
Bab 23.
.
Esok hari....
Setiba penguasa tiba tanpa kabar, ibu tua dan nenek diam-diam gencar melakukan serangan.
Ibu tua secepatnya menelpon Nyonya Wijaya untuk mengajaknya dan gadis dalam perjodohan makan malam siang bersama.
"Bagaimana bibi besan ?" tanya nenek berdebar semangat.
"Beres" ibu tua mengedipkan mata sesuai rencana mereka.
Siang itu Nyonya Wijaya pergi ke kantor Melani ,dengan alasan minta ditemani menemui teman sosialita yang ngebet adakan pertemuan.
"Ayo Mel. Masa kamu tega lihat Mama sendirian hanya diam mematung sambil senyum" bujuk rengek Nyonya Wijaya berlapis air mata buatan.
"Bukan gitu, Ma. Kalau tidak, aku minta Bella temani Mama saja, ya" sahut Melani enggan pergi kejamuan tidak ada sangkut paut pekerjaan.
"Bella atau kamu yang anak Mama, ha!!.Apa kamu tidak mau Mama-mu ini lagi" rajuk berbibir runcing, seruncing ujung bambu.Dengan intonasi jengkel.
Melani mengaruk kepala tidak gatal, hanya pusing sama tingkah Mama yang merajuk buat heboh ekor-ekornya.
"Fine-fine.... Mel, ikut. Tapi tidak bisa lama" Melani pasrah selalu mesti nurut kalau level merujak ibu suri sudah diambang normal.
Melani menitip pesan pada sekretaris agar menschedule ulang beberapa rapat kecil, sebelum ikuti permintaan ibu suri.
"Baik, Nona" sekretaris mengantar bos muda dan ibu suri sampai ujung koridor liff.
Waktu sama juga, ibu tua dan nenek coba menahan penguasa keluar dari rumah dengan alasan apapun.
Tidak akan mereka sia-siakan kesempatan yang jarang terjadi selama berabad-abad menunggu lama.
"Saya kan pasti balik habis jemput Josh" ucap dingin Wiliam.
"Tidak usah. Biar nanti bibi saja yang jemput. Mendingan kamu temani Omah dan juga tamu yang akan segera sampai" ibu tua menarik masuk paksa tangan Wiliam.
Ada bau modus pada tampang dua wanita tua. Wiliam kali ini sudah bagai terperangkap jebakan harimau. Mau maju ada ibu tua, mundur ada nenek. Sungguh kompak kedua wanita pasang jebakan yang sempurna.
Wiliam kembali ke kamar utama melanjutkan pemeriksaan kerja secara online pakai laptop.
Dua belas menit berlalu...
Ting tong....
Bel rumah gedongan berbunyi. Nenek menghentikan pelayan buka pintu.
"Wiliam.... " teriak kencang nenek dari bawah anak tangga.
Suara nyaring bergema seisi rumah besar.
Cekrekk.....
__ADS_1
Langkah berat kaki panjang itu keluar begitu terpanggil. "Ada apa Omah?" tanya Wiliam menuruni anak tangga.
"Cepat buka pintu" titah no bantah.
"Kan ada pelayan" jawabnya enteng.
"Omah maunya kamu yang buka, cepat" tegas maksa.
Langkah berat itu melangkah buka pintu. Dengan wajah dingin, Wiliam bertanya ketus pada orang yang datang.
"Anda mau cari siapa?" ketusnya bertanya melihat dua wanita datang, satunya berhadap, satunya hanya memunggungi.
"Mau cari Nyonya Lee" ibu suri memandang wajah ketus menyambutnya.
Sangat tampan dan berkharisma, cocok bagi putrinya yang jutek,dalam batin ibu suri.
"Aunty.... " sapa senang Josh yang lari keluar dari mobil dengan cepat ,meninggalkan wanita tua dalam mobil.
"Hai Josh" balas melambai.
"Yuk masuk aunty" ajak Josh narik tangan Melani di kira tamunya.
Wajah Wiliam semakin dingin, bukan dia yang disambut bocah kecil merengek ngemis minta bertemu. Plus lihat wajah Melani dengan tujuan apa datang siang bolong di rumahnya.
"Hallo, dad" sapa santai Josh, tanpa acara pelukan. Kembali ngajak maksa Melani yang belum nyapa tuan rumah.
Sudah beberapa kali menolak ajakan undangan dari keluarga ini. Entah kenapa hari ini bisa mijak ke rumah investor. Yang paling anehnya lagi, sejak kapan teman sosialita Mamanya adalah anggota keluarga Lee.
"Sudah sampai, ayo masuk" ajak ibu tua, mata melirik mana anak gadis yang mau di jodohkan.
"Putri anda tidak ikut?" tanya pelan jangan sampai kedengaran orang tampan di depan.
"Ada. Sudah diajak masuk duluan sama anak kecil" ibu suri nunjuk putrinya yang sudah duduk.
"Itu putri anda?" kaget ibu tua.
Ibu suri ngangguk, menyamperi putrinya yang sudah duduk manis diajak ngoceh sama bocah kecil.
"Josh, kamu ganti baju dulu baru ikut gabung makan" perintah ibu tua.
"Oke grandma" sahut bocah
"Aunty jangan pulang dulu ya. Nanti Josh tunjukkan kaset game versi terbaru" bangganya Josh dapat teman.
Melani kaku canggung, penasaran. Apa sih yang sebenarnya sedang terjadi?.Drama apa pula yang sedang direncanakan nasib padanya?.
Mata Wiliam memandang tajam pada Melani, mengapa bisa jadi tamu?.Sejak kapan pula putranya akrab dengan gadis ini?.
Sama-sama kedua pekerja keras banyak pertanyaan di luar kemampuan bisnis mereka.
"Kamu Melani yang sering dibicarakan Ronald dan Josh kan? Kita juga sudah bertemu dua kali" tanya ibu tua.
"Loh, Nyonya dan Melani sudah kenal ya" sambung ibu suri.
__ADS_1
"Nah, kalau gitu, tandanya sudah jodoh yang tepat" celetuk nyambar nenek.
"I-iya" ragu ibu tua.
Niat ingin menjodohkan orang yang belum punya pasangan,kok jadi hubungan jodoh yang rumit.
"Wil, ini putri Nyonya Wijaya." nenek memperkenalkan.
"Sudah kenal juga, omah" jawabnya dingin.
"Bagus. Kalau gitu gak sulit kalau kalian langsung tetapkan tanggal pernikahan" ceplos nenek tidak sabar.
Mata Wiliam dan Melani melotot lebar, selebar mungkin dengar berita mengagetkan.
"Tidak bisa!!" tolak Wiliam, berdiri.
"Apa yang tidak bisa, dad?" tanya bocah yang sejak kapan muncul, tanpa dengar percakapan lengkap.
Wiliam dengan langkah marah menaiki anak tangga masuk kamar utama.
Kali ini sungguh keterlewatan,Wiliam tidak habis pikir sama pola pikir dua wanita tua yang ngegas nikahkan dia.
Di ruang tengah nenek mengajak para tamu untuk makan siang,dengan menu spesial.
Ajakan tersebut disambut Nyonya Wijaya, tapi buat Melani tertekan sampai ingin kabur.
"Ma, Mel lupa kalau ada rapat" bisiknya menolak.
"Kamu jangan buat Mama malu. Sudah duduk manis dan makan!!" ucap pelan ibu suri dengan nada penekanan.
"Aunty, habis ini kita main game sebentar, yuk" ajak bocah.
Melani tersenyum terpaksa untuk menolak ajakan bocah. "Lain kali saja ya. Aunty masih banyak kerjaan"
"Seperti cicit saya sangat suka sama putri anda" ujar nenek.
"Iya" balas Nyonya Wijaya ikut bahagia.
"Sudah seperti ibu dan anak. Akrab lengket, enak dipandang" pandangan nenek penuh haru bahagia.
Sambil nyantap makanan tiga wanita tua duduk menyaksikan interaksi antara Josh yang coba narik perhatian Melani.
Senyum makin berkembang merekah di bibir para wanita tua. Mereka tidak menyangka bocah lebih berinisiatif untuk lebih dekat dari pada pria dewasa.
Melani duduk kaku canggung mesti berinteraksi dengan anak investornya, setelah tau niat diajak datang pake paksaan.
.
...****************...
.
Terimakasih atas dukungan semua.
__ADS_1
Sehat sejahtera untuk kita selalu 🙏