Change Destiny

Change Destiny
Bab 15 Menantang nasib


__ADS_3

Bab 15.


.


Esok siang, Melani antara keraguan pergi menemui orang pintar tanpa sepengetahuan siapa pun.


"Pak kita ke simpang neraka" ucap Melani pada supir taksi.


"Nona mau apa ke sana?" bulu kudu supir merinding menuju ke tempat angker.


"Mau cari orang" Melani sendiri tidak yakin sama keputusan.


Mobil melaju, sampai persimpangan jalan simpang neraka yang hanya bisa di lalui satu mobil tanpa bisa simpang siur berlawanan arah kendaraan, mobil bergerak lambat.


"Ini benar jalan simpang nerakanya,pak?" mata hitam cantik itu melihat daerah kampung yang begitu kental sama benda-benda spiritual.


"I-iya, non. Nona yakin ingin mencari orang-orang sini?" supir meyakinkan keputusan penumpangnya.


Tidak bisa mundur lagi. Sudah basah sekalian nyebur ke kolam. Hidup mati sudah ada yang atur, semua hanya butuh proses dan coba jalani.


Melani keluar dari taksi, menanyakan alamat orang pintar yang tidak ada nomor rumah terpampang pada setiap rumah penduduk.


"Di sono" tunjuk pria tua bercaping bambu.


"Makasih, pak" balas Melani.


Langkah kaki Melani menapaki setahap demi setahap tanah tidak beraspal, hanya di penuhi dekokan lubang berisi batu besar dan kerikil.


Ada rasa pilu dan juga rasa takut. Pandangan mata penduduk sekitar seakan menyelidiki kehadiran seorang gadis kota, dengan tujuan tidak lain ingin mencari jimat penglaris atau pemikat.


Semua praduga warga salah, karena yang tau maksud itu hanya Melani seorang.


Tibalah Melani pada sebuah rumah panggung semi permanen tepat di ujung jalan yang di kelilingi pohon beringing dan pohon bunga kantil.


Aura mistis semakin mencekam dan meragukan tangan putih mulus mengetuk pintu papan tersebut.


"Per-misi ,ada orang tidak?" panggilan ragu Melani terdengar orang yang di dalam.


Krettt.... Ngikk....


Suara pintu nyaring berseret terbuka begitu saja tanpa ada orang yang nyambut.


"Masuk" suara bergema dari dalam rumah panggung, menunggu Melani masuk duduk berhadapan.


Orang pintar berbaju hitam dengan ikat kepala hitam sedang menunggu, sambil bakar kemenyan dan dupa.


"Duduk" titah orang itu.

__ADS_1


"Maaf kek. Saya kemari ingin.. " Melani duduk di hadapan orang tersebut dengan wajah kaku tegang.


"Mau pasang susuk kan" ujar orang tersebut ,menyapu tangan berjemari susunan cincin batu akik di kesepuluh jari dengan asap menyan.


"Bukan"


Melani terbelalak dengan ucapan orang itu,dia pikir orang pintar pasti sudah tau maksud kedatangannya. Eh ternyata salah tebak. Awalnya gadis kota itu takut, jadi merasa tidak yakin telah datang pada tempat yang tepat.


"Lalu!!" mata hitam berpoles apa itu seperti panda,melototi gadis kota.


"Saya ingin tolak bala sial"


"Em, bisa. Gampang di atur itu. Asal ada, uang ne piro. Hahaha... " orang itu tertawa menggelar dengan kode 3 jari mengosok(ibu jari menggosok telunjuk dan jari tengah).


Melani tersenyum kecut, dalam batin timbul dugaan bahwa orang pintar mungkin dukun gadungan penipu.


"Asal benar-benar pindahkan sial saya, saya akan bayar sesuai nominal yang bapak minta" tantang gadis kota.


"Baik. Kamu mau pindahkan kemana?" orang itu tertantang.


"Terserah, asal jauh dari saya dan keluarga"


Orang itu melihat apa yang terjadi pada Melani dengan bantuan jin peliharaan yang berbisik.


Bisikan jin peliharaan membuat orang itu jadi pukul mundur, karena bukan tolak bala biasa yang dilakukan gadis kota. Bisa-bisa semua kesialan pada gadis itu berpindah sepenuhnya pada orang yang berani coba ubah takdir.


"Pergi!!!.Cari saja orang lain" orang itu mengusir kasar Melani.


Baru saja sebentar Melani ada di rumah itu, satu persatu makhluk peliharaan lari terkocar kacir bersembunyi .


Melani binggung dengan sikap dukun gadungan itu tapi karena sudah di usir, Melani pun keluar. Tak lupa ia memberi uang pendaftaran, karena ia tau tidak ada yang gratisan di dunia modren.


"Aku sudah datang tempat yang salah" gumam Melani menuruni tangga kayu rumah panggung.


Gadis kota pun menuju ujung jalan masuk dimana taksi berhenti.


"Bagaimana, non?" tanya supir yang nunggu dengan kaca taksi tertutup rapat.


"Jalan, pak. Aku salah orang" sahut Melani.


Supir pun segera memundurkan pelan taksi sampai jalan yang bisa dilalui dua kendaraan.


Kepala Melani merasa pusing mikirkan gimana buang sial jika bertemu abang adik Lee.


"Pak, tau gimana cara buang sial, gak?" Melani tidak malu lagi mengatakan masalahnya pada orang tidak dikenal.


"Serahkan semua pada yang maha pencipta. Karena hanya Dia yang maha bolak balik segala sesuatu" ucap supir memandang wajah kisut gadis kota dari spion kaca depan.

__ADS_1


Hehehe....


Melani tersenyum malu, ia tau semua masalah tidak ada tempat bercurah keluh kesah paling baik selain Tuhan.Tapi yang namanya juga manusia juga mesti mencoba segala usaha apa pun itu.


Taksi melaju ke kantornya. Baru saja hendak menghindar, kemalangan sudah mulai dekat.


"Nona, ada orang ingin bertemu sedang nunggu di ruang tamu" ucap sekretaris berjalan ngikutin majikan.


"Bel, bilang saja saya belum datang" elak Melani, lihat tamu dari kaca pembatas.


"Tapi, Non" sekretaris.


Melani melangkah seribu mundur dari jalur menuju ruang kerja. Tapi yang namanya apes dan mesti apes, ada saja caranya.


"Mel, kamu mau kemana lagi?" panggil sang papa keluar dari ruang tamu.


"Hehe... Mau.... Mau cek produk, pa" dalih gadis berwajah canggung bohong.


"Biar Bella saja yang gantikan. Kamu cepat kemari " titah tuan Wijaya.


Huhuhu.... Hati Melani menangis menantang nasib malang.


"Tuhan, tolong jangan ubah masa depanku yang cemerlang jadi gagal.Aku akan ikuti misi kembalinya aku, asal aku tetap sukses di masa mendatang" rengek gadis itu berdoa dalam batin.


Gadis itu masih menyempatkan mengatur nafas, usai mengadukan semua rutukan pada maha Pencipta manusia beserta alam semesta.


"Selamat siang" sapa gadis berwajah senyum kaku.


"Siang" balas pengusaha berdarah dingin yang berdiri.


"Silahkan duduk saja" Melani memilih duduk menjauh dari sofa, biar tidak semakin apes.


Topik pembicaraan utama yang disampaikan Wiliam pada tuan Wijaya, di utarakan kembali oleh tuan Wijaya pada putrinya.


Sungguh tidak sopan jika menolak langsung kolaborasi kedua perusahaan, tapi sangat tidak menyamankan hati gadis itu juga jika harus bekerja sama dalam jangka waktu lama.


"Jika ini merupakan misi kembalinya aku. Maka tolong jangan lenyapkan impian masa depanku ya ,Tuhan" hati kecil gadis itu telah mengembangkan kain putih simbolis perdamaian sama yang namanya NASIB.


Tuan Wijaya memerintahkan sekretaris membuat surat kontrak kerjasama untuk dibawa pengusaha berdarah dingin pelajari dan di sahkan secara legalisasi oleh pengacara.


.


...****************...


.


Terimakan atas dukungan semua.

__ADS_1


Salam sejahtera dan sehat selalu bagi kita 🙏


__ADS_2