
Bab 64
.
Sebagai menantu, Wiliam tidak bisa berkata banyak untuk menghibur kedua orang tua Melani yang baru saja dikenal tidak lama olehnya.
Namun dalam hati, sambil sesekali memandang foto istri dari kejauhan,dia juga menyesali akan kurang pengawasan hingga buat istrinya kabur tanpa diketahui olehnya.
"Ko,kamu makan atau istirahat sebentar dulu. Biar saya yang gantikan" ucap Ronald, memandang wajah dingin itu sedih tak terutarakan sedari kemarin.
"Tidak usah" jawab dinginnya.
Tidak ada yang bisa membujuk Wiliam jika sudah berkata demikian, kecuali Josh dengan rengekan manja.Namun keadaan Josh yang juga sedang perang ketidak relaan, buat semua tidak terkendali.
.
Hari ketujuh...
Upacara pelepasan yang diadakan selama satu minggu cukup banyak menguras banyak energi semua anggota keluarga inti, terutama Wiliam yang telah tidak tidur full seminggu itu. Wajah mulus tampan itu, kini ditumbuhi rambut halus mengelilingi pipinya hingga dagu. Tubuhnya juga terlihat kurus karena kurang tidur dan makan teratur.
"Wil,kamu harus makan. Lihat tubuhmu sudah terlihat kurus" nasehat nenek.
"Omah saja. Saya masih harus ngurusin hari terakhir ini" sahut dingin Wiliam berlalu.
Tiap pagi, Wiliam hanya memakan sepotong roti hingga keesokan paginya. Tak kenal rasa lapar dan ngantuk dalam tubuh yang coba tegar.
Untungnya ini adalah hari terakhir mereka melakukan doa pelepasan,bagi semua keluarga.
Agung yang seorang diri datang mewakili kedua orang tuanya di hari terakhir, semampunya coba hadapi kenyataan pahit.
"Mel, kakak berharap bisa bertemu kamu pulang ini. Tapi bukan dalam dunia yang berbeda. Apa kamu tidak kangen bermanja dengan kakak,hum?" mengelus foto cantik Melani dengan hati menahan rasa sedih perihnya.
Wiliam menoleh pada pria tampan yang sudah beberapa hari datang melayat bersama orang tua Melani. Namun keadaan buat mereka berdua belum sempat tegur sapa. Dari kata-kata yang keluar dari mulut pria itu, Wiliam menebak bahwa pria muda tampan inilah kakak yang dipanggil dalam mimpi sebelum maut naas itu terjadi.
"Anda yang bernama Agung?" tanya Wiliam berwajah kusut.
"Ya. Aku kakaknya Melani. Kamu sebagai suami telah gagal menjaga adikku" sahut kesal Agung, menjauh cari tempat duduk untuk tenangkan suasana.
Wiliam tidak bisa memberi pembelaan diri, semua yang dikatakan oleh kakak iparnya itu benar. Sebagai seorang suami,dia telah gagal menjaga seorang wanita yang telah dititipkan pada tangannya langsung, sesaat mereka telah resmi diakui anggota keluarga sebagai suami istri.
Tatapan sinis Agung juga terpancar ketidak relaan mendalam, karena bangkai mayat sang adik tidak akan pernah ditemukan biar dicari sampai puluhan tahun.
Di tempat lain dengan perbedaan waktu tipis , seorang wanita sedang mengerek koper menuju bandara.
Berbaju motif bunga tipis ,lengan panjang dan celana jeans, lengkap atribut kacamata hitam plus topi serta masker , wanita itu mengantri masuk pintu keberangkatan.
__ADS_1
"Ini baru hari yang cerah. Energi terisi full power" menaiki tangga pesawat.
Diambilnya tempat duduk yang tertera pada tiket,lalu memakai headset mendengar lagu yang gembira, menemani perjalanan pulang ke rumah.
Sepanjang perjalanan udara,wanita berkulit sawo duduk memejamkan mata mendengar lagu dan ngikutin irama dalam batin.
Perjalanan yang hanya ditempuh dalam waktu satu jam pun tiba. Kembali ia berdiri membawa tas tangan serta koper menuruni tiap kabin pesawat, menuju pintu keluar bandara.
"Kira-kira ini bakal jadi suprise nggak,ya?. Ah, bodoh amat. Paling-paling kalau dicermahi ,aku kabur ke hotel" monolog wanita menarik koper dengan senang.
Di depan pintu utama bandara, wanita itu melambaikan tangan menghentikan taksi yang berbaris minta dipanggil penumpang.
"Pak, ke jalan KK ya" ucap wanita, memberikan koper untuk dimasukkan dalam bagasi.
Dengan perasaan tenang, wanita itu menuju alamat tertuju. Matanya memandang bangunan serta warga kota yang sibuk di jam pulang kantor.
"Nona kita sudah sampai" ucap supir taksi.
"Eh iya" sahut Melani dengan senyum bahagia,sambil ambil uang bayar ongkos taksi.
"Ini kebanyakan,Non" ucap supir taksi.
"Tidak apa,Pak. Berarti itu rezeki Bapak hari ini" Melani membuka pintu taksi.
"Amin.Bapak juga" menurunkan sebelah kakinya.
Dari dalam rumah,si Mbok mengintip lewat jendela ada tamu yang datang. Untuk memastikan siapa tamu tersebut, Mbok mengintip lebih lama.
"Lihat apa sih,Mbok?" tanya ibu suri yang duduk lemas tak bertenaga.
"Ada tamu ,Nya. Tapi,Mbok gak kenal" sahut Mbok lanjut ngintip wanita yang mengerek koper masuk gerbang rumah.
"Siapa yang datang?. Semua family kan sudah pada pulang" ucap Nyonya Wijaya memijat kepala cenat cenut.
"Emboh toh" Mbok bergedik bahu, siap-siap membuka pintu.
Ting Tong.... Bel berbunyi, si Mbok yang sudah siap siaga membuka pintu dan bertanya.
Belum sempat bertanya,tubuh pelayan tua dapat rangkulan gembira dari tamu misteri.
"Eh,eh... Tunggu desek. Ko'we sopo?. Datang-datang main peluk" Mbok melepaskan pelukan tamu misteri.
"Ini aku loh ,Mbok.Masa lupa" tamu menaikkan topi dan buka masker.
"Han.....Hantu...." teriak Mbok kaget.
__ADS_1
Tangan Mbok yang hendak lari masuk di tahan tamu misteri,yang tidak tau menahu mengapa disebut 'Hantu' dengan wajah ketakutan setengah mati.
Nyonya Wijaya coba berjalan dengan tubuh lemas, melihat apa yang terjadi pada pelayan tuanya.
Rasa tidak percaya melihat tamu yang datang,buat wajah kisut ibu suri tersenyum bahagia.
Langkah kecilnya berjalan setahap demi setahap,hingga mendekap tubuh tamu dengan wajah sedih berliput gembira.
"Mbok, cepat bawa masuk koper" titah ibu suri sesenggukan senang.
Melani tidak pernah diperlakukan begitu oleh ibunya semenjak kecil. Seakan pertemuan mereka ini telah terlampau lama berpisah tanpa ada koneksi.
"Ayo masuk" ajak ibu suri, dipapah Melani.
"Mel, boleh tinggal di rumah ini kan,Ma?" tanyanya waspada kalau di usir pulang ke rumah Wiliam.
"Ya boleh.Kenapa tidak" sahut ibu suri mengusap air mata .
Melani tidak banyak bertanya,tapi ia dapat rasakan perbedaan besar pada Mamanya yang tidak ada pada sebelumnya.
Saat Melani mau memasuki kamarnya,di lihat seorang wanita bule menidurkan seorang bocah,dan seorangnya lagi sudah tidur lelap.
"Kamu, kakak ipar,ya?" tanya pelan Melani,agar tidak membangunkan para bocah (B.Inggris).
"Ya. Dan kamu?" balik tanya wanita bule, mengingat wajah tak asing(B.Inggris).
"Perkenalkan,nama saya Melani Wijaya. Adik kak Agung paling cantik" sahut Melani dengan bangga(B.Inggris).
"Ghost" celetuk wanita bule (B.Inggris).
Wanita bule tidak menyangka bahwa dirinya bakal bisa melihat hantu menjelang magrib. Hal tahayul,yang tidak pernah ia percayai jadi kebenaran.
Sedangkan Melani tampak bingung, mengapa semua memandang dirinya seperti hantu.
"Inikan bukan bulan Halloween?. Mengapa aku dikira setan, hum?" monolog Melani keluar dari kamarnya,tanpa mengganggu.
.
...****************...
.
Terima kasih atas dukungannya.
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.
__ADS_1