
Bab 128
.
"Aku lapar,Ko" ucap pelan Melani merendahkan harga diri yang sudah dicuri suami mesum.
"Baik. Sekarang kita makan" sahut dingin Wiliam bersimpul senyum di ujung bibir.
Kebayang banget hati Wiliam yang senang bisa naklukkan istri setelah berakit-rakit ke hulu.
Mereka pun turun untuk bergabung makan malam dengan dua pria lain.
Terlihat hening karena wajah dingin Wiliam memandang dua pria yang memandang wajah istrinya.
"Makan!" hardik Wiliam memelototi anak dan adik.
Dua pasang mata pria lain tertunduk melihat piring mereka.
"Hati-hati. Daddy kamu lagi ngamuk" gumam peringatan pelan Ronald pada bocah disebelah.
Josh hanya bisa ngangguk paham, menatap lekat piring berisi makan malam. Begitu juga dengan wanita satu-satunya yang ikut para pria makan malam, terlihat nunduk membisu menyantap makanan.
.
Seminggu kemudian....
Kehamilan Melani belum diketahui anggota keluarga lain. Tanda-tanda hamil muda juga tidak terlalu menonjol layaknya ibu hamil lain.
Hanya saja setiap pagi dan malam dirinya ingin menghirup sekilas aroma tubuh suami mesumnya seusai mandi.
"Seharusnya kamu saya mandikan sekalian, biar bisa hirup lebih lama" goda tampang jaim Wiliam, membiarkan Melani menghirup langsung dada petaknya beraroma sabun kayak parfum,menurut penciuman hidung Melani.
"Koko enggak ikhlas ya" jawabnya sewot, menyudahi menghirup aroma tubuh segar Wiliam.
"Kok ngambek?" menarik tangan Melani yang merajuk. "Bukan itu maksud saya. Alangkah lebih bagus jika kita mandi bersama, biar aroma tubuh kita couple" bujuknya memangku tubuh kecil,tapi tangan sudah mengukur setiap milimeter kulit Melani.
"Hemphh!. Bilang aja kalau Koko mau modus" menepis tangan usil Wiliam yang mengukur bagian tubuh sensinya.
"Hahaha.... Nah,itu tau" Wiliam tertawa cekikikan, sambil mencubit gemas dagu Melani.
Melani menjahui suami yang tingkat mesum sedang kambuh. Dirinya sendiri saja tidak tau, apakah mulai menyukai sosok pria yang terkadang jaim, dingin, posesif,dan sebagainya layaknya pria lain.
"Ini pasti karena hormon kehamilan, makanya aku tidak bisa jauh darinya" gumam sewot Melani keluar mencari Josh teman rumpi.
Tokk.... Tokk....
Josh sudah tau siapa yang bakal mengetuk pintu kamar saat bersiap makan malam.
"Mi,nanti habis makan kita tanding game,ya. Kalau menang,bisa dapat hadiah" ucap pelan Josh menarik masuk ibu cantiknya agar tidak ketahuan.
"Juara pertama berapa?" Melani jadi kecanduan main game online selama hamil.
"1.000 $ USD,Mi" seru Josh.
"Oke.Kita kalahkan mereka" Melani terlihat gembira.
"Tapi jangan ketahuan uncle, terutama Daddy. Bisa..... Krett...." jarinya mengiris leher, mengisyaratkan hidup mereka bisa mati.
"Oke" Melani paham,lalu keluar dengan tampang biasa.
Ketika makan malam,dua bocah beda generasi tampak makan terburu-buru. Karena hampir mendekati detik-detik pertandingan game online.
"Daddy, uncle,Josh sudah siap.Josh kembali ke kamar dulu,ya" pamitnya dan di anggukkan dua pria dewasa tidak menaruh curiga.
"Aku juga sudah kenyang" sambung Melani memakan suapan terakhir.
"Kamu belum minum sup itu" ucap tegas Wiliam sengaja menahan istrinya.
"Oh.Baik" menurut dan lekas minum sup sebelum detik pertandingan di mulai.
"Aneh banget. Kenapa begitu tergesa-gesa?" ucap batin Wiliam memperhatikan gerak-gerik tak lazim Melani.
Semangkuk sup sudah dihabiskan, tidak ada lagi alasan bagi Wiliam menghentikan permintaan.
Kaki Melani melangkah lebar guna percepat sampai di kamar Josh.
Di kamar,Josh baru selesai mendaftarkan diri dalam pertandingan.
"Huff... Hampir saja Mami telat" ujar Melani mengambil bantal untuk menyangga perut kekenyangan.
"Mami sudah siap tanding kan?" menyerahkan stik game.
__ADS_1
"Tentu saja" mencari posisi duduk ternyaman, agar bermain tidak terganggu jika berdurasi lama.
Detik pertandingan di mulai. Mata Melani fokus pada permainan.Awal permainan masih pada tahap pemanasan, lawan yang dihadapi juga termasuk lawan standar.
Tidak sulit untuk Melani kalahkan para pemain dalam 3 menit.
Untuk tahap babak kedua, giliran Josh untuk unjuk kebolehan. Sama halnya dengan ibu cantik, dirinya juga tidak perlu habiskan banyak waktu untuk mengalahkan musuhnya.
"Mi,ronde 4 dan 5 biar Josh yang kalahkan mereka,ya" ucap Josh menunggu penantang lain yang masih proses pada tahap sebelumnya.
"Okey. Berarti babak final, Mami yang lawan mereka" Melani merenggangkan jari jemari.
"Iya Mi. Nah itu mereka baru lolos" ujar Josh menunjuk lawan terpilih sistem otomatis mereka.
Dalam permainan itu, tidak seorang pun yang mereka kenal. Jadinya mereka mengalahkan setiap lawan tanpa menggunakan perasaan.
Babak ketiga dan keempat dalam sekejap sudah dikalahkan sepasang bocah beda generasi dengan waktu singkat.
Bagaimana tidak dikalahkan mereka dengan cepat, mereka juga sedang berburu waktu kehidupan nyata mereka sebelum ketahuan pemilik rumah.
Babak keempat,Josh lebih lama mengalahkan lawan. Karena setiap babak, pasti lawan akan semakin tangguh untuk dihadapi.
"Josh,guna elemen api" saran Melani.
"Tapi, nanti Mami akan butuh itu" sahut Josh tidak tega membuang sisa-sisa hadiah tiap level kemenangan.
"Enggak apa-apa.Kan masih ada senjata lain"
Josh nurut saran ibunya itu. Dan berhasil mengalahkan lawan tangguh pertama di babak keempat.
Giliran Melani memasuki babak semifinal,Josh dan Melani menyiapkan strategi setelah lihat permainan lawan yang tersisa.
"Yang ini suka pakai jurus pisau terbang" ucap Melani melihat data lawan yang tersisa.
"Kalau ini, skill-nya di kaki" sambung Josh fokus pada layar tv game.
"Emmm... Kalau begitu kita harus gunakan strategi lain" menoleh ke Josh.
Pikiran kedua bocah terkoneksi ibarat sudah terpasang signal internet 5-G.
Babak semifinal Melani menaklukkan lawan pakai jurus yang disarankan Josh. Guna lawan tidak dapat membawa skill yang mereka miliki.
Selain itu,jika elemen maupun senjata bahkan nyawa masih utuh atau bersisa banyak,maka dapat digantikan dengan uang.
Sebagai anggota keluarga Lee, Melani tidak ingin dikalahkan. Apalagi dirinya yang sudah hilang masa kecemerlangan seorang wanita muda berkarir di masa mendatang.
"Lawan selanjutnya dikenal sebagai master killer,Mi" ucap Josh memperingati.
"Okey. Gelar itu akan jadi milik kita" jawab Melani dengan penuh keyakinan menang dibabak terakhir.
Babak Grand final dimulai. Wajah Melani dan Josh sama-sama serius memandang setiap gerakan rivalnya.
Kompaknya ibu dan anak itu sudah melupakan kehidupan nyata mereka.
Suara ketukan pintu yang diketuk beberapa kali pun tidak digubris salah seorang dari mereka.
"Apa yang mereka lakukan?. Dari tadi enggak keluar" seseorang bertanya-tanya pada diri sendiri, mencurigai ibu dan anak di dalam kamar.
"Mel,Josh...." panggilnya dengan suara tertahan marah.
"Mereka belum keluar lagi,Ko?. Di telepon saja" saran Ronald, biar suasana lebih tenang.
"Mereka ini kalau tidak kena hukum, kayaknya kurang afdol" gerutu Wiliam mengeluarkan ponsel.
"Lagi masa pertumbuhan" celetuk asal Ronald.
"Masa pertumbuhan dari mana,heng!. Yang satu sudah jadi ibu" ketus Wiliam memandang sinis adiknya yang jadi orang baik untuk kedua bocah beda generasi.
"Oppss...." Ronald segera menutup mulut dan biarkan bapak galak menghukum orang.
Meski Ronald ibah kasihan, terutama pada sang mantan gadis, dirinya juga tidak mampu berbuat banyak.
"Emm.... Saya masuk kamar dulu" pamit canggung Ronald.
"Sana pergi" usir Wiliam bermuka kesal panggilan tidak dijawab.
"Josh, kamu cari masalah baru. Uncle tidak bisa menolong kamu kali ini" oceh pelan Ronald berjalan menuju kamar tidurnya.
Dalam kamar, Melani dan Josh kesulitan hadapi rival terberatnya. Sudah 2 senjata dan 1 skill rahasia mereka gunakan untuk menyerang.
"Mi, triple kill" ujar Josh menyarankan pakai teknik ganda campuran.
__ADS_1
Memang Melani tidak pernah menggunakan teknik yang dikatakan Josh. Tapi tidak salahnya untuk mencoba.
3 senjata yang digabungkan bersama 4 jenis pukulan maut campuran, harus digunakan bersama dalam sekali pukulan maut.
Wajah Melani berkeringat dingin penuh tekanan pikiran saat menggunakan jurus baru tersebut. Tatkala Josh ikut deg-degan melihat aksi sepak terjang permainan Melani.
"Slow motion?" Josh tertegun lihat hasil perpaduan triple kill.
"Let's see now!" seru Melani membalikkan hasil penglihatan mereka.
Dari aksi slow motion, gerakan jurus baru yang dinamakan triple kill, membuahkan hasil yang mencengangkan.
Gerakan slow motion itu, ternyata hanya membunuh lawan dari jarak terdekat,selain nyawa lawan mereka terisap oleh avatar mereka.
"Triple kill...!" seru keduanya menendang dengan krusol tombol.
'THE WINNER' itulah yang tertulis pada layar tv game.
"Yeahhh..... Mami is the best" Josh lompat kesamping memeluk tubuh kecil yang berhasil menjadikan mereka sebagai pemenang game, setelah perjuangan panjang.
Melani juga ikut memeluk atas kemenangan mereka. Melupakan dirinya yang tengah hamil muda butuh banyak istirahat.
Tokk...Tokkk.....
Suara ketukan pintu yang semakin kencang baru terdengar oleh mereka.
"Ow...Ow....." keduanya saling berpandang, dan secepat kilat keluar dari pusat pertandingan.
"Josh,Mami keluar dulu. Sisanya kamu yang urus" ucap Melani beranjak bangkit dari duduk.
"Siap,Mi" menyembunyikan stik game.
Bughh...
Benda berat jatuh tidak jauh dari Josh.
"Mi, Mami kenapa?" kagetnya membantu ibu cantik berdiri.
"Kaki Mami kesemutan" jawab Melani tidak kuat berdiri.
Josh tidak pernah mendengar kata masyarakat awam itu. Dirinya pun mencari semut yang menggigit atau merayap di kaki putih mulus tersebut.
"Semutnya enggak ada,Mi" ucap polos Josh melihat kaki putih mulus secara seksama.
Awas kamu Josh, jangan sampai ketahuan sama sang pemilik baru kaki itu. Bisa-bisa kamu kena hukuman berat.
"Josh!!" panggil menggelegar orang di luar kamar.
"Ya Dad" jawabnya panik lihat kondisi Melani duduk kaku.
"Kamu buka dulu Josh" usul Melani merinding kesemutan.
Josh berjalan cepat buka pintu. Muka merah semerah tomat hampir busuk langsung menjewer telinga yang dari tadi tidak membalas panggilan.
"Am-ampun Dad" kaki menjijit ikut telinga dijewer naik.
"Sudah berani melawan, hemphh!. Mana Mami,haah!!" tegas Wiliam.
"Eng-enggak Dad" kesakitan dijewer sambil nunjuk arah Melani duduk di lantai.
Wiliam narik telinga Josh ikut masuk. Begitu lihat wanitanya duduk kaku dengan wajah cengengesan, dia langsung menghukum yang satunya juga.
"Kamu juga sudah berani melawan, hemphh" Wiliam menjewer telinga Melani tanpa tau situasi kondisi.
"Sakit" ringgis Melani pegang telinga dan kaki.
"Dad,kaki Mami ada semut" celetuk Josh, mungkin Daddy-nya bisa bantu singkirkan semut di kaki ibunya.
"Iya,Mel?" tanya Wiliam.
"Kakiku kesemutan, hehehe.." jawab Melani santai, biar tidak bertambah hukuman bagi mereka berdua.
Wiliam tau apa yang harus diperbuat untuk ibu hamil muda itu. Digendong keluar tubuh kecil dari kamar Josh untuk perawatan lanjutan.
.
...****************...
.
Terima kasih atas dukungannya.
__ADS_1
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.