
Bab 80
.
"Kamu sudah selamat" celetuk Wiliam masih mengendong istrinya yang mengalungkan tangan di leher.
"Makasih" ketus Melani lepaskan rangkulan leher.
"Begini etika seseorang habis diselamatkan" sindir Wiliam duduk di sofa empuk.
Melani menggeram kesal. Apa salahnya sampai dia harus tertekan batin semenjak kembali.
"Terima kasih,Tuan" menunduk dengan senyum kecut.
"Begitu lebih baik. Situ duduk" menunjuk sofa di depan.
"Tuhan... Kuatkan hati ini hadapi cobaan yang Engkau berikan padaku.Amin..." doanya dalam hati.
"Ada yang mau saya sampaikan"
"Mm.." dehem Melani.
"Mulai sekarang kamu asisten pribadi saya. Bukan lagi sebagai pemilik perusahaan ini"
Haaa....
Melani melotot lebar,mulut menganga. Sejak kapan Wiliam ambil ahli semua kepemimpinan perusahaan ini. Yang terakhir diketahui,saham suaminya memang bertambah karena untuk membayarkan kerugian obligasi dialaminya. Bukan berarti dia tidak punya modal,dan sudah menjual hadiah kelulusan dari Papa-nya pada pria di depan.
"Kamu tidak usah khawatir, saya akan memberi kamu gaji 3 kali lipat dari pada asisten lain. Selain itu juga masih bisa gunakan fasilitas" jelas Wiliam.
"Tidak!. Aku tidak mau. Sejak kapan aku bilang telah menjual perusahaan ini" bantah protes Melani beranjak berdiri.
"Kalau begitu, kamu harus kembalikan saham saya beserta kompensasi" tegas Wiliam, menyandarkan tubuh pada sofa.
"Kau....!" tunjuknya marah.
"Satu hal lagi. Jika kamu tidak sanggup kembalikan dana saya,maka perusahaan milik Papa-mu juga akan segera jadi milik saya" ancam Wiliam, berdiri.
"Dasar lintah darat!" pekik Melani.
"Ckck.... Tidak enak didengar kata-kata ini keluar dari mulut kamu. Sebaiknya menurut sambil nikmati fasilitas serta kedudukan,atau hadapi kehancuran" cengkram dagu Melani.
Masalah sepele berujung kehancuran itu di luar dugaan bahkan masa depannya. Mana lagi pria dingin mengancam akan menarik masalah sampai ke perusahaan sang Papa.
Biarlah dunia berkata diri ini plin-plan atau bertele-tele. Asal tidak menarik orang lain ke dalam jurang kehancuran yang sama.
Wiliam menghempas cengkraman,lalu keluar dengan wajah yang selalu dingin menakuti setiap orang.
"Mengapa semua itu di luar skenario. Apa aku kembali harus merasakan kehancuran, yang telah terjadi di masa mendatang?" rentetan pertanyaan keluh, membuat gadis cantik itu semakin frustasi.
Nasib telah mengubah seluruh isi cerita ketika kembali. Atau mungkin, takdir menghendaki ini terjadi lebih awal,agar dapat di lihat olehnya.
Aahhh.... Apa pun itu, jika belum waktunya meninggalkan tubuh ini kembali, sebanyak apa pun uji bunuh diri dilakukan, hasil tetap harus di jalani. Malah kita diberi denda pinalti 2 kali lipat lebih buruk, akibat niat untuk coba akhiri cerita yang tidak seharusnya.
__ADS_1
Siang itu, Melani tidak ada ketenangan batin dalam mengerjakan segala sesuatu. Dia beberapa kali menelepon sang Papa untuk bertanya keadaan perusahaan milik Papa-nya itu.
"Kamu kenapa ,Mel?. Kok terdengar tertekan?" tanya Tuan Wijaya,menuju jalan pulang.
"Tidak ada apa-apa,Pa. Ya sudah kalau semua baik-baik saja" jawab cemasnya.
"Oh begitukah?. Kamu sudah makan siang belum?"
"Mel sudah makan kok, Pa" berbohong.
"Baguslah. Kapan kamu berkunjung ke rumah lagi, Mel?"
"Mel,hari ini pulang ke rumah kok,Pa"
"Baik, nanti kita baru sambung lagi,ya"
"Oke Papa" menutup percakapan.
Bagaimana dia bisa bilang, bahwa dia mungkin tidak akan kembali ke rumah suaminya. Semua memusingkan kepala tujuh keliling.
Kepalanya terasa berat dan amat sakit menusuk,tanpa sadar kepala dia ambruk menghantuk meja kerja.
Sekretaris yang mengetuk lama pintu untuk membawa laporan yang diminta tidak dapat respon jawaban di izinkan masuk.
"Nona,saya bawa laporan yang anda minta" berdiri menunggu lama.
"Sekretaris Bella, kok dari tadi masih di sini?" tanya pria bodyguard suruhan Wiliam.
"Mungkin Nona sedang teleponan.Tapi kok lama ya?" capek berdiri membawa setumpuk laporan.
Bodyguard mengetuk pintu lebih keras beberapa kali, tapi dapat hasil yang sama. Untuk memastikan orang yang di awasi diam-diam tidak kabur dari pengawasannya, di bukanya pintu ruang kerja Melani.
Pria bodyguard dan sekretaris bergegas lari , mendapatkan posisi Melani pingsan.
"Nona,sadar Non" sekretaris membangunkan, sambil cari minyak kayu putih.
"Kamu jaga Nona,saya akan telepon Tuan" titah pria bodyguard keluar untuk menelpon.
Wiliam baru saja pijakan kaki di rumah besar sehabis jemput Josh sekolah, kembali memerintahkan supir berputar ke perusahaan tadi.
Setiba di perusahaan, langkah kaki cepatnya memasuki lift menuju lantai 4 gedung bangunan, tempat istrinya di letakkan.
"Tuan,Nona baru sadar" ucap bodyguard menunduk takut.
"Sudah berapa lama dia pingsan?" tanya cemasnya, akibat riwayat asma Melani.
"Tidak tau,Tuan" tetap nunduk , karena memang tidak tau.
"Mulai besok, kalian harus awasi lebih ketat" titah tegasnya.
Wiliam berjalan masuk ruang kerja itu. Di lihatnya sekretaris yang kompres jidat Melani dengan bongkahan kain entah berisi apa.
"Kamu keluar, saya ingin bicara berdua saja" titah Wiliam berdiri tegak.
__ADS_1
"Baik,Tuan. Permisi Nona" meletakkan bongkahan kain berisi es batu.
Mata Wiliam membulat lihat benjolan besar hijau keunguan di jidat istri.
"Apa kamu tidak bisa berhenti untuk buat sensasi, hum?" marah dalam kecemasan.
Sakit kepala pusing belum reda, sekarang ditambah omelan suami. Makin lengkap rasa sakit sampai ke lubuk hati.
Lebih baik amnesia sekalian, biar tidak tertekan batin. Minimal rasa sakit kagak sampai tersimpan dalam memori.
Wiliam meraih tangan istrinya yang duduk nunduk membanjiri tangan.
"Lepaskan aku!" terisak, sambil menghempas kasar tangan Wiliam.
"Kita ke dokter obati memar kamu" langsung gendong biar tidak berontak.
"Turunkan!" memukul dada Wiliam.
Wiliam tidak peduli dengan perlawanan Melani. Dia terus mengendong istrinya yang terisak sampai ke dalam lift.
Sikap Wiliam pun jadi tontonan dan gosip seputar karyawan kantor.
"Ini belum seberapa. Sebaiknya kamu turuti ucapan saya. Dari pada menyiksa diri sendiri" berdiri membelakangi istrinya.
"Jahat!" jerit Melani terisak.
"Jahat kata-mu?. Itu tidak termasuk jahat." berbalik.
"Jangan dekat" mengulur kedua tangan tahan tubuh kekar mendekat.
"Begini saja, kita buat kesepakatan.Biar sama-sama untung" ujar Wiliam mengunci pergerakan istrinya di sudut lift.
Mata Melani berkaca, takut diapa-apain dalam ruang sempit. Dia pun tidak fokus dengar ucapan suami yang ingin membuat kesepakatan.
Nafas suaminya meniup kulit wajah putih mulusnya, jarak terdekat yang sudah sering ia rasakan,tapi tetap saja takut dan berdegup kencang.
"Kamu jadi asisten pribadi saya selama 3 tahun. Semua keperluan sampai jadwal di kantor kamu yang ingatkan" jelas Wiliam.
Tiga tahun harus jadi asisten pribadi!!. Satu detik saja ogah, apa lagi harus tertekan batin sampai 3 tahun, bisa-bisa mati tidak secara langsung.
Alangkah kejam permainan kehidupan, tidak memberi ruang secukupnya,walau sudah sekuat tenaga mengubah takdir menjadi lebih baik.
Pintu lift terbuka, Wiliam menarik keluar Melani yang masih melawan.
Bukan niat untuk melawan, tapi perlakuan Wiliam telah mencoreng harga dirinya di hadapan karyawan,yang jadikan mereka pusat tontonan gratis seumur hidup mereka, tanpa bayar biaya premium sedikit pun.
.
...****************...
.
Terima kasih atas dukungannya.
__ADS_1
Sehat sejahtera selalu untuk kita semua.