Change Destiny

Change Destiny
137. Panti pijat


__ADS_3

Bab 137


.


Penjelasan dari Wiliam dimengerti orang tua Melani.


Josh pun berlutut sampai jam makan malam tiba.


Kakinya yang geringingan kebas dibantu Tuan Wijaya yang menggendongnya untuk mencuci tangan.


"Kamu sama Mami sering dihukum berlutut, kalau di rumah?" tanya Tuan Wijaya diam-diam.


"Mami hanya sekali, tapi saya sering" menggosok tangan dengan handwash soap.


Tuan Wijaya menekuk dahi dengar jawaban Josh. Memang bukan hukuman berbahaya yang dijalankan,tapi sebagai ayah saja,dia tidak pernah menghukum putri kesayangan yang begitu penurut.


Lalu,Tuan Wijaya menggendong Josh bergabung dengan yang lain di meja makan.


Mukanya yang berlipat tekuk dingin menatap Wiliam dengan pandangan tajam.


"Mel, ini ayam kecap kesukaan kamu" Tuan Wijaya mengambilkan potongan dada ayam kecap.


"Terima kasih,Pa" senang setiap dapat perhatian Papa-nya.


"Ternyata ayam kecap juga kesukaan Melani" ucap batin Wiliam mencatat apa saja kebiasaan sampai yang tidak disukai istrinya.


"Grandpa, Josh juga mau" celetuk Josh ingin dimanja oleh pria dewasa.


"Baik. Kamu juga. Makan yang banyak biar cepat besar dan bisa lindungi Mami" ucap sindir Tuan Wijaya mengarah pada mantu bermuka dingin, sambil mengambil potongan ayam kecap.


"Oke Grandpa" senang juga diperhatikan.


.


Usai makan, Wiliam pun berpamitan pada mertuanya untuk membawa anak istri pulang.


Hal itu ditentang Tuan Wijaya. Namun berkat ibu suri dengan usulan darinya, hanya pasangan itu yang pulang.


"Kalau begitu,kami pulang dulu,Ma, Pa" pamit Wiliam pada mertua.


"Iya, kalian hati-hati di jalan" jawab ibu suri dengan senang, karena orang disebelahnya cemberut tidak bisa berani menentang.


"Mami, besok jangan lupa jemput Josh ya" ucap Josh memeluk ibu cantik yang akan berpisah darinya.


"Tentu dong. Kan,kita ada pertandingan" jawab Melani mengelus wajah tampan gemes.


Hati Wiliam semakin cemburu dibuat Josh, yang diperlukan lembut oleh Melani.


Josh, Tuan Wijaya serta Nyonya Wijaya melambaikan tangan mengantar pasangan itu dari depan pintu.


Tiba-tiba otak Wiliam tidak ingin membawa istrinya pulang ke rumah mewah yang masih ada penghuni lain.


"Ko, kita kok ke arah lain" tanya Melani, karena arah yang dituju ke mansion.


"Karena saya tidak mau ada pengganggu" wajah dingin tetap fokus nyetir.


.


Mansion yang masih gelap itu,tercahaya lampu utama mobil. Tau phobia Melani, Wiliam terlebih dahulu menghidupkan lampu tiap ruangan.


Tetap selalu bersih dan rapi keadaan mansion, karena jika tidak ada yang tempati,maka ada seorang pelayan yang akan bertugas giliran bersihkan rumah itu.


"Ko, mulai Senin,aku sudah bisa kembali kerja di kantorku kan?" tanya Melani mengingatkan agar Wiliam tidak kibulin dia.


"Siapa bilang di kantor kamu" berhenti jalan.


"Berarti...??" Melani tidak setuju harus 24 jam lihat muka dingin Wiliam.


"Berarti,iya. Kamu jadi asisten pribadi saya.Kemana saya pergi, kamu harus ikut" mengunci pintu utama.


Kan, sudah salah langkah untuk memutuskan keputusan. Tau alhasil berujung tidak menguntungkan banget,maka lebih baik berdebat sampai puas.


Melani berjalan merajuk marah ke kamar gudang dulu dia tempati.


"Mudah banget dia merajuk" gumam Wiliam, nyusul Melani yang buka kamar gudang kembali ke awal fungsi.


"Ko,ini kamar aku kok jadi gudang!" marah Melani nunjuk keadaan kamar.


"Itu memang gudang. Sebaiknya kita ke kamar saja" menarik istri cemberut merajuk.


Melani menghentakkan kaki, bertingkah kayak anak kecil minta sesuatu.


Cup...


Sekilas Wiliam cium bibir candunya yang cemberut, sebagai peringatan awal.

__ADS_1


"Kamu jangan coba goda saya. Atau kamu memang lagi pingin?" godanya menyudutkan tubuh kecil ke tembok.


"Siapa yang goda!.Aku lagi marah!!" bentak Melani, dorong tubuh kekar.


"Kan, buktinya ini" mengelus wajah cemberut Melani.


"Ihh.... Pergi sana" usir Melani, mendorong lebih kuat.


"Ayo" jawab Wiliam berotak fantasi, langsung gendong ala bridal style.


"Lepas!!" berontak Melani memukuli dada Wiliam.


"Kamu sengaja menggoda lagi,hmm" ujar Wiliam berotak museum dengan bibir menyungging runcing.


Wiliam membuka pintu tanpa di tutup. Kemudian menurunkan tubuh kecil di atas tempat tidur king size.


Takut buruan lepas, segera dikepit kaki Melani dengan pahanya.


Pakaian yang mereka pakai pun terbang kesembarang arah dilempar Wiliam.


"Jangan,ko!!" berontak Melani dalam himpitan.


"Jangan apa,hmm?" mencium nakal, tinggal banyak tato abstrak alami di sekujur tubuh polos Melani.


Melani menggelinjang kegelian oleh sentuhan Wiliam.


Permainan itu berakhir setelah Melani bersedia nuruti peraturan Wiliam.


"Coba dari tadi, pasti kamu tidak akan capek" Wiliam membelai rambut sepundak yang enggan menampakkan wajah.


.


Senin yang tidak lagi diharapkan pun tiba. Melani telah berpakaian rapi formal untuk ngantor.


"Kamu, benaran akan ngantor Mel?" tanya pelan Ronald jangan sampai ketahuan abangnya yang mulai kapan sensian.


"Iya kak. Tapi rasanya kok jadi malas" menghela nafas capek batin.


Wiliam dan Josh yang menghampiri mereka,buat mereka berhenti berbincang.


"Ayo, masuk" titah Wiliam membuka pintu mobil untuk Melani.


"Josh ikut Daddy juga" celetuk Josh, nyungsep nyusul masuk dari celah tangan Wiliam.


"No!.Kamu ikut mobil uncle!" hardik Wiliam narik tas punggung Josh.


"Boleh, boleh" sahut Melani ikut narik tangan Josh agar tidak perlu keluar.


"Terserah kalian" ketus Wiliam, lepaskan tas punggung. Dari pada lihat wajah yang sudah beberapa hari cemberut padanya.


"Yeah..." seru Josh, mengambil duduk posisi di tengah mereka.


Dua mobil mewah melaju tinggalkan rumah mewah, dengan jalur sedikit beda ketika hampir sampai kantor megah.


Melani tidak diizinkan Wiliam turun ketika sudah sampai di gerbang sekolah.


"Sudah sana turun. Ingat!, jangan berbuat ulah" tegas Wiliam mengingatkan.


"Ya, Dad" jawabnya lesu nunduk.


"Bye Josh" ucap Melani melambaikan tangan dan kasih kiss bye penyemangat.


"Bye, Mi" kembali ceria lihat ibu cantik.


Wajah Wiliam menggeram marah lihat dua bocah beda generasi yang saling pengertian.


"Jalan,Pak" titah galak Wiliam pada supir.


Andaikan saja tidak ada orang ketiga di dalam mobil, pasti Melani akan tersidang seperti biasanya.


Giliran Wiliam cemberut sepanjang jalan singkat dari sekolah ke kantor.


"Dia kok tidak ada usaha membujuk saya?" melirik Melani dengan ujung mata, tapi wajah tetap tekuk cemberut.


"Selamat pagi,Tuan" sapa para karyawan.


"Mmm" dehem Wiliam tidak peduli.


Aura dingin Wiliam menakuti karyawan.Jangan sampai mereka melakukan kesalahan-kesalahan kecil saat bekerja,jika tidak ingin terima surat pemecatan.


Mata mereka juga tertuju pada Melani yang ikut berjalan sejajar big bos. Sindiran sampai gosip pun tak dapat terelakkan.


"Dia pasti berhasil merayu Tuan, kalau tidak, tidak mungkin dia bisa tunjukkan batang hidung di sini" cibir wanita resepsionis yang masih mengenali wajah Melani.


"Benar. Paling juga dia merendahkan dirinya, ckckck" jawab seorang lagi dari bagian lain

__ADS_1


Hinaan itu tidak terdengar langsung oleh Melani,tapi ia tau dari gerak gerik sampai tatapan mata setiap orang padanya.


"Resiko kalau balik" ujarnya menghela nafas panjang.


Agar tidak semakin terhina dengan posisinya yang balik, Melani mengacuhkan setiap sikap karyawan gedung mewah.


Melani berjalan tegak membusungkan dada,mata melihat lurus ke depan.


"Tugas kamu tetap di dekat saya" titah Wiliam, tidak memerintahkan sekretaris menunjukkan ruang kerja untuknya.


"Ya Tuan" jawab lesuh formal.


Pernikahan mereka masih tersembunyi dari publik, tidak seorang pun yang tau status hukum mereka selain keluar besar, yang juga telah ditutup mulut.


Tidak ada pekerjaan Melani selain duduk menunggu dan lihat wajah dingin serius Wiliam yang sibuk dengan pekerjaan.


"Kamu tidur saja kalau ngantuk" ujar Wiliam, melihat Melani kebosanan tanpa pekerjaan.


"Mana ada asisten kerjanya tidur" jawab bosan Melani bertopang dagu.


"Ya sudah.Kemari" panggilnya melambaikan tangan.


Melani beranjak dari sofa tunggal empuk. Kakinya melangkah menghampiri si big bos yang kembali fokus pada layar laptop.


"Sini pijat bahu saya" titah Wiliam berwajah serius, sambil nunjuk bahu yang minta dipijit.


"Haaa.....Masa tugas asisten jadi tukang pijat?. Apa enggak salah?" kaget Melani berdiri dihadapan Wiliam yang fokus kerja.


"Mau tidak?.Atau mau di kasih pekerjaan lain?" mendongakkan wajah sejajar Melani.


"Apa?"


"Merayu saya" menyunggingkan bibir dan mata mengkedip.


"Ogah.Mending pijat saja"


Wiliam sengaja menggoda Melani yang boring, karena ia juga sedikit penat dengan setumpuk pekerjaan.


Melani yang berjalan ke arah belakang kursi kepemimpinan terhentikan oleh Wiliam.


"Kamu mau ngapain,hmm?" menarik Melani berhenti disampingnya.


"Tadi, Tuan minta dipijitkan?. Ya sudah, sekarang aku pijit" ketus Melani.


Wiliam memutar kursi kepemimpinan, menghadap Melani berdiri tegak jutek.


Ditarik mendekat tubuh kecil itu,lalu menepuk pahanya agar bokong montok Melani duduk di atas pangkuannya.


"Kamu pasti akan capek kalau berdiri.Jadi duduk di sini saja" tegas serius,menepuk pahanya.


"Nggak bakal kok" canggung Melani, karena tempat mereka di publik.


Wiliam tidak peduli mereka sekarang sedang berada dimana. Yang dia tau dan ingin, adalah merelaxkan pikiran jenuh.


Tarikan paksa Wiliam membuat bokong montok sudah nempel pada pangkuan. Dibimbingnya kedua pasang tangan mulus lentik itu ke pundak.


"Sekarang pijat" titah Wiliam merangkul pinggang Melani agar tidak jatuh merosot.


Melani memutar bola matanya,akan sangat memalukan jika sempat ada yang lihat keadaan mereka seperti saat ini.


"Pijat juga kepala saya" Wiliam merasa nyaman dengan pijatan lembut tak bertenaga itu.


"Besok sekalian saja buka panti pijat" gumam kesal pelan Melani.


"Bagus juga ide kamu. Tapi hanya ada satu customer, yaitu saya" menikmati pijatan tangan lembut Melani di kepala.


Ketika membuka mata lebar, Wiliam tergoda isi bungkusan dalam pakaian kemeja Melani, yang berlompatan tidak leluasa.


Tangan usil Wiliam spontan melepaskan satu kancing di kemejanya.


"Tuan!!. Ingat ini kantor" hardik Melani menepis tangan yang berhasil lepas satu kancing.


"Tau. Berarti kalau bukan kantor, boleh?" Wiliam menatap genit.


"No!!" bentak Melani turun dari pangkuan.


Malu banget dia diperlakukan seperti wanita pemuas hasrat, saat ada di publik.


.


...****************...


.


Terima kasih atas dukungannya.

__ADS_1


Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.


__ADS_2