
Bab 81
.
...Rumah Sakit...
.
Dokter pribadi keluarga Wijaya tercengang lihat benjolan sebesar telur ayam di jidat pasien.
"Kepala Nona kenapa jadi begini?. Nanti cantiknya jadi berkurang loh" dokter menggoda lebai saat punya kesempatan.
Wiliam mengertakkan gigi dengar godaan dokter pada istrinya.
"Aku habis di bully orang jahat" aduh Melani yang diobati.
"Siapa?. Mau kakak dokter bius" tersenyum geli,masih merasa pasien seperti anak-anak sewaktu pertama kali jadi dokter pribadi rumah mereka.
"Suntik mati bisa nggak?" menahan perih jidatnya.
"Wahh... Bisa hukum penjara donk. Mana kakak dokter tampan belum punya istri" goda dokter.
"Sudah siap olesin salepnya?" ketus Wiliam bertanya.
Tidak disangka dokter pribadi keluarga Wijaya bisa menggoda istri kecilnya secara terang-terangan. Antara umur Wiliam dan dokter itu beda tipis tidak sampai 5 tahun.
"Sudah. Nanti saya tuliskan resep pereda nyeri untuk di minum" ucap serius dokter berjalan ke meja kerja.
"Sekalian obat tidur ya,Dok" pinta Melani.
"Loh kenapa?.Kan nyerinya masih normal" memandang.
"Aku banyak pikiran" ujung mata kasih kode lirik Wiliam.
"Anda jangan coba-coba sembarangan kasih obat" ucap dingin Wiliam duduk tenang.
"Ya saya tau itu. Sebaiknya,Nona refreshing saja" jawab memberi saran.
Tidak senang pada dokter yang menatap lekat, Wiliam segera membawa istrinya keluar sehabis ambil resep.
"Dokter itu sering godain kamu?" tanya dingin Wiliam.
"Bukan goda, hanya menghibur" membela.
Semakin tidak terima pembelaan istrinya, Wiliam berjalan tinggalkan Melani yang tebus obat.
"Pulang sana. Aku juga tidak mau pulang dengan kau. Dasar psikopat!!" umpat Melani.
"Ini obatnya,Bu" ucap suster apoteker.
"Terima kasih" membayar sesuai tagihan kwitansi.
Melani berjalan nunduk,tutupi benjolan besar di jidatnya.
"Sudah siap?" tanya ketus orang yang berdiri nunggu di samping mobil.
Melani ngangguk dan tunjukkan bungkusan obatnya.
__ADS_1
"Kamu masih mau pulang ke rumah orang tuamu dengan kondisi begini?"
"Iya" jawab datar Melani.
"Baik,saya akan ngantar. Jalan Pak,ke rumah keluarga Wijaya" ujar Wiliam.
Kian hari semakin malas untuk menyahut. Di jawab baik-baik juga tidak mengubah takdir lebih baik.
🎶Kring ....Kring.... Halo Daddy,di sini Josh calling.
Bunyi ringtone panggil yang aneh,hasil kotak katik Josh tanpa di duga pemilik ponsel.
"Mmm....Halo,Bi" ketusnya terima panggilan dari seberang.
"Wil, Josh mengurung diri. Katanya ingin ketemu Melani" cemas ibu tua.
"Biarkan saja kalau mau mogok makan. Lihat perut atau ego yang menang" jawab dingin.
Melani tertegun dengar penuturan Wiliam. Dengan anak sendiri saja begitu keras, apa lagi dia yang hanya berstatus istri paksaan. Sudah pasti tidak akan bakal hidup bahagia batin jasmani.
Wajah dingin yang tenang itu menutup telepon dan berpandangan lurus ke jalan.
"Setidaknya Papa tidak seperti dia" ucap batin Melani masih bersyukur.
"Saya kasih kamu waktu 2 x 24 jam untuk memutuskan kesepakatan kita. Jika lewat dari batas itu,saya anggap kamu memilih pilihan kedua,yaitu bersiap untuk ubah kepemimpinan perusahaan Papa-mu" ucap Wiliam sebelum Melani keluar dari mobil.
Tidak ada anggukkan atau geleng kepala. Melani keluar begitu saja setelah tombol kunci otomatis di buka supir.
Cukup pula bagi Wiliam mengantar istrinya sampai rumah dengan selamat. Tanpa perlu turun untuk menyapa kedua mertua yang ada di dalam.
Krett....
"Nona Kenapa?" tanya si Mbok, coba intip kenapa wajah nunduk melulu.
"Nggak ada apa-apa,Mbok" sahutnya terus elakkan wajah.
"Yo,uwes. Mau Mbok bikini teh hangat ,nggak?" Mbok percaya.
"Air lemon taruh bawang putih aja Mbok" pinta Melani.
"Itu untuk opoh,toh Non?" bingung.
"Tolak angin sial, Mbok" sahut Melani tidak sapa Mama Papanya yang melintas.
"Mel, kamu ..." ibu suri menahan Melani jalan.
"Itu kenapa,Mel?" sambung tanya Tuan Wijaya.
"Kepentok meja" menutupi benjolan.
Tuan Wijaya tidak percaya putrinya seceroboh ini. Biasanya Melani akan penuh kewaspadaan, terutama menyangkut keselamatan saat bekerja.
"Mel, jujur sama Papa. Apa ada yang sakiti kamu?" menahan wajah Melani berpaling.
"Mel jujur kok,Pa. Tadi kepala Mel pusing, terus waktu sadar sudah gini .Kata Bella mungkin habis kepentok meja, karena dia temukan jidat Mel ciuman sama meja, hehehe..." jujur Melani disertai canda ringan.
Hanya sang Papa yang banyak cemas terhadap dirinya, tidak seperti orang yang melahirkan dan besarkan dia.
__ADS_1
"Kamu ini sudah besar,jadi istri orang dan ibu, harus lebih teliti. Jangan karena kecerobohan kecil, kamu dinilai kurang sama keluarga mereka" oceh ibu suri.
"Sudah-sudah. Jangan omelin Melani lagi, namanya juga kecelakaan tanpa sengaja" meleraikan.
"Pa,Mel boleh tinggal di sini kan?" rengeknya.
"Boleh, sampai benjolan kamu hilang" jawab jutek ibu suri.
"Makasih ya ,Ma" sahut Melani manyun.
"Jangan lupa bilang sama Wiliam,kalau kamu akan pulang setelah sembuh" ujar ibu suri , pergi.
"Kamu istirahat dulu. Nanti malam baru sambung cerita. Sekarang Papa ke kantor dulu" membelai kepala putri.
"Papa hati-hati, ya" melambaikan tangan.
Setiap orang memiliki dua sisi, seperti mata uang dan telapak tangan. Sisi baik dan jahat, namun kebanyakan orang hanya akan menonjolkan satu sisi yang lebih mendominasi sepanjang hidup mereka.
Jika sisi jahat lebih mendominasi,maka seumur hidupnya akan jadi terdakwa, biarpun dia pernah berbuat kebaikan sekecil butiran debu. Begitu juga dengan sisi baik yang mendominasi, kadang orang tidak sadar akan keburukan yang telah dilakukan orang tersangkut.
Maka dari itu kita wajib bijak, tidak menyudutkan seseorang dari perbuatannya yang tidak dapat kita nilai.
Karena sesungguhnya yang memiliki hak menilai absolut itu, hanya ada di tangan sang pencipta alam semesta beserta isinya. Yang juga maha membolak-balikkan isi setiap hati manusia, dan skenario kehidupan.
Sudah 1 x 24 jam berlalu, namun Melani masih belum tetapkan keputusan final. Hari-hari yang telah dilaluinya mengubah drastis cara pandang pemikiran.
"Bodoh amat!. Percuma juga kalau nurut. Dia tetap berusaha akan ambil ahli perusahaan Papa. Kalau memang takdir aku kembali untuk sengsara dan jatuh miskin,ya sudah. Dari pada harus tunduk di bawah telapak kakinya" pikiran pesimis.
Ting ....
Sebuah pesan e-mail masuk, dibacanya isi pesan e-mail yang membuat mati kaku lihat pesan.
"Dasar saiko!!. Dia sengaja mempercepat keputusan tanpa rasa perikemanusiaan" umpat Melani menggeram kaku.
Isi pesan yang menyatakan kesepakatan perusahaan sang Papa yang telah dikuasi dua puluh persen.
Bergegas Melani keluar kamar mencari Tuan Wijaya, untuk bertanya akan keabsahan pesan yang di terima.
Dengan wajah cemas takut apa yang dipikirkan, Melani terus membujuk agar membatalkan keputusan tersebut.
"Tidak apa,Mel. Papa percaya Wiliam dapat lanjutkan bisnis Papa" meyakinkan.
"Itu tidak seperti yang Papa lihat.Bagaimana jika dia buat keluarga kita bangkrut?"
"Jika hal tersebut terjadi,maka disebut takdir. Ada kalanya kita di atas,ada masanya pula kita turun kan?" memberi pencerahan.
"Pokoknya Mel tidak setuju. Mel, akan minta dia batalkan perjanjian itu" geram Melani keluar dari ruang kerja sang Papa.
"Mel..." panggil pria paruh baya.
.
...****************...
.
Terima kasih atas dukungannya.
__ADS_1
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.