
Bab 165
.
Wiliam dan Melani keluar kamar, menuruni anak tangga ke ruang tengah.Mereka pun tersusul Josh yang ketinggalan untuk berkumpul.
"Mami" sapa Josh langsung nemplok memeluk.
Ada mata sadis mengawasi mereka dari samping. Pelukan mereka juga cepat terpisah paksa olehnya.
"Mi,foto mana untuk dijadikan wallpaper" tanyanya menunjukkan foto selfi tangkapan kamera ponsel.
"Emmm ...." jari Melani menggeser kesamping, lihat pilihan foto mereka berdua yang bagus dijadikan wallpaper ponsel Josh.
"Norak" cibir sinis Wiliam membentangkan koran.
"Biar,wek" jawab Melani sambil ngejek.
Ckckck... Wiliam tersenyum sinis.
Setelah menemukan foto bagus,Josh menerapkan pilihan sang ibu pada layar ponsel.Semua layar apung juga tampak foto selfi wajah mereka berdua.
"Josh, kirim ke HP Mami foto yang itu" tunjuknya,mau ngedit foto lebih kece badai.
"Siap laksanakan" membuka perangkat bluetooth dan mengirimnya.
Begitu file foto kiriman masuk ke perangkat ponsel Melani,dia pun mulai mengedit memakai aplikasi pengeditan foto.
Filter, bingkai dan ornamen pelengkap memenuhi foto asli kiriman.
"Wahhh.... Cantiknya" puji Josh lihat hasil foto duplikat editan.
Orang disamping mereka mengintip dengan ujung matanya, tidak berani untuk ikut berkomentar norak.
"Daddy lihat ini" Josh menunjukkan foto duplikat hasil editan.
"Mmm" dehemnya pura-pura jual mahal.
"Josh tampan kan?" memuji foto dirinya setelah diedit.
"Mmm" fokus pada wajah Melani.
"Mami juga cantik kan?" muji orang terkasih.
"Gak" jawab sinis Wiliam.
"Gak!!" Josh marah pada jawaban bapaknya yang mancing kegaduhan.
"Bilang nggak cantik,tapi tiap malam aku dijadikan guling. Semua pria sama saja.Sama-sama ambil manisnya, udah itu dicampak" omel batinnya, mulutnya komat-kamit tidak ada suara keluar, mata melirik sinis.
"Daddy tuh yang jelek" protes marah Josh.
"Kalau Daddy jelek,maka kamu juga jelek" balas Wiliam.
"Huhhh!!. Kita tinggalkan Daddy aja yuk, Mi" mengajak orang terkasih pergi jauh.
"Yuk" jawab ngikutin sekutu pergi.
Saat Melani beranjak berdiri dari sofa, tangan Wiliam menarik kencang tangan Melani, hingga tubuh yang berdiri itu jatuh dalam pangkuan penarik.
"Kamu marah?" tanyanya pelan, memeluk Melani.
"Gak" pura-pura tidak bermasalah.
"Terus.... Kenapa ikut Josh ?" mencium dada Melani.
"Di ajak" mendorong naik kepala Wiliam.
"Jika saya tidak izinkan pergi" melepaskan pelukan.
"Josh..." panggil bala bantuan sekutu datang.
"Sssttt!!!" membungkam mulut korban yang panggil bala bantuan, pakai tangan.
"Emmm...emmm...." meronta panggil sekutu.
"Jika kamu terus menggoda saya,maka siap melayani kamu" ucapnya mengelus pangkal paha Melani.
"Koko!!!" pekik Melani bisa bebas dari bekaman tangan Wiliam.
Hahaha.... Tawanya terkekeh lihat wajah wanitanya menggeram kesal.
"You're crazy" marah Melani, lompat dari pangkuan suami mesum.
__ADS_1
"Yes,it's because of you" menyadarkan kepala di perut rata Melani.
"Daddy!!!" seru kencang bala bantuan dari kejauhan.
Terusik kedekatan mereka, Wiliam pun pura-pura jadi kepala keluarga yang galak, dengan segala otoriter tegas.
"Kamu jangan sok cantik.Itu tidak baik untuk perkembangan kepribadian anak saya" marahnya pada Melani yang bahagia akan datangnya bala bantuan.
"Aku!!" menunjuk dirinya yang dituding dengan pernyataan tidak sesuai kejadian.
"Hmm,kamu" memukul bokong montok Melani.
"Aaa" jeritnya sakit dapat pukulan.
"Stop Dad" menghentikan hukuman tidak masuk akal.
Josh pun bawa korban pergi sebelum penjahat menahan mereka.
"Sorry, Mi" ucapnya dengan wajah tertunduk.
"Kenapa?" bingung.
"Karena Josh, Mami kena marah dan dipukul" merasa bertanggung jawab atas kejadian.
"Oh... Tidak apa.Daddy-mu kalau tidak bertengkar dengan kita pasti kesepian" jawab Melani membalik menyalahkan Wiliam.
"Kayak Tom and Jerry?" memeluk.
"Iya.Kita Jerry, Daddy kucingnya.Hahaha...." ledeknya dengan tawa bebas.
Suara tawa mereka menggelegar, terdengar oleh orang yang mereka tertawakan.
"Apa yang mereka tertawakan?" kepala Wiliam mendongak ke lantai atas.
.
1 Minggu kemudian ....
Di hari yang sama, Josh sedang terjauhkan dari Melani, karena ada tugas extrakulikuler sekolah.
Kesempatan baik bagi Wiliam untuk memakan mangsa segar, setelah 1 minggu kotor.
"Koko mau ngapain?" tanya Melani, berjalan mundur dengan wajah tegang ketakutan.
"Jangan Ko" menyilangkan tangan tutupi dada.
"Saya ingin menafkahi batin kamu" berhasil menyudutkan mangsa ke sudut kamar.
"Tidak usah" tidak ada celah kabur.Berteriak pun tak ada gunanya, karena kamar besar itu sudah diredam.
"Biar saya buka" meraih penutup kulit mangsa.
Jika diibaratkan Wiliam seekor binatang, maka dirinya adalah singa jantan yang lagi musim kawin, setelah pertarungan sengit dengan singa jantan lain untuk memperebutkan betinanya.
Air liur singa jantan itu mulai ngalir keluar, taringnya yang runcing bersinar kilau menandakan diri adalah pasangan layak untuk mendapat keturunan.
Sedangkan singa betina sudah tidak berkutik, setelah semua penutup kulit telah di lempar kesembarang arah.
"Let's play" seringai singa jantan memasang posisi untuk menyerbu goa pertahanan.
Sekali hentakan keras yang cepat langsung berhasil memasukkan benda panjang keras.
Singa jantan mulai memompa cepat untuk capai kenikmatan.
Setelah penetrasi sudah di puncak,benda panjang itu dikeluarkan dari dalam goa untuk tidak meninggalkan jejak permainan.
Semburan cairan kental itu disemburkan pada tisu putih, jadi saksi pergulatan mereka.
"Sekali lagi" pintanya melampiaskan puasa hasrat 1 minggu.
Cukup lama Wiliam bermain dengan korban, sampai hasrat terpuaskan.
Teringat minggu lalu ada membeli kado, Wiliam mengeluarkan paper bag dari dalam lemari pakaian.
"Kamu pakai ini nanti malam" menyerahkan paper bag.
"Apa isinya?.Mau dinner di luar?" tanya dengan wajah senang.
Lihat dulu isinya.Apa masih bisa bertampang senang?.😌😌
"Kalau itu mau kamu, kita bisa keluar" jawabnya, menaruh dagu di pundak Melani.
"Arrrgggggg..... Koko!!" jerit Melani shock lihat isi kotak dalam paper bag.
__ADS_1
Wkwkwk.... Wiliam tertawa terbahak-bahak lihat wajah Melani memerah marah.
Bukannya meredam emosi Melani, dirinya malah menambah intensitas kemarahan kucing ngamuk.
Mereka berlari kejar-kejaran,naik turun tempat tidur menangkap lawan.
"Berhenti!" ujar Melani ambil nafas yang ngos-ngosan.
"Okey" berhenti lari dari tangkapan.
Deruan nafas mereka satu dua jungkir balik.Melihat gundukan yang naik turun ambil nafas, iman Wiliam mulai goyah balik.
Tersingnalir aura mesum, Melani mulai menjauhkan diri.
"Lebih baik aku bersembunyi dalam kamar mandi" ucap batinnya, bersiap kabur dari terkaman predator berdarah panas.
"Melani..." panggilannya dengan suara mesum bergelegar.
"No. Stopped!" jawabnya dari balik pintu kamar mandi terkunci.
"Dosa loh, kalau tidak mau saya nafkahi" mengaruk pintu kamar mandi dengan jari tidak berkuku
"No,no,no and no!!" tegasnya jawab penolakan.
"Ya sudah,tapi pakaian kamu ada bersama saya" menciumi bras wangi soft tubuh Melani.
"Oh iya.Mampus aku.Kok kabur disini" gerutu Melani, mondar mandir sesekali tempelin telinga ke pintu.
"Mel, keluar dong.Saya juga harus mandi" menyandarkan punggung di pintu kamar mandi.
"Mandi di kamar Josh saja" sahutnya ketus.
"Ekhemmm....Maunya dimandikan" merapikan rambut.
"Minta saja dimandikan sama bodyguard" menghidupkan kran shower.
"Terong makan terong dong"
"Iya.Tambah sambal balado biar maknyus" sindir Melani mencet botol shampoo.
Sambil mandi, Melani sesekali meladeni obrolan Wiliam yang ngaco.
"Mel, buka pintu" ketuknya pelan.
"Tapi, Koko jauh 4 meter"
"Iya,iya" mundur 4 langkah kecil.
"Sudah belum?" tanya Melani.
Untuk pastikan jarak sudah jauh, Wiliam sengaja tidak jawab.
"Aman nih" ucapnya monolog, sambil buka pintu.
Cekrekkk......
Kepala Melani nonggol keluar 1/2 bagian.Memang tidak terlihat sosok predator begitu pintu dibuka. Dan akhirnya satu kaki dan tangan keluar.
"Bwahhh....." Wiliam menampakkan dirinya dari samping.
"Copot ,satu dua tiga sepuluh" kaget lata Melani, menepuk dada berdebar kencang.
"Habis tiga,ya empat" menarik keluar utuh tubuh Melani berbalut handuk.
"Koko ngeprank" dada kekar predator dipukul.
"Habis kamu suka melawan" mencubit gemas hidung sedang.
"Dah, sana mandi" ujarnya ngusir, sadar kenapa keluar dari tempat persembunyian.
"Sudah berani main ngusir juga,hmm?" menarik nempel perut Melani,padanya.
"Eng-enggak" memutar bola matanya yang takut terintimidasi lagi.
Acara percakapan lanjut dihentikan Wiliam, setelah dirinya berhasil mencuri ciuman bibir tipis candunya.
.
......................
.
Terima kasih atas dukungannya dalam bentuk apa pun.
__ADS_1
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.