dan nenek yang duduk di depan. Dan akhirnya mereka harus duduk di belakang gerobak bareng warga lain dan beberapa barang dagangan desa mereka.


"Ini salah kamu" Wiliam menunjuk Melani dalam raut wajah terjutek.


"Anda" balas Melani nunjuk dan melotot.


Wajah Wiliam walau jutek, tapi tetap punya kharismatik narik pandangan gadis desa yang duduk berhadapan.


Gadis desa memakai topi caping coba narik perhatian pria tampan kaya. Sedikit tebar pesona berharap pria kota tertarik padanya.


Aduh.. Duhh.... Gadis desa kelewatan tebar pesona, sampai dia berani pindah posisi duduk tepat disamping orang berdarah dingin.


"Tuan,sini saya kipas.Pasti panas duduk disini kan" gadis desa melepas topi caping.


"Bisa tidak untuk tidak ganggu saya" ketus Wiliam, menepis topi caping.


Tontonan baru seru perjalanan ini dalam benak Melani yang lihat sambil nahan tawa.


"Aduh, kalau aku pasti biarkan Om om jutek kepanasan kayak kepiting rebus" monolog sinis Melani niat ingin berkomentar terhadap sikap gadis desa.


"Tuan, haus?.Mau saya ambilkan wedang?" lembut gadis desa bertanya.


"Tidak usah. Tolong jaga jarak anda" ucap dingin Wiliam mulai gerah sama sikap lebay gadis desa.


Sudah biasa sama tebar rayuan wanita jauh lebih cantik dan sexy daripada gadis desa itu. Jadi buat iman Wiliam jauh lebih kuat, tapi tidak mungkin juga tidak tergoda sejenak kalau sempat buat dia tertarik.


.


...****************...


.

__ADS_1


Terimakasih atas dukungan semua.


Sehat sejahtera untuk kita selalu.


__ADS_2