
Bab 132
.
Jam menunjukkan pukul 20:45. Semua yang ada di rumah Wijaya bersiap-siap untuk tidur cantik.
Si Mbok juga sudah selesai dengan pekerjaan dan mengunci semua pintu sebelum mengganti lampu tiap ruangan.
"Mi, kita tinggal lama kan di sini?" tanya Josh menarik selimut berbarengan.
"Iya. Semoga saja, Daddy-mu tidak paksa kita pulang" mata Melani sudah lengket tidak bisa terbuka.
"Amin" sahut Josh memiringkan tubuhnya, melihat wajah cantik itu sudah tidur dalam sekejap.
"Night Mi. I love you" ucap pelan Josh, tidak lupa mengecup pipi cantik saat tidak ada penghalang.
Semua sudah berbaris memasuki dunia mimpi, termasuk Tuan Wijaya yang masih harus ke kantor esok hari.
Ting tong....
Bel rumah itu berbunyi, mengganggu setiap orang yang lagi berbaris masuk dunia mimpi.
Mbok berjalan membukakan pintu lihat tamu pengacau malam-malam.
"Oh, Tuan" ucap Mbok mempersilahkan masuk.
"Semua kemana?" tanya tamu.
"Sudah pada tidur Tuan" jawab Mbok yang nutup mulut nguap.
"Sebentar, akan Mbok bangunin Tuan Wijaya" ucap Mbok.
Mbok baru saja ingin mengetuk pintu kamar majikan, orang yang dicari telah keluar sendiri.
"Anu Tuan,ada mantu Tuan datang" ucap Mbok menunjukkan keberadaan tamu pengacau dengan ibu jari.
"Oh.Mbok silahkan istirahat saja" Tuan Wijaya tidak cegah pelayan tua itu beristirahat.
"Baik Tuan"
Tuan Wijaya menghampiri tamu pengacau, dan bertanya apa maksud kedatangan.
"Melani dan Josh sudah tidur. Apa kamu mau jemput mereka" ujar Tuan Wijaya.
"Iya Pa. Maaf kalau terlalu malam saya baru datang" jawab Wiliam.
"Tunggu besok saja kalau mau jemput mereka" ucap dingin Tuan Wijaya yang mengusir secara tidak langsung.
Seseorang datang menghampiri kedua pria dewasa.
"Kamu nginap sekalian aja, Wil" celetuk orang tersebut, sambil menyanggul rambut.
Nah... Nyonya rumah sudah keluar dari markas, tuan rumah dibuat tak berkutik untuk masalah sepele di luar kendali.
"Jangan. Kamu seperti tidak tau sifat Melani" ucap bisik tuan Wijaya mencegah istrinya.
"Tenang saja" sahut Nyonya Wijaya mengelus dada suaminya yang cemasan.
Melihat keharmonisan orang tua Melani, Wiliam juga ingin seperti contoh keduanya dalam membina keluarga kecil mereka.
"Sana kamu masuk kamar Wil" ucap Nyonya Wijaya, menarik suaminya untuk kembali ke kamar mereka.
"Baik, Ma" jawab Wiliam, berjalan ke arah kamar Melani.
Tangan Wiliam menekan handle pintu, ternyata kamar itu terkunci,dan buat dirinya tidak bisa masuk.
"Kenapa?" tanya dingin Tuan Wijaya dengan tatapan sinis.
"Ya pasti terkuncilah" sahut ibu suri, mencubit lengan Tuan Wijaya yang tidak bersahabat dengan mantu mereka.
"Saya tidur di sofa saja, Ma" sambung jawab Wiliam, menunjuk ruang tengah.
__ADS_1
"Jangan. Mama ambil kunci serep kamar" cegah ibu suri, yang lebih sayang pada mantu.
Tuan Wijaya berdiri dengan tatapan sinis pada Wiliam. Dia heran mengapa istrinya memilih Wiliam jadi mantu mereka dari sekian juta pria yang ada.
"Kamu jangan ganggu Melani. Biarkan dia istirahat" pesan dingin Tuan Wijaya, sebelum nyonya rumah muncul diantara mereka.
"Saya tau, Pa" jawab dingin Wiliam.
"Ini kunci kamar, kamu buka saja Wil" ucap ibu suri menyerahkan kunci duplikat kamar.
"Terima kasih,Ma" Wiliam mengambil kunci dengan senang hati.
Biarkan yang muda melakukan dengan cara mereka sendiri. Sedangkan yang senior cukup memantau dari jauh.
Wiliam berhasil membuka kamar dengan kunci duplikat pemberian ibu mertua. Namun hatinya sakit banget lihat pemandangan yang ada.
"Josh!!. Kamu sudah berani main peluk istri Daddy,Hem..!" marahnya pelan tidak ingin mengganggu bumil.
Wiliam menarik lepas tangan Josh yang enak nemplok di perut Melani berisi kecebong kecilnya.
Kemudian menggeser Josh ke ujung tempat tidur king size,dan menempatkan dirinya berada di tengah sebagai pembatas kedua bocah.
Terhirup aroma tubuh Wiliam yang dikenal indera penciuman Melani dari alam bawah sadar. Tangan mulus itu langsung memeluk tubuh kekar, agar bisa dihirup lebih dalam dan lama.
Tentu saja sang pemilik tidak menolak, justru tampak senang dengan godaan itu. Tapi, lagi-lagi sayang di sayangkan. Ada pengacau kecil disampingnya, membuat dirinya tidak bisa balas godaan itu.
"Apa saya pindahkan saja Josh ke bawah" pikirannya sudah terpenuhi hasrat,dan cari cara untuk bisa menyalurkan sedikit pun jadi.
Wiliam memandang wajah manis Melani, lalu menoleh wajah tampan Josh. Tak ada pilihan lain kecuali ikuti pikiran piciknya.
"Sorry Josh" mengendong pelan tubuh anaknya, untuk di tidurkan di bawah tempat tidur yang beralas karpet tebal.
Hufff....
Wiliam membuang nafas lega. Sekarang dia bisa sedikit salurkan hasrat tanpa pengacau.
Dia mencium seluruh bagian wajah cantik itu sampai ke leher, dan mulai nakal tangannya untuk meremash gundukan bakpao.
Melani mengeliat geli gelisah. Perlahan mata di buka, dan lihat orang yang sudah berada di atas menindihnya.
"Koko" ucapnya dengan mata sayup ngantuk.
"Sstt!!" menutup mulut candu dengan mulutnya.
Wiliam menggoyangkan bokongnya untuk membantu senjata kramat terima signal darinya.
Wajah Wiliam masih tampak kesal karena kurang leluasa.
"Kita di kamar mandi saja ya" bisik Wiliam, mengangkat tubuh Melani.
Melani menggeleng kepala. Dia berpikir, mengapa dalam dunia mimpi juga harus jadi penghangat tubuh kekar itu. Cukup di real tanpa membawa ke mimpi.
Wiliam mengendong tubuh Melani walau memberontak minta turun.
Sesampai di kamar mandi, Wiliam langsung melepaskan pakaian dia dan Melani tanpa minta izin.
Permainan pun di mulai dengan gencatan senjata kramat yang masih coba menerobos masuk ke goa pink.
"Ko, jangan" tolak Melani menggelinjang dibuat Wiliam yang remas dan nyusu gundukan putih hangat menantang.
"Saya mau absen" bisikan penuh kemesuman.
Masuk sudah benda panjang keras menantang ke dalam goa pink. Goyang dangdut bokong Wiliam pun kian cepat.
Denyutan signal dalam goa semakin mencekam senjata yang sedang akan bidik sasaran.
"Ummm.... Enak Mel" bisik Wiliam menunggu ******* Melani.
Melani merem melek tidak sanggup menerima serangan yang melebihi frekuensi sewaktu diketahui dirinya hamil.
"Ko,Mel..." ucap Melani memberi signal puncak orgasme.
__ADS_1
"Iya" semakin cepat bergoyang dangdut.
Cross...
Semburan cairan gel membasahi dalam goa dan senjata yang sampai puncak nikmat.
Biar kagak ketahuan, Wiliam mengeringkan tubuh lengket penuh peluh keringat dengan handuk basah.
"Sini,saya pakaikan" meraih brah yang akan dipakai.
"Koko enggak di nyata, enggak di real selalu bully Mel" keluh manja, biarkan orang yang melepaskan memakaikan kembali.
Wiliam terdiam sejenak. Dia baru tau kalau istri mengira sedang di alam mimpi.
Ulah nakalnya kembali muncul, dia ingin Melani memanggil dengan sebutan mesra.
"Kamu mau tidur kan?" tanya Wiliam memakaikan celana segitiga tipis berenda.
"Mm..."dehem angguk kesal.
"Sekarang coba tambah panggilan. Panggil Koko sayang" godanya berwajah serius memakaikan baju.
"Kalau aku panggil,aku langsung bisa bebas?" meragukan.
Wiliam ngangguk sambil memakai celana segitiga sendiri.
"Koko sayang,aku mau tidur" ucap Melani.
"Coba sedikit manja" godanya menarik tubuh Melani yang terhuyung akibat ngantuk dan lelah.
"Auuu ahh.." jawab ketus terus dimodusin.
"Ayolah Mel, atau mau saya lanjutkan olah raga tadi,hmmm" menyeringai.
"Okeyy.. Fine..." menarik nafas dan coba manja genit.
"Koko sayang.... Mel sudah ngantuk, bolehkan Mel tidur" memelas dengan suara manja.
Wiliam tertawa pelan, cukup puas dengan sikap manja itu. Lalu menggendong keluar tubuh berpakaian lengkap.
Cup...
"Sekarang tidur yang nyenyak" merebahkan perlahan tubuh kecil dan menyelimuti setelah kasih kecupan selamat malam.
Kondisi Josh yang tidur di bawah sudah terlupakan bapaknya, yang dapat jatah malam sekian hari tidak blusukan lihat kecebong.
Malam yang tersalurkan hasrat, bikin Wiliam tidur nyenyak sambil memeluk tubuh kecil.
.
Cit..... Cit.....
Bunyi kicauan burung bernyanyi dan saling tegur sapa menyambut pagi.
"Mami...." panggil panik Josh kehilangan ibu cantik dan berada di bawah.
"Diam!!" hardik Wiliam keluar dari kamar mandi sehabis mandi.
"Daddy?" tertegun, sejak kapan bapaknya ada di kamar bersama mereka.
"Sana mandi dan jangan ganggu Mami" titah Wiliam.
Josh berdiri melihat ibu cantik masih tidur nyenyak.
.
...****************...
.
Terima kasih atas dukungannya.
__ADS_1
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.